<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>okanegara.com &#187; media</title>
	<atom:link href="http://okanegara.com/tag/media/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Media Watch Remaja? Perlukah?</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/media-watch-remaja-perlukah.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/media-watch-remaja-perlukah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 10:50:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[media watch]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[

Saya kembali teringat di tahun 2001, dengan pendapat Effendi Gazali, Ph.D, (pakar komunikasi politik UI yang saat ini populer dengan satu acara parodi politik di TV), saat saya ikut “Wokshop Media dan TV Publik” berseri yang diselenggarakan oleh UI dan IFES, yang mengatakan bahwa “Kebebasan buat pers dan media dalam era teknologi informasi ini memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="posttitle"></div>
<p align="left"><a title="youth-voices.png" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/youth-voices.png"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/youth-voices.thumbnail.png" alt="youth-voices.png" width="244" height="105" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Saya kembali teringat di tahun 2001, dengan pendapat Effendi Gazali, Ph.D, (pakar komunikasi politik UI yang saat ini populer dengan satu acara parodi politik di TV), saat saya ikut “Wokshop Media dan TV Publik” berseri yang diselenggarakan oleh UI dan IFES, yang mengatakan bahwa “Kebebasan buat pers dan media dalam era teknologi informasi ini memang sangat strategis, tetapi kebebasan tentunya harus dilandasi kesadaran penuh untuk bertanggung jawab. Dan dalam konteks kekinian pengaruh media justru akan dipengaruhi dari sejauh mana penikmat media memiliki pengetahuan yang cukup dan mengapresiasikan dengan baik media itu sendiri”. Jadi di samping adanya tuntutan komersialisasi dan upaya mengejar rating yang dilakukan oleh para provider media, yang sayangnya sering kali mengorbankan nilai-nilai edukatif dan normatif, tentunya hal yang strategis harus dilakukan juga adalah “bagaimana memberdayakan para penikmat media itu sendiri”.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dibayangkan bagaimana sebuah realita berikut ini bisa terjadi. Seorang ibu rumah tangga yang kritis, sebelum sempat terjadi kejadian-kejadian “korban tayangan Smackdown” yang lalu, pernah waktu itu juga mengkhawatirkan tentang banyaknya tayangan malam hari yang sangat tidak edukatif dan tidak kondusif untuk perkembangan anak-anaknya. Si Ibu sering melihat anaknya menyaksikan beberapa tayangan sinetron sitkom bernuansa seks (salah satu yang disebutkan si Ibu sebagai contoh adalah tayangan Komedi Nakal) dan tayangan olah raga dengan kekerasan, akan sangat tendensius mempengaruhi prilaku anak-anaknya ke arah negatif. Nah, ada yang menarik dari pendapat si Ibu ini. Kita semua tentu sangat setuju bila tayangan yang bernuansa seks dan kekerasan tentunya tidak baik untuk dikonsumsi anak-anak. Tetapi permasalahannya justru adalah ketika tayangan ini telah diberi label hanya untuk orang dewasa (DW atau 18+) dan ditayangkan di atas jam 22.00, yang nota bene memang untuk orang sudah dewasa, kenapa sampai bisa si Ibu memberikan ijin atau kesempatan buat anak-anak untuk tetap terjaga dan menonton TV di jam-jam seperti itu? Tentunya kita diingatkan lagi, bahwa untuk memberdayakan media juga kita harus tetap ingat untuk memberdayakan penikmat medianya juga. Ini penting sekali.<span id="more-216"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Terutama buat penikmat media di usia remaja, yang tengah dalam fase transisi, antara anak dan dewasa. Sering kali masyarakat juga kebingungan untuk menerapkan standard buat remaja. Kita harus melihat situasi terkini, ketika sinetron menjadi acara yang paling bernilai rating tinggi adalah sinetron-sinetron remaja. Hal-hal positif mesti bisa dibahasakan buat penikmat media dari kalangan remaja kita agar mereka bisa tetap menjadi remaja yang “on the right tracks”. Bagaimana mungkin sebuah hal ini bisa terjadi, misalnya saat beberapa tahun lalu saya sempat hadir di Jakarta untuk melihat proses produksi sebuah sinetron lama yang pernah sangat popular berjudul “ABG”, dengan background setting adalah suasana sekolah. Di saat itu sang assisten director menginstruksikan make up artistnya untuk melakukan make over kepada Masayu Anastasia (yang dalam sinetron mendapatkan peran protagonist, aktivis di OSIS dan diidolakan banyak temannya) untuk dipermak wardrobenya. Rok sekolahnya dipilih yang agak pendek sehingga pahanya menyembul, baju hem sekolahnya diminta dikeluarkan, kancing atas hem diminta tidak dikancingkan, dan rambut tidak pakai ikatan serta diberikan pengecatan, serta wajah dimake up cukup tebal. Ini semua diinstruksikan oleh tim produksi sinetron.Padahal situasi sekolah yang dipinjam untuk dijadikan tempat sinetron diproduksi saat itu situasinya masih wajar-wajar saja. Siswi-siwinyanya tetap tidak bermake up, baju hem dimasukkan semua, rok di bawah lutut. Rapi semua seperti apa yang tercatum di tata tertib sekolah. Jadi, kalau melihat kasus ini, seringkali demi tuntutan rating, seorang tokoh yang mestinya “innocent” pun diset menjadi terlihat “terlalu terbuka” dalam berbusana untuk ukuran siswa yang sedang ada di sekolah. Bisa dibayangkan akhirnya ini ditiru oleh banyak siswi-siswi se-Indonesia sebagai trend saat ini. dan seperti kita ketahui juga menjadi trend cara busana sekolahan anak sekarang. Sebenarnya memang tidak terlalu bermasalah buat siswa sendiri, tetapi rupanya setelah diinventaris komentar dari orang-orang dewasa yang berbeda jamannya dengan remaja sekarang, banyak yang mengeluh, malah bahkan merasa tergoda dengan cara berpakaian ini. Dan remaja kembali lagi menjadi korban. Mereka sendiri belum bisa berdaya untuk mengkritisi media.</p>
<p style="text-align: justify;">Mudah-mudahan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang katanya berusaha independen, bebas intervensi, -padahal ini lembaga bikinan pemerintah juga ya- justru harus bisa mengintervensi media secara aktif. Jadi, ada baiknya pada target kelompok remaja pun agar bisa dikembangkan sebuah visi bersama lagi yaitu “Menjadikan Media Sebagai Sumber Informasi Dan Hiburan Yang Bertanggung Jawab, Khususnya Buat Remaja”.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bisa menuju pergerakan ke arah visi tersebut bisa dienergizing lewat beberapa misi strategis yaitu:<br />
1) Pemberdayaan remaja tentang minat akan media,<br />
2) Pelibatan remaja dalam proses produksi, pasca produksi dan evaluasi media<br />
3) Pemberdayaan remaja untuk bisa mengkritisi media lewat “media watch remaja” sebagai partner KPI.</p>
<p style="text-align: justify;">Harapan saya terakhir adalah pelibatan remaja semain luas dalam berbagai sektor, termasuk media, dengan bisa ikut menggerakkan remaja dalam ikut mengawasi dan mendampingi perjalanan perkembangan media di negara ini secara bersama-sama. Karena ini saatnya memberikan porsi yang lebih, buat kaum muda, karena masa depan bangsa ini ada di tangan mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/media-watch-remaja-perlukah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
