<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>okanegara.com &#187; kesehatan seksual</title>
	<atom:link href="http://okanegara.com/tag/kesehatan-seksual/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tawaran Iklan Memperbesar Penis Adalah Penipuan;  Anda Sesungguhnya Jauh Lebih Normal Dari Yang Anda Bayangkan!</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/tawaran-iklan-memperbesar-penis-adalah-penipuan-anda-sesungguhnya-jauh-lebih-normal-dari-yang-anda-bayangkan.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/tawaran-iklan-memperbesar-penis-adalah-penipuan-anda-sesungguhnya-jauh-lebih-normal-dari-yang-anda-bayangkan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 07:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[mitos seks]]></category>
		<category><![CDATA[mitos seksual]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[penis enlargement]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran penis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Anda rajin membaca surat kabar, majalah atau masih punya waktu untuk browsing internet? Pernah menyadari betapa banyak iklan yang menawarkan untuk memperbesar penis terpampang di media? Apakah Anda sempat berpikiran yang sama dengan jutaan laki-laki lain di dunia ini untuk memperbesar penis? Sebaiknya pikirkan kembali semuanya baik-baik. Awal bulan lalu seorang laki-laki, 21 tahun, datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/Penis_Enlargement_Penis_E_461e20b53491a.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-460" title="Penis_Enlargement_Penis_E_461e20b53491a" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/Penis_Enlargement_Penis_E_461e20b53491a-272x300.gif" alt="" width="272" height="300" /></a>Anda rajin membaca surat kabar, majalah atau masih punya waktu untuk <em>browsing</em> internet? Pernah menyadari betapa banyak iklan yang menawarkan untuk memperbesar penis terpampang di media? Apakah Anda sempat berpikiran yang sama dengan jutaan laki-laki lain di dunia ini untuk memperbesar penis? Sebaiknya pikirkan kembali semuanya baik-baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Awal bulan lalu seorang laki-laki, 21 tahun, datang dengan penis bengkak tidak beraturan setelah disuntikkan minyak orang-aring oleh temannya. Kasus ini hampir serupa dengan beberapa korban suntikan silikon cair sebelumnya. Seminggu yang lalu laki-laki berusia 42 tahun datang bersama istri keduanya yang berusia 24 tahun. Mengeluh penisnya sakit, bengkak dan mati rasa. Ternyata di pangkal penisnya terpasang karet gelang berwarna hitam mengikat erat pangkal penis, yang disebutkan pemberian dari seorang dukun kenalannya. Istrinya bahkan tidak menyadari dan baru tahu hari itu. Laki-laki ini datang untuk menghilangkan rasa sakitnya, bukan membuka karetnya, dia takut kalau karet dibuka sembarangan maka penisnya akan mengkerut dan mengecil, seperti yang disampaikan si dukun. Tentu saja beberapa kasus ini hanyalah sebagian kecil dari upaya laki-laki memperbesar penisnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Laki-laki dan Ukuran Penis</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di samping berfungsi sebagai alat reproduksi, penis juga berperan penting dalam menjalankan fungsi rekreasi dalam hubungan seksual. Selalu muncul banyak diskusi yang tiada habisnya mengenai penis, termasuk tentang ukuran ideal untuk dapat membawa kepuasan seksual bagi laki-laki dan pasangannya. Sebuah mitos populer tentang ukuran penis yang turun temurun terkonsepsi sejak lama dan masih dipersepsikan oleh banyak laki-laki adalah “ lebih besar, lebih baik” (Hanifah,2007). Secara turun temurun berbagai cara tidak logis dan tidak ilmiah telah dilakukan untuk memperpanjang ukuran penis, yang ternyata dapat mengakibatkan efek buruk,  akhirnya malah mengorbankan fungsi penis itu sendiri. Tentu saja ini adalah mitos yang perlu diluruskan. Secara histologi, penis tersusun dominan oleh jaringan ikat (mulai dari uretra<em>,</em> jaringan erektil <em>corpora cavernosa</em> dan <em>corpora cavernosum </em>serta<em> </em>tunika albuginea) lalu serabut otot polos dan hanya sedikit saja serabut otot bergaris. Karena lebih banyak jaringan ikat dan hanya sedikit otot bergaris, maka sejak pubertas mencapai puncak di usia 16-17 tahun, ukuran penis sudah tidak bisa lagi mengalami perubahan. Sedangkan sebelum usia tersebut ukuran penis masih bisa berkembang karena pengaruh hormon, terutama testosteron.</p>
<p style="text-align: justify;">Ukuran penis yang dikategorikan normal itu seberapa panjang dan berapa diameternya, belum banyak terdokumentasikan secara resmi. Kalaupun ada yang melakukan studi, hasilnya masih sangat bervariasi. Salah satunya, menyebutkan bahwa ukuran panjang penis saat tidak ereksi rata-rata berkisar antara 7,6 – 10,2 cm. Sedangkan saat ereksi panjang rata-rata penis adalah 12,7 – 17,8 cm (Francoeur, 1991).  Untuk data orang Indonesia secara resmi malah belum ada. Kemungkinan akan berbeda dengan standar rata-rata yang disebutkan oleh riset Francoeur. Dalam sebuah tulisan, seorang dokter ahli andrologi sempat menyebutkan bahwa ukuran penis rata-rata laki-laki Indonesia, kemungkinan kisarannya adalah 7 cm saat tidak ereksi dan menjadi dua kali lipat ketika ereksi (Setiawan N,2008).</p>
<p style="text-align: justify;">Ketakutan laki-laki bahwa ukuran penisnya terlihat terlalu kecil untuk memuaskan pasangannya saat berhubungan seksual seringkali menjadi sebuah alasan jamak. Namun, justru sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan laki-laki yang berpikir penis mereka terlalu kecil sesungguhnya memiliki penis berukuran normal (Mulhall JP, 2001). Alasan lain yang sering muncul adalah untuk meningkatkan kepercayaan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara fisik, ukuran penis tidak berpengaruh bagi tercapainya orgasme dan kepuasan seksual perempuan, selama penis dalam keadaan normal sesuai perkembangan seharusnya. Orgasme dan kepuasan seksual perempuan lebih ditentukan oleh kualitas ereksi, kemampuan mengontrol ejakulasi dan keterlibatan emosional terhadap pasangan (Pangkahila W, 2008).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Laki-laki dan Praktek Memperbesar Penis Yang Menyesatkan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Telah banyak upaya keliru yang dilakukan laki-laki selama ini untuk melakukan pembesaran penis. Tanpa disadari hal ini menjadi sasaran kalangan-kalangan yang tidak bertanggung jawab untuk mendapatkan keuntungan komersial yang tidak logis. Hal ini sudah berlangsung turun-temurun dan ratusan tahun lamanya, bahkan terjadi di seluruh dunia. Nama seperti “Mak Erot” pun sangat kondang sebagai ikon pembesaran penis di Indonesia.<strong> </strong>Padahal sudah jelas pada banyak kasus, yang terjadi setelah melakukan prosedur memperbesar penis adalah banyak penis yang mengalami deformitas baik secara fisik maupun fungsi seksual (Pangkahila W, 2008). Tentu saja korban praktek-praktek tidak ilmiah seperti ini tidak muncul ke permukaan karena mereka tidak berani untuk mengungkapkan kasusnya secara terbuka, yang akhirnya sering kali masyarakat menjadi tidak mengetahui akan adanya akibat buruk dari praktek-praktek pembesaran penis yang tidak ilmiah seperti ini. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yang mengkhawatirkan adalah justru banjirnya informasi dilakukan kalangan  komersial yang menawarkan berbagai jenis praktek memperbesar penis yang promosinya seolah-olah menampilkan dukungan dari para ahli untuk mendapatkan kesan logis, ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi jika dicermati akan terlihat bahwa klaim keamanan dan efektivitasnya tidak terbukti. Pihak komersial seperti ini hanya  mengandalkan testimonial, data yang bias dan menampilkan gambar-gambar keberhasilan yang tidak otentik.</p>
<p style="text-align: justify;">Alat-alat bantu yang ditujukan secara komersial untuk pembesaran penis dapat berbahaya bagi kesehatan seksual laki-laki yang bisa mengakibatkan kerusakan permanen pada penis. Kalau coba dicermati kembali apa yang bisa diakibatkan oleh upaya pembesaran penis tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Suntikan silikon cair tentunya sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan penis secara permanen. Beberapa riset juga menyebutkan adanya dugaan silikon cair  dengan kejadian kanker.</li>
<li>Pijatan tangan <em>(manual massage)</em> yang secara tradisional sering dikombinasikan dengan pemberian makanan tertentu (misalnya ketan lemang) dan penis dimasukkan ke alat tertentu (misalnya bambu). tetap dapat mengakibatkan efek buruk seperti luka lecet, pembengkakan hingga rasa nyeri.</li>
<li>Pompa <em>(vacuum)</em> sempat populer sebagai alat terapi disfungsi seksual, tetapi bila digunakan dalam waktu lebih lama daripada yang direkomendasikan malah dapat merusak jaringan elastis di penis. Sesungguhnya menggunakan pompa hanya menciptakan ilusi sehingga penis terlihat menjadi lebih besar, tetapi jarang berhasil secara permanen.</li>
<li>Pil, obat oles, obat tempel (<em>patch</em>) dan bahan lain (misalnya rendaman teh). Tidak satupun dari produk-produk ini terbukti bekerja dan beberapa mungkin dapat berbahaya  jika dosisnya sembarang, misalnya yang mengandung hormon.</li>
<li>Peregangan dengan beban <em>(traction)</em> adalah metode yang sangat riskan karena dapat menyebabkan kerusakan permanen pada penis. Tidak ada bukti ilmiah bahwa teknik ini dapat menambah ukuran penis.</li>
<li>Operasi atau pembedahan penis (<em>phalloplasty</em>) secara medis masih dapat direkomendasikan untuk kepentingan non-kosmetik. Operasi dapat dilakukan untuk merekontruksi penis yang mengalami cidera parah, misalnya akibat kecelakaan, atau misalnya penis terpotong (seperti dalam kasus populer John Bobbitt). Sedangkan untuk kepentingan pembesaran penis dengan memotong otot dasar penis tidak dianjurkan. Memang penis dapat terlihat menjadi lebih panjang tapi hasilnya tidak memuaskan dan kemungkinan malah berdampak buruk karena bila otot dasar penis tidak kuat, penis tak akan dapat ereksi dengan baik.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lalu, Apakah Berarti Operasi Bisa Menjadi Pilihan?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya kebutuhan untuk operasi pembesaran penis sangat jarang. Jenis <em>phalloplasty</em> dengan tujuan memperbesar penis yang masih dikerjakan adalah<em> </em><em>Enhancement Phalloplasty dan Girth </em><em>E</em><em>nhancement</em>. Ada dua prosedurnya yaitu memperpanjang penis dan memperbesar diameternya. Caranya adalah pemotongan pada ligamentum suspensorium penis, yang memfiksasi pangkal penis pada tulang pubis. Bagian yang melekat pada tulang akan dilepaskan sehingga akan menjadi jatuh dan terlihat lebih panjang.  Sedangkan untuk membuat penis lebih tebal melibatkan pemindahan lemak dari bagian tubuh yang berotot tebal, bokong atau perut dan menyuntikkan lemak ke penis.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya tidak satupun dari teknik-teknik ini terbukti aman atau efektif. Memotong ligamentum suspensorium dapat menyebabkan ereksi penis menjadi tidak stabil. Suntikan lemak ke penis terbukti tidak ada manfaatnya. Justru ada potensi risiko dari teknik-teknik ini seperti infeksi, hilangnya sensasi kulit, pendarahan yang berlebihan hingga hilangnya fungsi penis. <em>Society for the Study of Impotence</em> menyatakan tidak ada studi independen termonitor yang obyektif mengenai keamanan atau keberhasilan dari metode ini, sehingga disebutkan operasi ini tidak lebih dari sebuah <em>experimental surgery </em>(operasi percobaan) saja. Disebutkan juga bahwa kebanyakan pasien yang menjalani operasi ini tidak puas dengan hasilnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masih Banyak Hal Yang Bisa Dilakukan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar 89% perempuan mengaku puas dengan ukuran penis pasangannya (Otis A, 2005). Namun faktanya, banyak laki-laki mengalami <em>“small-penis syndrome”</em> atau kekhawatiran akan ukuran penisnya yang dianggap kecil. Menurut <em>Journal Urology BJU International</em>, laki-laki yang mengalami sindrom tersebut mencapai sekitar 45%. Tak heran bila masih begitu banyak beredar tawaran di situs-situs internet untuk memperbesar dan memperpanjang ukuran penis.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi justru sebagian perempuan mengatakan bahwa laki-laki yang memiliki penis terlalu besar bukanlah sebuah kabar baik. Selama hubungan seksual, penis yang ukurannya lebih dari rata-rata dapat menyebabkan rasa ketidaknyamanan hingga rasa sakit. Dalam banyak kasus, ukuran penis adalah soal preferensi pribadi bagi laki-laki dan pasangannya. Yang lebih utama adalah relasi seksual dan komunikasi seksual yang baik, jadi tidak hanya ukuran fisik semata.  Terlebih perlu disadari bahwa peka rangsangan pada vagina (<em>G-spot</em>)  terletak di sepertiga bagian luar vagina. Jadi, sebetulnya sangat tidak relevan memperpanjang atau memperbesar ukuran penis demi kepuasan pasangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan pemahaman seksual yang baik bersama pasangan. Hal-hal berikut bisa dilakukan:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Berkomunikasi seksual yang lebih baik dengan pasangan. Termasuk berusaha berdiskusi terbuka tentang segala apa yang ada di diri dan pada pasangan.</li>
<li>Meningkatkan penampilan diri. Olahraga teratur tentu saja dapat membuat perbedaan besar. Juga kebiasaan hidup sehat, makan berimbang, menghentikan kebiasaan buruk (merokok, alkohol), menjaga berat badan tetap ideal. Kebugaran fisik yang lebih baik tidak hanya membuat terlihat lebih menarik, tetapi juga dapat mengembalikan performa seksual yang lebih baik.</li>
<li>Rapikan rambut pubis. Rambut pubis atau rambut kemaluan yang tidak rapi di sekitar dasar penis dapat membuat penis tidak tampak menarik. Bahkann pencukuran rambut pubis  dapat meningkatkan sensitivitas di sekitar dasar penis.</li>
<li>Berdiskusilah dengan dokter yang memahami kesehatan seksual. Banyak laki-laki akhirnya merasa nyaman dengan keyakinan bahwa mereka &#8220;normal&#8221; atas rekomendasi seorang ahli.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekali Lagi, Pembesaran Penis Adalah Mitos</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Banyak masyarakat yang terperangkap di dalam mitos mengenai ukuran penis yang lebih besar lebih dapat memuaskan pasangan. Sedangkan yang sebenarnya jauh lebih berpengaruh adalah kualitas ereksi dan kemampuan mempertahankan ereksi. Ukuran penis, sejauh ini dapat dikatakan tidak lebih dari sekedar penampakan fisik saja dan tidak mewakili fungsi dan kualitas hubungan seksual, selama ukurannya masih dalam rentang normal. Ini adalah salah satu contoh dari puluhan bahkan ratusan mitos tentang seks yang menyesatkan dan beredar luas dikalangan masyarakat bahkan praktisi kesehatan. Hal ini membuktikan bahwa pengetahuan mengenai seksualitas di masyarakat masih rendah.  Yang justru sangat penting untuk dilakukan saat ini adalah mengedukasi seluruh lapisan masyarakat agar memiliki pengetahuan yang memadai, termasuk tentang seksualitasnya. Atas dasar pengetahuan yang baik ini akan terbentuk persepsi yang sehat dan dasar perilaku seksual yang sehat. Terakhir, diharapkan juga kepada media agar secara sadar bisa memilah informasi yang benar secara selektif termasuk mengeksklusi iklan yang kontraedukatif dan menyuburkan mitos, mengingat fungsi media masa sebagai agen untuk mencerdaskan masyarakat. Jadi tidak ikut menipu masyarakat. Karena sampai saat ini semua iklan tentang pembesaran penis adalah sebuah penipuan publik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Daftar Rujukan:</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Francoeur, RT.1991. A Descriptive Dictionary and Atlas of Sexology.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanifah, L. 2007. Jamu dan Praktek-praktek Kelamin. LP3Y. Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulhall, JP. 2001. Serial assessment of efficacy and satisfaction profiles following penile prosthesis insertion and penile surgery. <em>Journal of Urology </em>165(5):1042A.</p>
<p style="text-align: justify;">Otis, A.2005. Common Penis Problems and Condition. New York. Cornell University Press.Ithaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Pangkahila, W.2005.  Disfungsi Seksual Pria.Cetakan Pertama.Jakarta.Perpustakaan Nasional RI.</p>
<p style="text-align: justify;">Pangkahila, W.2008.  Konsultasi Seksologi. Tabloid Gaya Hidup Sehat. <a href="http://community.kompas.com/">http://community.kompas.com</a> (akses 10 September 2009).</p>
<p style="text-align: justify;">Schill, WB. 2006. Surgical Procedures in Andrology. In: Andrology for Clinician. Springer-Verlag.Berlin.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiawan, N. 2008. Memperbesar penis, Mitos? Kompas Online.<a href="http://kompas.com/">http://kompas.com</a> (akses 10 September 2009).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>* Ditulis untuk Pfizer Award of Sexology 2009.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/tawaran-iklan-memperbesar-penis-adalah-penipuan-anda-sesungguhnya-jauh-lebih-normal-dari-yang-anda-bayangkan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekali Lagi Tentang Sirkumsisi Laki-laki: Antara Tradisi, Pencegahan HIV dan Hak Seksual</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/sekali-lagi-tentang-sirkumsisi-laki-laki-antara-tradisi-pencegahan-hiv-dan-hak-seksual.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/sekali-lagi-tentang-sirkumsisi-laki-laki-antara-tradisi-pencegahan-hiv-dan-hak-seksual.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 04:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[khitan]]></category>
		<category><![CDATA[men`s health]]></category>
		<category><![CDATA[sirkumsisi]]></category>
		<category><![CDATA[who]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Apakah tradisi sirkumsisi yang sejak lama dipraktekkan atas dasar kepercayaan sesungguhnya adalah memang untuk kesehatan dan ramalan akan upaya pencegahan dari penyakit tertentu? Atau sirkumsisi justru memangkas hak-hak seksual manusia dalam mengeksplorasi seksualitasnya? Belakangan ini ada hal yang menarik perhatian karena menjadi sebuah kontroversi lagi, menyangkut rekomendasi terbaru yang diusulkan oleh CDC (Center for Disease [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/circumcision-051.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-457" title="circumcision-05.jpg" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/circumcision-051.jpg" alt="" width="275" height="275" /></a>Apakah tradisi sirkumsisi yang sejak lama dipraktekkan atas dasar kepercayaan sesungguhnya adalah memang untuk kesehatan dan ramalan akan upaya pencegahan dari penyakit tertentu? Atau sirkumsisi justru memangkas hak-hak seksual manusia dalam mengeksplorasi seksualitasnya? Belakangan ini ada hal yang menarik perhatian karena menjadi sebuah kontroversi lagi, menyangkut rekomendasi terbaru yang diusulkan oleh CDC (<em>Center for Disease Control</em>) tentang sirkumsisi laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekilas Tentang Sirkumsisi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sirkumsisi, khitan atau sunat adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh preputium (<em>prepuce</em>, <em>foreskin</em>, frenulum, kulup) yang menutupi glans penis (kepala penis). Kata sirkumsisi berasal dari <a title="Bahasa Latin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Latin">bahasa Latin</a> “<em>circum”</em> (memutar) dan “<em>caedere”</em> (memotong). Sirkumsisi memiliki riwayat sejarah yang sangat panjang sebagai salah satu tindakan bedah pertama yang dilakukan manusia. Ada tiga alasan utama orang menjalani sirkumsisi: (1) alasan kepercayaan, (2) indikasi medis dan (3) pencegahan penyakit.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi Dan Tradisi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sirkumsisi telah dilakukan sejak jaman prasejarah, dilihat dari gambar-gambar di gua yang berasal dari <a title="Zaman Batu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Batu">Zaman Batu</a> dan makam <a title="Mesir purba" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir_purba">Mesir purba</a>. Alasan sirkumsisi masih belum jelas pada masa itu tetapi teori-teori memperkirakan bahwa sirkumsisi merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau tanda penyerahan pada Yang Maha Kuasa, tahapan menuju dewasa, tanda kekalahan atau <a title="Perbudakan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perbudakan">perbudakan</a>, atau upaya untuk menghambat fungsi seksual yang dianggap berlebihan. Sirkumsisi pada laki-laki diwajibkan pada agama <a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a> dan <a title="Yahudi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yahudi">Yahudi</a>. Sirkumsisi juga terdapat di kalangan mayoritas penduduk <a title="Korea Selatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korea_Selatan">Korea Selatan</a>, <a title="Amerika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika">Amerika</a>, dan <a title="Filipina" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filipina">Filipina</a>. Dalam Islam, sirkumsisi tidak hanya dilakukan pada laki-laki, tetapi juga kepada perempuan. Pada perempuan sirkumsisi dilakukan dengan memotong bagian kulit yang terlihat menonjol ke atas vagina, dalam hal ini sering kali klitoris dan sebagian labia mayora dan labia minora. Metode klasik yang dilakukan secara tradisional adalah dengan menggunakan sebuah alat tajam misalnya sebilah bambu tajam atau pisau yang  langsung memotong preputium tanpa anesetesi (pembiusan). Bekas luka tidak dijahit dan langsung dibungkus dengan kain atau ramuan herbal tertentu. Sering kali cara ini mengakibatkan perdarahan dan infeksi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi Laki-laki Untuk Kesehatan Dan Pencegahan Penyakit</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Indikasi medis yang paling sering ditemui adalah phimosis. Kondisi lain adalah paraphimosis, balanopostitis berulang (<em>recurrent balanopostitis</em>) dan <em>balanitis xerotica olbiterans</em>. Sedangkan beberapa penyakit yang diduga berkurang risikonya dengan menjalani sirkumsisi adalah Infeksi Saluran Kemih (ISK), beberapa jenis Infeksi Menular Seksual (IMS), kanker serviks (pada pasangan seksualnya) dan kanker penis. Karena masih dugaan, seringkali masih mengundang kontroversi saat didiskusikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ISK pada anak laki-laki usia sekitar 10 tahun adalah 1-2%. Ginsburg dan McCracken pertama kali melaporkan insiden ISK lebih tinggi pada anak laki-laki yang tidak disirkumsisi. Di sisi lain, terdapat 2% (20 per 1.000) kasus komplikasi dari prosedur sirkumsisi, terutama perdarahan dan infeksi. Beberapa publikasi mengenai hubungan antara sirkumsisi dan IMS masih sering membingungkan. Riwayat berhubungan seksual dengan laki-laki yang tidak disirkumsisi dapat menjadi faktor risiko tertular herpes simpleks (HSV) tipe-2 pada perempuan. Kalau sebuah studi di Australia pada tahun 1983 menyebutkan bahwa herpes genitalis, kandidiasis, gonore dan sifilis lebih sering terjadi pada laki-laki yang tidak disirkumsisi, tetapi justru sebuah studi baru di Australia juga malah menyebutkan bahwa sirkumsisi tidak memiliki dampak signifikan pada insiden IMS umum. Sebuah penelitian baru-baru ini melaporkan peningkatan risiko infeksi <em>Human Papilloma Virus</em> (HPV) pada laki-laki yang tidak disirkumsisi, dibandingkan dengan yang sudah disirkumsisi. Perempuan monogami yang pasangan laki-lakinya tidak disirkumsisi dan juga melakukan  hubungan seksual dengan enam atau lebih pasangan seksual memiliki risiko kanker serviks lebih tinggi dibandingkan perempuan yang pasangan seksualnya disirkumsisi dengan tipe prilaku seksual yang sama. Kanker penis merupakan kondisi yang jarang terjadi, dengan kejadian tahunan sekitar 1:100.000 laki-laki di dunia. Ada bukti bahwa sirkumsisi pada bayi akan memeberikan perlindungan dari kanker glans penis tapi tidak dari bagian shaft penis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi dan Pencegahan HIV</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Secara kumulatif kasus pengidap HIV dan AIDS di Indonesia yang telah dikoreksi dari tanggal 1 Januari 1987 hingga 31 Maret 2009 terdiri dari HIV 6.668 kasus, AIDS 16.964 kasus, sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 23.632 kasus, dengan angka kematian 3.492 jiwa. Belakangan ini meningkatnya HIV dan AIDS lebih banyak dikarenakan hubungan heteroseksual. Jika dilihat dari faktor risiko maka antara lain heteroseksual mencapai 8.210, homoseksual mencapai 628, jarum suntik atau IDU mencapai 7.125, transmisi perinatal atau ibu yang sedang hamil yang menular kepada bayi mencapai 390, dan tak diketahui sebabnya mencapai 611 kasus.</p>
<p style="text-align: justify;">Anjuran penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual masih menemui banyak hambatan.  Metode pencegahan yang di kontrol oleh perempuan (female control method) melalui femidom yang dimunculkan lagi sesungguhnya didasarkan atas kenyataan bahwa angka penggunaan kondom yang masih relatif rendah dalam hubungan seks yang berisiko adanya fakta bahwa banyak pria yang sering melakukan hubungan seks berganti pasangan enggan untuk menggunakan kondom sehingga meningkatkan risiko penularan HIV.  Lalu, adanya kabar baik tentang kemunculan mikrobisida yang tadinya membawa harapan pun akhirnya kandas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai tanggapan atas kebutuhan mendesak untuk mengurangi jumlah infeksi HIV baru secara global, World Health Organization (WHO) dan UNAIDS mengadakan konsultasi pakar internasional pada bulan Maret 2007 untuk menentukan apakah sirkumsisi laki-laki harus direkomendasikan sebagai standar pencegahan HIV. Dari beberapa uji klinis yang telah dilakukan menunjukkan sirkumsisi pada laki-laki dapat mengurangi penularan HIV hingga 60%. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, para ahli yang menghadiri konsultasi merekomendasikan bahwa Sirkumsisi laki-laki sekarang harus diakui sebagai suatu intervensi penting tambahan untuk mengurangi risiko infeksi tertular HIV secara heteroseksual pada laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) saat ini malah mengeluarkan pernyataan melalui sebuah studi baru yang dilakukan oleh CDC, bahwa  sirkumsisi tidak mengurangi risiko tertular HIV di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Studi CDC ini juga untuk melengkapi pertanyaan-pertanyaan seperti apakah kesimpulan yang didapatkan oleh UNAIDS juga bisa berlaku sama di seluruh dunia? Studi-studi yang dilakukan dan dikutip oleh UNAIDS sebagian besar di  Afrika, di mana prevalensi HIV tinggi, angka sirkumsisi laki-laki rendah, dan cara penularan HIV yang paling utama adalah lewat hubungan heteroseksual. Tentu saja situasinya di tempat lain belum tentu sama. Misalnya di Amerika Serikat, setengah dari semua infeksi baru terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Cara penularan seperti ini tidak terlalu berpengaruh dengan prosedur sirkumsisi.</p>
<p style="text-align: justify;">CDC telah merilis sebuah pernyataan di situs yang menyatakan bahwa keputusan untuk merekomendasikan sirkumsisi sebagai sebuah prosedur resmi untuk pencegahan HIV masih belum final. Karena sesungguhnya perlu dipertimbangkan juga bahwa bayi laki-laki yang baru lahir tanpa sempat disirkumsisi pun bisa tertular HIV, dan laki-laki yang sudah disirkumsisi tetapi melakukan aktivitas seksual sesama laki-laki belumlah terlindungi dengan sirkumsisi ini. Maka pada akhirnya keputusan akhir yang diperlakukan CDC saat ini, sirkumsisi adalah bersifat sukarela.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya sirkumsisi hanyalah mengurangi risiko infeksi HIV, bukan itu mencegah infeksi. Laki-laki masih harus menggunakan kondom untuk mencegah HIV. Sirkumsisi diyakini dapat melindungi orang dari infeksi HIV karena preputium penis lebih rentan terhadap HIV dan dapat menjadi tempat masuk utama virus.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi dan Hak Seksual </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hak-hak Seksual yang disepakati menurut WHO pada Juni 2009 didasari atas HAM yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan, meliputi hak akan; (1) Akses  layanan kesehatan seksual  termasuk kesehatan  reproduksi ,(2) Semua layanan yang terkait dengan seksualitas, (3) Pendidikan seksualitas, (4) Penghormatan terhadap integritas tubuh, (5) Memilih – memutuskan  pasangan seksual, (6) Memutuskan aktif secara seksual atau tidak, (7) Konsensus relasi seksual, (8) Konsesus pernikahan, (9) Memutuskan  punya  anak atau tidak, (10) Memperoleh kepuasan seksual dan (11) Jaminan hubungan seksual yang aman (tidak menulari dan ditulari IMS dan HIV).</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;_udi=B6VJW-4FXWJJC-13&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;_coverDate=04%2F30%2F2005&amp;_alid=389565158&amp;_rdoc=1&amp;_fmt=&amp;_orig=search&amp;_qd=1&amp;_cdi=6105&amp;_sort=d&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;view=c&amp;_acct=C000009718&amp;_version=1&amp;_urlVersion=0&amp;_userid=4161417&amp;md5=335f52f3b276bcf16fd3c434780dc84d" target="_blank">Jurnal of Urology April 2005</a> menyebutkan bahwa sirkumsisi menurunkan kepuasan seksual karena pada preputium yang dipotong tersebut terdapat syaraf-syaraf yang sangat peka. Selama ini, bila terjadi kontroversi seputar sirkumsisi, nampaknya semua sepakat tentang pelarangan sirkumsisi pada perempuan. Karena tindakan inipun  tidak dikenal sama sekali dalam dunia medis. Pemotongan atau pengirisan kulit sekitar klitoris apalagi klitorisnya sangat merugikan. Tidak ada indikasi medis untuk mendasarinya. Ada kritik bahwa tindakan sirkumsisi yang dilakukan orang tua terhadap anak laki-lakinya mengandung arti bahwa orang tua telah mengambil hak anaknya dalam memutuskan tindakan terhadap tubuhnya, termasuk keputusan dan hak seksualnya. Namun dalam hal ini, pertimbangan keagamaan dan budaya sering kali masih diakui dalam mengambil keputusan. Karena itu, tentu saja tugas petugas medis adalah memberikan informasi apa adanya, agar orang tua dapat memutuskan sendiri pilihan bagi anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan laki-laki sirkumsisi terbukti memiliki fungsi yang signifikan dalam pencegahan HIV, karena aktivitas seksual ano-genital atau seks anal tetap sangat berisiko menimbulkan peluang penularan walaupun sudah disirkumsisi. Ini juga memberikan nilai risiko juga kepada pasangan heteroseksual yang juga melakukan seks anal sebagai variasi seksualnya. Aktivitas seks anal sendiri bukanlah sebuah anomali. Di samping dilakukan oleh laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki, seks anal sering juga dilakukan oleh pasangan heteroseksual sebagai variasi seksual. Dan melakukan seks anal sebagai variasi seksual adalah hak seksual dari setiap orang untuk bisa mengeksplorasi seksualitasnya. Selama pasangan menyetujuinya dan tidak ada hambatan psikis maka hal ini bisa dilakukan dengan menyenangkan bersama.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Simpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan perkembangan terakhir atas pertimbangan sosial, kesehatan dan hak seksual manusia, maka tentang sirkumsisi pada laki-laki dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Keputusan sirkumsisi itu individual. (2) Kalaupun laki-laki sudah disirkumsisi bukan berarti aman dari infeksi menular seksual, karenanya tetap harus menggunakan kondom, karena manfaat sirkumsisi masih parsial. (3) Perlu diperhatikan secara hak-hak seksual dalam tindakannya dan dipertimbangkan dengan baik karena pada sebagian orang menghilangkan kenikmatan seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Disampaikan dalam Kongres Nasional Seksologi 2009 di Pontianak dan dimuat di Harian Dewata Pos, Maret 2010<br />
Gambar dari <a href="http://www.danheller.com">www.danheller.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/sekali-lagi-tentang-sirkumsisi-laki-laki-antara-tradisi-pencegahan-hiv-dan-hak-seksual.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

