<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>okanegara.com &#187; seksualitas</title>
	<atom:link href="http://okanegara.com/tag/seksualitas/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Disfungsi Seksual? Jaga Jaga Bagi Yang Muda</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/jaga-jaga-bagi-yang-muda.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/jaga-jaga-bagi-yang-muda.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 05:48:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[majalah]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[usia muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[(Ini adalah artikel saya yang diterbitkan oleh Intisari dalam edisi khusus Healthy Sexual Life yang lalu. Judul aslinya “Problema Kesehatan Seksual Usia Muda”). Para blogger dan eksekutif muda perlu tahu tentang ini.
Disfungsi Seksual sering terjadi pada usia muda. Disfungsi Seksual yang paling sering terjadi yaitu Disfungsi Ereksi dan Ejakulasi Dini. Jika selama ini banyak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-274" title="intisari03" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/07/intisari03-300x225.jpg" alt="intisari03" width="300" height="225" />(Ini adalah artikel saya yang diterbitkan oleh Intisari dalam edisi khusus Healthy Sexual Life yang lalu. Judul aslinya “Problema Kesehatan Seksual Usia Muda”). Para blogger dan eksekutif muda perlu tahu tentang ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: black;">Disfungsi Seksual sering terjadi pada usia muda. Disfungsi Seksual yang paling sering terjadi yaitu Disfungsi Ereksi dan Ejakulasi Dini. Jika selama ini banyak yang beranggapan Disfungsi Ereksi hanya dialami laki-laki usia lanjut, ada baiknya mulai menghilangkan anggapan tersebut. Pasalnya, banyaknya pasien laki-laki usia muda dengan Disfungsi Ereksi membuktikan bahwa dewasa ini banyak laki-laki usia muda bermasalah dengan kesehatan seksualnya. Beberapa kasus menarik yang pernah terdokumentasi misalnya<span> </span>adalah kasus berikut ini. Nadia (bukan nama sebenarnya), 24 tahun, sering berkeluh kesah kepada Asri (bukan nama sebenarnya), sahabat dekatnya, bahwa ia tidak sempat mengalami orgasme ketika berhubungan dengan Indra (bukan nama sebenarnya), 26 tahun, suaminya. Nadia akhirnya datang untuk mengkonsultasikan permasalahannya. “Bagaimana mau orgasme, lha baru sebentar saja suami saya sudah keluar duluan!” ujar Nadia. Nadia dan suaminya sudah menikah selama 2 tahun.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata memang banyak permasalahan Disfungsi Seksual terjadi pada usia muda. Penyebab banyaknya kelompok usia muda terserang Disfungsi Seksual, misalnya Disfungsi Ereksi seringkali adalah pengaruh gaya hidup yang cenderung mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi, manis, beralkohol dan rokok. Dari faktor pekerjaan bisa ditebak juga mereka sebagian besar adalah karyawan penting atau pengambil keputusan di tempat kerjanya, sehingga sering tidak bisa mengelola stres dan sering lelah. Dan sering kali juga diperparah dengan konflik rumahtangga yang cenderung membuat komunikasi seksual tidak berjalan lancar.</p>
<p style="text-align: justify;">Disfungsi Seksual pada usia muda lebih sering disebabkan karena faktor psikis dibandingkan faktor fisik. Beberapa penyebab psikis Disfungsi Seksual yang sering dialami oleh usia muda, yang sempat terinventarisasi masuk ke konseling lembaga konsultasi anak muda <strong>KISARA PKBI Bali</strong> di Bali tercatat antara lain:</p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li>Stres.<br />
Ketidakmampuan mengelola stress dengan baik mengakibatkan hal yang menjadi serius. Penyebab stres mungkin karena pekerjaan, kemacetan lalu lintas atau problem lain. Bila pasangan juga ikut menambah ketegangan akan memperburuk komunikasi seksual. Stres juga berkontribusi kepada pengeluaran hormon kortisol yang memang dikenal dengan julukan sebagai pembunuh gairah seksual.</li>
<li>Kecemasan.<br />
Sebagai contoh bisa terjadi pada pasangan yang telah menikah dan ingin segera memiliki keturunan tetapi tidak berhasil. Kecemasan dan ketakutan akan dilabeli sebagai mandul membuat pikiran terganggu dan muncul penurunan dorongan seksual.</li>
<li>Tidak Percaya Diri.<br />
Misalnya pasangan lebih kaya, berpenghasilan lebih besar, atau selalu memandang rendah si laki-laki. Atau justru karena pernyataan-pernyataan yang merendahkan seperti mempermasalahkan ukuran penis yang kecil dan sebagainya.</li>
<li>Perselingkuhan.<br />
Kejadian perselingkuhan yang mungkin terjadi atau sekedar perkiraan saja akan mempengaruhi komunikasi dan hubungan seksual di anatara kedua pasangan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan beberapa penyebab fisik yang dapat mengakibatkan Disfungsi Seksual pada usia muda antara lain :</p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li>Kelelahan.<br />
Hal ini bisa menyebabkan aliran darah terganggu akibatnya dorongan seksual tidak optimal dan ereksi penis pada laki-laki tidak maksimal.</li>
<li>Penyakit.<br />
Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan Disfungsi Seksual yang sudah bisa terjadi pada usia muda antara lain : diabetes melitus (kencing manis), kolesterol tinggi, dan beberapa jenis kelainan dan pasca operasi pada kelamin, misalnya kelainan <em>Peyronie      disease</em> (penis terlihat bengkok ekstrem).</li>
<li>Merokok.<br />
Nikotin yang terserap oleh darah akan dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah, penyumbatan pembuluh darah, termasuk penyumbatan pembuluh darah dalam penis.</li>
<li>Obatan-obatan.<br />
Pemakaian obat-obatan tertentu dengan tidak terkontrol bisa menyebabkan Disfungsi Seksual. Antara lain : obat anti hipertensi, anti depresi, barbiturat, hormon estrogen, mariyuana, narkotik, dan obat penenang.</li>
<li>Minuman dan makanan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol dan makanan yang mengandung kolesterol tinggi dapat menyumbat pembuluh darah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa Yang Bisa Dilakukan Bila Muncul Disfungsi Seksual</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada pasangan usia muda yang sudah terlanjur mengalami gangguan, prinsip utamanya sebenarnya adalah semakin awal didiskusikan dan dicari penyebabnya maka akan menjadi semakin lebih cepat sembuh. Penanganan Disfungsi Seksual lebih tepat bila disesuaikan dengan penyebabnya dengan penanganan terpadu. Penanganan yang bisa didapatkan pada laki-laki muda:</p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li>Konseling seks dan terapi seks.<br />
Konseling seks lewat psikoterapi dapat dilakukan bersamaan dengan terapi seks. Yang dapat digolongkan dalam terapi seks adalah hipnosis, senam seks, <em>specific sexual desensitization, sexual stimulation therapy,</em> juga masturbation therapy.</li>
<li>Terapi medis<br />
Prinsip terapi medis sebenarnya bisa dilakukan lewat tahapan pertama pemberian oral (diminum), kedua lewat injeksi atau suntikan dan terakhir lewat operasi. Obat-obatan yang diberikan dapat berupa substitusi, supresi, stimulasi, dan vasodilator. Terapi substitusi contohnya adalah dengan memberikan androgen pada penderita defisiensi androgen. Terapi supresi dengan memberikan obat untuk menekan penyebab disfungsi seksual, misalnya <em>Bromocriptine</em> untuk <em>Hyperprolactinemia</em>. Terapi stimulasi adalah untuk menstimulasi respons seksual. Obat yang dipakai bisa berupa hormon, aphrodisiaka, dan stimulan saraf pusat. Vasodilator dan <em>smooth muscle relaxant</em> adalah obat yang paling banyak dikembangkan saat ini yang dapat dipakai secara topikal (olesan), oral, <em>intraurethral</em> dan <em>intracavernosal</em>. Ada beberapa obat yang dapat dicobakan dapat diberikan seperti Sildenafil<em>, L-Arganine, Prostaglandin E1, Phentolamine dan Apomorphine</em>. Sedangkan cara operasi dilakukan dengan memasang suatu alat prosthesis di dalam penis agar penis bisa ereksi. Ada dua macam alat, yaitu yang semirigid dan ada yang dapat dikembangkempiskan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa Yang Bisa Dilakukan Sebelum Mendapatkan Pengobatan?</strong></p>
<h4 style="text-align: justify;">1) Foreplay bisa membantu</h4>
<p style="text-align: justify;"><em>Foreplay</em> atau permainan pendahuluan atau pemanasan sering kali diabaikan. Padahal <em>foreplay</em> dapat memaksimalkan rangsangan pada kedua pasangan. Cobalah melakukan foreplay sekitar 10-15 menit. Atau bisa juga lebih. Jika dilakukan lebih dari 15 menit bukan berarti mengulur waktu, tapi memberikan kesempatan agar seluruh area peka rangsangan (zona erogen) mendapat rangsangan yang semakin optimal. <em>Foreplay</em> bagi perempuan sangat penting untuk merangsang lubrikasi vagina sehingga membantu mengurangi sakit saat berhubungan seksual. Pada laki-laki juga bisa membantu meningkatkan dorongan seksual sehingga ereksi bisa lebih maksimal.</p>
<h4 style="text-align: justify;">2) Maksimalkan dengan variasi seksual</h4>
<p style="text-align: justify;">Prinsip variasi seksual adalah untuk mencegah kebosanan saat berhubungan seksual dengan cara biasa atau konservatif. Asalkan pilihan variasi seksual ini disepakati bersama dan tidak dipaksakan. Jadi malah bisa memunculkan komunikasi seksual jadi lebih sering, artinya kalau sebelumnya jarang membicarakan hubungan seksualnya, sekarang menjadi ada komunikasi bersama. Salah satu contoh variasi seksual yang bisa dilakukan pasangan usia muda misalnya adalah oral seks. Variasi seks wajar dilakukan agar tidak jenuh serta meningkatkan sensasi saat hubungan seksual. Dengan menempatkan oral seks di tengah-tengah kegiatan seksual, bukan tidak mungkin akan banyak membantu permasalahan yang muncul dengan memaksimalkan munculnya dorongan seksual. Banyak titik sensitif manusia baik laki-laki maupun perempuan yang dapat ditundukkan dengan permainan lidah. Variasi seksual juga bisa dilakukan dengan memvariasikan suasana. Maksimalkanlah hubungan seksual dengan bantuan musik yang romantis, pencahayaan lampu remag-remanag, juga variasi tempat hubungan seksual, yang biasanya di ranjang, sekarang bisa dicobakan di sofa kamar tamu, kamar mandi bahkan dapur sekalipun selama tempatnya bersih dan disepakati bersama.</p>
<h4 style="text-align: justify;">3) Komunikasi seksual ditingkatkan</h4>
<p style="text-align: justify;">Dalam berhubungan seksual, tidak hanya melibatkan kondisi fisik, juga psikis. Hubungan seks yang sehat harusnya dapat memunculkan perasaan nyaman di kedua belah pihak. Ingat, seks adalah indikator dari kesehatan dan sumber kesehatan pada usia tua nanti. Jika orang melakukan seks yang teratur dan menikmati seks dan gembira seluruh badan menjadi segar dan terasa lebih muda. Hubungan seksual memerlukan seni, agar kedua pasangan tak merasa bosan. Ini bisa tercapai dengan komunikasi seksual yang baik sehingga gangguan seksual yang muncul saat ini pun bisa dieliminasi lewat komunikasi seksual saja. Karena penyebab terbanyak adalah stres, maka dalam penanganan Disfungsi Seksual di awalnya adalah dengan mengelola stress dengan baik dan ini bisa diupayakan lewat komunikasi seksual bersama pasangan. Tidak ada salahnya juga selalu memuji pasangan untuk meningkatkan komunikasi seksual.</p>
<h4 style="text-align: justify;">4) Satu lagi: Jangan Mencoba Praktek-Praktek Seksual Yang Tidak Benar</h4>
<p style="text-align: justify;">Jangan pernah berusaha untuk mencoba praktek-praktek seksualyang tidak masuk akal hanya untuk upaya semu meningkatkan potensi seksual, seperti: obat kuat, jamu, asesoris, dan praktek-praktek vagina. Dan ingat ada resikonya dari tindakan secara instan dan tidak alami seperti ini. Misalnya penyuntikan silicon untuk memperbesar penis atau memaksimalkan ereksi. Cara ini justru mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan yang lebih serius seperti prostatitis atau malah penis menjadi rusak. Beberapa asesoris boleh digunakan selama hanya untuk variasi seksual asal tidak berisiko dan disetujui bersama. Ada baiknya dikonsultasikan dulu pada yang paham atau berkompeten (dokter). Beberapa aktivitas seksual dapat dipilih sebagai alternatif saat pasangan tugas keluar kota, atau sedang tidak ingin berhubungan seksual, misalnya: masturbasi, berfantasi atau telpon seks dengan pasangan sendiri. Tentu jangan coba-coba berselingkuh atau mencari pekerja seks karena tentunya infeksi menular seksual akan mengintip anda.</p>
<h2 style="text-align: justify;">Terakhir:  TIPS!</h2>
<p style="text-align: justify;">Untuk tips dari saya dan lainnya, silakan baca lebih lengkap di Intisari Edisi Healthy Sexual Life terbaru. Sangat menarik, karena juga ada beberapa tulisan dari suhu-suhu idola saya; Prof Wimpie Pangkahila dan Prof Arif Adimoelja.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-275" title="intisari" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/07/intisari-206x300.jpg" alt="intisari" width="206" height="300" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/jaga-jaga-bagi-yang-muda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIDS Corner; 5 Hal (Lagi) Yang Harus Diketahui</title>
		<link>http://okanegara.com/aids-corner/aids-corner-5-hal-lagi-yang-harus-diketahui-tentang-hivaids.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/aids-corner/aids-corner-5-hal-lagi-yang-harus-diketahui-tentang-hivaids.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 10:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[AIDS CORNER adalah rubrik tentang HIV AIDS dan Seksualitas yang sempat saya asuh di tabloid Magic Wave, tabloid khusus untuk komunitas surfer di Indonesia. Berikut ini arsip artikel untuk edisi pertama.
Hi, pa bnr kalo bdn kita shat n bugar bs kena HIV? (Stev, 081805506xxx, 15 th, Legian)
Aq mo tany bener ya obat HIV dah ketemu??? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-210" title="aids" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/06/aids.jpg" alt="aids" width="207" height="219" />AIDS CORNER adalah rubrik tentang HIV AIDS dan Seksualitas yang sempat saya asuh di tabloid Magic Wave, tabloid khusus untuk komunitas surfer di Indonesia. Berikut ini arsip artikel untuk edisi pertama.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>Hi, pa bnr kalo bdn kita shat n bugar bs kena HIV? (Stev, 081805506xxx, 15 th, Legian)<br />
Aq mo tany bener ya obat HIV dah ketemu??? (Nana, 081338766xxx, 18 th, Dps)<br />
SeeApA Aja yG bS kN AIDS?apA 0rAL seXX amAn dari HIV? (Leo, 081805621xxx,17 th, Seminyak)</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. HIV hanya bisa ditularkan lewat aktivitas yang mengakibatkan pertukaran darah, cairan kelamin maupun air susu. Selain itu tidak bisa menular. Jadi setiap orang bisa saja berisiko. Uniknya, ketika HIV masuk ke tubuh tidak langsung memunculkan gejala, setelah 5-10 tahun baru akan memperlihatkan gejala sakit, karena saking lemahnya daya tahan tubuh. Tetapi sebelum nampak sakit, sejak awal dia sudah bisa menularkan virusnya. So, cuma lewat tes darah baru bisa mengetahui seseorang mengidap HIV atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kasusnya di Bali pertama kali diketahui tahun 1987, hingga September 2007 telah tercatat 1508 kasus. Jumlah perkiraan sesungguhnya yang ada sekitar 4000an kasus, yang 2700 dari penularan lewat seks, yang 1300 dari narkoba suntikan (putaw). Sebagian besar adalah dari kalangan anak muda. Jadi sekarang sudah saatnya remaja, para grommet &amp; surfer untuk memahami AIDS dengan lebih cerdas.</p>
<p align="left">Nah, ini lima hal lagi yang harus diketahui tentang HIV/AIDS.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Masih Saja Ada Remaja Yang Suka Gonta-ganti Partner Seks Dengan Percaya Diri Bilang Kalau Dia Tidak Mungkin Kena HIV</strong><br />
Banyak yang percaya bahwa selama badan sehat, rajin olah raga, rajin fitness dan selalu minum vitamin tidak akan kena masalah jika gonta-ganti pacar, hingga seringkali akhirnya melakukan hubungan seks tanpa kondom. Kenapa berani tanpa kondom, karena dilihat partner seksnya juga bersih dan jauh dari kesan berpenyakit. Kalau tidak yakin, sebagian mencoba minum antibiotik sembarangan yang dianggap bisa mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual). Tapi, apa ini semua benar? Tentu saja salah besar.<br />
Fakta: Siapa yang bisa memastikan seseorang positif HIV tanpa melalui tes darah? Ingat, selama 5-10 tahun pertama HIV tidak memperlihatkan gejala apapun. Jadi tetaplah setia dengan pasangan, atau pakai kondom bila sering melakukan aktivitas berganti pasangan seksual. Antibiotik hanya bisa diminum atas petunjuk dokter dan bukan untuk mencegah HIV.<span id="more-207"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. HIV Tidak Pilih-Pilih Orang</strong><br />
Sejak kemunculannya diketahui dunia 26 tahun lalu, pandangan orang termasuk para remaja sampai hari ini masih saja sering keliru. Mereka masih percaya hanya kelompok-kelompok tertentu saja yang bisa mengidap HIV/AIDS. Remaja menganggap hanya kalangan gay, pecandu putaw dan pekerja seks saja yang dapat tertular. Tapi, tentu saja ini cuma mitos.<br />
Fakta: Setiap orang berpotensi terinfeksi HIV. Baik itu orang tua, anak muda bahkan anak kecil, laki-laki maupun perempuan, kaya dan miskin, gelandangan atau para surfer sekalipun. HIV dapat menginfeksi siapa saja yang tidak melakukan tindakan pencegahan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Ternyata Remaja Lebih Takut Hamil Daripada HIV/AIDS</strong><br />
Banyak remaja percaya satu-satunya risiko yang paling ditakuti dari berhubungan seks tanpa kondom hanyalah kehamilan. Akibatnya untuk mencegah kehamilan, para remaja mencoba-coba dengan teknik oral seks atau melakukan sanggama terputus. Tentunya, sekali lagi jangan ikuti pemikiran ini.<br />
Fakta: Sayangnya, ada banyak hal yang mestinya harus lebih ditakuti remaja. Antara lain adalah risiko terkena IMS. Jenis IMS seperti Herpes, Sifilis, termasuk HIV seharusnya lebih menjadi perhatian remaja ketimbang sekadar hamil di luar nikah. Sebab, sekali terkena, mereka akan menderita sepanjang hidup.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. “Blow Job” Tidak Seaman Yang Kamu Pikirkan</strong><br />
Karena pengaruh bacaan dan video porno, aktivitas oral seks makin sering dilakukan. Banyak remaja percaya bahwa oral seks pasti aman. Sebab, para remaja berpikir bisa terbebas dari risiko hamil dan tertular penyakit. Sayangnya, ini juga mitos.<br />
Fakta: Oral seks tidak seaman yang remaja pikirkan. Banyak penelitian menunjukkan, pada mereka yang tertular HIV, konsentrasi virus HIV baik di cairan sperma maupun cairan vagina juga tinggi. HIV bisa masuk melalui aliran darah di selaput lendir rongga mulut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5. Tentu Saja HIV Belum Bisa Disembuhkan</strong><br />
Obat ARV (Anti Retroviral) termutakhir telah berhasil memangkas tingkat kematian akibat AIDS hingga 80%. Obat-obatan ini juga kini lebih mudah dikonsumsi daripada sebelumnya. Banyak yang percaya bahwa ARV adalah segala-galanya. Tentu saja ini perlu dipikirkan kembali dengan secermat-cermatnya, karena tidaklah sesederhana itu.<br />
Fakta: Mereka yang terinfeksi HIV sesungguhnya dapat hidup lebih lama, namun ARV dapat mengakibatkan efek samping, harganya masih mahal, dan harus dikonsumsi setiap hari seumur hidup. Apabila kelewatan terlalu banyak dosis obat, HIV dapat menjadi kebal. Dan sayangnya, meski menjalani perawatan medis, seorang pengidap HIV belum bisa sembuh total. Jadi bukan ARV yang segala-galanya, tetapi upaya pencegahan diri tetap yang nomer satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Well, buat para remaja, sebisa mungkin jangan dulu berhubungan seksual, atau tetap setia dengan pasangannya. Buat yang memilih punya pasangan banyak dan berganti-ganti pastikan selalu menggunakan kondom. Jangan pernah juga menggunakan narkoba apapun alasannya. Then, cari tahu fakta-fakta tentang AIDS yang benar dan buang jauh-jauh mitos-mitos yang menyesatkan. So, Keep The Promise, Stop AIDS!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/aids-corner/aids-corner-5-hal-lagi-yang-harus-diketahui-tentang-hivaids.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesehatan Seksual Milenium; Deklarasi Montreal 2005</title>
		<link>http://okanegara.com/sexuality-blitz/kesehatan-seksual-untuk-milenium-deklarasi-montreal-2005.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/sexuality-blitz/kesehatan-seksual-untuk-milenium-deklarasi-montreal-2005.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 10:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sexuality Blitz]]></category>
		<category><![CDATA[deklarasi]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini insert tentang kabar terbaru tentang kesehatan seksual, walaupun kongresnya sudah tahun 2005, tetapi banyak yang belum mengetahui dan perlu kembali disosialisasikan karena banyak kabar baru.
Asosiasi Kesehatan Seksual Se-Dunia:Kongres Dunia Tentang Seksologi ke-17,Deklarasi Montreal 2005 “Kesehatan Seksual untuk Milenium”
Kami, para peserta Kongres Seksologi Se-Dunia ke-17, menyatakan komitmen kami terhadap Misi Asosiasi Kesehatan Seksual Se-Dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-119" title="sexual-health" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/sexual-health-251x300.jpg" alt="sexual-health" width="251" height="300" />Berikut ini insert tentang kabar terbaru tentang kesehatan seksual, walaupun kongresnya sudah tahun 2005, tetapi banyak yang belum mengetahui dan perlu kembali disosialisasikan karena banyak kabar baru.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Asosiasi Kesehatan Seksual Se-Dunia:Kongres Dunia Tentang Seksologi ke-17,Deklarasi Montreal 2005 “Kesehatan Seksual untuk Milenium”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kami, para peserta Kongres Seksologi Se-Dunia ke-17, menyatakan komitmen kami terhadap Misi Asosiasi Kesehatan Seksual Se-Dunia (World Association for Sexual Health – WAS), untuk mempromosikan kesehatan seksual selama hidup. Kami juga menegaskan kembali dukungan kami terhadap Deklarasi Hak Seksual WAS 1999; Rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Pan-Amerika (Pan-American Health Organization)/ Laporan WAS 2000 yang berjudul “Promosi Kesehatan Seksual: Rekomendasi bagi Aksi/Tindakan;” dan Definisi Kerja Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2002 tentang: Kesehatan Seksual dan Hak Seksual. Berdasarkan kebutuhan mendesak untuk melakukan aksi bersama demi mencapai tujuan kesehatan dan pembangunan yang berkesinambungan dan demi mencapai standar yang dinyatakan dalam kesepakatan internasional, termasuk dalam Deklarasi Milenium, kami mendeklarasikan bahwa:</p>
<p style="text-align: justify;">Promosi Kesehatan Seksual merupakan inti utama untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan serta pembangunan berkesinambungan, dan lebih khususnya untuk menerapkan Tujuan Pembangunan Milenium. Baik individu maupun masyarakat yang memiliki kesehatan menduduki posisi yang lebih baik untuk memberikan kontribusi mereka dalam upaya untuk menghapus kemiskinan individual maupun masyarakat. Dengan cara meningkatkan tanggung jawab sosial maupun individu dan interaksi sosial yang setara, promosi kesehatan seksual akan mendorong peningkatan kualitas hidup serta mewujukan perdamaian. Dengan demikian kami mendorong semua pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, institusi akademi dan masyarakat umum, dan khususnya, semua organisasi anggota Asosiasi Kesehatan Seksual Dunia untuk:<span id="more-15"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Mengakui, mempromosikan, meyakinkan dan melindungi hak-hak seksual bagi semua</strong><br />
Hak seksual merupakan unsur tak terpisahkan dari Hak Asasi Manusia yang mendasar dan, dengan demikian, hak ini bersifat mencakup semua dan universal. Kesehatan seksual tidak bisa dicapai tanpa adanya hak seksual bagi semua.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Berkembang ke arah kesataraan gender<br />
</strong>Kesehatan seksual memerlukan adanya kesataraan gender dan rasa hormat. Ketimpangan yang terkait gender serta ketidakseimbangan kekuasaan menghambat interaksi manusia yang konstruktif dan selaras dan dengan demikian juga menghambat tercapainya kesehatan seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Menghapuskan semua jenis kekerasan dan pelecahan seksual<br />
</strong>Kesehatan seksual tidak bisa dicapai sebelum semua orang terbebas dari stigma, diskriminasi, pelecehan, paksaan dan kekerasan seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Memberikan akses universal untuk pendidikan dan informasi tentang seksualitas yang komprehensif (menyeluruh).<br />
</strong>Untuk mencapai kesehatan seksual, semua individu, termasuk pemuda, harus memiliki akses ke arah pendidikan seksualitas yang komprehensif, dan informasi kesehatan seksual dalam seluruh siklus kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5. Menjamin bahwa program – program kesehatan reproduktif mengakui betapa pentingnya kesehatan seksual.<br />
</strong>Reproduksi merupakan dimensi seksualitas manusia yang amat penting dan, bila diinginkan dan direncanakan, mungkin bisa memberikan kontribusi untuk memperkuat hubungan – hubungan dan pencapaian pribadi. Kesehatan seksual bukan hanya sekedar kesehatan reproduktif saja, karena ini merupakan sebuah konsep yang meliputi semuanya. Dalam upaya untuk menangani berbagai dimensi seksualitas dan kesehatan seksual dengan cara yang komprehensif, program – program kesehatan reproduktif yang terkini harus lebih diperluas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6. Menghentikan dan mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya.<br />
</strong>Akses universal untuk pencegahan, tes dan konseling sukarela, perawatan dan pengobatan HIV/AIDS yang komprehensif serta bentuk IMS lainnya merupakan hal sama-sama pentingnya bagi kesehatan seksual. Dengan demikian secepatnya harus ada peningkatan program – program yang menjamin keberadaan akses universal.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>7. Mengidentifikasi, menangani, dan mengatasi keluhan, disfungsi dan gangguan seksual<br />
</strong>Karena pemenuhan seksual memberikan kapasitas untuk meningkatkan kualitas hidup, maka amatlah penting bag kuta untuk mengakui, mencegah dan mengatasi semua keluhan, disfungsi dan gangguan seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>8. Mendapatkan pengakuan bahwa kenikmatan seksual merupakan sebuah unsur dari kesejahteraan manusia<br />
</strong>Kesehatan seksual bukan merupakan sekedar situasi bebas penyakit. Keniktmatan dan kepuasan seksual merupakan unsur yang tidak terpisahkan dari kesejahteraan manusia, sehingga unsur ini membutuhkan pengakuan dan promosi yang bersifat universal.</p>
<p style="text-align: justify;">Amatlah penting agar rencana aksi bagi pembangunan berkesinambungan di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional untuk memprioritaskan intervensi kesehatan seksual, mengalokasikan sumberdaya – sumberdaya yang mencukupi, menangani hambatan – hambatan masyarakat yang sistemik, struktural serta untuk memantau kemajuannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/sexuality-blitz/kesehatan-seksual-untuk-milenium-deklarasi-montreal-2005.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permasalahan Kesehatan Reproduksi &amp; Seksual Remaja Bali</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/permasalahan-kesehatan-reproduksi-seksual-remaja-bali.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/permasalahan-kesehatan-reproduksi-seksual-remaja-bali.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 10:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Lebih dari seperempat masalah pacaran yang masuk ke konseling telepon lembaga KISARA PKBI Bali hasil pencatatan hingga Juli tahun 2005, berkaitan dengan aktivitas seksual remaja, dan terdapat kecenderungan mereka baru berkonsultasi setelah seksual aktif. Awal keterlibatan mereka dalam hubungan seksual pranikah sebagian disebutkan karena coba-coba dan tanpa direncanakan, karena terbawa suasana dan adanya dorongan seksual [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117" title="kisara" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/kisara-300x155.jpg" alt="kisara" width="300" height="155" />Lebih dari seperempat masalah pacaran yang masuk ke konseling telepon lembaga KISARA PKBI Bali hasil pencatatan hingga Juli tahun 2005, berkaitan dengan aktivitas seksual remaja, dan terdapat kecenderungan mereka baru berkonsultasi setelah seksual aktif. Awal keterlibatan mereka dalam hubungan seksual pranikah sebagian disebutkan karena coba-coba dan tanpa direncanakan, karena terbawa suasana dan adanya dorongan seksual muncul karena ada pengaruh dari beberapa media pornografi yang pernah diakses.Dalam sebuah konseling tatap muka juga sempat terekam ada seorang remaja SMP kelas 2 yang sudah terpengaruh akan kebiasaan bermasturbasi yang terlalu berlebihan, awalnya kebiasaan ini pun karena coba-coba akibat ajakan dan pengaruh teman-teman sebayanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu adalah baru sebagian dari permasalan remaja yang berkaitan dengan aktivitas seksual. Belum lagi kasus-kasus kekerasan seksual, kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada remaja, aborsi remaja, pernikahan usia muda dan sejenisnya, yang nampaknya masih belum banyak diangkat secara mendalam, baru dibahas permukaannya saja, sehingga seolah-olah problem ini dianggap kasus yang semakin biasa terdengar dan tidak begitu penting untuk dikaji lebih jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Sementara menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional/ BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun. Dalam pendampingan oleh KISARA PKBI Bali, usia 10 sampai dengan 24 tahun adalah sasaran utama program komunikasi, informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi, seksual, termasuk hak reproduksi, HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba.</p>
<p style="text-align: justify;">Arus informasi melalui media masa baik berupa majalah, surat kabar, tabloid maupun media elektronik seperti radio, televisi, dan komputer, mempercepat terjadinya perubahan. Meskipun arus informasi ini menunjang berbagai sektor pembangunan, namun arus informasi ini juga melemahkan sistem sosial ekonomi yang menunjang masyarakat Indonesia. Remaja merupakan salah satu kelompok penduduk yang mudah terpengaruh oleh arus informasi baik yang negatif maupun yang positif. Perbaikan status wanita, yang terjadi lebih cepat sebagai akibat dari transisi demografi dan program keluarga berencana telah mengakibatkan meningkatnya umur kawin pertama dan bertambah besarnya proporsi remaja yang belum kawin. Hal ini adalah akibat dari makin banyaknya remaja baik laki-laki maupun perempuan yang meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dan makin banyaknya remaja yang berpartisipasi dalam pasar kerja. Panjangnya waktu dalam status lajang maupun kesempatan mempunyai penghasilan mempengaruhi remaja untuk berperilaku berisiko antara lain menjalin hubungan seksual pranikahl, minuman keras, narkoba yang dapat mengakibatkan kehamilan tidak diinginkan dan risiko reproduksi lainnya, juga tertular infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS.<span id="more-21"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BEBERAPA KAJIAN<br />
</strong><br />
Beberapa hal yang perlu disebutkan dalam kajian di sini antara lain adalah yang pertama, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada pertemuan “Gawe Bareng Remaja” April 2005 di Yogyakarta menyebutkan bahwa masalah remaja Indonesia pada intinya hampir sama, yaitu: minimnya pengetahuan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi karena terbatasnya akses informasi dan advokasi remaja, tidak adanya akses pelayanan yang ramah remaja, belum adanya kurikulum Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di sekolah, masih terbatasnya institusi di pemerintah yang menangani remaja secatra khusus dan belum ada undang-undang yang mengakomodir hak-hak remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Departemen Pendidikan Nasional dalam pertemuan dan Lokakarya Nasional Kehamilan Tidak Diinginkan di akhir Nopember 2005 lalu menyebutkan bahwa pada intinya mereka menyetujui bahwa KRR itu penting dan sudah diupayakan diberikan secara umum melalui mata pelajaran Penjaskes, IPA dan Agama, tetapi secara khusus masih dalam kuantitas yang sangat sedikit (2 jam) di Penjaskes SMA bila dilihat dari kurikulum nasional 1994. Dan disimpulkan pula bahwa sesungguhnya pendidikan KRR di sekolah masih belum berjalan. Hal ini dikarenakan ketidaksiapan tenaga pendidik, terbatasnya bahan ajar bagi guru, masih dianggap tabu dan banyaknya hambatan kultural. Sehingga perlu sekali terobosan yang dilakukan baik lewat jalur kurikuler, ekstrakurikuler maupun kegiatan khusus bekerjasama dengan lembaga lain. Lewat jalur kurikuler sudah ada pengembangan dengan diupayakan lewat kurikulum 2004 yang memasukkan materi “Sistem Reproduksi Manusia” pada mata pelajaran Biologi di kelas II SMA.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Simposium Nasional Pentingnya Pendidikan Seks buat Remaja, tahun 2002 yang lalu disebutkan juga bahwa tantangan dalam pelaksanaan program-program KRR di Indonesia, antara lain : tidak adanya aturan hukum yang mendukung.Undang-Undang Kependudukan No.10 tahun 1992 masih menyebutkan melarang pemberian informasi seksual dan pelayanan bagi orang yang belum menikah, meningkatnya angka kejadian seks pranikah, faktor-faktor demografi berupa : meningkatnya usia perkawinan, migrasi desa ke kota yang sangat cepat, perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat dari :<br />
1) break down in social and family support systems, 2) rising school enrolment at high school and university leads to separation of young people from family, 3) rising exposure to mass-media, girl/boy relationships, access to illicit materials, 4) increasing number of adolescent girls enter into sex industry for economic reasons</p>
<p style="text-align: justify;">BKKBN Propinsi Bali, dalam koordinasinya di tahun 2004 menyampaikan bahwa permasalahan KRR adalah sangat penting karena: jumlah remaja yang sangat besar dan remaja adalah aset masa depan, tetapi remaja justru berada dalam periode transisi yang penuh gejolak. Beberapa tantangan yang dihadapi di Bali adalah minimnya sarana dan prasarana, kurangnya melibatkan remaja dalam perencanaan program BKKBN dan sikap stakeholders yang masih belum kondisif, misalnya dalam diskusi tentang pendidikan KRR di sekolah maupun wacana penggunaan kondom dalam kampanye seks yang aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal penanganan HIV/AIDS yang juga tidak bisa lepas dari isu KRR, Komisi Penanggulangan AIDS daerah Bali dalam jumpa pers dalam rangka Hari AIDS Sedunia 2005 kemarin menyebutkan bahwa respon yang diberikan terhadap perkembangan kasus HIV/AIDS itu begitu lamban. Karena sebagian masyarakat kita termasuk beberapa pejabat pimpinan daerah masih menganggap HIV/AIDS belum merupakan ancaman serius. Yang kedua adalah karena masih adanya pandangan yang keliru yaitu berupa stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Semua ini bersumber dari kekurang pahaman mengenai sifat penyebaran penyakit tersebut. Upaya pencegahan dan penanggulangan yang masih diwarnai stigma dan diskriminasi akan menjadi melenceng. Bahkan cenderung melanggar HAM, merusak citra serta merugikan dan akhirnya menghambat upaya-upaya berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Bali yang didalam darahnya mengandung virus HIV kini diperkirakan sekitar 3000 orang (estimasi 2003) atau 4000 orang (estimasi 207). Mereka terutama tertular dari hubungan seks beresiko dan penggunaan jarum suntik narkoba bergantian. Mereka tersebar di seluruh Bali, meskipun masih terkonsentrasi di kota Denpasar, kabupaten Badung dan kabupaten Buleleng. Jika kita tidak berbuat apa-apa maka menurut ahli ilmu kesehatan masyarakat Prof. Dr.dr Dewa Wirawan, MPH peristiwa yang akan dialami Bali kira-kira akan sesuai dengan skenario berikut: sekitar 50% dari mereka yang saat ini HIV positif dalam kurun waktu 5 tahun akan memasuki fase AIDS. Kemungkinan sekali separuh dari pengidap AIDS itu yaitu sekitar 750 orang akan membutuhkan perawatan. Tempat tidur yang dimiliki oleh RSUP Sanglah yang merupakan pusat pelayan kesehatan rujukan saja ada sekitar 800an. Bisa jadi sebagian besarnya akan dihuni oleh pengidap AIDS. Belum lagi disusul gelombang penderita baru yang semakin banyak. Kebutuhan akan dokter, perawat, obat, alat dan sebagainya akan juga meningkat. Bahwa di Bali akan berlangsung “ngaben” massal bisa mendekati kenyataan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SEKILAS DATA<br />
</strong><br />
Survei Kesehatan Remaja Indonesia (SKRRI) 2002-2003 yang dilakukan oleh BPS menyebutkan laki-laki berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 57,5 persen dan yang berusia 15-19 tahun sebanyak 43,8 persen. Sedangkan perempuan berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 63 persen. Perempuan berusia 15-19 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 42,3 persen. Hasil SKRRI 2002-03 menunjukkan bahwa hubungan seksual sebelum menikah umumnya masih ditolak. Namun dalam kondisi tertentu penduduk usia 15-24 tahun belum menikah memberikan toleransi yang cukup besar bagi seseorang melakukan seks pra nikah, terutama jika telah merencanakan untuk menikah. Sekitar 29,6 persen diantara laki-laki berusia 15-24 tahun belum menikah yang setuju dengan seks pra nikah menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut akan menikah dan 26,5 persen menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut saling mencintai.</p>
<p style="text-align: justify;">Litdikkespro Bali pada tahun 2003 menemukan 28,6% istri dari pasangan usia subur telah hamil sebelum perkawinan. Kemudian Depkes RI pada tahun 1995/1996 melakukan survey yang menyebutkan bahwa kehamilan remaja berusia 13-19 tahun di Bali sebanyak 5%.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari bulan Agustus 2002 hingga Agustus 2003 KISARA PKBI Bali melakukan sebuah survey mengenai sikap dan prilaku pacaran dan aktivitas seksual pada siswa SMP kelas 3 hingga SMA kelas 1 (di bawah 17 tahun) di sekolah di daerah Denpasar, Badung,Tabanan dan Gianyar. Tercatat bahwa yang pernah pacaran adalah sejumlah 526 atau 23,75% dari total 2215 responden. Tidak satupun (0%) yang menyatakan bahwa hubungan seksual sebelum menikah itu boleh. Hal yang sama ditemukan pada pertanyaan apakah aktivitas petting, anal seks, oral seks diperbolehkan selama belum menikah. Yang diperbolehkan menurut responden adalah masturbasi, disebutkan oleh 44,15% responden, ciuman bibir (21,58%), cium kening/pipi (55,85). Tetapi ketika ditanyakan dengan aktivitas mana yang sudah mereka lakukan (dihitung dari yang sudah pernah pacaran), ditemukan data bahwa 2,28% sudah melakukan hubungan seksual, dan 0,57% sudah melakukan salah satu dari petting, anal seks, oral seks. Ciuman bibir sudah dilakukan oleh 13,12% responden yang sudah pernah pacaran, ciuman kening/pipi (26,24%), masturbasi dilakukan oleh 51,63% laki-laki, pada perempuan 3,32%.</p>
<p style="text-align: justify;">WHO memperkirakan 10-50% kematian ibu disebabkan oleh aborsi tergantung kondisi masing-masing negara. Diperkirakan di seluruh dunia setiap tahun dilakukan 20 juta aborsi tidak aman, 70.000 wanita meninggal akibat aborsi tidak aman dan 1 dari 8 kematian ibu disebabkan oleh aborsi tidak aman. Di wilayah Asia tenggara, WHO memperkirakan 4,2 juta aborsi dilakukan setiap tahunnya, di antaranya 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Perkiraan jumlah aborsi di Indonesia setiap tahunnya cukup beragam. Hull, Sarwono dan Widyantoro (1993) memperkirakan antara 750.000 hingga 1.000.000 atau 18 aborsi per 100 kehamilan. Sedangkan sebuah studi terbaru yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia memperkirakan angka kejadian aborsi di Indonesia per tahunnya sebesar 2 juta (Utomo dkk 2001). Aborsi yang tidak aman saat ini di Indonesia berkontribusi terhadap 30-50% Angka Kematian Ibu (AKI). Ini merupakan yang tertinggi di ASEAN.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil studi PKBI sejak tahun 2000-2003 dari 37.000 kasus KTD, ternyata 27% di antaranya belum menikah, termasuk 12,5% di natranya masih berstatus pelajar atau mahasiswa. Studi ini melibatkan 9 kota, salah satunya Denpasar. Kemudian juga studi kualitatif PKBI selama tahun 2005 lalu menyebutkan bahwa persentase KTD remaja tertinggi ada di Denpasar, Mataram dan Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">SKRRI 2002-03 mencatat bahwa 8 dari 10 penduduk berusia 15-24 tahun yang belum menikah pernah mendengar HIV/AIDS namun hanya 3 dari 10 penduduk berusia 15-24 tahun yang belum menikah yang mengetahui secara spesifik satu cara untuk menghindari atau mencegah penularan infeksi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kurun waktu yang hampir sama dari bulan Nopember 2002 – Nopember 2003, KISARA PKBI Bali juga melakukan sebuah survey di kalangan siswa SMA di Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan yang menyebutkan walaupun 66,82% dari responden bisa menyebutkan pengertian AIDS dengan benar, dan 75,95% juga benar menyebutkan penyebab AIDS, namun hanya 38,98% yang mengerti dengan baik cara penularannya. Bahkan hanya 24,32% yang bisa menyebutkan benar bahan di tubuh penderita yang bisa menularkan virus penyebab AIDS. Di samping itu juga hanya 44,77% yang bisa menjawab dengan benar apa saja cara pencegahan HIV/AIDS.</p>
<p style="text-align: justify;">Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI, melaporkan bahwa sampai dengan Juni 2005 secara komulatif jumlah pengidap infeksi HIV secara nasional sudah mencapai 3.740 orang dan kasus AIDS mencapai 3.358 orang. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta, Papua, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan Riau. Rerata komulatif kasus AIDS Nasional berdasar laporan Departemen Kesehatan RI, sampai Juni 2005 sudah mencapai 1,67 jiwa per 100.000 penduduk.</p>
<p style="text-align: justify;">Rerata komulatif kasus AIDS untuk Provinsi Bali pada laporan yang sama berada pada urutan tiga besar yaitu mencapai 2,97 kali angka nasional, setelah Papua (15,36 kali angka naional) dan DKI Jakarta (11,59 kali angka nasional). Adapun cara penularan kasus AIDS dalam skala nasional 47,2 persen melalui IDU (Injecting Drug User/Pengguna Narkoba Suntik), melalui Heteroseksual (36,4 persen) dan melalui Homoseksual (5,8 persen). Proporsi komulatif kasus AIDS tertinggi ada pada kelompok umur 20-29 tahun (53,9 persen) disusul kelompok umur 30-39 tahun (25,6 persen) dan kelompok umur 40-49 tahun (8,5 persen). Permasalahan HIV/AIDS dewasa ini menjadi semakin penting mendapat perhatian semua pihak, karena sudah merupakan ancaman serius umat manusia di dunia. Khusus untuk kondisi Provinsi Bali, berdasar pada beberapa hasil survei, sekitar 1 persen penduduk laki-laki rentan di pedesaan maupun di perkotaan sudah terinveksi HIV. Sekitar 10 persen wanita penjaja seks (WPS) dan 50 sampai 70 persen pemakai narkoba suntik (IDU) di Bali sudah terinfeksi HIV. Jumlah penduduk di Bali yang saat ini diperkirakan telah dan atau sedang terinfeksi HIV mencapai 3.000 orang, dari jumlah itu, 1.900 orang laki-laki maupun perempuan diperkirakan terinfeksi melalui penularan hubungan seksual dan 1.100 orang terinfeksi melalui pertukaran jarum suntik pemakai narkoba. Dilaporkan pula, bayi dan anak-anak juga telah dijumpai tertular HIV dari ibu yang positive HIV. Sejak 1994, kegiatan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS yang sudah dilaksanakan di Provinsi Bali lebih difokuskan pada kelompok penduduk perilaku risiko tinggi, seksual maupun IDU atau kelompok penduduk High Risk Community agar tidak terinfeksi HIV (HIV+ Poeple). Perkembangan kasus HIV/AIDS yang semakin pesat, semakin membuka pemahaman pihak-pihak terkait berupaya melakukan pencegahan dan penannggulangan secara menyeluruh dan sistematis di masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>REGULASI DAN KOMITMEN<br />
</strong><br />
Sedikit sekali munculnya perubahan regulasi maupun perkembangan yang berarti dari undang-undang maupun aturan di daerah yang pro remaja. Padahal berbagai kebijakan kesehatan reproduksi remaja di Indonesia sebenarnya mulai mengacu pada kesepakatan ICPD di Kairo, yang diselenggarakan sudah sebelas tahun yang lalu yaitu tahun 1994, di sebuah konferensi kependudukan yang melahirkan sebuah komitmen tentang pemberdayaan remaja dan pemenuhan hak-hak remaja dan hak-hak reproduksi. Salah satunya adalah tentang upaya pemberian informasi, konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi yang seluas-luasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya upaya yang paling strategis sebagai langkah awal mungkin adalah lewat berbagai deklarasi dan komitmen-komitmen yang tentunya kekuatan hukumnya masih sangat lemah. Di Bali, tahun 2004 yang lalu, berbagai elemen lembaga peduli permasalahan kesehatan reproduksi remaja berkumpul dalam acara “Ajang Ngumpul Remaja” yang menyepakati bersama dalam sebuah deklarasi berjudul “Suara Remaja” yang berupa deklarasi sebagi berikut: Kami remaja Indonesia, Kami mendesak pemerintah, legislatif, masyarakat termasuk orang tua, dan sektor swasta untuk:<br />
1) Menyediakan akses, informasi, pelayanan, pendidikan, dan perlindungan bagi kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja di sekolah maupun luar sekolah dengan mengedepankan prinsip yang bersahabat dengan remaja (komunikatif, profesional, mudah dijangkau, dan menghormati hak-hak remaja).<br />
2) Melibatkan remaja secara aktif untuk berpartisipasi dalam penyusunan, implementasi serta monitaring dan evaluasi program dan kebijakan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja.<br />
3) Melibatkan remaja secara aktif dalam proses pembahasan RUU Kependudukan tahun 2004 terutama pada pasal-pasal yang berkaitan dengan remaja.<br />
4) Mengimplementasikan dan mensosialisasikan program dan kebijakan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja secara sinergis dalam dan antar instansi, masyarakat, dan mass media.<br />
5) Mengalokasikan sumber pendanaan dan sumber daya lainnya secara proporsional untuk penyediaan informasi, pelayanan, pendidikan dan perlindungan remaja atas risiko dan dampak kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja.<br />
6) Memfasilitasi pembentukan Komisi Nasional Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Seksual Remaja yang independen yang berperan sebagai lembaga konsultatif, koordinatif serta monitoring program dan kebijakan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai pendidikan kesehatan reproduksi, di Bali ada perkembangan cukup menggembirakan dengan dimotori oleh Departemen Pendidikan Kota Denpasar bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Bali, malah sudah selangkah lebih maju dengan telah menerapkan muatan silabus kurikulum HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi yang secara tekstual menginsersi materi ini ke dalam kurikulum sekolah dan telah melatih guru-guru pengajarnya mulai kelas 1 SMP hingga kelas 2 SMA. Yang dipakai sebagai bidang studi yang terintegrasi adalah satu pelajaran saja agar bisa lebih mudah diukur dan dievaluasi secara kognitif dan afektifnya. Dalam tingkat SMP dipilih pelajaran IPA, sedangkan di tingkat SMA kelas 1 di Biologi, di kelas 2 adalah Biologi untuk yang memilih jurusan IPA dan Sosiologi untuk yang jurusan IPS. Hal ini sudah dimulai pada tahun ajaran ini. Untuk meningkatkan tingkat psikomotor siswa, telah dilakukan upaya pembentukan dan revitalisasi Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) sebagai sebuah kelompok ekstrakurikuler.</p>
<p style="text-align: justify;">Akses kepada alat kontrasepsi juga masih sangat terbatas. Beberapa macam model kampanye telah dilakukan oleh berbagai lembaga, baik LSM maupun juga pihak swasta untuk mensosialisasikan penggunaan kondom. Termasuk sempat menyediakan mesin ATM kondom kerjasama BKKBN propinsi Bali dengan PKBI daerah Bali. Tetapi angka penggunaan kondom masih rendah, yaitu sekitar 20-30%.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia terdapat sekitar 40 juta ODHA, dan setiap harinya 14.000 orang terinfeksi HIV. Dalam setiap enam detik terdapat penambahan satu kasus baru. Sehingga penghapusan pelacuran dan narkoba yang memerlukan usaha dan waktu yang sangat lama, sulit menjamin penghapusan HIV/AIDS dari muka bumi. Oleh karena itu gelombang tsunami epidemi HIV harus dicegah terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Memahami keadaan ini dan mengacu kepada Komitmen Sentani maka pada tanggal 7 Mei 2004, jajaran pimpinan daerah di Bali, menandatangani Komitmen Sanur. Komitmen Sanur mengandung delapan butir kegiatan yang harus dilaksanakan:<br />
1. meningkatkan penggunaan kondom pada setiap aktivitas seksual beresiko dengan target 60% pada akhir tahun 2005 dan menjadi 80% akhir 2007;<br />
2. meningkatkan jangkauan dan cakupan kegiatan pengurangan dampak buruk pada semua penggunaan narkoba suntik termasuk di Lapas dengan target 75% pada akhir tahun 2005;<br />
3. meningkatkan pelayanan dan dukungan yang komprehensif termasuk pemberian ARV pada setiap ODHA sekurang-kurangnya 200 orang pada akhir 2005 dan 500 orang pada akhir 2007;<br />
4. mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA;<br />
5. memperkuat dan memberdayakan peran dan fungsi KPAD Propinsi/Kabupaten/Kota di Bali;<br />
6. mengupayakan dukungan peraturan perundangan dan penganggaran untuk pelaksanaan penangulangan HIV/.AIDS;<br />
7. meningkatkan kampanye penanggulangan HIV/AIDS dengan melaksanakan pendidikan perubahan perilaku melalui semua jalur;<br />
8. menggalang keterlibatan semua komponen masyarakat baik pemerintah, lembaga non-pemerintah, kelompok maupun perorangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini di Bali telah memiliki Peraturan Daerah No.3 Tahun 2006, sebuah Perda Penanggulangan HIV/AIDS di Bali.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PROGRAM DAN RESPON DARI PEMERINTAH DAN LSM<br />
</strong><br />
Strategi program yang bisa dikembangkan dalam program KRR adalah beberapa hal berupa: mengembangkan seluas-luasnya pusat informasi dan pelayanan remaja yang ramah remaja, mengembangkan media informasi dan pendidikan, mengintegrasikan program remaja ke dalam program pencegahan HIV/AIDS dan IMS, memperkuat jaringan dan sistem rujukan ke pusat pelayanan kesehatan yang relevan, memperkuat pelayanan dan informasi bagi remaja termasuk meningkatkan perlindungan bagi remaja putri dan anak-anak untuk menghindari segala upaya eksploitasi dan kekerasan anak dan remaja. Juga melaksanakan penelitian atau riset tentang KRR dan kebijakan hak-hak reproduksi remaja, melatih orang tua dan guru tentang KRR dan hak-hak reproduksi remaja, meningkatkan kapasitas staf dan relawan youth center untuk memberikan pelayanan ramah remaja dan mengembangkan advokasi dengan isu pemenuhan hak-hak reproduksi remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pihak pemerintah, yang mendapatkan porsi cukup besar menyelenggarakan program KRR ini adalah BKKBN dan Biro BKPP setda Bali, serta beberapa dinas terkait juga ada mengambil beberapa program yang juga menyasar permasalahan kesehatan reproduksi, misalnya Dinas Pendidikan &amp; Kebudayaan dan Dinas Kesehatan. BKKBN menggunakan strategi pelaksanaan program berupa kemitraan yang sejajar dengan lembaga swadaya masyarakat dan organisasi kemanusiaan lainnya BKKBN saat ini mengembangkan empat pendekatan: institusi keluarga, kelompok remaja sebaya, institusi sekolah, dan tempat kerja Kebijakan yang dilaksanakan ke depan adalah peningkatan promosi KRR, peningkatan advokasi KRR, pengembangan KIE, peningkatan konseling KRR, peningkatan dukungan pelayanan bagi remaja dengan masalah khusus, peningkatan dukungan bagi kegiatan remaja yang positif. Melaui strategi: kemitraan dan pemberdayaan remaja Dengan beberapa pencapaian BKKBN propinsi Bali berupa kemitraan dengan LSM dalam bentuk PIK-KRR, pembinaan kelompok keluarga peduli remaja, bermitra dalam pembinaan kelompok remaja, pelatihan remaja dan orang tua sebagai fasilitator program KRR.</p>
<p style="text-align: justify;">Departemen Pendidikan Kota Denpasar sudah menerapkan muatan silabus kurikulum HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi di sekolah. Juga telah melakukan pembentukan dan revitalisasi Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) sebagai sebuah kelompok ekstrakurikuler termasuk pembentukan forum guru pembinanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara sekilas juga bisa disampaikan bahwa untuk wilayah Propinsi Bali, upaya sosialisasi kegiatan kesehatan reproduksi masih dimotori oleh LSM PKBI Daerah Bali, dengan tulang punggungnya adalah KISARA untuk program KRR nya sejak tahun 1994. KISARA PKBI Bali juga berkontribusi dalam memposisikan salah satu relawannya sebagai salah satu anggota dari 20 anggota Indonesia Youth Partnership (IYP), yang merupakan relawan remaja yang diposisikan sebagai advokat remaja. Yang agendanya adalah membahas isu KRR local ke level nasional dan membahasnya bersama dengan pihak legislative langsung (DPR).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa jaringan kerjasama antar lembaga juga dikembangkan di Bali antar LSM yang sama-sama bergerak di bidang kesehatan reproduksi, seksualitas, AIDS dan narkoba. Di samping PKBI dan KISARA juga ada Yayasan Sehati dan Yayasan Rama Sesana yang berkonsentrasi di pendampingan kesehatan reproduksi perempuan, Yayasan Kerti Praja dan Yayasan Citra Usadha di pendampingan pencegahan IMS dan HIV/AIDS pada kalangan berisiko tinggi, Baliplus di pemberian dukungan terhadap ODHA. Kemudian ada Yakeba, Yayasan hati-hati dan Matahati yang bergerak di pendampingan pecandu narkoba dan harm reduction (upaya mengurangi dampak buruk penggunaan narkoba suntik), Yakita dan Yayasan Bali Nurani di bidang rehabilitasi pecandu narkoba, Kelompok Tunjung Putih yang melakukan pembinaan terhadap ODHA perempuan dan juga beberapa lembaga pendampingan terhadap kasus pelecehan dan kekerasan perempuan seperti Bali Sruti dan LBH Bali. Dari sektor swasta juga telah terbentuk sebuah komunitas peduli HIV/AIDS dan beasiswa kepada anak ODHA yang bernama Bali Community Cares (BCC), yang saat ini tengah memproduksi film HIV/AIDS remaja bersama KISARA berjudul “3 Ruang” yang akan menjadi salah satu media utama kampanye HIV/AIDS di Bali tahun 2006.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LIFE SKILL<br />
</strong><br />
KKBN menyebutkan tantangan mereka adalah kurangnya upaya pelibatan dan pemberdayaan remaja sejak dari mulainya perencanaan program, dan beberapa kegiatan yang sifatnya meningkatkan kemampuan psikomotor juga dari instatnsi pemerintah secara umum di materi kesehatan reproduksi masih sangat kurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendekatan yang sudah berjalan cukup lama justru dilakukan oleh beberapa LSM dengan mengikutsertakan remaja dan siswa sekolah dalam kegiatannya. Sejak tahun 1994 KISARA PKBI Bali melakukan pemberdayaan di bidang kesehatan reproduksi dan pengembangan life skill dengan merekrut langsung remaja sebagai relawan remaja, yang selanjutnya diberdayakan lewat berbagai pelatihan remaja. Atau juga dengan mengundang remaja sekolah ikut dalam beberapa pelatihan tersebut. Sejak dua tahun belakangan ini juga UNICEF ikut memberdayakan remaja lewat program Muda Berdaya yang dijalani oleh Yakita, tetapi masih terbatas di pendampingan akan bahaya narkoba. BKKBN propinsi Bali juga mulai tahun ini mengembangkan pendidik sebaya berlabel PIK-KRR di masing-masing kabupaten yang ada di Bali yang muatan juga di samping pemberdayaan pendidik sebaya, juga ada muatan pemberian life skill di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang cukup menarik adalah revitalisasi KSPAN oleh Dinas Pendidikan Kota Denpasar bekerjasama dengan KPA propinsi Bali. KSPAN awalnya dibentuk di masing-masing sekolah di tingkat SMP dan SMA di Denpasar, sebagai sebuah kelompok ekstrakurikuler. KSPAN diharapkan sebagai jembatan untuk upaya penyeimbang materi HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi yang telah diberikan dalam kurikulum terintegrasi yang sifatnya meningkatkan kognitif dan afektif saja, sedangkan KSPAN adalah upaya menmingkatkan kemampuan psikomotornya, dan materi-materi life skill akan banyak diinsersi di kelompok ini. Saat ini di Denpasar sudah terbentuk Forum Guru Pembina KSPA tingkat SMP dan SMA. Revitalisasi KSPAN ini sekarang sudah dilakukan di seluruh kabupaten di Bali.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PROGRAM DAKU YANG DISUPPORT WPF<br />
</strong><br />
Salah satu bentuk upaya melakukan sosialisasi dan pemberdayaan remaja sekolah dalam hal penyadaran hak-hak reproduksi dan seksualitasnya adalah lewat program edukasi berbasiskan teknologi informatika dalam kemasan CD-ROM dengan program flash, bernama DAKU! (Dunia Remajaku, Seru!). Program ini disupport sepenuhnya oleh World Population Foundation (WPF). Modul DAKU! merupakan panduan bagi remaja dalam proses mengembangkan citra diri yang realistis, rasa percaya diri, menerima perubahan saat pubertas, memahami peranan jender untuk menjadi lebih mandiri, membina hubungan, memiliki keputusan mengenai aktivitas kegiatan seksual, dan kemampuan bernegosiasi untuk tidak melakukan hubungan seksual atau berperilaku yang aman. Modul ini memandu remaja dan mendukung usaha untuk mencegah terjadinya Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS. Pelajaran terakhir pada modul adalah membahas masalah kesehatan reproduksi dan seksual serta dampaknya; misalnya membantu remaja menghadapinya dan mencari dukungan untuk masalah kesehatan reproduksi/seksual; memahami, menghindari dan menangani pelecehan dan kekerasan seksual. DAKU! sangat tepat dan cocok untuk dilaksanakan di Bali, khususnya di Denpasar. Program ini diadaptasi dari program World Starts With Me (WSWM) yang dimulai di Uganda, bersama yayasan Pelita Ilmu (YPI), program WSWM ini diadaptasi menjadi DAKU! di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Bali, sekolah yang telah bisa bekerjasama untuk melaksanakan program DAKU! ini adalah SMA 4 Denpasar, SMA 2 Denpasar dan SMA 3 Denpasar. Dengan pertimbangan secara teknis mereka juga sudah lebih siap dibanding sekolah lainnya. Ketiga sekolah ini sudah menyeleksi dan merekomendasikan 3 orang gurunya untuk bisa terlibat di program DAKU! ini dan telah bersedia bekerja sama dalam pelaksanaan DAKU! sebagai guru-guru yang bisa mengajarkan permasalahan kesehatan reproduksi dan seksualitas kepada siswanya. Untuk tahun ajaran baru ini ada 6 sekolah baru yang bergabung ikut menyelenggarakan program DAKU! yaitu SMA 1 Denpasar, SMA 5 Denpasar, SMA Saraswati, SMA Kertha Wisata, SMKTI Global dan Sekolah Dyatmika. Bahkan Sekolah Dyatmika sepakat menjalankan program ini sebagai program intrakurikuler penuh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LAINNYA<br />
</strong><br />
Dalam waktu dekat juga telah dimunculkan kegiatan pendukung untuk bisa menampung aktivitas remaja, memberikan akses informasi dan pelayanan kepada permasalahan remaja yang akan didukung oleh Ford Foundation dalam bentuk wadah Integrated Youth Center (IYC), yang konsepnya segera dicobakan lewat KISARA PKBI Bali dengan dukungan teknis dari Bali Youth Foundation (BYF).</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/permasalahan-kesehatan-reproduksi-seksual-remaja-bali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja dan Perubahan Biopsikososial</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-dan-perubahan-biopsikososial.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-dan-perubahan-biopsikososial.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 10:50:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Istilah ini menunjuk masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita. Batasan remaja dalam hal ini adalah usia 10 tahun s/d 19 tahun menurut klasifikasi World Health Organization (WHO). Sementara United Nations (UN) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-115" title="05-07-puberty" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/05-07-puberty-300x278.jpg" alt="05-07-puberty" width="300" height="278" />Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Istilah ini menunjuk masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita. Batasan remaja dalam hal ini adalah usia 10 tahun s/d 19 tahun menurut klasifikasi World Health Organization (WHO). Sementara United Nations (UN) atau PBB menyebutnya sebagai anak muda (youth) untuk usia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam batasan kaum muda (young people) yang mencakup usia 10-24 tahun. Transisi ke masa dewasa bervariasi dari satu budaya kebudayaan lain, namun secara umum didefinisikan sebagai waktu dimana individu mulai bertindak terlepas dari orang tua mereka. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja</p>
<p style="text-align: justify;">Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran &amp; sistem reproduksi (Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan, 1994). Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.</p>
<p style="text-align: justify;">Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. Proses reproduksi merupakan proses melanjutkan keturunan yang menjadi tanggung jawab bersama laki-laki maupun perempuan. Karena itu baik laki-laki maupun perempuan harus tahu dan mengerti mengenai berbagai aspek kesehatan reproduksi. Beberapa pengetahuan dasar yang perlu diberikan kepada remaja agar remaja mempunyai kesehatan reproduksi yang baik adalah pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja) termasuk di dalamnya adalah mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginannya dan pasangannya, bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi, pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual remaja, kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya, hak-hak reproduksi serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif atau belum boleh dilakukan sebelum waktunya.<span id="more-27"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa Yang Berubah Pada Remaja?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Karena merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa, tentunya masa remaja identik dengan berbagai perubahan. Perubahan apa yang banyak dialami remaja? Perubahan tersebut meliputi perubahan fisik, baik yang bisa dilihat dari luar maupun yang tidak kelihatan. Remaja juga mengalami perubahan psikis yang kemudian tercermin dalam sikap dan tingkah laku. Ini erat kaitannya dengan perubahan dari sisi sosial dan prilaku sejalan perkembangan kepribadiannya yang dipengaruhi tidak saja oleh orangtua dan lingkungan keluarga, tetapi juga lingkungan sekolah, ataupun teman-teman pergaulan di luar sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Perubahan Fisik</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan-perubahan yang paling mudah untuk dimati terjadi pada remaja sebenarnya adalah perubahan fisiknya, yang secara seksual perubahan ini dibedakan lagi dalam menentukan ciri seks primer dan sekundernya. Ciri seks primer adalah tanda atau perubahan yang menentukan sudah mulai berfungsi optimalnya organ reproduksi pada manusia. Sedangkan ciri seks sekunder adalah perubahan-perubahan yang menyertai ciri seks primer yang terlihat dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks primer laki-laki:<br />
Mimpi basah</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks primer perempuan:<br />
Menstruasi</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks sekunder laki-laki:<br />
Tubuh bertambah berat dan tinggi<br />
Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang<br />
Tangan dan kaki bertambah besar<br />
Pundak dan dada bertambah besar dan bidang<br />
Otot menguat<br />
Tulang wajah memanjang dan membesar, tidak tampak seperti anak kecil lagi<br />
Tumbuh jakun<br />
Tumbuh rambut-rambut di ketiak, sekitar muka dan sekitar kemaluan<br />
Penis dan buah zakar membesar<br />
Suara menjadi besar<br />
Keringat bertambah banyak<br />
Kulit dan rambut mulai berminyak</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks primer perempuan:<br />
Tubuh bertambah berat dan tinggi dengan bentuk tumbuh berlekuk<br />
Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang<br />
Tangan dan kaki bertambah besar<br />
Tumbuh payudara<br />
Putting menonjol keluar<br />
Pantat berkembang lebih besar<br />
Tulang wajah memanjang dan membesar, tidak tampak seperti anak kecil lagi<br />
Tumbuh rambut-rambut di ketiak dan kemaluan<br />
Vagina mulai mengeluarkan cairan<br />
Keringat bertambah banyak<br />
Kulit dan rambut mulai berminyak</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejak lahir. Perubahan yang cukup menyolok terjadi ketika remaja baik perempuan dan laki-laki memasuki usia antara 9 sampai 15 tahun, pada saat itu mereka tidak hanya tubuh menjadi lebih tinggi dan lebih besar saja, tetapi terjadi juga perubahan-perubahan di dalam tubuh yang memungkinkan untuk bereproduksi atau berketurunan. Aktivitas kelenjar pituitari pada saat ini berakibat dalam sekresi hormon yang meningkat, dengan efek fisiologis yang tersebar luas. Hormon pertumbuhan memproduksi dorongan pertumbuhan yang cepat, yang membawa tubuh mendekati tinggi dan berat dewasanya dalam sekitar dua tahun. Dorongan pertumbuhan terjadi lebih awal pada perempuan daripada laki-laki, juga menandakan bahwa perempuan lebih dahulu matang secara seksual daripada laki-laki.<br />
Perubahan dari masa anak-anak menuju masa dewasa atau sering dikenal dengan istilah masa pubertas ditandai dengan datangnya menstruasi (pada perempuan) atau mimpi basah (pada laki-laki). Datangnya menstruasi dan mimpi basah pertama tidak sama pada setiap orang. Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Salah satunya adalah karena gizi. Saat ini ada seoran anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama (menarche) di usia 8-9 tahun. Namun pada umumnya sekitar 12 tahun.<br />
Hormon-hormon utama yang mengatur perubahan ini adalah testosteron pada laki-laki dan estrogen pada perempuan, zat-zat yang juga dihubungkan dengan penampilan ciri-ciri seksual sekunder: rambut wajah, tubuh, dan kelamin dan suara yang mendalam pada laki-laki; rambut tubuh dan kelamin, pembesaran payudara, dan pinggul lebih lebar pada perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa itu mimpi basah?</strong><br />
Remaja laki-laki memproduksi sperma setiap harinya. Sperma tidak harus selalu dikeluarkan, ia akan diserap oleh tubuh dan dikeluarkan melalui cairan keringat, kotoran cair dan kotoran padat. Sperma bisa dikeluarkan melalui proses yang disebut ejakulasi, yaitu keluarnya sperma melalui penis. Ejakulasi bisa terjadi secara alami (tidak disadari oleh remaja laki-laki) melalui mimpi basah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana proses terjadinya menstruasi?</strong><br />
Menstruasi terjadi karena sel telur yang diproduksi indung telur tidak dibuahi oleh sel sperma dalam rahim. Sel telur tersebut menempel pada dinding rahim dan selanjutnya rahim akan membentuk lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah, kemudian menipis dan luruh keluar melalui mulut rahim dan vagina dalam bentuk darah, yang biasanya terjadi selama 3-7 hari. Jarak antara satu haid dengan haid berikutnya tidak sama pada setiap orang. Adakalanya 21 hari atau bisa juga 35 hari.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kapan masa subur terjadi?</strong><br />
Masa subur adalah masa dimana terjadinya pelepasan sel telur pada perempuan. Titik puncak kesuburan terjadi pada hari ke 14 sebelum masa menstruasi berikutnya. Tetapi tanggal menstruasi berikutnya sering kali tidak pasti pada remaja. Biasanya diambil perkiraan masa subur 2-3 hari sebelum dan sesudah hari ke 14 tersebut. Pada masa remaja pencegahan kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seksual pada masa subur (sistem kalender), tidak dapat diandalkan. Ini disebabkab siklus mentruasi pada remaja perempuan biasanya tidak teratur.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa pengaruh dan manfaat hormon estrogen pada anak perempuan?</strong><br />
Hormon ini membuat seorang anak perempuan memiliki sifat kewanitaan setelah remaja. Hormon estrogen mempunyai beberapa khasiat, dia dapat merangsang pertumbuhan kelenjar susu di payudara sehingga payudara membesar. Juga merangsang pertumbuhan saluran telur, rongga rahim dan vagina sehingga membesar. Di vagina, estrogen membuat dinding kian tebal dan cairan vagina bertambah banyak. Estrogen juga dapat mengakibatkan tertimbunnya lemak di daerah panggul perempuan, tetapi juga dapat memperlambat pertumbuhan tubuh yang semula sudah dirangsang oleh kelenjar bawah otak. Itulah sebabnya mengapa perempuan dewasa tidak setinggi anak laki-laki sebayanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Selain estrogen hormon apalagi yang dominan pada tubuh anak perempuan?</strong><br />
Selain estrogen, hormon seks utama lain dari seorang wanita adalah progesteron, yang khasiatnya bermacam-macam tetapi efeknya yang utama adalah melemaskan otot-otot halus, meningkatkan produksi zat lemak di kulit dan meningkatkan suhu badan. Efek progesteron yang terpenting ialah pada rahim. Ia mempertebal dinding di dalam rahim dan merangsang kelenjar-kelenjar agar mengeluarkan cairan pemupuk bagi sel telur yang dibuahi. Dengan demikian sel telur yang sudah dibuahi akan terpelihara selama mencoba memperkuat kedudukannya di dinding rahim.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa pengaruh dan manfaat hormon testosteron pada remaja laki-laki?</strong><br />
Hormon testosteron yang dihasilkan oleh testis. Hormon-hormon seks ini ada di dalam darah dan mempengaruhi alat-alat dalam tubuh serta menyebabkan terjadinya beberapa pertumbuhan seks primer. Hormon testosteron bersama hormon anak ginjal menimbulkan ciri-ciri pertumbuhan seks sekunder.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena di masa puber hormon-hormon seksual berkembang dengan pesat, ini membuat remaja sangat mudah terangsang secara seksual. Pada laki-laki, dorongan seks yang muncul akan menyebabkan sebuah reaksi berupa mengerasnya penis. Reaksi ini dikenal dengan istilah ereksi. Namun demikian, karena belum stabilnya hormon di dalam tubuh, ereksi bisa muncul tanpa adanya rangsangan seksual. Kondisi yang sering kali muncul secara tak terduga ini bisa membuat remaja laki-laki salah tingkah dan kebingungan menyembunyikan tonjolan di celana gara-gara ereksi tadi. Secara umum perubahan fisik baik pada remaja perempuan maupun remaja laki-laki akan berhenti pada usia sekitar 20 tahun, yang berakibat pada remaja selain tubuh tidak akan bertambah tinggi, payudara tidak akan membesar lagi, dan panggul tidak akan bertambah lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Perubahan Psikis, Sosial dan Prilaku</p>
<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan perkembangan fisiknya, pada masa remaja juga akan terlihat jelas berbagai perubahan yang menyangkut aspek psikis, sosial dan prilakunya. Pada masa ini mulai muncul kebutuhan akan privasi, keintiman dan ekspresi erotik. Ditandai dengan mulai tumbuh ketertarikan pada lawan jenisnya dan keinginan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan lawan jenisnya. Beberapa perubahan yang bisa diamati adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">Emosi yang mudah berubah (antara sedih, marah, senang, takut)<br />
Rasa ingin tahu dan ingin mencoba besar<br />
Rasa ingin dihargai dan diakui kedewasaannya<br />
Lebih percaya dan mudah terpengaruhi oleh teman sebaya<br />
Merasa mampu bertanggung jawab dan mulai berani mengambil resiko<br />
Lebih kritis dan ingin menuntut keadilan<br />
Menjadi lebih sensitif<br />
Timbul perhatian pada lawan jenis sehingga suka memperhatikan penampilan<br />
Ingin diperhatikan dan disayang<br />
Dll</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya secara emosional remaja bergerak ke arah ingin mandiri lepas dari orang tua atau mereka yang lebih tua dan membentuk hubungan dan minat yang baru. Apakah perubahan ini dapat dilalui dengan mudah? Tentu saja tidak, karenanya masa ini juga disebut dengan masa pancaroba yaitu di mana seorang remaja mulai menyesuaikan sikapnya sebagai orang dewasa karena adanya perubahan pada tubuhnya serta bertambahnya pengetahuan (baik yang benar maupun yang keliru) tentang dirinya. Kesemuanya ini bisa menimbulkan konflik diri, di satu sisi seorang remaja menikmati perubahan yang terjadi pada tubuhnya, namun di sisi lain ia merasa takut dan ragu apakah yang dialaminya itu juga dialami oleh orang lain. Remaja biasanya bertanya-tanya: “Ini normal atau tidak…..?”, “Apakah orang lain merasakan hal yang sama…?”</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian besar remaja mampu menyesuaikan diri tanpa mendapatkan kesulitan apa-apa. Tetapi selama masa penyesuaian remaja akan bersikap irasional, mudah tersinggung dan sulit dimengerti. Hal ini karena adanya konflik dalam dirinya, frustrasi, kebimbangan dan bahkan mungkin keputusasaan. Tugas psikososial remaja adalah untuk tumbuh dari orang yang tergantung menjadi orang yang tidak tergantung, yang identitasnya memungkinkan orang tersebut berhubungan dengan lainnya dalam gaya dewasa. Kehadiran problem emosional bervariasi antara setiap remaja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengapa Perubahan-Perubahan Tersebut Perlu Diketahui Oleh Remaja?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketidaktahuan remaja mengenai apa yang terjadi pada dirinya dan mengapa hal itu terjadi dapat menimbulkan rasa cemas dan malu. Mereka akan bertanya-tanya apakah perubahan itu merupakan suatu hal yang normal, apakah semua orang mengalaminya, apa yang harus mereka lakukan dengan perubahan itu. Pada remaja perempuan, umumnya belajar dan tahu tentang menstruasi dari ibunya. Sayangnya tidak semua orang tua memberikan informasi yang memadai kepada putrinya dan sebagian bahkan beranggapan tabu membicarakan hal tersebut kepada putrinya. Akibatnya remaja putri menjadi cemas dan berkeyakinan bahwa menstruasi itu sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuat dirinya kotor. Khususnya jika remaja putri tersebut mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan menjelang dan selama ia menstruasi seperti merasa tidak enak badan, pusing-pusing, perut kembung, letih atau mudah tersinggung. Dibandingkan dengan remaja putri, pengalaman mengalami mimpi basah pada laki-laki sebagian besar tidak menimbulkan kecemasan yang tinggi, karena tidak diperlukan perawatan ekstra seperti menstruasi pada remaja putri.</p>
<p style="text-align: justify;">Remaja perlu mengetahui perubahan-perubahan ini juga agar mereka mampu mengendalikan perilakunya. Remaja harus mengerti bahwa begitu dia mendapatkan menstruasi atau mimpi basah maka secara fisik dia telah siap dihamili atau menghamili. Bisa hamil atau tidaknya remaja putri bila melakukan hubungan seksual tidak tergantung pada berapa kali dia melakukan hubungan seksual tetapi tergantung pada kapan dia melakukan hubungan seksual (dikaitkan dengan siklus kesuburan) dan apakah sistem reproduksinya berfungsi dengan baik. Banyak remaja yang tidak mengetahui akan hal ini, sehingga mereka menyangka bahwa untuk hamil orang harus terlebih dahulu melakukan hubungan seksual berkali-kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dengan adanya perubahan-perubahan tersebut maka remaja, baik laki-laki maupun perempuan perlu memperhatikan kebersihan tubuh secara lebih seksama. Remaja perempuan terutama lebih perlu memperhatikan kebersihan sekitar vagina agar tidak terjadi bau yang tidak sedap dan infeksi. Remaja laki-laki perlu secara teratur mencukur bulu-bulu disekitar wajah serta mencegah bau badan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-dan-perubahan-biopsikososial.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A boy’s perspective: for real?</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/a-boy%e2%80%99s-perspective-for-real.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/a-boy%e2%80%99s-perspective-for-real.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 10:57:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reproductive Health]]></category>
		<category><![CDATA[Sexuality Blitz]]></category>
		<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[pubertas]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[



Ini adalah sebuah komik sederhana yang dibuat oleh AndrewLin buat gurl.com.
Di sini Andrew ingin bercerita bagaimana keinginan seorang remaja cowok yang ingin belajar tentang seks. Silakan click di sini.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="posttitle"></div>
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p><a title="for-real-comic1.gif" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/for-real-comic1.gif"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/for-real-comic1.gif" alt="for-real-comic1.gif" /></a></p>
<p>Ini adalah sebuah komik sederhana yang dibuat oleh AndrewLin buat gurl.com.<br />
Di sini Andrew ingin bercerita bagaimana keinginan seorang remaja cowok yang ingin belajar tentang seks. Silakan click di <a href="http://www.gurl.com/showoff/comix/pages/0,,605672_714445-1,00.html" target="_blank">sini</a>.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/a-boy%e2%80%99s-perspective-for-real.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
