<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>okanegara.com &#187; anak</title>
	<atom:link href="http://okanegara.com/tag/anak/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Teringat Kembali: &#8220;Untuk Ketut&#8221;</title>
		<link>http://okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 04:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[kid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Suasana hati saya kembali mengingat sebuah untaian kata yang sempat saya tulis kira-kira setahun lebih lalu. Hari ini kembali saya bertemu dengan seorang anak. Masih sangat muda. Terinfeksi HIV.  Dan saya teringat kembali.
Letih.
Letih sekali.
Kaki ini hampir mati rasa.
Tak kuat lagi melangkah.
Tapi ku tak boleh berhenti.
Berhenti berarti pecundang.
Karena ada yang lebih letih.
Anak-anak itu.
Lebam dan radang tengah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-444" title="kid hiv" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/01/kid-hiv-200x300.jpg" alt="kid hiv" width="200" height="300" />Suasana hati saya kembali mengingat sebuah untaian kata yang sempat saya tulis kira-kira setahun lebih lalu. Hari ini kembali saya bertemu dengan seorang anak. Masih sangat muda. Terinfeksi HIV.  Dan saya teringat kembali.</p>
<p>Letih.<br />
Letih sekali.<br />
Kaki ini hampir mati rasa.<br />
Tak kuat lagi melangkah.<br />
Tapi ku tak boleh berhenti.<br />
Berhenti berarti pecundang.<br />
Karena ada yang lebih letih.<br />
Anak-anak itu.<br />
Lebam dan radang tengah terjadi.<br />
Nafas tidak lagi segar.<br />
Darahpun kini berlumur mahluk asing.<br />
Mahluk yang tidak diharap hadir.<br />
Si virus itu.<br />
Yang telah merenggut orang yang disayangi.<br />
Hari ini, mahluk itu masih menjadi sahabat.<br />
Hari ini, mereka masih bermain bersama.<br />
Esok hari, tidak akan lagi sama.<br />
Virus licik itu akan merubah segalanya.<br />
Ketut, ini kubawakan buku tulis.<br />
Buku buatmu menulis.<br />
Tulislah semua.<br />
Tentang hari yang masih indah.</p>
<p><strong><em>“untuk ketut”</em></strong><br />
by okanegara, 1 Desember 2008</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk semua anak-anak yang ditinggal orangtuanya, anak-anak yang terdampak oleh HIV AIDS. Kepedulian adalah kata yang dinanti di jaman ini bagi segelintir orang. Sebuah buku tulis dan buku bacaan bagi banyak orang adalah hal biasa. Tetapi tidak bagi mereka, anak-anak yatim piatu yang tidak lagi punya sandaran harta. Sekali lagi ini bukan tentang harga, tetapi tentang kepedulian. Kita bisa berbagi apa saja yang dibutuhkan anak-anak ini. Bagi sebagian orang bisa jadi kecil, tetapi itu bisa berarti banyak untuk yang lain. Tidak perlu menunggu sayap itu tumbuh untuk menjadi malaikat. Semua orang bisa menjadi malaikat bagi orang lain.</p>
<p>foto: www.zipthumbs.com/wow/HIV.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Puteri Duyung Bagaimana Caranya Kawin?”</title>
		<link>http://okanegara.com/sexuality-blitz/pertanyaan-anak-%e2%80%9cputeri-duyung-bagaimana-caranya-kawin%e2%80%9d-ini-cerita-tentang-puteri-duyung.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/sexuality-blitz/pertanyaan-anak-%e2%80%9cputeri-duyung-bagaimana-caranya-kawin%e2%80%9d-ini-cerita-tentang-puteri-duyung.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 16:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sexuality Blitz]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi seksual]]></category>
		<category><![CDATA[putri duyung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin pagi, ada pertanyaan mengejutkan dari seorang ibu yang punya anak perempuan berusia 11 tahun. Masih kelas 5 SD. Anaknya ngefans berat dengan tokoh kartun Little Mermaid, si puteri duyung cantik. Si ibu ini kebingungan waktu anaknya bertanya, “ Bunda, bagaimana ya caranya puteri duyung kawin?” Rupanya anaknya memiliki keingintahuan yang lebih dari sekedar membaca, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-180" title="300px-waterhouse_a_mermaid1" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/06/300px-waterhouse_a_mermaid1.jpg" alt="300px-waterhouse_a_mermaid1" width="209" height="298" />Kemarin pagi, ada pertanyaan mengejutkan dari seorang ibu yang punya anak perempuan berusia 11 tahun. Masih kelas 5 SD. Anaknya ngefans berat dengan tokoh kartun Little Mermaid, si puteri duyung cantik. Si ibu ini kebingungan waktu anaknya bertanya, “ <strong>Bunda, bagaimana ya caranya puteri duyung kawin?</strong>” Rupanya anaknya memiliki keingintahuan yang lebih dari sekedar membaca, menonton dan menyenangi tokoh kartun kegemarannya. Atau justru anaknya pernah melihat kartun “versi lain” yang mestinya hanya layak dilihat orang dewasa, yang banyak sekali beredar di internet.</p>
<p style="text-align: justify;">Wah, saya juga bingung ditanya seperti itu oleh ibu ini. Yang paling membingungkan saya adalah puteri duyung itu sebenarnya apaan? Itu kan cuma mahluk fantasi. Atau apa memang benar-benar ada? (Jadi seperti misteri Loch Ness saja nih). Ini dulu yang ingin saya cari tahu. Pertanyaan tadi terpaksa saya tunda menjawabnya. Soalnya akan sangat membingungkan menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang masih belum jelas kan? Pikiran saya juga mengingat-ngingat waktu kecil dulu beberapa kali main ke Ancol, sempat melihat-lihat ikan besar yang katanya sih ikan duyung. Nah lho, jadi maksudnya yang mana?<span id="more-176"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tentang Puteri Duyung</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-182" title="dugong_dugon" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/06/dugong_dugon.jpg" alt="dugong_dugon" width="270" height="181" />Setelah tanya sana, tanya sini, browsing wikipedia dan beberapa sumber, akhirnya saya sepakat sama diri saya dulu kalau “puteri duyung” itu jelas cuma legenda. Dongeng semata. Sedangkan “ikan duyung” memang ada. Sering disebut dengan “sea cow”. Dan tentu saja puteri duyung dan ikan duyung berbeda. Ikan duyung sebenarnya bukan ikan, tetapi mamalia. Hanya saja habitatnya memang di air. Bentuknya mirip dengan lumba-lumba atau paus kecil. Lumba-lumba dan paus juga masuk kelas mamalia ya. Ikan duyung yang nama latinnya adalah Dugong dugon ini termasuk hewan pemakan alga laut langka yang perlu dilindungi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang bikin saya tertarik sekarang malah keingintahuan tentang legenda si puteri duyung, karena kisahnya ternyata sangat populer di seluruh dunia. Tadinya saya benar-benar tidak tahu banyak soal ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-full wp-image-184" title="726px-herbert_james_draper_-_ulysses_and_the_sirens_19091" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/06/726px-herbert_james_draper_-_ulysses_and_the_sirens_19091.jpg" alt="726px-herbert_james_draper_-_ulysses_and_the_sirens_19091" width="300" height="247" />Menurut legenda turun temurun, puteri duyung adalah makhluk yang hidup di air, memiliki badan dan kepala perempuan dengan ekor menyerupai ikan. Puteri duyung hidup di dasar laut. Sebagian besar legenda menyebutkan kalau dulunya puteri duyung adalah manusia. Kenapa dia berubah bisa menjadi memiliki ekor ikan, pada beberapa legenda memiliki kisah sendiri-sendiri. Dan kisah-kisah ini sudah sejak berabad-abad yang lalu ada. Dalam mitologi Yunani, puteri duyung ini jumlahnya tidak satu, tetapi banyak. Posisinya seperti kawanan bidadari kalau dibandingkan dengan kisah pewayangan. Mereka disebut para “siren”, tetapi tentunya tetap hidup di laut. Puteri-puteri duyung ini dikatakan sering menggoda para pelaut. Barang siapa lengah dan tergoda maka akan menemui nasib naas di laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Babilonia malah pernah menyembah puteri duyung sebagai dewa laut yang dikenal sebagai Ea atau Oannes. Oannes digambarkan sebagai duyung jantan. Dari kata Oannes ini istilah Aqua dan Ocean berasal. Legenda rakyat Assyria bercerita tentang dewi Atargatis, ibu dari ratu Semiramis. Dewi Atargatis jatuh cinta pada seorang gembala, yang justru kemudian terbunuh olehnya. Karena malu, ia menceburkan diri ke danau untuk mengubah diri menjadi ikan. Namun, air danau tidak bisa mengubah dirinya sepenuhnya karena ia masih memiliki kekuatan sebagai seorang dewi. Akhirnya, hanya separuh tubuhnya yang menjadi ikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Legenda rakyat yang paling terkenal juga berasal dari Yunani. Menceritakan bahwa puteri duyung adalah metamorfosis dari “Thessalonike”, adik Alexander Agung yang berubah menjadi puteri duyung setelah meninggal. Yang membuat merinding adalah karena diyakini dia hidup kembali di laut Aegea, dan selalu menanyakan nasib kakaknya. Dia hanya menanyakan satu hal bila ada pelaut melintas. Ini selalu membuat para pelaut takut setengah mati bila mengarungi laut Aegea. Dia selalu bertanya: “Zi o basiliás Aléxandros?” (Apakah Alexander Agung masih hidup?). Jika mendengar suara seperti itu di laut, maka demi keselamatan sebaiknya dijawab; “Zi k? basileúi!” (Dia masih hidup dan masih berkuasa). Bila tidak menjawab seperti itu, maka ia berangsur-angsur berubah menjadi Gorgon dan mencelakai pelaut yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Wikipedia menyebutkan bahwa……”<em>kisah puteri duyung juga sangat populer di beberapa negara, seperti: “Mami Wata” dari Afrika barat dan tengah; “Russalki” (Rusalka) dari Rusia dan Ukraina; “Merrow” dari Irlandia dan Skotlandia; “Oceanid”, “Nereid”, dan “Naiad” dari Yunani, ketiganya adalah nymph air. Dalam dongeng dan cerita rakyat Eropa, ada makhluk yang wujudnya menyerupai puteri duyung disebut “Melusine”, berwujud wanita dari kepala sampai pinggang, sedangkan berwujud ikan dari pinggang ke bawah, dengan dua ekor yang bercabang atau kadang-kadang seperti ular. Di Jepang, jika manusia memakan daging puteri duyung, maka akan memperoleh keabadian. Dalam beberapa cerita rakyat di Eropa, puteri duyung dapat mengabulkan permohonan</em>”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Puteri Duyung Saat Ini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penokohan puteri duyung kini semakin terkenal karena dikemas dalam bentuk imajinasi dan fantasi baru sebagai makhluk asing yang menawan untuk tujuan edukasi anak dan komersial. Putri duyung kembali dikenal sebagai mahkluk cantik dongeng The Little Mermaid (1836) karya Hans Christian Andersen. The Little Mermaid (1989) versi Walt Disney studio, yang mengadaptasi cerita Hans Christian Anderson ini cukup laris dinikmati sebagai tontonan keluarga, bercerita tentang puteri duyung yang menginginkan sepasang kaki. Film ini dibuat sekuelnya dengan judul ‘’’The Little Mermaid 2: Return to the sea’. Bahkan tokoh puteri duyung juga muncul dalam novel Peter Pan dan Harry Potter.</p>
<p style="text-align: justify;">Film box office “Splash” (1984), membawa popularitas kepada Darryl Hannah dan Tom Hanks. Hannah berperan sebagai Madison, si puteri duyung yang jatuh cinta kepada manusia. Ia dapat memiliki kaki dan berjalan di darat, namun kapanpun air menyentuh tubuhnya, ia berubah menjadi puteri duyung.<br />
Masih ingat film yang ada banyak berseliweran puteri-puteri duyung cantik di seri “Marina” yang diputar di salah satu TV swasta Indonesia beberapa tahun lalu? Film produksi 2004 ini adalah serial TV sukses dari Filipina, dibintangi oleh artis cantik Claudine Barretto. Marina adalah serial fantasi pertama dari ABS-CBN dan menjadi sangat terkenal.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah tentang puteri duyung juga pernah cukup populer di dunia sinetron Indonesia. Sinetron dengan pemeran utama Ayu Azhari sebagai si puteri duyung dalam sinetron “puteri Duyung”. Menurut saya sinetronnya kurang bermutu ya. Tapi itulah selera Indonesia. Sinetron ini jiplakan dari film Putri Duyung (1985) dengan bintang Eva Arnaz dan mantan suaminya Barry Prima. Yang ternyata film ini juga jiplakan dari “Splash”. Sementara dari Hong Kong, tampil Christy Chung sebagai putri duyung dalam Mermaid Got Married (1996), dengan lawan main Ekin Cheng dan Takeshi Kaneshiro.</p>
<p style="text-align: justify;">Puteri duyung juga ternyata dijadikan sebagai sebuah lambang sebuah daerah. Puteri duyung yang membawa perisai dan pedang menjadi lambang Warsawa, ibukota Polandia. Patungnya juga terdapat di sana.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lalu, Kalau Begitu Jawaban Pertanyaan si Ibu Apa?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hmm, tetap bingung. Lha wong puteri duyung itu cuma fantasi. Dongeng. Makhluk yang nggak jelas kok. Pencarian cerita puteri duyung cuma nambah wawasan tentang legendanya saja. Tapi, kalau dipaksain juga, kalau kawinnya dipaksain dilihat berdasarkan Undang-Undang no 1 tahun 1974, ya dipaksain juga mengurus dulu si puteri duyung sebagai manusia saja. Jadi dibawa dulu ke darat, biar punya kaki, jadi manusia dulu, biar lengkap syarat administrasinya. Jadinya cerita dongengnya bisa berakhir happy ending di catatan sipil kan. Hehe.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kalau pengertian kawin di sini maksudnya adalah aktivitas seksual? Ya tetap bisa saja. Toh aktivitas seksual tidak harus penetratif. Bisa kissing, licking, petting, sambil nungging…Walaupun kelaminnya tidak jelas ada dimana dan seperti apa, tetapi organ seksual yang lain masih bisa difungsikan. Payudara misalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kalau pengertiannya kawin untuk bereproduksi? Ampunn…yang ini jelas saya nggak bisa jawab. Maaf ya Bu…</p>
<p style="text-align: justify;">(Dari beberapa sumber)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Lukisan pertama adalah masterpiece dari John William Waterhouse berjudul ‘’A Mermaid’’, dilukis dari tahun 1895. Lukisan tersebut sempat hilang dan ditemukan kembali pada tahun 1970-an; Lukisan kedua adalah Ulysses and the Sirens, 1909, karya Herbert James Draper (1863-1920).</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/sexuality-blitz/pertanyaan-anak-%e2%80%9cputeri-duyung-bagaimana-caranya-kawin%e2%80%9d-ini-cerita-tentang-puteri-duyung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sundari Laksana; Potret Anak-Anak Yang Belajar Kerjasama Atas Nama Tradisi</title>
		<link>http://okanegara.com/wonderful-life/sundari-laksana-potret-anak-anak-yang-belajar-kerjasama-atas-nama-tradisi.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/wonderful-life/sundari-laksana-potret-anak-anak-yang-belajar-kerjasama-atas-nama-tradisi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 10:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[nyepi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[
Flashback article on March 9, 2008 by okanegara



Ada yang menarik terlihat waktu itu di sekitar rumah saya sehari menjelang Nyepi. Saat selesai posting di blog untuk memuat puisi Hari Nyepi yang dikirim Cok Sawitri beberapa waktu lalu, sekaligus juga memuat tulisan Bapak Ketut Wiana tentang Hari Nyepi. Sekelompok anak berbaju merah, memakai udeng dan kamen, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="posttitle">
<p><em>Flashback article on March 9, 2008 by <a title="Posts by okanegara" href="http://okanegara.wordpress.com/author/okanegara/">okanegara</a></em></p>
<p class="post-info">
</div>
<p><a title="low-siap-berangkat.jpg" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-siap-berangkat.jpg"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-siap-berangkat.jpg" alt="low-siap-berangkat.jpg" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang menarik terlihat waktu itu di sekitar rumah saya sehari menjelang Nyepi. Saat selesai posting di blog untuk memuat puisi Hari Nyepi yang dikirim Cok Sawitri beberapa waktu lalu, sekaligus juga memuat tulisan Bapak Ketut Wiana tentang Hari Nyepi. Sekelompok anak berbaju merah, memakai udeng dan kamen, asik berembug di depan sebuah ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh yang tidak terlalu besar, tampak kurus dan sama sekali tidak menyeramkan seperti ogoh-ogoh lain. Malah terlihat lucu dan imut. Semua orang di Bali pasti tahu kalau hari itu adalah hari “pengerupukan”, hari yang dikenal dengan pawai ogoh-ogohnya, hari yang sangat dinanti-nantikan, walau menurut saya mungkin tidak banyak yang mengerti makna sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Om jadi ya fotoin Omang</em>” ujar Omang Yoga, yang paling kecil di antara kelompok anak ini. Dia satu-satunya yang tidak memakai udeng. Omang Yoga baru tujuh tahun, masih duduk di kelas satu, di SD Negeri 3 Panjer. Tadi memang saya mendadak dicari oleh anak-anak ini, diminta sekedar membuat foto-foto, buat dokumentasi mereka sore ini. Dan saya mengiyakan. Anak-anak ini masih belum cukup besar untuk ukuran sebuah tim pengarak ogoh-ogoh. Tetapi mereka kompak sekali. Yang paling besar paling-paling baru berumur 11 tahun. Mereka; Candra-kakak kandung Omang Yoga, Dek Pong, Dek Agus, Surya, Tu Cahya, Kuduk, Asek, Erik dan Ancis. Rata-rata bersekolah di SD Negeri 3 Panjer dan sebagian lagi di SD Negeri 6 Panjer. Mereka tinggal di seputaran Jalan Waturenggong, masih satu banjar, Banjar Kaja Desa Pakraman Panjer. “<em>Om Oka, yang bagus na?? fotonya..”</em> pinta Omang Yoga dan Dek Agus hampir berbarengan.<span id="more-202"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya Desa Pakraman Panjer tahun ini mengambil keputusan untuk meniadakan lomba dan pawai ogoh-ogoh lagi. Hal ini dikonfirmasi oleh Bapak Ketut Sukanata, SH yang sempat ditemui. Dia yang sehari-hari aktif di LSM PKBI Bali, juga menjadi Penyarikan II di Desa Pakraman Panjer. “<em>Desa Pakraman Panjer tidak lagi mengadakan lomba dan pawai ogoh-ogoh. Setelah ditelusuri di sumber-sumber sastra agama memang tidak ada pengharusan untuk membuat dan melakukan pawai ogoh-ogoh</em>” katanya. “<em>Walaupun sebenarnya belum pernah terjadi hal-hal buruk yang ekstrim akibat pawai ogoh-ogoh ini di Panjer, tetapi karena sebagian besar yang membuatnya adalah anak muda atau dewasa muda, beberapa kali menjadi lepas kendali dan lebih fokus ke persiapan pawai ogoh-ogohnya dibandingkan dengan konsentrasi ke rangkaian tradisi upacara Nyepi di desa</em>” tambahnya. Memang benar demikian adanya. Terlebih Desa Pakraman Panjer memiliki keunikan tersendiri di saat rangkaian pecaruan, yang disebut dengan ritual “meburu”, sebuah prosesi “nyomia butha kala”. Nyomia bhuta kala maksudnya adalah menenangkan butha kala dan kekuatan jahat lainnya agar tidak mengganggu prosesi menuju brata penyepian esok harinya dengan maksud agar tercipta kedamaian dan keheningan, terutama di lingkungan Desa Pakraman Panjer. Rentang wilayah spiritualnya mulai dari area Pura Bale Agung (tengah desa)-di Jalan Tukad Pakerisan, hingga Pura Tegal Penangsaran (perbatasan desa)- di wilayah barat Jalan Waturenggong. “<em>Tradisi ini penuh dengan ritual unik yang perlu dipersiapkan dengan baik, apalagi hari Sabtu setelah Nyepi adalah puncak Piodalan Pura Tegal Penangsaran</em>” tambahnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, kelompok anak ini dengan penuh semangat sejak jauh hari sebelumnya tetap bertekad untuk membuat ogoh-ogoh dan siap mengaraknya. Mereka sudah bersemangat sejak dari merencanakan, membuat ogoh-ogoh dan sekarang sudah siap tempur untuk mengarak ogoh-ogoh bikinan mereka sendiri, tentunya di sana sini masih dibantu orang dewasa juga. Mereka telah memikirkan semua identitas mereka dalam “aksi” mereka malam itu. Mereka menyebut kelompoknya dengan nama “Sundari Laksana”, yang menurut Candra diambil dari nama kelompok mereka di kelompok gamelan anak di Banjar, karena tim ini memang punya aktivitas juga sebagai sekaa (tim) gamelan anak di Banjar Kaja. Kelompok Sundari Laksana menyeragamkan dirinya dengan dress code merah-merah. Lucunya, semua pakaian atasnya dipakai secara terbalik. Bagian dalam keluar. “<em>Merah kan berani. Terus bajunya supaya kelihatan seragam Om, biar nggak kelihatan gambar-gambar yang ada di baju</em>” ujar Dek Pong.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="low-ogoh2-butakala-sangut-megel.jpg" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-ogoh2-butakala-sangut-megel.jpg"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-ogoh2-butakala-sangut-megel.thumbnail.jpg" alt="low-ogoh2-butakala-sangut-megel.jpg" align="left" /></a>Ogoh-ogoh yang mereka buat, sekali lagi, jauh dari kesan menyeramkan. Ogoh-ogoh setinggi kurang lebih dua meter itu terlihat bersih, kepala dari bahan gabus dibuat rada besar dengan wajah diwarna merah, lugu, berekspresi dingin, bermata tiga, dan menggunakan udeng batik coklat (udeng yang dipakai ternyata udeng kakeknya Omang Yoga). Badannya kurus, bertelanjang badan, hanya menggunakan kamen pendek warna tridatu. Menggunakan asesoris keemasan dari kertas prada di leher, pinggang dan gelang kain tridatu di pergelangan tangan-kaki. Semua kuku dibuat besar-besar berwarna putih bersih. Seluruh telapak tangan dan kaki diwarna merah. Itu saja. Sangat sederhana. Musik pengiringnya dipakai sebuah kentongan bambu saja. Omang Yoga nanti yang bertugas membawa kentongan ini. Tidak salah juga, karena kesederhanaan dan jauh dari kesan seram, nama yang dipilih untuk ogoh-ogohnya juga yang tidak seram. Namanya “Bhuta Kala Sangut Megel”.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba kita dengarkan apa jawaban mereka dari pertanyaan tentang aksi mereka hari itu. Saya memulai pertanyaan dengan kenapa mereka ingin sekali membuat ogoh-ogoh. <em>“Kepingin buat sendiri, Om! Biar nggak cuma nonton saja!”</em> jawab Candra dan Dek Agus, yang dibenarkan oleh temannya yang lain. <em>“Buat ikut memeriahkan sebelum Nyepi, kan tradisi Om”</em> tambah Tu Cahya.<em> “Nggak dimarahin sama Bapak sama Ibu?”</em> saya tanya lagi. <em>“Nggak!”</em> jawab mereka kompak. <em>“ Kan kita bikinnya yang lucu, bukan yang bhuta kala biasa”</em> kata Candra. Memang mereka ini dapat dukungan dari orang tua mereka, terutama dari kakeknya Candra, Pekak Redon. Yang juga kakeknya Dek Pong, Dek Agus, Surya dan Omang Yoga. Mereka ini masih saudara sepupu. Mereka bilang pembuatan ogoh-ogoh ini dipantau oleh kakek waktu pengerjaannya. “<em>Terus, dapat duit dari mana buat bikin ogoh-ogohnya?”</em> tanya saya lagi. <em>“Minta sumbangannnn…”</em> jawab mereka kompak. <em>“Pakde Jeff  nyumbang”</em> kata Dek Agus. Pakde Jeff yang dimaksud adalah Bapak Made Suryanata, SH-Kelian Mona Banjar Kaja. “<em>Bapaknya Agus juga ngasi tiga puluh ribu</em>” kata Dek Agus lagi. “<em>Bapaknya Omang nyumbang nasi jingo sama air minum!</em>” kata Omang Yoga menambahkan. “<em>Pekak juga ngasi uang</em>” kata Dek Agus. Dek Agus lebih banyak jawab karena bisa jadi dia “bendahara” kelompok ini. “<em>Terus, bahan-bahannya nyari di mana?</em>” tanya saya. “<em>Kayu reng beli di Toko Dewi 15 ribu, kawatnya juga beli di Toko Dewi 9 ribu, cat beli di Toko Restu Alam Sanglah 10 ribu, bambunya beli di Pak Cager 18 ribu, udah itu aja Om</em>” kata Dek Agus lagi. “<em>Kertas minyak kita pada sumbangan sendiri-sendiri Om</em>” kata Tu Cahya. “<em>Memangnya cukup?</em>” saya pancing lagi. “<em>Masih kurang Om, sisanya kita semua urunan lagi dari uang sendiri-sendiri</em>” jawab Dek Agus. Luar biasa niat mereka ini, begitu yang ada di pikiran saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada juga yang membuat saya ingin tahu kenapa mereka mengambil tokoh Sangut yang kurus sebagai profil ogoh-ogohnya. Dek Pong yang menjawab “<em> Iseng awalnya Om. Milih Sangut karena lucu, terus dibikin yang kurus biar ikut prihatin, kan bangsa Indonesa sekarang sedang miskin, banyak yang kelaparan</em>”. Wah, memangnya nyambung ya. Tapi ini bisa menyentuh hati saya juga. “<em>Nah, supaya jadi lucu, gayanya Sangut dibuat berdiri ningkang, ceritanya lagi seneng karena bakal di foto”</em> kata Dek Pong dan Candra. Ada-ada saja. Rupanya Dek Pong dan Candra yang menjadi pengarah gaya untuk profil ogoh-ogohnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="low-sayasundari-laksana.jpg" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-sayasundari-laksana.jpg"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-sayasundari-laksana.thumbnail.jpg" alt="low-sayasundari-laksana.jpg" align="left" /></a>Sore itu mereka berkumpul dulu, semacam gladi resik untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak terburu-buru. Mereka menaruh sementara ogoh-ogohnya di depan ruko dekat pertigaan Waturenggong-Irawadi. Juga mengecek kentongan dan obor. Mencoba mengangkat bersama ogoh-ogohnya. “Test drive” ceritanya. Mereka sudah berpakaian lengkap termasuk sepatu. Dari beberapa kelompok lain yang saya tahu juga membuat ogoh-ogoh, selama saya keliling mengintip ogoh-ogoh yang diletakkan sepanjang jalan Waturenggong, rupanya Sundari Laksana yang mempersiapkan diri paling awal. “<em>Nanti Agus sama temen-temen mau pake gaya slorid Om…</em>” kata Dek Agus. Setelah beberapa kali tanya maksudnya, ternyata yang dimaksud adalah gaya “slow ride”. Walah, saya kira gaya apaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Memasuki pasca jam tujuh malam, setelah ritual “meburu”-yang dimulai dari Pura Bale Agung kemudian berakhir di Pura Tegal Penangsaran- selesai, dan juga setelah prosesi “natab” di rumah masing-masing selesai, mulailah geliat semangat itu muncul kembali. Sepanjang Jalan Waturenggong telah ramai kembali, dipenuhi dengan orang-orang yang mau menonton pawai ogoh-ogoh. Walaupun keputusan Bendesa Adat meniadakan pawai ogoh-ogoh sudah disosialisasikan jauh hari sebelumnya, tetapi terlihat belasan ogoh-ogoh sudah siap untuk diarak. Suasana berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ogoh-ogoh yang ada rata-rata berukuran lebih kecil dari ogoh-ogoh biasanya. Rupanya kali ini yang turun semuanya adalah anak-anak. Bukan orang dewasa. Jadinya ukuran ogoh-ogoh juga menyesuaikan. Sebagian besar menampilkan sosok raksasa sesuai pakem umum. Lebih banyak nuansa gelap dan hitam. Pengarak ogoh-ogoh pun sebagian besar berbaju hitam-hitam. Mereka semua mengarak ogoh-ogoh di sepanjang jalan Waturenggong saja. Tidak ada yang spesial dari pergerakan pawai ogoh-ogoh itu. Semua hampir sama dengan tradisi sebelumnya. Cuma yang unik tahun ini semua pengarak adalah anak-anak. Kalaupun ada orang tua atau orang dewasa mereka hanya menemani arakan saja. Layaknya tim pelatih dan ofisial.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="low-aksi.jpg" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-aksi.jpg"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-aksi.thumbnail.jpg" alt="low-aksi.jpg" align="left" /></a>Malam itu Sundari Laksana terlihat dominan, karena keputusan mereka memakai pakaian berwarna merah memang bisa terlihat menjadi nilai tambah penampilan mereka malam itu. Semua orang nampak bergembira, terkagum melihat kreativitas anak-anak dan larut dalam suasana “pengerupukan”. Malam itu semua berkeringat. Dan besok mereka semua akan beristirahat cukup lama, untuk menjalankan brata penyepian. Hampir mendekati jam sembilan malam, pawai pun usai Semua berjalan lancar di sepanjang Jalan Waturenggong. Memang sempat ada beberapa mobil pemadam kebakaran lewat (entah dimana ada kejadian kebakaran), sehingga beberapa kelompok pengarak ogoh-ogoh merubah formasi penampilannya. Malam itu Sundari Laksana tampil luar biasa. Omang Yoga terlihat paling gembira sambil memukul-mukulkan kentongannya mengikuti tema-temannya yang berkeringat sebesar biji jagung mengarak ogoh-ogoh. Inilah semangat anak-anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari alasan tradisi yang memicu anak-anak ini untuk berkreativitas. Ada yang menarik untuk direnungkan. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu sepaham dengan adanya pembuatan dan pawai ogoh-ogoh. Karena di samping tidak jelas rujukannya, sering kali di pawai-pawai sebelumnya disertai keributan, ada minuman keras, padahal di saat pawai malam hari butha kala sudah disomia (dinetralisir). Jangan-jangan para butha kala lari ke diri para pengarak ogoh-ogoh. Memang setelah ogoh-ogoh diarak ada tahapan akhir prosesi pralina (pemusnahan), tetapi alangkah lebih baik ini ditinjau dan diatur kembali, mungkin kreativitas bisa dikembangkan lagi dengan pemilihan waktu yang tepat, bisa saja siang hari diadakan sebelum senja. Hanya saja kali ini yang benar-benar menyentuh hati saya adalah, walaupun tradisi dijadikan alasan oleh anak-anak ini (bisa jadi karena mereka belum paham maknanya), tetapi dibaliknya adalah bagaimana terdapat semangat yang luar biasa, semangat bekerjasama dan semangat untuk belajar merencanakan, mengorganisasi dan melakukan aksi bersama supaya bisa tampil menghibur masyarakat, termasuk menghibur diri mereka juga. Bagaimana mereka di saat mengalami keterbatasan yang ada, bisa juga bekerja sama dengan orang dewasa, bagaimana mereka juga belajar untuk menyumbang dan berkorban ketika dana tidak mencukupi, demi kepentingan bersama. Mudah-mudahan anak-anak ini bisa belajar bekerjasama dengan lebih baik lagi sejalan dengan pertambahan usianya. Mudah-mudahan di Nyepi ini mereka bisa belajar menjadi calon penerus yang bisa juga bahu-membahu bekerja sama dengan kelompok yang lebih besar lagi, bisa di desa, di masyarakat maupun buat bangsa ini. Dan mereka juga bisa menjadi contoh yang baik bagaimana bekerjasama.<br />
“<em>Om, udah selesai foto-fotonya?</em> Lihat Om..” pinta Omang Yoga saat ogoh-ogohnya dipralina. “<em>Capek tapi seneng Om</em>” kata Omang Yoga lagi. <em>“Selamat Nyepi ya Om..</em>” kata anak-anak ini hampir berbarengan.</p>
<p style="text-align: justify;">(okanegara, 8 maret 2008)</p>
<p style="text-align: justify;">Note:<br />
Udeng = kadang disebut destar, penutup kepala sebagai bagian busana adat Bali<br />
Kamen = kadang disebut kamben, orang Jawa mungkin menyebut kemben, adalah kain yang dipakai dari pinggang ke bawah sebagi paket busana adat Bali<br />
Ogoh-ogoh = patung semi permanen dalam ukuran besar, dari rangka kayu atau bambu ditutup dengan kertas dan kain, biasanya mengambil tokoh raksasa<br />
Bhuta kala = mahluk alam lain yang biasa disebut sebagai perlambang kekuatan negatif (jahat, tidak baik, mengganggu manusia) yang biasa divisualisasi dengan gambaran raksasa seram<br />
Pecaruan = prosesi upacara yang ditujukan buat butha kala<br />
Brata penyepian = prosesi menjalankan kewajiban rohani di saat Nyepi (tidak bepergian, tidak beraktivitas, tidak menyalakan api/lampu dan mengendalikan nafsu)<br />
Tridatu = komposisi tiga warna suci merah-hitam-putih<br />
Bendesa Adat = pemimpin tertinggi adat di desa pakraman<br />
Penyarikan = sekretaris adat<br />
Kelian Mona = pemimpin adat senior<br />
Pekak = kakek (bahasa Bali)<br />
Ningkang = posisi kaki dilebarkan atau ngangkang<br />
Pralina = peleburan, pengembalian kembali ke unsur asal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/wonderful-life/sundari-laksana-potret-anak-anak-yang-belajar-kerjasama-atas-nama-tradisi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
