<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>okanegara.com &#187; remaja</title>
	<atom:link href="http://okanegara.com/tag/remaja/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>SOUNDRENALINE DAN FACEBOOK:  SEBUAH CATATAN PERJALANAN</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/soundrenaline-dan-facebook-sebuah-catatan-perjalanan.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/soundrenaline-dan-facebook-sebuah-catatan-perjalanan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 07:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[andra&the backbone]]></category>
		<category><![CDATA[apwg]]></category>
		<category><![CDATA[burgerkill]]></category>
		<category><![CDATA[de Buntu]]></category>
		<category><![CDATA[d`massive]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[gigi]]></category>
		<category><![CDATA[gwk]]></category>
		<category><![CDATA[kanan lima]]></category>
		<category><![CDATA[koil]]></category>
		<category><![CDATA[kotak]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[nanoe Biroe]]></category>
		<category><![CDATA[netral]]></category>
		<category><![CDATA[nidji]]></category>
		<category><![CDATA[painful by kisses]]></category>
		<category><![CDATA[party dorks]]></category>
		<category><![CDATA[pas band]]></category>
		<category><![CDATA[pee wee gaskins]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[saint locco]]></category>
		<category><![CDATA[SID]]></category>
		<category><![CDATA[slank]]></category>
		<category><![CDATA[soundrenaline]]></category>
		<category><![CDATA[the day after the rain]]></category>
		<category><![CDATA[the rock]]></category>
		<category><![CDATA[ungu]]></category>
		<category><![CDATA[upstair]]></category>
		<category><![CDATA[xxx]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa Soundrenaline? Ini bukan karena kebetulan sempat datang di mega konser yang satu ini, bukan juga karena konser tahun ini hanya diselenggarakan di Bali, tetapi tidak bisa dipungkiri, Soundrenaline masih diklaim sebagai panggung musik bergenre rock yang paling banyak menyedot perhatian publik dan media hingga hari ini. Jika para penggila rock di Amerika selalu membanjiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/tiket01.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-463" title="tiket01" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/tiket01-300x190.jpg" alt="" width="300" height="190" /></a>Kenapa Soundrenaline? Ini bukan karena kebetulan sempat datang di mega konser yang satu ini, bukan juga karena konser tahun ini hanya diselenggarakan di Bali, tetapi tidak bisa dipungkiri, Soundrenaline masih diklaim sebagai panggung musik bergenre rock yang paling banyak menyedot perhatian publik dan media hingga hari ini. Jika para penggila rock di Amerika selalu membanjiri dua festival rock paling bersejarah: Woodstock dan Lollapalooza, lalu Australia juga punya Big Day Out, Jerman menjadi panas dengan seri Rock Im Park dan Rock Am Ring-nya serta para kamikaze muda Jepang juga tidak mau kalah dengan Summer Sonic-nya, maka Soundrenaline bisa menjadi jawaban atas pertanyaan “Festival Rock Terbesar di Indonesia apa sih?”.</p>
<p style="text-align: justify;">15 November yang lalu dua puluh ribuan manusia berdatangan menjejali Garuda Wisnu Kencana (GWK), Pecatu.  Di hari Minggu yang cerah itu seluruh tiket ludes terjual. Malam hari deretan kendaraan menjadi sangat panjang, banyak yang gigit jari karena berlama-lama tertahan di jalan untuk sekedar bisa menembus pintu masuk. Yang datang malam hari malah pasrah dua hingga tiga jam untuk antri. Padahal band-band hebat sudah mulai tampil sejak sore jam tiga. Susahnya menembus GWK membawa kerugian terhadap jadwal tampil band. Banyak jadwal yang tidak bisa ditepati, misalnya kehadiran Burger Kill yang sangat molor karena terhalang oleh padatnya penonton sejak di jalan raya. Akhirnya band-band lokal yang selalu harus mengalah. Mestinya lebih banyak lagi penonton yang bisa melihat XXX tampil sangat luar biasa dengan kolaborasi kecak dan heroisme merah putihnya. Beberapa penonton dari luar Bali sempat nyeletuk <em>“Gile ini band. Keren banget..”</em> Ryan Kanan Lima mesti jumpalitan hingga celana jins nya robek, belum lagi nanoeBiroe yang tampil agesif dengan dukungan ratusan Baduda-nya. Sesungguhnya mereka perlu mendapat perhitungan dan tidak bisa dipandang sebelah mata oleh penyelenggara. Tapi ada yang perlu diberi aplaus, yaitu antisipasi terhadap semangat band-band indie Bali untuk tampil di Soundrenaline ini, walaupun akhirnya hanya bisa tampil di panggung yang lebih kecil. The Day After The Rain, Painful By Kisses, de Buntu dan kawan-kawan akhirnya bisa mendapat tempat untuk menjajal momentum Soundrenaline.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Minim Publikasi Tapi Kok Bisa Luber Penonton?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Barisan<strong> </strong><em>list of the performers</em> yang tampil di Soundrenaline memang selalu menjadi magnet yang kuat untuk mendatangkan banyak penonton. Apalagi sebagian dikenal dengan tampilan panggung yang selalu dinantikan. Festival Park menjadi panas oleh Burger Kill yang tampil penuh energi, Koil masih tampil cadas, Pas Band dan Netral masih belum ada matinya, Kotak menunjukkan kelasnya dalam beraksi, Saint Locco tampil hangat, juga tentu saja daya pikat SID mendatangkan para Outsidernya. Belum lagi mereka yang tampil lebih melow di Lotus Pond: D`Massive, Ungu, Andra &amp; The Backbone, The Rock, Nidji, Gigi dan tentu saja Slank. Semua adalah jaminan gelontoran adrenaline dan keringat buat menonton.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi ada yang menarik dari kehadiran puluhan ribu penonton itu karena sesungguhnya konser ini tidak terlalu gegap gempita dalam berpromosi, bahkan tidak terlihat ada mega promosi di media-media konvensional. Tidak seperti yang sudah-sudah. Tahun-tahun sebelumnya kita sering lihat bagaimana ramainya iklan Soundrenaline menjejali TV, majalah, radio dan surat kabar. Logikanya bila sebuah acara minim dengan promosi maka berisiko dengan minimnya kehadiran penontonnya. Tetapi logika sederhana ini rupanya sudah tidak bisa dipertahankan lagi dengan semakin mendapat tempatnya kehadiran media non-konvensional berbasis jaringan sosial di dunia maya. Tidak banyak yang menduga, justru Soundrenaline dipenuhi oleh banjirnya masa anak muda yang mengikuti perkembangan acara ini lewat situs-situs jejaring sosial di internet seperti Facebook, Twitter dan blog. Terutama Facebook. Sesungguhnya kekuatan konser ini dalam mendatangkan masa hanya ada dua: brand Soundrenaline yang sudah melekat dan hingar bingarnya Facebook.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lagi-lagi Facebook</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitu populernya Facebook, sampai Gigi pun terinspirasi untuk membuatnya menjadi sebuah lagu <em>“my facebook”</em> yang masih kencang beredar di radio-radio. Bagaimanapun juga, kepopuleran lagu <em>“Online</em>”  telah membuat Saykoji makin populer dan bertambah kaya.  Tidak bisa dihindari Facebook saat ini adalah situs jejaring sosial yang sedang digandrungi. Pengguna Facebook hingga awal November telah menembus 325 juta user di seluruh dunia.  Dari 325 juta pengguna tersebut, pengguna Facebook di Indonesia sudah mencapai angka 12 juta. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi ke 7 sebagai negara pengguna Facebook terbesar di dunia. Dan dari 12 juta pengguna lebih tersebut, 47,04 persen di antaranya merupakan pengguna aktif. Urutan negara dengan pengguna terbanyak adalah Amerika Serikat, Inggris, Turki, Perancis, Kanada, Italia, Indonesia, Spanyol, Australia, dan Filipina.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan fenomena maraknya situs-situs jejaring sosial yang saat ini dipimpin oleh Facebook dan Twitter, mengirim pesan berantai dan saling menanggapi pesan dijamin bisa langsung diakses ke ratusan orang dalam hitungan detik dan menit, atau bahkan ribuan hingga jutaan orang hanya dalam sehari. Hanya dengan melakukan update status di Facebook bertuliskan <em>“Yuk datang ramai-ramai ke Soundrenaline di GWK minggu depan”</em>, seorang facebooker yang memiliki <em>friend list</em> sebanyak seribu teman saja sudah bisa mendapatkan tanggapan dari belasan orang dalam hitungan menit. Itu baru yang memberikan <em>“comment”</em> atau sekedar mengklik tanda jempol <em>“like this”</em>, belum lagi yang sekedar membaca tanpa meninggalkan jejak. Bisa dibayangkan bila status serupa juga dibuat oleh ratusan facebooker lainnya dengan respon yang serupa. Dan bisa ditebak, sesungguhnya dalam hitungan tiga hari saja ajakan untuk menghadiri event seperti Soundrenaline bisa langsung diketahui oleh jutaan pengguna Facebook yang sebagian besar adalah anak muda, yang juga merupakan target usia dari Soundrenaline. Itu baru Facebook, belum yang di Twitter. Dengan kata lain, di jaman sekarang, kehadiran media konvensional untuk mempromosikan acara-acara seperti konser musik dan sejenisnya makin digeser oleh kehadiran situs jejaring sosial. Dan ini adalah sebuah keuntungan besar bagi sebuah konser yang sudah punya nama sekelas Soundrenaline.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sisi Lain Facebook: Fenomena Pee Wee Gaskins, Party Dorks vs APWG</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi apakah kehadiran Facebook selalu membawa kabar baik? Tunggu dulu, saking paniknya, salah satu lembaga berbasis agama sempat melarang penggunaan Facebook. Kehadiran Facebook memang terasa jelas memunculkan fenomena kreatif. Hal-hal baik dan buruk bisa saja terjadi bagai sebuah pisau yang bisa ditujukan buat mengiris bawang sekaligus mengiris urat nadi. Demikian juga, ternyata sebelum konser Soundrenaline berlangsung kabar-kabar dan komentar yang muncul di status, di wall, di group Facebook juga tidak selalu ajakan yang kondusif. Tidak semua band yang tampil di Soundrenaline ternyata memiliki fans yang fanatik atau simpatik. Sebagian justru datang untuk menyalurkan aspirasi tidak simpatiknya kepada band yang tampil. Ini bukan cerita tentang D`Massive yang sejak sore sudah ditongkrongin oleh para Massivers Bali yang imut-imut dan jelita itu. Tetapi ini tentang Pee Wee Gaskins (PWG) yang menjadi korban malam itu. Malam yang bisa jadi tidak akan mereka lupakan karena mereka tampil tidak konsentrasi dan dibawah tekanan lemparan botol air mineral, teriakan-teriakan untuk meminta mereka turun dan umpatan akan istilah-istilah homoseksual yang distigmakan ke mereka, hingga meriahnya salam jari tengah yang sesungguhnya tidak pantas dari puluhan penonton yang merangsek ke depan panggung. Ironisnya ini terjadi di Soundrenaline, walaupun hal ini sudah bisa ditebak akan terjadi mengingat fenomena yang terjadi pada PWG belakangan ini. Jadi teringat fenomena serupa yang pernah terjadi di awal kemunculan SID sebagai band punk yang mulai diperhitungkan di panggung-panggung terbuka secara nasional beberapa tahun lalu. Terlepas dari apapun alasan anarkisme penonton terhadap musisi yang tampil, sesungguhnya hal ini perlu diantisipasi. Syukur anarkisme tidak berlanjut meluas.</p>
<p style="text-align: justify;">Fenomena PWG ini bisa jadi disebabkan oleh kekuatan dunia maya. PWG juga “dijatuhkan” oleh Facebook. Kasus foto ciuman sejenis yang beredar luas di internet dan Facebook, yang katanya atau diduga dilakukan oleh personel PWG membawa respon antipati dari masa ABG dan remaja, yang memang menjadi sasaran target musik PWG. Mereka yang tadinya masuk ke dalam komunitas Party Dorks (fans PWG) malah justru ikut-ikutan melebur ke dalam komunitas APWG (Anti Pee Wee Gaskins) karena terpengaruh dengan hasutan yang beredar tentang berbagai isu dan gosip buruk personel PWG mulai dari kesombongan hingga permasalan seks. PWG sudah melakukan klarifikasi tetapi tentu saja hal-hal seperti ini sering kali tidak mempan dan  malah “berkat jasa” Facebook masa APWG makin bertambah banyak jumlahnya, bahkan ada 400 lebih account group Facebook yang memakai identitas APWG dengan jumlah member bervariasi. Di sisi lain jumlah group dengan identitas Party Dorks juga ada sekitar 400-an. Sebuah perang di ranah Facebook yang luar biasa. Tentu saja akhirnya isu ini merambah dunia nyata dengan respon yang sudah bisa ditebak: konser musik PWG yang selalu diselingi hujatan, salam jari tengah dan lemparan botol air mineral. Sepertinya di konser-konser PWG berikutnya, kejadian serupa masih juga akan terjadi. Tentu sangat disayangkan. Atau jangan-jangan PWG malah menikmati fenomena ini, saking kebalnya. Buktinya, dari sebuah info, San-San (salah seorang personel PWG) dengan bangga menyebutkan pasca konser Soundrenalin kemarin seorang vokalis band lain, Jimmy Multazam dari The Upstair menghampirinya dan bilang <em>“San, gile juga band lu ya, bisa bikin rusuh gitu. Itu artinya band lu sudah bisa dibilang besar karena dapat perhatian besar dari penonton. Band gue aja nggak bisa gitu”</em>. Nah lho. Dan semua fenomena ini bisa terjadi dengan cepat. Lagi-lagi gara-gara Facebook.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perlukah Band Untuk Melek IT?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jawabnya sangat mudah. Bukan lagi perlu, tetapi “harus”. Mengingat banyak fans bisa diraih dan cepatnya informasi yang bisa ditampilkan di dunia maya.  Yang menjadi syarat kemudian adalah: <em>“good networking”</em> dan <em>“good relationship”</em>. Membina jaringan yang lebih baik dengan komunitas musisi lain dan membina hubungan baik dengan para fansnya.  Itu artinya juga harus rajin untuk selalu berbagi informasi yang positif tentang keberadaan bandnya, tentu saja dengan gaya dan karakter masing-masing. Saat ini untuk bisa tampil dan mengelola fans sudah bisa dengan sangat mudah dilakukan lewat Facebook. Beberapa band Bali seperti Discotion Pill, Bintang, XXX, deBuntu, D`Kantin, Artmosphere, Hanamura terlihat aktif dalam mengupdate Facebooknya. Kalau mau yang lebih serius, bisa ditingkatkan lagi statusnya ke bentuk website yang dikelola dengan baik atau yang berbasis blog, seperti yang sudah dilakukan misalnya oleh SID, Navicula, Dialog Dini Hari, XXX, Telephone, Day After The Rain dan lainnya. Website komunitas seperti deathrockstar.com hingga musikator.com juga bisa digunakan sebagai sarana membina relasi musik ini. Mungkin sebagian band lagi lebih tertarik untuk menampilkan diri di situs MySpace dan Friendster, semua tentu bisa dilakukan untuk bisa membina relasi dengan fans dan band lain,  sekaligus promosi, selama semua bisa dibina lewat hubungan baik dan tidak mengundang antipati publik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nah, Sekarang Bagaimana?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sudah saatnya musisi bisa dengan baik mengelola fansnya. Facebook adalah salah satu media yang paling mudah. Yang perlu diingat adalah tidak sekedar membuat, tetapi juga mengelolanya dengan baik. Walaupun hanya buat fans, tetapi karena sifatnya yg sangat mudah diakses dan bisa dilihat siapa saja, tentu saja jangan lagi sembarangan “melakukan kesalahan” walaupun tujuannya hanya untuk iseng dan senang-senang, karena tidak semua orang bisa dengan persepsi yang sama menerimanya. Manfaatkan peluang yang ada untuk membentuk jaringan yang luas tetapi bertanggungjawab, karena ini demi karir juga, karena apapun yang diinformasikan, bisa dalam hitungan detik sudah tiba sebagai informasi baru bagi ratusan, ribuan pengguna facebook atau fans dimanapun berada. Karena dunia maya adalah dunia yang tanpa batas. Jadi selama bisa bertanggung jawab, silakan lanjutkan berFacebook!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ditulis dalam Majalah Musik; BM2, Edisi Desember 2009.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/15533_196052970889_649535889_2925447_4591567_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-464" title="15533_196052970889_649535889_2925447_4591567_n" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/15533_196052970889_649535889_2925447_4591567_n-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/soundrenaline-dan-facebook-sebuah-catatan-perjalanan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Tahu Kontrasepsi, Namun Tidak Siap Menggunakannya</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-indonesia-tahu-kontrasepsi-namun-tidak-siap-menggunakannya.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-indonesia-tahu-kontrasepsi-namun-tidak-siap-menggunakannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 17:18:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[kontrasepsi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[

Sekali lagi, penelitian di empat kota besar Indonesia membuktikan bahwa para remaja amatlah membutuhkan pemahaman tentang seksualitas secara menyeluruh. Meski pengetahuan mereka mengenai kondom dan alat kontrasepsi lain sangat tinggi, pemakaiannya ternyata masih amat rendah. Penyebabnya adalah seks pranikah yang sering kali terjadi di luar rencana pada remaja. Begitulah hasil penelitian kuantitatif DKT Indonesia bekerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-137" title="contraception2" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/contraception2.jpg" alt="contraception2" width="334" height="279" />Sekali lagi, penelitian di empat kota besar Indonesia membuktikan bahwa para remaja amatlah membutuhkan pemahaman tentang seksualitas secara menyeluruh. Meski pengetahuan mereka mengenai kondom dan alat kontrasepsi lain sangat tinggi, pemakaiannya ternyata masih amat rendah. Penyebabnya adalah seks pranikah yang sering kali terjadi di luar rencana pada remaja. Begitulah hasil penelitian kuantitatif DKT Indonesia bekerja sama dengan Synovate Indonesia di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. Penelitian berlangsung September-Oktober 2004, mewawancarai 450 remaja berusia 15-24 tahun, dengan kuota 50 persen aktif secara seksual dan 50 persen tidak aktif. Responden juga proporsional jumlahnya antara laki-laki dan perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua pertiga responden memang mengaku bahwa hubungan seks pertama terjadi begitu saja dan hanya 37 persen remaja laki-laki yang merencanakannya. Sedangkan pada remaja perempuan, 39 persen merasa dibujuk sehingga 11 persen menyesalinya dan 10 persen merasa tertipu. Karena itu, program yang ditujukan pada remaja sebaiknya bisa membekali mereka dengan pengetahuan dan kesadaran agar siap menghadapi kemungkinan di luar rencana tersebut. Bisa jadi, pengetahuan mereka yang minim terhadap seksualitas maupun dampak dari perilaku seks berisiko-dari kehamilan sampai tertular HIV/AIDS-menjadi pemicu hubungan tanpa rencana ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Para responden ternyata juga berharap untuk mendapatkan informasi lebih banyak dari sumber yang dapat dipercaya. Soalnya, selama ini mereka lebih banyak mendapat pengetahuan tentang seksualitas dari teman (35 persen), film porno (22 persen), dan buku- buku (11 persen). Lainnya baru dari pacar, televisi, sekolah, pengalaman, maupun film di bioskop. Hanya 8 persen remaja yang merasa nyaman bicara masalah seks dengan ibunya dan tidak ada yang mengaku pernah berbicara dengan ayahnya untuk persoalan serupa. Jika mereka hanya bergantung pada informasi dari teman atau film porno saja, dikhawatirkan informasi yang diperoleh menjadi amat minim dan tidak komprehensif.Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa banyak sekali aspek kehidupan sosial remaja yang tidak diketahui sehingga perlu dilakukan lebih banyak lagi penelitian tentang perilaku seksual remaja.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-indonesia-tahu-kontrasepsi-namun-tidak-siap-menggunakannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permasalahan Kesehatan Reproduksi &amp; Seksual Remaja Bali</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/permasalahan-kesehatan-reproduksi-seksual-remaja-bali.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/permasalahan-kesehatan-reproduksi-seksual-remaja-bali.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 10:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Lebih dari seperempat masalah pacaran yang masuk ke konseling telepon lembaga KISARA PKBI Bali hasil pencatatan hingga Juli tahun 2005, berkaitan dengan aktivitas seksual remaja, dan terdapat kecenderungan mereka baru berkonsultasi setelah seksual aktif. Awal keterlibatan mereka dalam hubungan seksual pranikah sebagian disebutkan karena coba-coba dan tanpa direncanakan, karena terbawa suasana dan adanya dorongan seksual [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117" title="kisara" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/kisara-300x155.jpg" alt="kisara" width="300" height="155" />Lebih dari seperempat masalah pacaran yang masuk ke konseling telepon lembaga KISARA PKBI Bali hasil pencatatan hingga Juli tahun 2005, berkaitan dengan aktivitas seksual remaja, dan terdapat kecenderungan mereka baru berkonsultasi setelah seksual aktif. Awal keterlibatan mereka dalam hubungan seksual pranikah sebagian disebutkan karena coba-coba dan tanpa direncanakan, karena terbawa suasana dan adanya dorongan seksual muncul karena ada pengaruh dari beberapa media pornografi yang pernah diakses.Dalam sebuah konseling tatap muka juga sempat terekam ada seorang remaja SMP kelas 2 yang sudah terpengaruh akan kebiasaan bermasturbasi yang terlalu berlebihan, awalnya kebiasaan ini pun karena coba-coba akibat ajakan dan pengaruh teman-teman sebayanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu adalah baru sebagian dari permasalan remaja yang berkaitan dengan aktivitas seksual. Belum lagi kasus-kasus kekerasan seksual, kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada remaja, aborsi remaja, pernikahan usia muda dan sejenisnya, yang nampaknya masih belum banyak diangkat secara mendalam, baru dibahas permukaannya saja, sehingga seolah-olah problem ini dianggap kasus yang semakin biasa terdengar dan tidak begitu penting untuk dikaji lebih jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Sementara menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional/ BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun. Dalam pendampingan oleh KISARA PKBI Bali, usia 10 sampai dengan 24 tahun adalah sasaran utama program komunikasi, informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi, seksual, termasuk hak reproduksi, HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba.</p>
<p style="text-align: justify;">Arus informasi melalui media masa baik berupa majalah, surat kabar, tabloid maupun media elektronik seperti radio, televisi, dan komputer, mempercepat terjadinya perubahan. Meskipun arus informasi ini menunjang berbagai sektor pembangunan, namun arus informasi ini juga melemahkan sistem sosial ekonomi yang menunjang masyarakat Indonesia. Remaja merupakan salah satu kelompok penduduk yang mudah terpengaruh oleh arus informasi baik yang negatif maupun yang positif. Perbaikan status wanita, yang terjadi lebih cepat sebagai akibat dari transisi demografi dan program keluarga berencana telah mengakibatkan meningkatnya umur kawin pertama dan bertambah besarnya proporsi remaja yang belum kawin. Hal ini adalah akibat dari makin banyaknya remaja baik laki-laki maupun perempuan yang meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dan makin banyaknya remaja yang berpartisipasi dalam pasar kerja. Panjangnya waktu dalam status lajang maupun kesempatan mempunyai penghasilan mempengaruhi remaja untuk berperilaku berisiko antara lain menjalin hubungan seksual pranikahl, minuman keras, narkoba yang dapat mengakibatkan kehamilan tidak diinginkan dan risiko reproduksi lainnya, juga tertular infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS.<span id="more-21"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BEBERAPA KAJIAN<br />
</strong><br />
Beberapa hal yang perlu disebutkan dalam kajian di sini antara lain adalah yang pertama, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada pertemuan “Gawe Bareng Remaja” April 2005 di Yogyakarta menyebutkan bahwa masalah remaja Indonesia pada intinya hampir sama, yaitu: minimnya pengetahuan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi karena terbatasnya akses informasi dan advokasi remaja, tidak adanya akses pelayanan yang ramah remaja, belum adanya kurikulum Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di sekolah, masih terbatasnya institusi di pemerintah yang menangani remaja secatra khusus dan belum ada undang-undang yang mengakomodir hak-hak remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Departemen Pendidikan Nasional dalam pertemuan dan Lokakarya Nasional Kehamilan Tidak Diinginkan di akhir Nopember 2005 lalu menyebutkan bahwa pada intinya mereka menyetujui bahwa KRR itu penting dan sudah diupayakan diberikan secara umum melalui mata pelajaran Penjaskes, IPA dan Agama, tetapi secara khusus masih dalam kuantitas yang sangat sedikit (2 jam) di Penjaskes SMA bila dilihat dari kurikulum nasional 1994. Dan disimpulkan pula bahwa sesungguhnya pendidikan KRR di sekolah masih belum berjalan. Hal ini dikarenakan ketidaksiapan tenaga pendidik, terbatasnya bahan ajar bagi guru, masih dianggap tabu dan banyaknya hambatan kultural. Sehingga perlu sekali terobosan yang dilakukan baik lewat jalur kurikuler, ekstrakurikuler maupun kegiatan khusus bekerjasama dengan lembaga lain. Lewat jalur kurikuler sudah ada pengembangan dengan diupayakan lewat kurikulum 2004 yang memasukkan materi “Sistem Reproduksi Manusia” pada mata pelajaran Biologi di kelas II SMA.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Simposium Nasional Pentingnya Pendidikan Seks buat Remaja, tahun 2002 yang lalu disebutkan juga bahwa tantangan dalam pelaksanaan program-program KRR di Indonesia, antara lain : tidak adanya aturan hukum yang mendukung.Undang-Undang Kependudukan No.10 tahun 1992 masih menyebutkan melarang pemberian informasi seksual dan pelayanan bagi orang yang belum menikah, meningkatnya angka kejadian seks pranikah, faktor-faktor demografi berupa : meningkatnya usia perkawinan, migrasi desa ke kota yang sangat cepat, perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat dari :<br />
1) break down in social and family support systems, 2) rising school enrolment at high school and university leads to separation of young people from family, 3) rising exposure to mass-media, girl/boy relationships, access to illicit materials, 4) increasing number of adolescent girls enter into sex industry for economic reasons</p>
<p style="text-align: justify;">BKKBN Propinsi Bali, dalam koordinasinya di tahun 2004 menyampaikan bahwa permasalahan KRR adalah sangat penting karena: jumlah remaja yang sangat besar dan remaja adalah aset masa depan, tetapi remaja justru berada dalam periode transisi yang penuh gejolak. Beberapa tantangan yang dihadapi di Bali adalah minimnya sarana dan prasarana, kurangnya melibatkan remaja dalam perencanaan program BKKBN dan sikap stakeholders yang masih belum kondisif, misalnya dalam diskusi tentang pendidikan KRR di sekolah maupun wacana penggunaan kondom dalam kampanye seks yang aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal penanganan HIV/AIDS yang juga tidak bisa lepas dari isu KRR, Komisi Penanggulangan AIDS daerah Bali dalam jumpa pers dalam rangka Hari AIDS Sedunia 2005 kemarin menyebutkan bahwa respon yang diberikan terhadap perkembangan kasus HIV/AIDS itu begitu lamban. Karena sebagian masyarakat kita termasuk beberapa pejabat pimpinan daerah masih menganggap HIV/AIDS belum merupakan ancaman serius. Yang kedua adalah karena masih adanya pandangan yang keliru yaitu berupa stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Semua ini bersumber dari kekurang pahaman mengenai sifat penyebaran penyakit tersebut. Upaya pencegahan dan penanggulangan yang masih diwarnai stigma dan diskriminasi akan menjadi melenceng. Bahkan cenderung melanggar HAM, merusak citra serta merugikan dan akhirnya menghambat upaya-upaya berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Bali yang didalam darahnya mengandung virus HIV kini diperkirakan sekitar 3000 orang (estimasi 2003) atau 4000 orang (estimasi 207). Mereka terutama tertular dari hubungan seks beresiko dan penggunaan jarum suntik narkoba bergantian. Mereka tersebar di seluruh Bali, meskipun masih terkonsentrasi di kota Denpasar, kabupaten Badung dan kabupaten Buleleng. Jika kita tidak berbuat apa-apa maka menurut ahli ilmu kesehatan masyarakat Prof. Dr.dr Dewa Wirawan, MPH peristiwa yang akan dialami Bali kira-kira akan sesuai dengan skenario berikut: sekitar 50% dari mereka yang saat ini HIV positif dalam kurun waktu 5 tahun akan memasuki fase AIDS. Kemungkinan sekali separuh dari pengidap AIDS itu yaitu sekitar 750 orang akan membutuhkan perawatan. Tempat tidur yang dimiliki oleh RSUP Sanglah yang merupakan pusat pelayan kesehatan rujukan saja ada sekitar 800an. Bisa jadi sebagian besarnya akan dihuni oleh pengidap AIDS. Belum lagi disusul gelombang penderita baru yang semakin banyak. Kebutuhan akan dokter, perawat, obat, alat dan sebagainya akan juga meningkat. Bahwa di Bali akan berlangsung “ngaben” massal bisa mendekati kenyataan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SEKILAS DATA<br />
</strong><br />
Survei Kesehatan Remaja Indonesia (SKRRI) 2002-2003 yang dilakukan oleh BPS menyebutkan laki-laki berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 57,5 persen dan yang berusia 15-19 tahun sebanyak 43,8 persen. Sedangkan perempuan berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 63 persen. Perempuan berusia 15-19 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 42,3 persen. Hasil SKRRI 2002-03 menunjukkan bahwa hubungan seksual sebelum menikah umumnya masih ditolak. Namun dalam kondisi tertentu penduduk usia 15-24 tahun belum menikah memberikan toleransi yang cukup besar bagi seseorang melakukan seks pra nikah, terutama jika telah merencanakan untuk menikah. Sekitar 29,6 persen diantara laki-laki berusia 15-24 tahun belum menikah yang setuju dengan seks pra nikah menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut akan menikah dan 26,5 persen menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut saling mencintai.</p>
<p style="text-align: justify;">Litdikkespro Bali pada tahun 2003 menemukan 28,6% istri dari pasangan usia subur telah hamil sebelum perkawinan. Kemudian Depkes RI pada tahun 1995/1996 melakukan survey yang menyebutkan bahwa kehamilan remaja berusia 13-19 tahun di Bali sebanyak 5%.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari bulan Agustus 2002 hingga Agustus 2003 KISARA PKBI Bali melakukan sebuah survey mengenai sikap dan prilaku pacaran dan aktivitas seksual pada siswa SMP kelas 3 hingga SMA kelas 1 (di bawah 17 tahun) di sekolah di daerah Denpasar, Badung,Tabanan dan Gianyar. Tercatat bahwa yang pernah pacaran adalah sejumlah 526 atau 23,75% dari total 2215 responden. Tidak satupun (0%) yang menyatakan bahwa hubungan seksual sebelum menikah itu boleh. Hal yang sama ditemukan pada pertanyaan apakah aktivitas petting, anal seks, oral seks diperbolehkan selama belum menikah. Yang diperbolehkan menurut responden adalah masturbasi, disebutkan oleh 44,15% responden, ciuman bibir (21,58%), cium kening/pipi (55,85). Tetapi ketika ditanyakan dengan aktivitas mana yang sudah mereka lakukan (dihitung dari yang sudah pernah pacaran), ditemukan data bahwa 2,28% sudah melakukan hubungan seksual, dan 0,57% sudah melakukan salah satu dari petting, anal seks, oral seks. Ciuman bibir sudah dilakukan oleh 13,12% responden yang sudah pernah pacaran, ciuman kening/pipi (26,24%), masturbasi dilakukan oleh 51,63% laki-laki, pada perempuan 3,32%.</p>
<p style="text-align: justify;">WHO memperkirakan 10-50% kematian ibu disebabkan oleh aborsi tergantung kondisi masing-masing negara. Diperkirakan di seluruh dunia setiap tahun dilakukan 20 juta aborsi tidak aman, 70.000 wanita meninggal akibat aborsi tidak aman dan 1 dari 8 kematian ibu disebabkan oleh aborsi tidak aman. Di wilayah Asia tenggara, WHO memperkirakan 4,2 juta aborsi dilakukan setiap tahunnya, di antaranya 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Perkiraan jumlah aborsi di Indonesia setiap tahunnya cukup beragam. Hull, Sarwono dan Widyantoro (1993) memperkirakan antara 750.000 hingga 1.000.000 atau 18 aborsi per 100 kehamilan. Sedangkan sebuah studi terbaru yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia memperkirakan angka kejadian aborsi di Indonesia per tahunnya sebesar 2 juta (Utomo dkk 2001). Aborsi yang tidak aman saat ini di Indonesia berkontribusi terhadap 30-50% Angka Kematian Ibu (AKI). Ini merupakan yang tertinggi di ASEAN.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil studi PKBI sejak tahun 2000-2003 dari 37.000 kasus KTD, ternyata 27% di antaranya belum menikah, termasuk 12,5% di natranya masih berstatus pelajar atau mahasiswa. Studi ini melibatkan 9 kota, salah satunya Denpasar. Kemudian juga studi kualitatif PKBI selama tahun 2005 lalu menyebutkan bahwa persentase KTD remaja tertinggi ada di Denpasar, Mataram dan Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">SKRRI 2002-03 mencatat bahwa 8 dari 10 penduduk berusia 15-24 tahun yang belum menikah pernah mendengar HIV/AIDS namun hanya 3 dari 10 penduduk berusia 15-24 tahun yang belum menikah yang mengetahui secara spesifik satu cara untuk menghindari atau mencegah penularan infeksi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kurun waktu yang hampir sama dari bulan Nopember 2002 – Nopember 2003, KISARA PKBI Bali juga melakukan sebuah survey di kalangan siswa SMA di Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan yang menyebutkan walaupun 66,82% dari responden bisa menyebutkan pengertian AIDS dengan benar, dan 75,95% juga benar menyebutkan penyebab AIDS, namun hanya 38,98% yang mengerti dengan baik cara penularannya. Bahkan hanya 24,32% yang bisa menyebutkan benar bahan di tubuh penderita yang bisa menularkan virus penyebab AIDS. Di samping itu juga hanya 44,77% yang bisa menjawab dengan benar apa saja cara pencegahan HIV/AIDS.</p>
<p style="text-align: justify;">Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI, melaporkan bahwa sampai dengan Juni 2005 secara komulatif jumlah pengidap infeksi HIV secara nasional sudah mencapai 3.740 orang dan kasus AIDS mencapai 3.358 orang. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta, Papua, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan Riau. Rerata komulatif kasus AIDS Nasional berdasar laporan Departemen Kesehatan RI, sampai Juni 2005 sudah mencapai 1,67 jiwa per 100.000 penduduk.</p>
<p style="text-align: justify;">Rerata komulatif kasus AIDS untuk Provinsi Bali pada laporan yang sama berada pada urutan tiga besar yaitu mencapai 2,97 kali angka nasional, setelah Papua (15,36 kali angka naional) dan DKI Jakarta (11,59 kali angka nasional). Adapun cara penularan kasus AIDS dalam skala nasional 47,2 persen melalui IDU (Injecting Drug User/Pengguna Narkoba Suntik), melalui Heteroseksual (36,4 persen) dan melalui Homoseksual (5,8 persen). Proporsi komulatif kasus AIDS tertinggi ada pada kelompok umur 20-29 tahun (53,9 persen) disusul kelompok umur 30-39 tahun (25,6 persen) dan kelompok umur 40-49 tahun (8,5 persen). Permasalahan HIV/AIDS dewasa ini menjadi semakin penting mendapat perhatian semua pihak, karena sudah merupakan ancaman serius umat manusia di dunia. Khusus untuk kondisi Provinsi Bali, berdasar pada beberapa hasil survei, sekitar 1 persen penduduk laki-laki rentan di pedesaan maupun di perkotaan sudah terinveksi HIV. Sekitar 10 persen wanita penjaja seks (WPS) dan 50 sampai 70 persen pemakai narkoba suntik (IDU) di Bali sudah terinfeksi HIV. Jumlah penduduk di Bali yang saat ini diperkirakan telah dan atau sedang terinfeksi HIV mencapai 3.000 orang, dari jumlah itu, 1.900 orang laki-laki maupun perempuan diperkirakan terinfeksi melalui penularan hubungan seksual dan 1.100 orang terinfeksi melalui pertukaran jarum suntik pemakai narkoba. Dilaporkan pula, bayi dan anak-anak juga telah dijumpai tertular HIV dari ibu yang positive HIV. Sejak 1994, kegiatan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS yang sudah dilaksanakan di Provinsi Bali lebih difokuskan pada kelompok penduduk perilaku risiko tinggi, seksual maupun IDU atau kelompok penduduk High Risk Community agar tidak terinfeksi HIV (HIV+ Poeple). Perkembangan kasus HIV/AIDS yang semakin pesat, semakin membuka pemahaman pihak-pihak terkait berupaya melakukan pencegahan dan penannggulangan secara menyeluruh dan sistematis di masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>REGULASI DAN KOMITMEN<br />
</strong><br />
Sedikit sekali munculnya perubahan regulasi maupun perkembangan yang berarti dari undang-undang maupun aturan di daerah yang pro remaja. Padahal berbagai kebijakan kesehatan reproduksi remaja di Indonesia sebenarnya mulai mengacu pada kesepakatan ICPD di Kairo, yang diselenggarakan sudah sebelas tahun yang lalu yaitu tahun 1994, di sebuah konferensi kependudukan yang melahirkan sebuah komitmen tentang pemberdayaan remaja dan pemenuhan hak-hak remaja dan hak-hak reproduksi. Salah satunya adalah tentang upaya pemberian informasi, konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi yang seluas-luasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya upaya yang paling strategis sebagai langkah awal mungkin adalah lewat berbagai deklarasi dan komitmen-komitmen yang tentunya kekuatan hukumnya masih sangat lemah. Di Bali, tahun 2004 yang lalu, berbagai elemen lembaga peduli permasalahan kesehatan reproduksi remaja berkumpul dalam acara “Ajang Ngumpul Remaja” yang menyepakati bersama dalam sebuah deklarasi berjudul “Suara Remaja” yang berupa deklarasi sebagi berikut: Kami remaja Indonesia, Kami mendesak pemerintah, legislatif, masyarakat termasuk orang tua, dan sektor swasta untuk:<br />
1) Menyediakan akses, informasi, pelayanan, pendidikan, dan perlindungan bagi kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja di sekolah maupun luar sekolah dengan mengedepankan prinsip yang bersahabat dengan remaja (komunikatif, profesional, mudah dijangkau, dan menghormati hak-hak remaja).<br />
2) Melibatkan remaja secara aktif untuk berpartisipasi dalam penyusunan, implementasi serta monitaring dan evaluasi program dan kebijakan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja.<br />
3) Melibatkan remaja secara aktif dalam proses pembahasan RUU Kependudukan tahun 2004 terutama pada pasal-pasal yang berkaitan dengan remaja.<br />
4) Mengimplementasikan dan mensosialisasikan program dan kebijakan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja secara sinergis dalam dan antar instansi, masyarakat, dan mass media.<br />
5) Mengalokasikan sumber pendanaan dan sumber daya lainnya secara proporsional untuk penyediaan informasi, pelayanan, pendidikan dan perlindungan remaja atas risiko dan dampak kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja.<br />
6) Memfasilitasi pembentukan Komisi Nasional Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Seksual Remaja yang independen yang berperan sebagai lembaga konsultatif, koordinatif serta monitoring program dan kebijakan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai pendidikan kesehatan reproduksi, di Bali ada perkembangan cukup menggembirakan dengan dimotori oleh Departemen Pendidikan Kota Denpasar bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Bali, malah sudah selangkah lebih maju dengan telah menerapkan muatan silabus kurikulum HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi yang secara tekstual menginsersi materi ini ke dalam kurikulum sekolah dan telah melatih guru-guru pengajarnya mulai kelas 1 SMP hingga kelas 2 SMA. Yang dipakai sebagai bidang studi yang terintegrasi adalah satu pelajaran saja agar bisa lebih mudah diukur dan dievaluasi secara kognitif dan afektifnya. Dalam tingkat SMP dipilih pelajaran IPA, sedangkan di tingkat SMA kelas 1 di Biologi, di kelas 2 adalah Biologi untuk yang memilih jurusan IPA dan Sosiologi untuk yang jurusan IPS. Hal ini sudah dimulai pada tahun ajaran ini. Untuk meningkatkan tingkat psikomotor siswa, telah dilakukan upaya pembentukan dan revitalisasi Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) sebagai sebuah kelompok ekstrakurikuler.</p>
<p style="text-align: justify;">Akses kepada alat kontrasepsi juga masih sangat terbatas. Beberapa macam model kampanye telah dilakukan oleh berbagai lembaga, baik LSM maupun juga pihak swasta untuk mensosialisasikan penggunaan kondom. Termasuk sempat menyediakan mesin ATM kondom kerjasama BKKBN propinsi Bali dengan PKBI daerah Bali. Tetapi angka penggunaan kondom masih rendah, yaitu sekitar 20-30%.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia terdapat sekitar 40 juta ODHA, dan setiap harinya 14.000 orang terinfeksi HIV. Dalam setiap enam detik terdapat penambahan satu kasus baru. Sehingga penghapusan pelacuran dan narkoba yang memerlukan usaha dan waktu yang sangat lama, sulit menjamin penghapusan HIV/AIDS dari muka bumi. Oleh karena itu gelombang tsunami epidemi HIV harus dicegah terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Memahami keadaan ini dan mengacu kepada Komitmen Sentani maka pada tanggal 7 Mei 2004, jajaran pimpinan daerah di Bali, menandatangani Komitmen Sanur. Komitmen Sanur mengandung delapan butir kegiatan yang harus dilaksanakan:<br />
1. meningkatkan penggunaan kondom pada setiap aktivitas seksual beresiko dengan target 60% pada akhir tahun 2005 dan menjadi 80% akhir 2007;<br />
2. meningkatkan jangkauan dan cakupan kegiatan pengurangan dampak buruk pada semua penggunaan narkoba suntik termasuk di Lapas dengan target 75% pada akhir tahun 2005;<br />
3. meningkatkan pelayanan dan dukungan yang komprehensif termasuk pemberian ARV pada setiap ODHA sekurang-kurangnya 200 orang pada akhir 2005 dan 500 orang pada akhir 2007;<br />
4. mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA;<br />
5. memperkuat dan memberdayakan peran dan fungsi KPAD Propinsi/Kabupaten/Kota di Bali;<br />
6. mengupayakan dukungan peraturan perundangan dan penganggaran untuk pelaksanaan penangulangan HIV/.AIDS;<br />
7. meningkatkan kampanye penanggulangan HIV/AIDS dengan melaksanakan pendidikan perubahan perilaku melalui semua jalur;<br />
8. menggalang keterlibatan semua komponen masyarakat baik pemerintah, lembaga non-pemerintah, kelompok maupun perorangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini di Bali telah memiliki Peraturan Daerah No.3 Tahun 2006, sebuah Perda Penanggulangan HIV/AIDS di Bali.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PROGRAM DAN RESPON DARI PEMERINTAH DAN LSM<br />
</strong><br />
Strategi program yang bisa dikembangkan dalam program KRR adalah beberapa hal berupa: mengembangkan seluas-luasnya pusat informasi dan pelayanan remaja yang ramah remaja, mengembangkan media informasi dan pendidikan, mengintegrasikan program remaja ke dalam program pencegahan HIV/AIDS dan IMS, memperkuat jaringan dan sistem rujukan ke pusat pelayanan kesehatan yang relevan, memperkuat pelayanan dan informasi bagi remaja termasuk meningkatkan perlindungan bagi remaja putri dan anak-anak untuk menghindari segala upaya eksploitasi dan kekerasan anak dan remaja. Juga melaksanakan penelitian atau riset tentang KRR dan kebijakan hak-hak reproduksi remaja, melatih orang tua dan guru tentang KRR dan hak-hak reproduksi remaja, meningkatkan kapasitas staf dan relawan youth center untuk memberikan pelayanan ramah remaja dan mengembangkan advokasi dengan isu pemenuhan hak-hak reproduksi remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pihak pemerintah, yang mendapatkan porsi cukup besar menyelenggarakan program KRR ini adalah BKKBN dan Biro BKPP setda Bali, serta beberapa dinas terkait juga ada mengambil beberapa program yang juga menyasar permasalahan kesehatan reproduksi, misalnya Dinas Pendidikan &amp; Kebudayaan dan Dinas Kesehatan. BKKBN menggunakan strategi pelaksanaan program berupa kemitraan yang sejajar dengan lembaga swadaya masyarakat dan organisasi kemanusiaan lainnya BKKBN saat ini mengembangkan empat pendekatan: institusi keluarga, kelompok remaja sebaya, institusi sekolah, dan tempat kerja Kebijakan yang dilaksanakan ke depan adalah peningkatan promosi KRR, peningkatan advokasi KRR, pengembangan KIE, peningkatan konseling KRR, peningkatan dukungan pelayanan bagi remaja dengan masalah khusus, peningkatan dukungan bagi kegiatan remaja yang positif. Melaui strategi: kemitraan dan pemberdayaan remaja Dengan beberapa pencapaian BKKBN propinsi Bali berupa kemitraan dengan LSM dalam bentuk PIK-KRR, pembinaan kelompok keluarga peduli remaja, bermitra dalam pembinaan kelompok remaja, pelatihan remaja dan orang tua sebagai fasilitator program KRR.</p>
<p style="text-align: justify;">Departemen Pendidikan Kota Denpasar sudah menerapkan muatan silabus kurikulum HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi di sekolah. Juga telah melakukan pembentukan dan revitalisasi Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) sebagai sebuah kelompok ekstrakurikuler termasuk pembentukan forum guru pembinanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara sekilas juga bisa disampaikan bahwa untuk wilayah Propinsi Bali, upaya sosialisasi kegiatan kesehatan reproduksi masih dimotori oleh LSM PKBI Daerah Bali, dengan tulang punggungnya adalah KISARA untuk program KRR nya sejak tahun 1994. KISARA PKBI Bali juga berkontribusi dalam memposisikan salah satu relawannya sebagai salah satu anggota dari 20 anggota Indonesia Youth Partnership (IYP), yang merupakan relawan remaja yang diposisikan sebagai advokat remaja. Yang agendanya adalah membahas isu KRR local ke level nasional dan membahasnya bersama dengan pihak legislative langsung (DPR).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa jaringan kerjasama antar lembaga juga dikembangkan di Bali antar LSM yang sama-sama bergerak di bidang kesehatan reproduksi, seksualitas, AIDS dan narkoba. Di samping PKBI dan KISARA juga ada Yayasan Sehati dan Yayasan Rama Sesana yang berkonsentrasi di pendampingan kesehatan reproduksi perempuan, Yayasan Kerti Praja dan Yayasan Citra Usadha di pendampingan pencegahan IMS dan HIV/AIDS pada kalangan berisiko tinggi, Baliplus di pemberian dukungan terhadap ODHA. Kemudian ada Yakeba, Yayasan hati-hati dan Matahati yang bergerak di pendampingan pecandu narkoba dan harm reduction (upaya mengurangi dampak buruk penggunaan narkoba suntik), Yakita dan Yayasan Bali Nurani di bidang rehabilitasi pecandu narkoba, Kelompok Tunjung Putih yang melakukan pembinaan terhadap ODHA perempuan dan juga beberapa lembaga pendampingan terhadap kasus pelecehan dan kekerasan perempuan seperti Bali Sruti dan LBH Bali. Dari sektor swasta juga telah terbentuk sebuah komunitas peduli HIV/AIDS dan beasiswa kepada anak ODHA yang bernama Bali Community Cares (BCC), yang saat ini tengah memproduksi film HIV/AIDS remaja bersama KISARA berjudul “3 Ruang” yang akan menjadi salah satu media utama kampanye HIV/AIDS di Bali tahun 2006.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LIFE SKILL<br />
</strong><br />
KKBN menyebutkan tantangan mereka adalah kurangnya upaya pelibatan dan pemberdayaan remaja sejak dari mulainya perencanaan program, dan beberapa kegiatan yang sifatnya meningkatkan kemampuan psikomotor juga dari instatnsi pemerintah secara umum di materi kesehatan reproduksi masih sangat kurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendekatan yang sudah berjalan cukup lama justru dilakukan oleh beberapa LSM dengan mengikutsertakan remaja dan siswa sekolah dalam kegiatannya. Sejak tahun 1994 KISARA PKBI Bali melakukan pemberdayaan di bidang kesehatan reproduksi dan pengembangan life skill dengan merekrut langsung remaja sebagai relawan remaja, yang selanjutnya diberdayakan lewat berbagai pelatihan remaja. Atau juga dengan mengundang remaja sekolah ikut dalam beberapa pelatihan tersebut. Sejak dua tahun belakangan ini juga UNICEF ikut memberdayakan remaja lewat program Muda Berdaya yang dijalani oleh Yakita, tetapi masih terbatas di pendampingan akan bahaya narkoba. BKKBN propinsi Bali juga mulai tahun ini mengembangkan pendidik sebaya berlabel PIK-KRR di masing-masing kabupaten yang ada di Bali yang muatan juga di samping pemberdayaan pendidik sebaya, juga ada muatan pemberian life skill di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang cukup menarik adalah revitalisasi KSPAN oleh Dinas Pendidikan Kota Denpasar bekerjasama dengan KPA propinsi Bali. KSPAN awalnya dibentuk di masing-masing sekolah di tingkat SMP dan SMA di Denpasar, sebagai sebuah kelompok ekstrakurikuler. KSPAN diharapkan sebagai jembatan untuk upaya penyeimbang materi HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi yang telah diberikan dalam kurikulum terintegrasi yang sifatnya meningkatkan kognitif dan afektif saja, sedangkan KSPAN adalah upaya menmingkatkan kemampuan psikomotornya, dan materi-materi life skill akan banyak diinsersi di kelompok ini. Saat ini di Denpasar sudah terbentuk Forum Guru Pembina KSPA tingkat SMP dan SMA. Revitalisasi KSPAN ini sekarang sudah dilakukan di seluruh kabupaten di Bali.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PROGRAM DAKU YANG DISUPPORT WPF<br />
</strong><br />
Salah satu bentuk upaya melakukan sosialisasi dan pemberdayaan remaja sekolah dalam hal penyadaran hak-hak reproduksi dan seksualitasnya adalah lewat program edukasi berbasiskan teknologi informatika dalam kemasan CD-ROM dengan program flash, bernama DAKU! (Dunia Remajaku, Seru!). Program ini disupport sepenuhnya oleh World Population Foundation (WPF). Modul DAKU! merupakan panduan bagi remaja dalam proses mengembangkan citra diri yang realistis, rasa percaya diri, menerima perubahan saat pubertas, memahami peranan jender untuk menjadi lebih mandiri, membina hubungan, memiliki keputusan mengenai aktivitas kegiatan seksual, dan kemampuan bernegosiasi untuk tidak melakukan hubungan seksual atau berperilaku yang aman. Modul ini memandu remaja dan mendukung usaha untuk mencegah terjadinya Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS. Pelajaran terakhir pada modul adalah membahas masalah kesehatan reproduksi dan seksual serta dampaknya; misalnya membantu remaja menghadapinya dan mencari dukungan untuk masalah kesehatan reproduksi/seksual; memahami, menghindari dan menangani pelecehan dan kekerasan seksual. DAKU! sangat tepat dan cocok untuk dilaksanakan di Bali, khususnya di Denpasar. Program ini diadaptasi dari program World Starts With Me (WSWM) yang dimulai di Uganda, bersama yayasan Pelita Ilmu (YPI), program WSWM ini diadaptasi menjadi DAKU! di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Bali, sekolah yang telah bisa bekerjasama untuk melaksanakan program DAKU! ini adalah SMA 4 Denpasar, SMA 2 Denpasar dan SMA 3 Denpasar. Dengan pertimbangan secara teknis mereka juga sudah lebih siap dibanding sekolah lainnya. Ketiga sekolah ini sudah menyeleksi dan merekomendasikan 3 orang gurunya untuk bisa terlibat di program DAKU! ini dan telah bersedia bekerja sama dalam pelaksanaan DAKU! sebagai guru-guru yang bisa mengajarkan permasalahan kesehatan reproduksi dan seksualitas kepada siswanya. Untuk tahun ajaran baru ini ada 6 sekolah baru yang bergabung ikut menyelenggarakan program DAKU! yaitu SMA 1 Denpasar, SMA 5 Denpasar, SMA Saraswati, SMA Kertha Wisata, SMKTI Global dan Sekolah Dyatmika. Bahkan Sekolah Dyatmika sepakat menjalankan program ini sebagai program intrakurikuler penuh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LAINNYA<br />
</strong><br />
Dalam waktu dekat juga telah dimunculkan kegiatan pendukung untuk bisa menampung aktivitas remaja, memberikan akses informasi dan pelayanan kepada permasalahan remaja yang akan didukung oleh Ford Foundation dalam bentuk wadah Integrated Youth Center (IYC), yang konsepnya segera dicobakan lewat KISARA PKBI Bali dengan dukungan teknis dari Bali Youth Foundation (BYF).</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/permasalahan-kesehatan-reproduksi-seksual-remaja-bali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekatan Untuk Mengembangkan Program Buat Remaja</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/pendekatan-untuk-mengembangkan-program-buat-remaja.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/pendekatan-untuk-mengembangkan-program-buat-remaja.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 10:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[1. Melibatkan  remaja dalam merancang program
Merancang program yang efektif untuk remaja membutuhkan pemahaman akan kebutuhan dan kepeduliannya. Remaja perlu dilibatkan dalam pengembangan program dan pelaksanaannya untuk meyakinkan bahwa pendekatan yang digunakan menarik, relevan dan menyenangkan. Program-program yang efektif, mendorong remaja untuk menjadi bagian dari proses pembuat keputusan dan mencari umpan balik dari remaja secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-113" title="cartoon_youth" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/cartoon_youth-300x236.jpg" alt="cartoon_youth" width="300" height="236" />1</strong>.<strong> Melibatkan  remaja dalam merancang program</strong><br />
Merancang program yang efektif untuk remaja membutuhkan pemahaman akan kebutuhan dan kepeduliannya. Remaja perlu dilibatkan dalam pengembangan program dan pelaksanaannya untuk meyakinkan bahwa pendekatan yang digunakan menarik, relevan dan menyenangkan. Program-program yang efektif, mendorong remaja untuk menjadi bagian dari proses pembuat keputusan dan mencari umpan balik dari remaja secara teratur. Pada kasus-kasus yang dianggap oleh orang dewasa akan menimbulkan masalah namun oleh para remaja belum tentu dianggap demikian, para penyusun program perlu lebih melibatkan remaja , karena di dalam pengembangan program yang hanya memuaskan minat orang dewasa akan menimbulkan resiko yang lebih besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Sediakan tempat khusus bagi remaja  dengan program yang meremaja</strong><br />
Program, termasuk juga pelayanan jika ada, perlu dirancang dan diberi nama sebagai tempat yang bersahabat dengan remaja. Tidaklah cukup dengan hanya menyebutkan bahwa para orang dewasa akan siap membantu dan melayani remaja. Orang dewasa harus dilatih agar dapat berkomunikasi dengan efektif dengan remaja, terutama dalam KIE SRH dan HIV/AIDS, menghormati remaja sebagai mitra dengan kebutuhan khusus yang harus ditangani secara benar.<span id="more-29"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.	Mendidik dengan menghibur (Entertain to educate)</strong><br />
Pendidikan-hiburan (Entertainment-Education) atau edutainment menggunakan bentuk yang menghibur untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan. Melibatkan remajadengan hiburan melalui multimedia merupakan suatu ciri khusus yang digemari remaja dan bagus untuk remaja. Ini untuk menghadapi banyaknya pesan-pesan yang disampaikan oleh kebudayaan populer (popular culture) yang mempromosikan perilaku yang tidak sehat. Untuk menunjukkan perilaku positif dan negatif serta menunjukkan akibat yang dapat ditimbulkannya pendekatan ini perlu menggunakan tokoh-tokoh remaja langsung atau sebisanya menggunakan idola remaja dalam menyampaikan narasinya. Remaja senantiasa bereksperimen dengan berbagai macam perilaku, menyampaikan perilaku positif untuk dijadikan panutan sangatlah penting. Pendidikan-hiburan (Entertainment-Education) menggunakan media massa dan media rakyat dalam bentuk populer seperti musik, drama seri dan acara-acara variety untuk menyampaikan pesan-pesan dengan tampilan emosional yang dapat mempengaruhi dan memotivasi remaja untuk berperilaku sehat dan termasuk juga peduli akan SRH dan HIV/AIDS. Dan dalam pelaksanaannya pelibatan remaja dalam kegiatan ini adalah yang utama dalam lembaga remaja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.	Libatkan remaja dengan teknologi</strong><br />
Sejak lima tahun yang silam penggunaan teknologi komputer untuk konseling perilaku dan pendidikan kesehatan telah menjadi populer. Peningkatan ini terjadi sebagian karena tersedianya komputer yang harganya terjangkau namun mutunya cukup baik, dan dapat mengirim bahan-bahan pendidikan menggunakan komputer kepada orang dalam jumlah yang banyak. Keuntungan dari penyampaian pesan-pesan kesehatan melalui komputer dibandingkan intervensi pendidikan kesehatan tradisional adalah jangkauan untuk mencapai target lebih luas, dan mereka yang ingin mempelajarinya dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/pendekatan-untuk-mengembangkan-program-buat-remaja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja dan Perubahan Biopsikososial</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-dan-perubahan-biopsikososial.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-dan-perubahan-biopsikososial.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 10:50:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Istilah ini menunjuk masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita. Batasan remaja dalam hal ini adalah usia 10 tahun s/d 19 tahun menurut klasifikasi World Health Organization (WHO). Sementara United Nations (UN) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-115" title="05-07-puberty" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/05-07-puberty-300x278.jpg" alt="05-07-puberty" width="300" height="278" />Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Istilah ini menunjuk masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita. Batasan remaja dalam hal ini adalah usia 10 tahun s/d 19 tahun menurut klasifikasi World Health Organization (WHO). Sementara United Nations (UN) atau PBB menyebutnya sebagai anak muda (youth) untuk usia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam batasan kaum muda (young people) yang mencakup usia 10-24 tahun. Transisi ke masa dewasa bervariasi dari satu budaya kebudayaan lain, namun secara umum didefinisikan sebagai waktu dimana individu mulai bertindak terlepas dari orang tua mereka. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja</p>
<p style="text-align: justify;">Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran &amp; sistem reproduksi (Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan, 1994). Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.</p>
<p style="text-align: justify;">Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. Proses reproduksi merupakan proses melanjutkan keturunan yang menjadi tanggung jawab bersama laki-laki maupun perempuan. Karena itu baik laki-laki maupun perempuan harus tahu dan mengerti mengenai berbagai aspek kesehatan reproduksi. Beberapa pengetahuan dasar yang perlu diberikan kepada remaja agar remaja mempunyai kesehatan reproduksi yang baik adalah pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja) termasuk di dalamnya adalah mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginannya dan pasangannya, bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi, pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual remaja, kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya, hak-hak reproduksi serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif atau belum boleh dilakukan sebelum waktunya.<span id="more-27"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa Yang Berubah Pada Remaja?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Karena merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa, tentunya masa remaja identik dengan berbagai perubahan. Perubahan apa yang banyak dialami remaja? Perubahan tersebut meliputi perubahan fisik, baik yang bisa dilihat dari luar maupun yang tidak kelihatan. Remaja juga mengalami perubahan psikis yang kemudian tercermin dalam sikap dan tingkah laku. Ini erat kaitannya dengan perubahan dari sisi sosial dan prilaku sejalan perkembangan kepribadiannya yang dipengaruhi tidak saja oleh orangtua dan lingkungan keluarga, tetapi juga lingkungan sekolah, ataupun teman-teman pergaulan di luar sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Perubahan Fisik</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan-perubahan yang paling mudah untuk dimati terjadi pada remaja sebenarnya adalah perubahan fisiknya, yang secara seksual perubahan ini dibedakan lagi dalam menentukan ciri seks primer dan sekundernya. Ciri seks primer adalah tanda atau perubahan yang menentukan sudah mulai berfungsi optimalnya organ reproduksi pada manusia. Sedangkan ciri seks sekunder adalah perubahan-perubahan yang menyertai ciri seks primer yang terlihat dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks primer laki-laki:<br />
Mimpi basah</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks primer perempuan:<br />
Menstruasi</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks sekunder laki-laki:<br />
Tubuh bertambah berat dan tinggi<br />
Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang<br />
Tangan dan kaki bertambah besar<br />
Pundak dan dada bertambah besar dan bidang<br />
Otot menguat<br />
Tulang wajah memanjang dan membesar, tidak tampak seperti anak kecil lagi<br />
Tumbuh jakun<br />
Tumbuh rambut-rambut di ketiak, sekitar muka dan sekitar kemaluan<br />
Penis dan buah zakar membesar<br />
Suara menjadi besar<br />
Keringat bertambah banyak<br />
Kulit dan rambut mulai berminyak</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks primer perempuan:<br />
Tubuh bertambah berat dan tinggi dengan bentuk tumbuh berlekuk<br />
Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang<br />
Tangan dan kaki bertambah besar<br />
Tumbuh payudara<br />
Putting menonjol keluar<br />
Pantat berkembang lebih besar<br />
Tulang wajah memanjang dan membesar, tidak tampak seperti anak kecil lagi<br />
Tumbuh rambut-rambut di ketiak dan kemaluan<br />
Vagina mulai mengeluarkan cairan<br />
Keringat bertambah banyak<br />
Kulit dan rambut mulai berminyak</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejak lahir. Perubahan yang cukup menyolok terjadi ketika remaja baik perempuan dan laki-laki memasuki usia antara 9 sampai 15 tahun, pada saat itu mereka tidak hanya tubuh menjadi lebih tinggi dan lebih besar saja, tetapi terjadi juga perubahan-perubahan di dalam tubuh yang memungkinkan untuk bereproduksi atau berketurunan. Aktivitas kelenjar pituitari pada saat ini berakibat dalam sekresi hormon yang meningkat, dengan efek fisiologis yang tersebar luas. Hormon pertumbuhan memproduksi dorongan pertumbuhan yang cepat, yang membawa tubuh mendekati tinggi dan berat dewasanya dalam sekitar dua tahun. Dorongan pertumbuhan terjadi lebih awal pada perempuan daripada laki-laki, juga menandakan bahwa perempuan lebih dahulu matang secara seksual daripada laki-laki.<br />
Perubahan dari masa anak-anak menuju masa dewasa atau sering dikenal dengan istilah masa pubertas ditandai dengan datangnya menstruasi (pada perempuan) atau mimpi basah (pada laki-laki). Datangnya menstruasi dan mimpi basah pertama tidak sama pada setiap orang. Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Salah satunya adalah karena gizi. Saat ini ada seoran anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama (menarche) di usia 8-9 tahun. Namun pada umumnya sekitar 12 tahun.<br />
Hormon-hormon utama yang mengatur perubahan ini adalah testosteron pada laki-laki dan estrogen pada perempuan, zat-zat yang juga dihubungkan dengan penampilan ciri-ciri seksual sekunder: rambut wajah, tubuh, dan kelamin dan suara yang mendalam pada laki-laki; rambut tubuh dan kelamin, pembesaran payudara, dan pinggul lebih lebar pada perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa itu mimpi basah?</strong><br />
Remaja laki-laki memproduksi sperma setiap harinya. Sperma tidak harus selalu dikeluarkan, ia akan diserap oleh tubuh dan dikeluarkan melalui cairan keringat, kotoran cair dan kotoran padat. Sperma bisa dikeluarkan melalui proses yang disebut ejakulasi, yaitu keluarnya sperma melalui penis. Ejakulasi bisa terjadi secara alami (tidak disadari oleh remaja laki-laki) melalui mimpi basah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana proses terjadinya menstruasi?</strong><br />
Menstruasi terjadi karena sel telur yang diproduksi indung telur tidak dibuahi oleh sel sperma dalam rahim. Sel telur tersebut menempel pada dinding rahim dan selanjutnya rahim akan membentuk lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah, kemudian menipis dan luruh keluar melalui mulut rahim dan vagina dalam bentuk darah, yang biasanya terjadi selama 3-7 hari. Jarak antara satu haid dengan haid berikutnya tidak sama pada setiap orang. Adakalanya 21 hari atau bisa juga 35 hari.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kapan masa subur terjadi?</strong><br />
Masa subur adalah masa dimana terjadinya pelepasan sel telur pada perempuan. Titik puncak kesuburan terjadi pada hari ke 14 sebelum masa menstruasi berikutnya. Tetapi tanggal menstruasi berikutnya sering kali tidak pasti pada remaja. Biasanya diambil perkiraan masa subur 2-3 hari sebelum dan sesudah hari ke 14 tersebut. Pada masa remaja pencegahan kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seksual pada masa subur (sistem kalender), tidak dapat diandalkan. Ini disebabkab siklus mentruasi pada remaja perempuan biasanya tidak teratur.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa pengaruh dan manfaat hormon estrogen pada anak perempuan?</strong><br />
Hormon ini membuat seorang anak perempuan memiliki sifat kewanitaan setelah remaja. Hormon estrogen mempunyai beberapa khasiat, dia dapat merangsang pertumbuhan kelenjar susu di payudara sehingga payudara membesar. Juga merangsang pertumbuhan saluran telur, rongga rahim dan vagina sehingga membesar. Di vagina, estrogen membuat dinding kian tebal dan cairan vagina bertambah banyak. Estrogen juga dapat mengakibatkan tertimbunnya lemak di daerah panggul perempuan, tetapi juga dapat memperlambat pertumbuhan tubuh yang semula sudah dirangsang oleh kelenjar bawah otak. Itulah sebabnya mengapa perempuan dewasa tidak setinggi anak laki-laki sebayanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Selain estrogen hormon apalagi yang dominan pada tubuh anak perempuan?</strong><br />
Selain estrogen, hormon seks utama lain dari seorang wanita adalah progesteron, yang khasiatnya bermacam-macam tetapi efeknya yang utama adalah melemaskan otot-otot halus, meningkatkan produksi zat lemak di kulit dan meningkatkan suhu badan. Efek progesteron yang terpenting ialah pada rahim. Ia mempertebal dinding di dalam rahim dan merangsang kelenjar-kelenjar agar mengeluarkan cairan pemupuk bagi sel telur yang dibuahi. Dengan demikian sel telur yang sudah dibuahi akan terpelihara selama mencoba memperkuat kedudukannya di dinding rahim.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa pengaruh dan manfaat hormon testosteron pada remaja laki-laki?</strong><br />
Hormon testosteron yang dihasilkan oleh testis. Hormon-hormon seks ini ada di dalam darah dan mempengaruhi alat-alat dalam tubuh serta menyebabkan terjadinya beberapa pertumbuhan seks primer. Hormon testosteron bersama hormon anak ginjal menimbulkan ciri-ciri pertumbuhan seks sekunder.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena di masa puber hormon-hormon seksual berkembang dengan pesat, ini membuat remaja sangat mudah terangsang secara seksual. Pada laki-laki, dorongan seks yang muncul akan menyebabkan sebuah reaksi berupa mengerasnya penis. Reaksi ini dikenal dengan istilah ereksi. Namun demikian, karena belum stabilnya hormon di dalam tubuh, ereksi bisa muncul tanpa adanya rangsangan seksual. Kondisi yang sering kali muncul secara tak terduga ini bisa membuat remaja laki-laki salah tingkah dan kebingungan menyembunyikan tonjolan di celana gara-gara ereksi tadi. Secara umum perubahan fisik baik pada remaja perempuan maupun remaja laki-laki akan berhenti pada usia sekitar 20 tahun, yang berakibat pada remaja selain tubuh tidak akan bertambah tinggi, payudara tidak akan membesar lagi, dan panggul tidak akan bertambah lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Perubahan Psikis, Sosial dan Prilaku</p>
<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan perkembangan fisiknya, pada masa remaja juga akan terlihat jelas berbagai perubahan yang menyangkut aspek psikis, sosial dan prilakunya. Pada masa ini mulai muncul kebutuhan akan privasi, keintiman dan ekspresi erotik. Ditandai dengan mulai tumbuh ketertarikan pada lawan jenisnya dan keinginan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan lawan jenisnya. Beberapa perubahan yang bisa diamati adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">Emosi yang mudah berubah (antara sedih, marah, senang, takut)<br />
Rasa ingin tahu dan ingin mencoba besar<br />
Rasa ingin dihargai dan diakui kedewasaannya<br />
Lebih percaya dan mudah terpengaruhi oleh teman sebaya<br />
Merasa mampu bertanggung jawab dan mulai berani mengambil resiko<br />
Lebih kritis dan ingin menuntut keadilan<br />
Menjadi lebih sensitif<br />
Timbul perhatian pada lawan jenis sehingga suka memperhatikan penampilan<br />
Ingin diperhatikan dan disayang<br />
Dll</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya secara emosional remaja bergerak ke arah ingin mandiri lepas dari orang tua atau mereka yang lebih tua dan membentuk hubungan dan minat yang baru. Apakah perubahan ini dapat dilalui dengan mudah? Tentu saja tidak, karenanya masa ini juga disebut dengan masa pancaroba yaitu di mana seorang remaja mulai menyesuaikan sikapnya sebagai orang dewasa karena adanya perubahan pada tubuhnya serta bertambahnya pengetahuan (baik yang benar maupun yang keliru) tentang dirinya. Kesemuanya ini bisa menimbulkan konflik diri, di satu sisi seorang remaja menikmati perubahan yang terjadi pada tubuhnya, namun di sisi lain ia merasa takut dan ragu apakah yang dialaminya itu juga dialami oleh orang lain. Remaja biasanya bertanya-tanya: “Ini normal atau tidak…..?”, “Apakah orang lain merasakan hal yang sama…?”</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian besar remaja mampu menyesuaikan diri tanpa mendapatkan kesulitan apa-apa. Tetapi selama masa penyesuaian remaja akan bersikap irasional, mudah tersinggung dan sulit dimengerti. Hal ini karena adanya konflik dalam dirinya, frustrasi, kebimbangan dan bahkan mungkin keputusasaan. Tugas psikososial remaja adalah untuk tumbuh dari orang yang tergantung menjadi orang yang tidak tergantung, yang identitasnya memungkinkan orang tersebut berhubungan dengan lainnya dalam gaya dewasa. Kehadiran problem emosional bervariasi antara setiap remaja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengapa Perubahan-Perubahan Tersebut Perlu Diketahui Oleh Remaja?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketidaktahuan remaja mengenai apa yang terjadi pada dirinya dan mengapa hal itu terjadi dapat menimbulkan rasa cemas dan malu. Mereka akan bertanya-tanya apakah perubahan itu merupakan suatu hal yang normal, apakah semua orang mengalaminya, apa yang harus mereka lakukan dengan perubahan itu. Pada remaja perempuan, umumnya belajar dan tahu tentang menstruasi dari ibunya. Sayangnya tidak semua orang tua memberikan informasi yang memadai kepada putrinya dan sebagian bahkan beranggapan tabu membicarakan hal tersebut kepada putrinya. Akibatnya remaja putri menjadi cemas dan berkeyakinan bahwa menstruasi itu sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuat dirinya kotor. Khususnya jika remaja putri tersebut mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan menjelang dan selama ia menstruasi seperti merasa tidak enak badan, pusing-pusing, perut kembung, letih atau mudah tersinggung. Dibandingkan dengan remaja putri, pengalaman mengalami mimpi basah pada laki-laki sebagian besar tidak menimbulkan kecemasan yang tinggi, karena tidak diperlukan perawatan ekstra seperti menstruasi pada remaja putri.</p>
<p style="text-align: justify;">Remaja perlu mengetahui perubahan-perubahan ini juga agar mereka mampu mengendalikan perilakunya. Remaja harus mengerti bahwa begitu dia mendapatkan menstruasi atau mimpi basah maka secara fisik dia telah siap dihamili atau menghamili. Bisa hamil atau tidaknya remaja putri bila melakukan hubungan seksual tidak tergantung pada berapa kali dia melakukan hubungan seksual tetapi tergantung pada kapan dia melakukan hubungan seksual (dikaitkan dengan siklus kesuburan) dan apakah sistem reproduksinya berfungsi dengan baik. Banyak remaja yang tidak mengetahui akan hal ini, sehingga mereka menyangka bahwa untuk hamil orang harus terlebih dahulu melakukan hubungan seksual berkali-kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dengan adanya perubahan-perubahan tersebut maka remaja, baik laki-laki maupun perempuan perlu memperhatikan kebersihan tubuh secara lebih seksama. Remaja perempuan terutama lebih perlu memperhatikan kebersihan sekitar vagina agar tidak terjadi bau yang tidak sedap dan infeksi. Remaja laki-laki perlu secara teratur mencukur bulu-bulu disekitar wajah serta mencegah bau badan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-dan-perubahan-biopsikososial.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A boy’s perspective: for real?</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/a-boy%e2%80%99s-perspective-for-real.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/a-boy%e2%80%99s-perspective-for-real.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 10:57:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reproductive Health]]></category>
		<category><![CDATA[Sexuality Blitz]]></category>
		<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[pubertas]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[



Ini adalah sebuah komik sederhana yang dibuat oleh AndrewLin buat gurl.com.
Di sini Andrew ingin bercerita bagaimana keinginan seorang remaja cowok yang ingin belajar tentang seks. Silakan click di sini.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="posttitle"></div>
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p><a title="for-real-comic1.gif" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/for-real-comic1.gif"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/for-real-comic1.gif" alt="for-real-comic1.gif" /></a></p>
<p>Ini adalah sebuah komik sederhana yang dibuat oleh AndrewLin buat gurl.com.<br />
Di sini Andrew ingin bercerita bagaimana keinginan seorang remaja cowok yang ingin belajar tentang seks. Silakan click di <a href="http://www.gurl.com/showoff/comix/pages/0,,605672_714445-1,00.html" target="_blank">sini</a>.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/a-boy%e2%80%99s-perspective-for-real.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Remaja Benar-Benar Diperhatikan!</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/saatnya-remaja-benar-benar-diperhatikan.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/saatnya-remaja-benar-benar-diperhatikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 06:16:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[konferensi remaja]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Artikel ini untuk mengenang Konferensi Nasional Kesehatan Reproduksi Remaja empat tahun lalu:
Ada banyak paparan menarik yang dieksplorasi dalam Konferensi Nasional Kesehatan Reproduksi Remaja di Yogyakarta, 11-13 April 2005 yang lalu. Konferensi yang dihadiri organisasi-organisasi peduli Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di Indonesia ini ingin mengingatkan kembali betapa strategisnya posisi remaja. Jumlah remaja (10-24 tahun) saat ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel ini untuk mengenang Konferensi Nasional Kesehatan Reproduksi Remaja empat tahun lalu:</p>
<p style="text-align: justify;">Ada banyak paparan menarik yang dieksplorasi dalam <strong>Konferensi Nasional Kesehatan Reproduksi Remaja di Yogyakarta, 11-13 April 2005</strong> yang lalu. Konferensi yang dihadiri organisasi-organisasi peduli Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di Indonesia ini ingin mengingatkan kembali betapa strategisnya posisi remaja. Jumlah remaja (10-24 tahun) saat ini adalah sejumlah 65,6 juta jiwa, yang berarti sekitar 30% dari total penduduk Indonesia. Konferensi ini sekaligus menggaris bawahi betapa pentingnya remaja untuk diperhatikan dalam hal pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi dan seksualnya, karena bila tidak dilakukan secara serius maka bisa jadi negara ini akan makin terpuruk dengan permasalahan yang semakin menumpuk yang dialami oleh remaja, yang katanya calon generasi penerus negara dan bangsa ini.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"><strong>Remaja Dalam Data</strong><br />
“67% yang berusia di bawah 24 tahun pernah melakukan hubungan seksual pranikah” demikian ungkap Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto dari Jakarta yang ikut sharing dalam pleno hari pertama menyebutkan hasil penelitian yang dilakukan oleh DKT Indonesia di Surabaya, Medan, Jakarta dan Bandung. Kemudian juga disebutkan sebuah studi tahun 2001 di Kupang, Palembang, Singkawang, Cirebon dan Tasikmalaya<span> </span>yang menunjukkan hasil sebanyak 17% remaja usia sekolah telah melakukan hubungan seksual. Hal ini agak serupa dengan hasil yang didapatkan oleh <strong>KISARA</strong>, dalam survey terbaru di Denpasar, Badung, Tabanan, Singaraja dan Gianyar yang menyebutkan bahwa 2 dari 10 remaja usia sekolah sudah melakukan aktivitas seksual. Selanjutnya menurut penelitian Pusat Studi Kesehatan UI disebutkan 30% kasus aborsi dilakukan oleh remaja. Sampai dengan akhir tahun 2004, Depkes mencatat lebih dari 505 dari total pengidap HIV positif yang tercatat di Indonesia adalah orang muda. Dan kita semua mengetahui bahwa pengetahuan remaja tentang seksualitas, kesehatan reproduksi termasuk juga HIV/AIDS dan narkoba masih sangat minim, ini tentunya juga disebabkan karena terbatasnya akses informasi dan lemahnya advokasi remaja.<span id="more-229"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penyebab Masalah Kespro Memang Kompleks</strong><br />
Disamping memang rendahnya pengetahuan remaja tentang kespro dan terbatasnya akses informasi KRR, berikut ini juga secara berurutan beberapa hal yang bisa dicermati sebagai penyebab kompleksitas permasalahan kespro remaja kita yang didiskusikan dalam beberapa pleno konferensi. Mulai dari tidak adanya akses pelayanan yang ramah remaja. Pihak lembaga kesehatan lewat Dinkes DIY menyampaikan bahwa telah disediakan Puskesmas yang siap melayani konseling KRR, program pencegahan Kehamilan Tak Dikehendaki (KTD), pengaduan kekerasan seksual dan perkosaan, tetapi pernyataan ini justru memicu perdebatan karena pelayanan Puskesmas sudah terlajur dicap tidak ramah remaja, jam layanan yang justru bersamaan dengan jam remaja bersekolah, petugas yang kurang down to earth bagi remaja, dll. Selanjutnya juga belum adanya kurikulum di sekolah yang bisa menjawab kebutuhan remaja akan informasi kespro dan hak reproduksinya. Pihak Dinas Pendidikan yang dalam konferensi ini sempat mengklaim bahwa sudah memasukkan muatan kespro dalam kurikulum yang dititipkan di beberapa pelajaran juga didebat oleh para remaja. Hal ini juga termasuk yang dipresentasikan oleh Nyala Sari,<span> </span>salah seorang perwakilan remaja, karena sebenarnya remaja ingin materi kespro tidak sekedar dititipkan, tetapi benar-benar bisa diajarkan dan ada penilaiannya serta ada pendukung life skill lainnya. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh utusan dari Bali untuk menjelaskan sekilas tentang rencana Propinsi Bali atas inisiatif pemerintah daerah, juga dinas pendidikan, dinas kesehatan, yang melibatkan LSM remaja lokal (KISARA) sebagai wujud keterlibatan remaja dalam penyusunan program, telah bergerak memulai usaha memasukkan kespro ke dalam kurikulum lewat label HIV/AIDS dan narkoba yang bisa nantinya bisa dinilai dan dievaluasi secara kognitif. Sementara itu, BKKBN sebagai perwakilan organisasi pemerintah menyebutkan masih terbatasnya institusi pemerintah yang menangani remaja secara khusus dan serius. Terlebih lagi dengan dilikuidasinya BKKBN di tingkat kabupaten/kota dan termasuk juga “ngacir”nya para petugas lapangannya yang sebenarnya sangat potensial untuk bisa ikut membantu pendampingan program KRR di masyarakat tingkat desa ke bawah. Belum adanya Undang-Undang yang dapat melindungi dan mengakomodasi hak-hak remaja juga merupakan sebuah poin penting penyebab tidak adanya payung hukum yang jelas untuk mengatasi permasalahan remaja terutama pelanggaran hak dan kekerasan seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Remaja Bisa Menjadi Gen-B</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau hal-hal seperti ini kurang mendapatkan perhatian dan dukungan, tentunya akan membuat remaja saat ini menjadi sebuah generasi yang patut diberi sebutan “Gen-B” atau kepanjangan dari “Generasi Bingung”. Remaja kita akhirnya akan mencari informasi kepada bentuk-bentuk media yang lebih mudah diakses, yang justru akan makin menjerumuskan mereka karena banyak media (yang bisa jadi karena pengaruh rekan sebayanya) yang hanya dipenuhi oleh mitos-mitos yang menyesatkan. Ini juga muncul dalam diskusi pleno hari ketiga dengan pihak jurnalis media cetak (Fadmi Sustiwi dari Kedaulatan Rakyat) dan televisi (Priyo Sumandoyo, eks SCTV yang kini di Lativi) yang menyebutkan cukup banyak media yang “lepas kontrol” sehingga ikut menyebarkan mitos-mitos tersebut demi mengejar tiras dan nilai komersialisme semata. Untuk bisa membantu remaja belajar mengertikan masalah KRR, memilah fakta dan mitos, membangun kesadaran kritis, dan belajar mengorganisasi sebuah lembaga remaja, dalam konferensi ini juga dipertajam dengan brainstorming, skill building tentang advokasi remaja, pengolahan dan penyajian data riset remaja, accelerated learning, media development,<span> </span>juga satellite meeting tentang sustainability youth center, SOP sebuah youth center dan penajaman konsep KRR. Juga diadakan pemilihan youth representative</p>
<p style="text-align: justify;">serta penyusunan deklarasi remaja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Harapan Remaja</strong><br />
Sebuah deklarasi berjudul “Deklarasi Remaja; Suara Untuk Perubahan” berhasil dicetuskan dalam konferensi ini sebagai bentuk harapan, permintaan bahkan sekaligus juga desakan. Apa yang bisa diharapkan remaja adalah agar seluruh pihak dapat mengupayakan serta mengusahakan akses informasi yang benar dan lengkap tentang kespro dan pelayanannya sebagai bentuk pemenuhan hak-hak remaja berdasarkan apa yang sudah disepakati bersama dalam Konferensi Internasional Untuk Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) 1994 dimana pihak pemerintah dan perwakilan negara Indonesia juga terlibat dalam menyusun dan menyepakati hasil konferensi ini. Juga mendorong semua pihak untuk melibatkan remaja dalam program-program yang ditujukan untuk remaja (mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi). Tentunya akan menjadi sebuah ketimpangan bila membuat program dan kebijakan untuk remaja tanpa melibatkan remaja. Ikut mendukung, mengembangkan dan memperluas pusat informasi dan pelayanan remaja yang ramah remaja. Mengembangkan media informasi dan pendidikan. Mengintegrasikan program remaja dengan program pencegahan HIV/AIDS, IMS dan narkoba. Memperkuat jaringan dan sistem rujukan ke rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan yang lain. Meningkatkan perlindungan bagi remaja putri dan anak-anak, untuk menghindari segala upaya eksploitasi dan kekerasan terhadap anak dan remaja. Melaksanakan penelitian dan studi kebijakan mengenai KRR dan hak-hak reproduksi remaja. Melatih orang tua dan guru tentang KRR dan hak-hak kespro. Mengembangkan advokasi dengan isu pemenuhan hak kespro remaja. Jadi sangat dibutuhkan sekali kepada seluruh lapisan masyarakat dan elemen bangsa ini untuk ikut peduli dan mendukungnya.<strong>“Karena inilah saatnya kita peduli! Kita semua! Untuk remaja kita! Untuk penerus negara dan bangsa ini!!”</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/saatnya-remaja-benar-benar-diperhatikan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Watch Remaja? Perlukah?</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/media-watch-remaja-perlukah.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/media-watch-remaja-perlukah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 10:50:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[media watch]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[

Saya kembali teringat di tahun 2001, dengan pendapat Effendi Gazali, Ph.D, (pakar komunikasi politik UI yang saat ini populer dengan satu acara parodi politik di TV), saat saya ikut “Wokshop Media dan TV Publik” berseri yang diselenggarakan oleh UI dan IFES, yang mengatakan bahwa “Kebebasan buat pers dan media dalam era teknologi informasi ini memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="posttitle"></div>
<p align="left"><a title="youth-voices.png" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/youth-voices.png"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/youth-voices.thumbnail.png" alt="youth-voices.png" width="244" height="105" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Saya kembali teringat di tahun 2001, dengan pendapat Effendi Gazali, Ph.D, (pakar komunikasi politik UI yang saat ini populer dengan satu acara parodi politik di TV), saat saya ikut “Wokshop Media dan TV Publik” berseri yang diselenggarakan oleh UI dan IFES, yang mengatakan bahwa “Kebebasan buat pers dan media dalam era teknologi informasi ini memang sangat strategis, tetapi kebebasan tentunya harus dilandasi kesadaran penuh untuk bertanggung jawab. Dan dalam konteks kekinian pengaruh media justru akan dipengaruhi dari sejauh mana penikmat media memiliki pengetahuan yang cukup dan mengapresiasikan dengan baik media itu sendiri”. Jadi di samping adanya tuntutan komersialisasi dan upaya mengejar rating yang dilakukan oleh para provider media, yang sayangnya sering kali mengorbankan nilai-nilai edukatif dan normatif, tentunya hal yang strategis harus dilakukan juga adalah “bagaimana memberdayakan para penikmat media itu sendiri”.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dibayangkan bagaimana sebuah realita berikut ini bisa terjadi. Seorang ibu rumah tangga yang kritis, sebelum sempat terjadi kejadian-kejadian “korban tayangan Smackdown” yang lalu, pernah waktu itu juga mengkhawatirkan tentang banyaknya tayangan malam hari yang sangat tidak edukatif dan tidak kondusif untuk perkembangan anak-anaknya. Si Ibu sering melihat anaknya menyaksikan beberapa tayangan sinetron sitkom bernuansa seks (salah satu yang disebutkan si Ibu sebagai contoh adalah tayangan Komedi Nakal) dan tayangan olah raga dengan kekerasan, akan sangat tendensius mempengaruhi prilaku anak-anaknya ke arah negatif. Nah, ada yang menarik dari pendapat si Ibu ini. Kita semua tentu sangat setuju bila tayangan yang bernuansa seks dan kekerasan tentunya tidak baik untuk dikonsumsi anak-anak. Tetapi permasalahannya justru adalah ketika tayangan ini telah diberi label hanya untuk orang dewasa (DW atau 18+) dan ditayangkan di atas jam 22.00, yang nota bene memang untuk orang sudah dewasa, kenapa sampai bisa si Ibu memberikan ijin atau kesempatan buat anak-anak untuk tetap terjaga dan menonton TV di jam-jam seperti itu? Tentunya kita diingatkan lagi, bahwa untuk memberdayakan media juga kita harus tetap ingat untuk memberdayakan penikmat medianya juga. Ini penting sekali.<span id="more-216"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Terutama buat penikmat media di usia remaja, yang tengah dalam fase transisi, antara anak dan dewasa. Sering kali masyarakat juga kebingungan untuk menerapkan standard buat remaja. Kita harus melihat situasi terkini, ketika sinetron menjadi acara yang paling bernilai rating tinggi adalah sinetron-sinetron remaja. Hal-hal positif mesti bisa dibahasakan buat penikmat media dari kalangan remaja kita agar mereka bisa tetap menjadi remaja yang “on the right tracks”. Bagaimana mungkin sebuah hal ini bisa terjadi, misalnya saat beberapa tahun lalu saya sempat hadir di Jakarta untuk melihat proses produksi sebuah sinetron lama yang pernah sangat popular berjudul “ABG”, dengan background setting adalah suasana sekolah. Di saat itu sang assisten director menginstruksikan make up artistnya untuk melakukan make over kepada Masayu Anastasia (yang dalam sinetron mendapatkan peran protagonist, aktivis di OSIS dan diidolakan banyak temannya) untuk dipermak wardrobenya. Rok sekolahnya dipilih yang agak pendek sehingga pahanya menyembul, baju hem sekolahnya diminta dikeluarkan, kancing atas hem diminta tidak dikancingkan, dan rambut tidak pakai ikatan serta diberikan pengecatan, serta wajah dimake up cukup tebal. Ini semua diinstruksikan oleh tim produksi sinetron.Padahal situasi sekolah yang dipinjam untuk dijadikan tempat sinetron diproduksi saat itu situasinya masih wajar-wajar saja. Siswi-siwinyanya tetap tidak bermake up, baju hem dimasukkan semua, rok di bawah lutut. Rapi semua seperti apa yang tercatum di tata tertib sekolah. Jadi, kalau melihat kasus ini, seringkali demi tuntutan rating, seorang tokoh yang mestinya “innocent” pun diset menjadi terlihat “terlalu terbuka” dalam berbusana untuk ukuran siswa yang sedang ada di sekolah. Bisa dibayangkan akhirnya ini ditiru oleh banyak siswi-siswi se-Indonesia sebagai trend saat ini. dan seperti kita ketahui juga menjadi trend cara busana sekolahan anak sekarang. Sebenarnya memang tidak terlalu bermasalah buat siswa sendiri, tetapi rupanya setelah diinventaris komentar dari orang-orang dewasa yang berbeda jamannya dengan remaja sekarang, banyak yang mengeluh, malah bahkan merasa tergoda dengan cara berpakaian ini. Dan remaja kembali lagi menjadi korban. Mereka sendiri belum bisa berdaya untuk mengkritisi media.</p>
<p style="text-align: justify;">Mudah-mudahan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang katanya berusaha independen, bebas intervensi, -padahal ini lembaga bikinan pemerintah juga ya- justru harus bisa mengintervensi media secara aktif. Jadi, ada baiknya pada target kelompok remaja pun agar bisa dikembangkan sebuah visi bersama lagi yaitu “Menjadikan Media Sebagai Sumber Informasi Dan Hiburan Yang Bertanggung Jawab, Khususnya Buat Remaja”.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bisa menuju pergerakan ke arah visi tersebut bisa dienergizing lewat beberapa misi strategis yaitu:<br />
1) Pemberdayaan remaja tentang minat akan media,<br />
2) Pelibatan remaja dalam proses produksi, pasca produksi dan evaluasi media<br />
3) Pemberdayaan remaja untuk bisa mengkritisi media lewat “media watch remaja” sebagai partner KPI.</p>
<p style="text-align: justify;">Harapan saya terakhir adalah pelibatan remaja semain luas dalam berbagai sektor, termasuk media, dengan bisa ikut menggerakkan remaja dalam ikut mengawasi dan mendampingi perjalanan perkembangan media di negara ini secara bersama-sama. Karena ini saatnya memberikan porsi yang lebih, buat kaum muda, karena masa depan bangsa ini ada di tangan mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/media-watch-remaja-perlukah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
