Youth Leadership. Drive the Change!
Tanggal 12 Agustus lagi. Tidak terasa setahun telah berputar. Hari ini, tanpa banyak yang menyadari, adalah harinya remaja. Hari Remaja Sedunia. Mungkin sekedar ikut mensosialisasikan bahwa kita diingatkan kembali, bahwa siapapun yang selanjutnya menjadi dewasa akan pernah mengalami fase menarik yang namanya remaja. Dunia yang penuh gejolak, pencarian jati diri, kemunculan awal pikiran kritis dan kreatif. Dunia ini pun dalam sejarahnya sempat diguncang oleh tokoh-tokoh besar yang masih muda usia. Indonesia bisa berdiri dan merdeka karena mereka para muda usia. Remaja membuat perubahan besar dan menjadi pemimpin, kenapa tidak?
Waktu yang berjalan membuat semuanya makin absurd dan tanpa batas. Globalisasi berkontribusi besar dalam pergeseran peran dan persepsi yang muncul antara anak muda dan orang dewasa. Sering kali orang dewasa memposisikan diri dan secara kolektif memandang remaja saat ini sebagai trouble maker atau biang masalah, serta kelompok yang tidak bisa dipercaya. Sering kali itu terjadi. Tanpa pernah berpikir bahwa orang dewasa pun pernah mengalami masa remaja. Semuanya muncul menjadi jurang pembeda persepsi yang semakin menganga. Penyebabnya tidak lain adalah karena makin melemahnya komunikasi yang konstruktif. Yang terjadi malah pembiaran dan saling menyalahkan. Tanpa mau mendengar dan memahami. Di saat akhirnya remaja tidak lagi mengidolakan orang tua dan tokoh-tokoh besar, melainkan para selebritis dan artis yang sering kali bukanlah sebuah contoh yang baik buat menempa jati diri yang akan terbentuk. Itu semua adalah pilihan. Namun, apakah remaja sudah didukung dengan bekal yang cukup untuk memilih? Apakah remaja sudah cukup dibekali pengetahuan yang benar terutama untuk memahami diri dan tubuhnya? Bukankah segala permasalahan remaja selama ini penyebabnya adalah tiga hal. Satu, kurangnya akses terhadap informasi yang dibutuhkan remaja. Dua, kurangnya akses untuk mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan remaja. Dan tiga, lemahnya pemberdayaan remaja. Ini semua sebenarnya adalah hak remaja. Dan bukankah semua ini sudah menjadi tanggung jawab orang dewasa (masyarakat, guru, orang tua, pemerintah, pemilik modal, media massa, dll) untuk mendukungnya? Termasuk mendukung kemudahan jalannya? Artinya, jika kemudian terjadi permasalahan remaja–atau orang dewasa sering menyebutnya dengan kenakalan remaja– sesungguhnya itu berarti adalah sebuah kegagalan sistem yang telah dilakukan oleh semua pihak tadi.
Dan sesungguhnya, kita semua perlu tahu apa yang remaja inginkan. Apa saja suara remaja. Mari dengarkan, dukung dan realisasikan. Selama kita tidak mendukung remaja, mustahil dunia akan berubah menjadi lebih baik. Karena merekalah yang akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi baru penguasa masa depan. Sebuah potensi strategis yang harus diperhatikan.
Dan, melirik apa yang dilakukan oleh remaja-remaja di Bali, ada beberapa suara muncul untuk bisa disimak kembali. Di tengah berlangsungnya Kongres Internasional AIDS Asia Pasifik yang berlabel ICAAP IX di Nusa Dua, Bali, sebuah kelompok remaja bali yang sudah cukup konsisten dengan dinamikanya selama 15 tahun dalam mengedukasi remaja, KISARA namanya, berinisiatif merangkul elemen-elemen remaja di Bali ke dalam wadah Forum Remaja Bali. Walaupun baru dan muda, paling tidak forum ini telah berhasil mengeluarkan sebuah pernyataan kolektif yang disepakati bernama “Deklarasi Remaja Bali”, yang dalam kesempatan Hari Remaja Sedunia dengan label “Youth Leadership, Drive the Change” ini menyuarakan tujuh poin penting pernyataan. Semuanya disuarakan oleh forum yang difasilitasi oleh KISARA yang sekarang dikomandani oleh dr. Nyoman Sutarsa ini. Isi deklarasinya, yang hari ini dibagi-bagikan dalam bentuk kartu pos itu, adalah:
- Remaja Bali mendukung pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi secara terstruktur dan sistematis di dalam sistem pendidikan.
- Guru sebagai elemen pendidik berkewajiban sebagai agen informasi kesehatan reproduksi bagi siswa, dan sekolah berkewajiban dalam penyediaan layanan kesehatan reproduksi yang youth friendly.
- Semua elemen masyarakat berkewajiban dalam mengakomodasi hak-hak kesehatan reproduksi remaja.
- Remaja Bali meminta kepada semua komponen masyarakat dan instansi pendidikan supaya tidak mengintimidasi remaja yang KTD.
- Edukasi dan layanan kontrasepsi bagi remaja adalah kebutuhan remaja, sehingga wajib disediakan melalui optimalisasi kemitraan dengan center-center remaja yang telah ada.
- Pemberdayaan remaja adalah upaya menuju remaja yang kompetitif, sehingga pembentukan youth center dengan integrasi life skill capacity adalah tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.
- Remaja Bali mendorong program pemberdayaan yang pro terhadap remaja.
Tujuh poin yang bermuatan semangat tinggi. Suara remaja yang ingin didengar dan diberi kesempatan untuk selalu bisa dilibatkan. Bagaimana pun juga, sekali lagi, remaja adalah potensi besar. Jumlahnya yang hampir sepertiga dari populasi, tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Keterlibatan remaja sejak dini dalam menentukan hal terbaik buat kelompoknya dan bangsanya adalah hal yang tidak bisa ditunda lagi. Dengan membentuk remaja menjadi pemimpin-pemimpin baru, maka perubahan ke arah lebih baik akan lebih bisa dipercepat. Membentuk pemimpin remaja, berarti membentuk dunia baru yang membawa perubahan. Semoga semua pihak bisa mendukungnya dan memfasilitasi kesinambungannya. Apapun caranya.
Selamat hari Remaja. Youth Leadership. Drive the Change.






