<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>okanegara.com &#187; Youth World</title>
	<atom:link href="http://okanegara.com/category/youth-world/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hari AIDS Lagi. Lagi-lagi Masih Banyak Yang Perlu Dikerjakan.</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 07:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[world aids day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Sejak pagi tadi terlihat banyak siswa sekolah, aktivis LSM dan mereka yang mencoba peduli dengan permasalahan HIV AIDS turun ke jalan. Hari ini 1 Desember adalah saat orang-orang di berbagai belahan dunia ikut merayakan World AIDS Day atau Hari AIDS Sedunia. Bagi yang sudah pernah mengikuti atau mengetahuinya, tentu saja sudah sangat lekat dengan maraknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-430" title="has" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/12/has-300x192.jpg" alt="has" width="300" height="192" />Sejak pagi tadi terlihat banyak siswa sekolah, aktivis LSM dan mereka yang mencoba peduli dengan permasalahan HIV AIDS turun ke jalan. Hari ini 1 Desember adalah saat orang-orang di berbagai belahan dunia ikut merayakan <a href="http://www.worldaidsday.org"><em>World AIDS Day</em></a> atau Hari AIDS Sedunia. Bagi yang sudah pernah mengikuti atau mengetahuinya, tentu saja sudah sangat lekat dengan maraknya pita merah, lambang kepedulian terhadap HIV AIDS yang sering kali menjadi ikon perayaan Hari AIDS Sedunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia terdapat sekitar 40 juta orang hidup dengan HIV dalam darahnya, dan diperkirakan setiap harinya 14.000 orang terinfeksi HIV. Itu artinya dalam setiap enam detik terdapat penambahan satu kasus baru. Pengidap HIV AIDS di Indonesia hingga akhir September lalu mencapai 18.442 orang tersebar di 32 propinsi dan 300 kabupaten/kota dengan rasio 3:1 antara laki-laki dan perempuan (berdasarkan data yang dikeluarkan Dirjen P2PL Departemen Kesehatan RI).  Kalau ditelusuri rata-ratanya adalah 8,15 per 100.000 penduduk jika memakai jumlah penyebut dari jumlah penduduk berdasarkan data BPS 2006. Secara kumulatif sejak ditemukan pertama kali kasus AIDS di Bali pada tahun 1987, cara penularannya melalui aktivitas seksual heteroseksual sebanyak 49,7%, IDU (<em>Injecting Drug User</em>) atau pengguna narkotika suntikan sebanyak 40,7%, lalu penularan lewat kasus laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki sebanyak 3,4% berdasarkan perilaku berisiko.  Dari usia, yang terinfeksi pada kelompok usia 20-29 sebanyak 49,57%, disusul kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 29,84% dan kelompok 40-49 tahun sebanyak 8,71%. Terlihat jelas usia muda dan produktif adalah kelompok utama yang tertular HIV saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya sudah banyak kemajuan terjadi. Jauh dari yang dipikirkan dan diduga sebelumnya. Bali sebagai salah satu contoh propinsi yang cukup aktif melakukan kegiatan penanggulangan secara bersinergi, saat ini bisa mulai perlahan mengurangi laju pertambahan kasus baru HIV bila dibandingkan dengan angka nasional. Dari yang di awal-awal kemunculannya selalu menempatkan Bali di tiga besar jumlah kumulatif kasus  HIV AIDS terbanyak di Indonesia, saat ini Bali sudah berada di tempat kelima. Urutan sepuluh besar jumlah kasusnya berdasarkan propinsi di Indonesia saat ini adalah Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Riau, dan Kepulauan Riau.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Bali, penularan HIV di lembaga pemasyarakatan, yang sebelumnya sempat mengkhawatirkan karena maraknya penggunaan narkoba suntikan bersama-sama, saat ini juga sudah makin terkendali. Peningkatan kasus-kasus baru dari kalangan pengguna narkoba suntikan semakin menurun drastis. Bisa jadi ini bukti bahwa penanggulangan berbasis komunitas dan kelompok khusus melalui pendampingan sebaya lewat program <em>Harm Reduction</em> cukup berhasil. <em>Harm reduction</em> adalah upaya-upaya yang ditujukan khusus buat kalangan berperilaku berisiko untuk mengurangi dampak buruk yaitu mencegah tertular dari HIV, misalnya dengan pembagian jarum suntik steril kepada pengguna narkoba suntikan.  Atau program rumatan <em>methadone</em> dengan pemberian oral (diminum), untuk menggantikan heroin yang disuntikkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, masalah masih tetap ada. Keberhasilan program <em>Harm Reduction</em> masih belum diikuti oleh keberhasilan dalam menekan kasus penularan HIV dari hubungan seksual yang tidak aman. Estimasi yang dibuat berdasarkan kalkulasi epidemiologis di Bali bisa banyak berbicara dalam memetakan kecenderungan terkini penularannya. Peningkatan estimasi pengidap HIV dan AIDS yang di awal tahun 2000an masih disebut dalam bilangan 3000 kasus (dengan rincian 1900 dari kasus-kasus seksual dan 1100 dari kasus-kasus narkoba suntik)  menjadi 4000 kasus di tahun 2004 (dengan rincian 2700 dari hubungan seksual tidak aman dan 1300 dari kasus-kasus narkoba suntik). Terlihat estimasi peningkatan yang cukup berarti pada kasus-kasus baru infeksi HIV lewat cara-cara hubungan seksual yang tidak aman. Sedangkan peningkatan kasus dari penggunaan narkoba suntikan tidaklah terlalu cepat. Peningkatan kasus-kasus baru dari hubungan seksual sangat dimungkinkan mengingat pencegahan dan penanggulangan dari cara penularan yang satu ini tidaklah mudah, karena hubungan seksual memang cukup susah untuk dikontrol dan dikendalikan mengingat sifatnya yang sangat personal dan memerlukan kesadaran pribadi yang kuat dan pemahaman yang konsisten tentang risiko hubungan seksual yang tidak aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Akses masyarakat yang membutuhkan alat kontrasepsi juga masih sangat terbatas. Beberapa macam model kampanye telah dilakukan oleh berbagai lembaga, baik LSM maupun juga pihak swasta untuk mensosialisasikan penggunaan kondom, misalnya. Tetapi angka penggunaan kondom masih rendah, yaitu hanya sekitar 20-30%. Tentu saja ini masih sangat jauh dari yang ingin dicapai dalam Komitmen Sanur. Keberadaan femidom atau kondom perempuan juga masih terbatas dan belum banyak yang mengetahui. Padahal fungsi kondom tidak lagi hanya sebatas alat kontrasepsi, tetapi justru sebagai proteksi dan pencegahan terhadap infeksi menular seksual, termasuk pencegahan HIV di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus-kasus infeksi HIV AIDS juga bisa tampil dalam bentuk baju yang lain dengan fenomena sosial yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Kondisi lembaga pemasyarakatan  yang sesak, berjejal dengan banyaknya narapidana membuat mereka yang mengidap HIV menjadi tidak leluasa untuk bisa sekedar menjaga kesehatan. Kejadian Tuberkulosis akhirnya menjadi sering muncul sebelum yang bersangkutan masuk fase AIDS. Dan kemunculan Tuberkulosis ini justru akhirnya bisa memperburuk daya tahan tubuh pengidap HIV.  Tuberkulosis adalah infeksi oportunistik terbanyak dari puluhan infeksi oportunistik yang menyebabkan pengidap AIDS meninggal.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya permasalahan lainnya: resistensi HIV terhadap obat ARV. Obat yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup pengidap HIV dengan menekan laju replikasi HIV dalam tubuh. Agar terapi ARV berjalan optimal,  pengidap HIV harusnya patuh minum obat, selama seumur hidup. Jika tidak disiplin dalam menepati waktu minum atau lupa minum satu hari, maka ARV tidak akan berfungsi optimal dalam menekan virus. Malah, HIV di dalam tubuh menjadi kebal terhadap ARV. Resistensi juga bisa terjadi jika seseorang terinfeksi virus yang sudah resisten. Repotnya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki fasilitas memadai untuk melakukan tes resistensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, banyak anak-anak tidak berdosa yang juga terdampak HIV. Sebagian dari mereka sudah terinfeksi HIV sejak lahir. Sampai dengan tahun  2008 lalu, misalnya terdapat 23 anak-anak yang menjadi yatim piatu karena orang tua meninggal lebih dulu di daerah Gerokgak, Buleleng. Jadi problema HIV AIDS tidak semata-mata menyasar kalangan yang berisiko tinggi seperti mereka yang gonta-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom, atau mereka yang menggunakan narkoba suntikan bersama-sama, tetapi justru sudah memasuki wilayah rumah tangga. Anak-anak dan ibunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika hal-hal seperti ini masih juga belum bisa menyadarkan masyarakat untuk ikut peduli dan mau memahami HIV AIDS dengan lebih baik, jangan salah jika apa yang akan dialami Bali, kira-kira akan bisa terjadi sesuai dengan skenario berikut (dengan perhitungan masih dengan estimasi 3000 kasus): sekitar 50% dari mereka yang saat ini mengidap HIV dalam kurun waktu 5 tahun akan memasuki fase AIDS. Kemungkinan sekali separuh dari pengidap AIDS itu yaitu sekitar 750 orang akan membutuhkan perawatan. Tempat tidur yang dimiliki oleh RSUP Sanglah yang merupakan pusat pelayanan kesehatan rujukan saja hanya ada sekitar 800an. Bisa jadi sebagian besarnya akan dihuni oleh pengidap AIDS. Belum lagi disusul gelombang penderita baru yang semakin banyak. Kebutuhan akan dokter, perawat, obat, alat dan sebagainya akan juga meningkat. Bahwa di Bali akan berlangsung “ngaben” masal bisa saja mendekati kenyataan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan menakuti. Tapi itu semua bisa saja benar-benar terjadi. Semua bisa terjadi ketika upaya edukasi masyarakat secara menyeluruh belum juga tuntas sampai ke seluruh lapisan masyarakat. Ini mengakibatkan stigma dan diskriminasi masih terjadi. Upaya mengikis stigma sering kali juga belum bisa dibahasakan dengan baik dan seragam oleh berbagai kalangan. Malah hal seperti ini masih terjadi di tingkat pemahaman internasional sekalipun. Sebuah kampanye agresif dan intimidatif juga bisa terjadi di negara-negara maju seperti yang terjadi dalam kampanye controversial <a href="http://okanegara.com/sexuality-blitz/367.html"><em>“AIDS is Mass Murderer”</em></a> yang malah semakin memunculkan stigma AIDS yang menyeramkan. Padahal kenyataannya tidaklah lagi menakutkan.  Harusnya HIV AIDS bisa tampil lebih <em>soft</em> tanpa muatan stigma. Layaknya bagaimana keberadaan Hepatitis C, Hepatitis B yang jauh dari stigma. Bahkan sejak ampuhnya ARV dalam menekan laju HIV dalam tubuh (walaupun belum bisa disembuhkan), sesungguhnya infeksi HIV sudah bisa disejajarkan dengan berbagai penyakit kronis lainnya seperti diabetes, penyakit jantung maupun hipertensi, yang mana pengidap penyakit-penyakit kronis ini juga bisa berakibat fatal bila yang bersangkutan tidak memelihara kesehatan, berpola hidup sembarang dan tidak teratur mengkonsumsi obat.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai kampanye, bentuk-bentuk dukungan sebaya dan edukasi tetaplah harus bisa terus digiatkan, tentu saja dengan metode-metode yang masif progresif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lewat cara-cara yang efektif. Tidak hanya asal dan sekedar seremonial. Sangat disayangkan kalau upaya edukasi dan diseminasi informasi ke masyarakat ditunggangi dengan kegiatan-kegiatan kampanye personal demi popularitas atau mengejar jabatan dan kedudukan semata. Kenyataannya ini masih saja terjadi. Keberadaan organisasi-organisasi dengan segmen khusus harusnya juga bisa selalu didukung. Sebagi contoh, kehadiran kelompok siswa peduli AIDS di sekolah, misalnya, harusnya bisa ikut membangkitkan motivasi dan peluang yang lebih baik untuk selalu memberikan dukungan dan edukasi di tingkat lembaga pendidikan. Tentu saja rentetan berikutnya, pihak sekolah dan para guru dituntut untuk bisa selalu melengkapi diri dengan pengetahuan yang lebih baik dan <em>up to date</em> serta kemampuan yang baik dalam mentransfer informasi HIV AIDS yang benar buat siswanya. Karena sesungguhnya ini memiliki nilai strategis untuk memberikan akses informasi, rujukan pelayanan dan pemberdayaan anak dan remaja yang merupakan siswa di sekolah. Ini juga kesempatan yang strategis untuk mulai memberikan pemahaman yang benar tentang hak asasi dan hak-hak remaja, hingga bagaimana memberdayakan remaja dalam mengakses informasi dan pelayanan secara luas.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga perayaan Hari AIDS Sedunia kali ini tidak lagi menjadi seremonial belaka. Masih banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah buat semuanya. Bukan hanya buat dokter, aktivis LSM, atau pemerintah saja sesungguhnya. Tapi semuanya. Termasuk masyarakat. Justru masyarakat yang harus lebih banyak berperan kondusif. Sudah saatnya memposisikan permasalahan HIV AIDS sebagai permasalahan bersama. Membiarkan mitos masih bertumbuh subur dan menganggap sepele hingga antipati terhadap upaya-upaya kepedulian terhadap fenomena HIV AIDS adalah juga bentuk tindakan tidak bertanggung jawab. Mempekerjakan pekerja seks tanpa mempedulikan nilai-nilai perilaku seks yang aman, melakukan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan terhadap pengidap HIV dan AIDS,  tidak membekali anak dengan pengetahuan yang cukup tentang seksualitasnya, tidak memberikan edukasi yang memadai di sekolah tentang kesehatan reproduksi dan seksual adalah beberapa contoh pembiaran dan ketidak pedulian yang akan berakibat fatal buat masa depan generasi muda. Yang berarti pula sebuah upaya yang sering kali tanpa disadari merupakan sebuah upaya penghancuran bangsa. Berlebihan? Saya kira tidak. Jika kita tidak berbuat sesuatu bersama, ini semua hanya menunggu waktu. Karenanya, mari tetap peduli. Sekecil apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat Hari AIDS Se-Dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Okanegara, kampus sudirman, 1 Desember 2009, 12.00 Wita.</em></p>
<h6 style="text-align: justify;">*gambar di atas dan beberapa foto-foto Hari AIDS Sedunia di Indonesia bisa dilihat di <a href="http://news.id.msn.com/photogallery.aspx?cp-documentid=3728091&amp;page=3">sini</a><em><br />
</em></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BBC, Komunitas Muda Yang Tidak Sekedar Menulis, Tetapi Juga Berbagi.</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/bbc-komunitas-muda-yang-tidak-sekedar-menulis-tetapi-juga-berbagi.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/bbc-komunitas-muda-yang-tidak-sekedar-menulis-tetapi-juga-berbagi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 06:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[Youth World]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Ini hanya sebuah renungan ringan. Menjadi blogger atau narablog itu gampang-gampang susah. Bermodalkan minat, komputer dan koneksi internet seorang blogger sesungguhnya telah tampil mengambil posisi sebagai sumber berita di ranah dunia maya yang tanpa batas. Apa saja, siapa saja, dimana saja bisa dilakukan selama ada minat, ide menulis dan koneksi internet. Informasi dan gagasan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-420" title="2 thn bbc" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/11/2-thn-bbc-300x214.jpg" alt="2 thn bbc" width="300" height="214" />Ini hanya sebuah renungan ringan. Menjadi blogger atau narablog itu gampang-gampang susah. Bermodalkan minat, komputer dan koneksi internet seorang blogger sesungguhnya telah tampil mengambil posisi sebagai sumber berita di ranah dunia maya yang tanpa batas. Apa saja, siapa saja, dimana saja bisa dilakukan selama ada minat, ide menulis dan koneksi internet. Informasi dan gagasan yang diposting ke dalam blog bisa menjadi bacaan baru yang bernilai lebih tajam menggantikan media konvensional. Tidak bisa dibantah, blog semakin lama semakin berkembang pesat. Paling tidak keadaan itu masih bertahan sebelum tampilnya facebook yang menyeruak menyita perhatian publik. Lewat blog, berbagai dinamika terjadi. Blog melesat menjadi sebuah kekuatan baru yang semakin menguat dan bisa jadi menakutkan bagi sebagian pihak. Bahkan beberapa bukti menyebutkan blog pun bisa mengubah dunia.<span id="more-419"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak bisa dihindari, dari hal-hal yang bersifat personal, sering kali tumbuh kebutuhan dan kesadaran seminat untuk bisa berinteraksi bersama. Bukan online lagi. Tetapi kebersamaan yang sesungguhnya. Tentu saja akan bakal menarik bila para blogger dapat berkumpul, berdiskusi, bertukar ide secara langsung tanpa koneksi internet lagi. Kembali ke asal. Hal ini juga yang menjadi kesadaran dari sebuah komunitas blogger bernama <a href="http://www.baliblogger.org">BBC (Bali Blogger Community).</a> Dari kehadiran personal di dunia maya, berlanjut menjalin tali kebersamaan di dunia maya bersama. Kerinduan akan interaksi langsung berbuah pertemuan (kopdar) masal untuk membentuk sebuah komunitas. Itu semua terjadi dua tahun lalu, di saat blog sedang beranjak popular. Sejak saat itu <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> sanggup menggeliat dari sekedar berinteraksi menjadi sebuah komunitas cair dengan berbagai profesi di dalamnya yang sanggup berbuat sesuatu buat orang lain. Sebutannya: berbagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengatasnamakan Bali, bukan berarti menjadikan <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> tersegmentasi dan sektarian. Tidak sama sekali. Nama Bali hanya menjadi benang penghubung dan “ikatan batin” keberadaan komunitas blogger ini. Orang Bali, mereka yang tinggal di Bali, atau sekedar peduli Bali bisa bergabung dan ikut berbagi. Tetap dengan senjata utama blog dan tulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Uniknya walaupun tampil sebagai komunitas cair, semua masih bisa dipertahankan dan dijalankan dengan berbagai suka duka. Hingga hari ini. Berbekal slogan <strong><em>“Mai Ngeblog Apang Sing Belog”</em></strong>, <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> bisa meningkatkan jati diri tidak hanya sekedar sekumpulan orang yang mengelola blog dengan berbagai kepentingan dan alasan semata. Tidak hanya itu. Tetapi sudah melampauinya. Banyak hal sudah dilakukan. Tanpa banyak perhitungan semua bisa dijalankan dengan penuh dinamika. Ada yang sukses, ada yang setengah jalan, juga ada yang batal. Tetapi hal yang dinamis itulah yang membuat segalanya menjadi hidup. Manusia pun bisa bernafas karena ada upaya menarik nafas dan mengeluarkan nafas. Dua hal yang berlawanan. Gerakan naik turun dan maju mundur dalam kontak seksual bisa berbuah kehidupan baru. Kedinamisan adalah kunci hidup sebuah komunitas selagi adaptasi dan toleransi bisa tetap dijaga di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua tahun sudah berjalan. <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> tidak sekedar menulis. Tetapi juga berbagi. Tidak sekedar kopdar. Tetapi memberi. Walaupun hanya sekedar kunjungan, tetapi semua memiliki sarat arti. Tidak hanya buat yang dikunjungi tetapi juga buat para blogger <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a>. Mulai dari kunjungan ke mereka yang kurang beruntung karena gangguan jiwa, pelayanan kesehatan di tempat jauh di sela-sela liburan bersama, memberikan setetes darah buat yang membutuhkan, berbagi bersama para lanjut usia yang dipinggirkan sanak keluarga, berbagi bersama mereka para <em>diffable</em> yang memiliki kemampuan berbeda dengan orang kebanyakan,  hingga mengedukasi masyarakat agar lebih memahami penggunaan teknologi informasi. Keliling maupun lewat udara. Sering kali tidak bisa disangka <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> sanggup menjalaninya. Menjalani semuanya tanpa banyak beban. Dijalani sambil bersenang diri bersama melepas lelah demi berbagi. Tanpa terasa hormon kortisol di otak sesungguhnya bisa mengalami penurunan, berganti dengan geliat adrenalin dan pelepasan endorfin yang membawa suasana gembira.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat ulang tahun yang ke dua buat <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a>. Sudah selayaknya sebuah komunitas mampu berbagi dan berbuat sesuatu yang sama seperti ini. Bukan lagi buat diri sendiri. Seseorang baru bernilai bukanlah dari apa yang didapat dan dimilikinya, tetapi justru dari apa yang diberikannya buat orang lain. Berbagi dan berbuat sesuatu. Dan <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> telah sanggup melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya, sanggupkah ini semua dipertahankan bersama? Tiada yang lebih indah dari sebuah kebersamaan. Sameton <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a>, silakan menjawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>invitation juga bisa dilihat di link fb: <a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3936220&amp;o=all&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=217278644895&amp;aid=-1&amp;id=620876321&amp;oid=217278644895#/event.php?eid=217278644895">ini</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/bbc-komunitas-muda-yang-tidak-sekedar-menulis-tetapi-juga-berbagi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Youth Leadership. Drive the Change!</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/youth-leadership-drive-the-change.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/youth-leadership-drive-the-change.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 07:46:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[hari remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 12 Agustus lagi. Tidak terasa setahun telah berputar. Hari ini, tanpa banyak yang menyadari, adalah harinya remaja. Hari Remaja Sedunia. Mungkin sekedar ikut mensosialisasikan bahwa kita diingatkan kembali, bahwa siapapun yang selanjutnya menjadi dewasa akan pernah mengalami fase menarik yang namanya remaja. Dunia yang penuh gejolak, pencarian jati diri, kemunculan awal pikiran kritis dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-333" title="iyd1" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/08/iyd1-300x206.jpg" alt="iyd1" width="300" height="206" />Tanggal 12 Agustus lagi. Tidak terasa setahun telah berputar. Hari ini, tanpa banyak yang menyadari, adalah harinya remaja. Hari Remaja Sedunia. Mungkin sekedar ikut mensosialisasikan bahwa kita diingatkan kembali, bahwa siapapun yang selanjutnya menjadi dewasa akan pernah mengalami fase menarik yang namanya remaja. Dunia yang penuh gejolak, pencarian jati diri, kemunculan awal pikiran kritis dan kreatif. Dunia ini pun dalam sejarahnya sempat diguncang oleh tokoh-tokoh besar yang masih muda usia. Indonesia bisa berdiri dan merdeka karena mereka para muda usia. Remaja membuat perubahan besar dan menjadi pemimpin, kenapa tidak?</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu yang berjalan membuat semuanya makin absurd dan tanpa batas. Globalisasi berkontribusi besar dalam pergeseran peran dan persepsi yang muncul antara anak muda dan orang dewasa. Sering kali orang dewasa memposisikan diri dan secara kolektif memandang remaja saat ini sebagai trouble maker atau biang masalah, serta kelompok yang tidak bisa dipercaya. Sering kali itu terjadi. Tanpa pernah berpikir bahwa orang dewasa pun pernah mengalami masa remaja. Semuanya muncul menjadi jurang pembeda persepsi yang semakin menganga.  Penyebabnya tidak lain adalah karena makin melemahnya komunikasi yang konstruktif.  Yang terjadi malah pembiaran dan saling menyalahkan. Tanpa mau mendengar dan memahami. Di saat akhirnya remaja tidak lagi mengidolakan orang tua dan tokoh-tokoh besar, melainkan para selebritis dan artis yang sering kali bukanlah sebuah contoh yang baik buat menempa jati diri yang akan terbentuk. Itu semua adalah pilihan. Namun, apakah remaja sudah didukung dengan bekal yang cukup untuk memilih? Apakah remaja sudah cukup dibekali pengetahuan yang benar terutama untuk memahami diri dan tubuhnya? Bukankah segala permasalahan remaja selama ini penyebabnya adalah tiga hal. Satu, kurangnya akses terhadap informasi yang dibutuhkan remaja. Dua, kurangnya akses untuk mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan remaja. Dan tiga, lemahnya pemberdayaan remaja. Ini semua sebenarnya adalah hak remaja. Dan bukankah semua ini sudah menjadi tanggung jawab orang dewasa (masyarakat, guru, orang tua, pemerintah, pemilik modal, media massa, dll) untuk mendukungnya? Termasuk mendukung kemudahan jalannya? Artinya, jika kemudian terjadi permasalahan remaja&#8211;atau orang dewasa sering menyebutnya dengan kenakalan remaja&#8211; sesungguhnya itu berarti adalah sebuah kegagalan sistem  yang telah dilakukan oleh semua pihak tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sesungguhnya, kita semua perlu tahu apa yang remaja inginkan. Apa saja suara remaja.  Mari dengarkan, dukung dan realisasikan. Selama kita tidak mendukung remaja, mustahil dunia akan berubah menjadi lebih baik. Karena merekalah yang akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi baru penguasa masa depan. Sebuah potensi strategis yang harus diperhatikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, melirik apa yang dilakukan oleh remaja-remaja di Bali, ada beberapa suara muncul untuk bisa disimak kembali. Di tengah berlangsungnya Kongres Internasional AIDS Asia Pasifik yang berlabel ICAAP IX di Nusa Dua, Bali, sebuah kelompok remaja bali yang sudah cukup konsisten dengan dinamikanya selama 15 tahun dalam mengedukasi remaja, <a href="http://www.kisara.org/">KISARA</a> namanya, berinisiatif merangkul elemen-elemen remaja di Bali ke dalam wadah Forum Remaja Bali.  Walaupun baru dan muda, paling tidak forum ini telah berhasil mengeluarkan sebuah pernyataan kolektif yang disepakati bernama <strong>“Deklarasi Remaja Bali”</strong>, yang dalam kesempatan Hari Remaja Sedunia dengan label “Youth Leadership, Drive the Change” ini menyuarakan tujuh poin penting pernyataan. Semuanya disuarakan oleh forum yang difasilitasi oleh KISARA yang sekarang dikomandani oleh <a href="http://www.nyomansutarsa.wordpress.com/">dr. Nyoman Sutarsa</a> ini.  Isi deklarasinya, yang hari ini dibagi-bagikan dalam bentuk kartu pos itu, adalah:</p>
<ol>
<li>Remaja Bali mendukung pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi secara terstruktur dan sistematis di dalam sistem pendidikan.</li>
<li>Guru sebagai elemen pendidik berkewajiban sebagai agen informasi kesehatan reproduksi bagi siswa, dan sekolah berkewajiban dalam penyediaan layanan kesehatan reproduksi yang youth friendly.</li>
<li>Semua elemen masyarakat berkewajiban dalam mengakomodasi hak-hak kesehatan reproduksi remaja.</li>
<li>Remaja Bali meminta kepada semua komponen masyarakat dan instansi pendidikan supaya tidak mengintimidasi remaja yang KTD.</li>
<li>Edukasi dan layanan kontrasepsi bagi remaja adalah kebutuhan remaja, sehingga wajib disediakan melalui optimalisasi kemitraan dengan center-center remaja yang telah ada.</li>
<li>Pemberdayaan remaja adalah upaya menuju remaja yang kompetitif, sehingga pembentukan youth center dengan integrasi life skill capacity adalah tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.</li>
<li>Remaja Bali mendorong program pemberdayaan yang pro terhadap remaja.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Tujuh poin yang bermuatan semangat tinggi. Suara remaja yang ingin didengar dan diberi kesempatan untuk selalu bisa dilibatkan. Bagaimana pun juga, sekali lagi, remaja adalah potensi besar. Jumlahnya yang hampir sepertiga dari populasi, tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Keterlibatan remaja sejak dini dalam menentukan hal terbaik buat kelompoknya dan bangsanya adalah hal yang tidak bisa ditunda lagi. Dengan membentuk remaja menjadi pemimpin-pemimpin baru, maka perubahan ke arah lebih baik akan lebih bisa dipercepat.  Membentuk pemimpin remaja, berarti membentuk dunia baru yang membawa perubahan. Semoga semua pihak bisa mendukungnya dan memfasilitasi kesinambungannya. Apapun caranya.</p>
<p>Selamat hari Remaja. Youth Leadership. Drive the Change.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/youth-leadership-drive-the-change.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekatan Untuk Mengembangkan Program Buat Remaja</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/pendekatan-untuk-mengembangkan-program-buat-remaja.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/pendekatan-untuk-mengembangkan-program-buat-remaja.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 10:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[1. Melibatkan  remaja dalam merancang program
Merancang program yang efektif untuk remaja membutuhkan pemahaman akan kebutuhan dan kepeduliannya. Remaja perlu dilibatkan dalam pengembangan program dan pelaksanaannya untuk meyakinkan bahwa pendekatan yang digunakan menarik, relevan dan menyenangkan. Program-program yang efektif, mendorong remaja untuk menjadi bagian dari proses pembuat keputusan dan mencari umpan balik dari remaja secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-113" title="cartoon_youth" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/cartoon_youth-300x236.jpg" alt="cartoon_youth" width="300" height="236" />1</strong>.<strong> Melibatkan  remaja dalam merancang program</strong><br />
Merancang program yang efektif untuk remaja membutuhkan pemahaman akan kebutuhan dan kepeduliannya. Remaja perlu dilibatkan dalam pengembangan program dan pelaksanaannya untuk meyakinkan bahwa pendekatan yang digunakan menarik, relevan dan menyenangkan. Program-program yang efektif, mendorong remaja untuk menjadi bagian dari proses pembuat keputusan dan mencari umpan balik dari remaja secara teratur. Pada kasus-kasus yang dianggap oleh orang dewasa akan menimbulkan masalah namun oleh para remaja belum tentu dianggap demikian, para penyusun program perlu lebih melibatkan remaja , karena di dalam pengembangan program yang hanya memuaskan minat orang dewasa akan menimbulkan resiko yang lebih besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Sediakan tempat khusus bagi remaja  dengan program yang meremaja</strong><br />
Program, termasuk juga pelayanan jika ada, perlu dirancang dan diberi nama sebagai tempat yang bersahabat dengan remaja. Tidaklah cukup dengan hanya menyebutkan bahwa para orang dewasa akan siap membantu dan melayani remaja. Orang dewasa harus dilatih agar dapat berkomunikasi dengan efektif dengan remaja, terutama dalam KIE SRH dan HIV/AIDS, menghormati remaja sebagai mitra dengan kebutuhan khusus yang harus ditangani secara benar.<span id="more-29"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.	Mendidik dengan menghibur (Entertain to educate)</strong><br />
Pendidikan-hiburan (Entertainment-Education) atau edutainment menggunakan bentuk yang menghibur untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan. Melibatkan remajadengan hiburan melalui multimedia merupakan suatu ciri khusus yang digemari remaja dan bagus untuk remaja. Ini untuk menghadapi banyaknya pesan-pesan yang disampaikan oleh kebudayaan populer (popular culture) yang mempromosikan perilaku yang tidak sehat. Untuk menunjukkan perilaku positif dan negatif serta menunjukkan akibat yang dapat ditimbulkannya pendekatan ini perlu menggunakan tokoh-tokoh remaja langsung atau sebisanya menggunakan idola remaja dalam menyampaikan narasinya. Remaja senantiasa bereksperimen dengan berbagai macam perilaku, menyampaikan perilaku positif untuk dijadikan panutan sangatlah penting. Pendidikan-hiburan (Entertainment-Education) menggunakan media massa dan media rakyat dalam bentuk populer seperti musik, drama seri dan acara-acara variety untuk menyampaikan pesan-pesan dengan tampilan emosional yang dapat mempengaruhi dan memotivasi remaja untuk berperilaku sehat dan termasuk juga peduli akan SRH dan HIV/AIDS. Dan dalam pelaksanaannya pelibatan remaja dalam kegiatan ini adalah yang utama dalam lembaga remaja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.	Libatkan remaja dengan teknologi</strong><br />
Sejak lima tahun yang silam penggunaan teknologi komputer untuk konseling perilaku dan pendidikan kesehatan telah menjadi populer. Peningkatan ini terjadi sebagian karena tersedianya komputer yang harganya terjangkau namun mutunya cukup baik, dan dapat mengirim bahan-bahan pendidikan menggunakan komputer kepada orang dalam jumlah yang banyak. Keuntungan dari penyampaian pesan-pesan kesehatan melalui komputer dibandingkan intervensi pendidikan kesehatan tradisional adalah jangkauan untuk mencapai target lebih luas, dan mereka yang ingin mempelajarinya dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/pendekatan-untuk-mengembangkan-program-buat-remaja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A boy’s perspective: for real?</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/a-boy%e2%80%99s-perspective-for-real.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/a-boy%e2%80%99s-perspective-for-real.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 10:57:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reproductive Health]]></category>
		<category><![CDATA[Sexuality Blitz]]></category>
		<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[pubertas]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[



Ini adalah sebuah komik sederhana yang dibuat oleh AndrewLin buat gurl.com.
Di sini Andrew ingin bercerita bagaimana keinginan seorang remaja cowok yang ingin belajar tentang seks. Silakan click di sini.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="posttitle"></div>
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p><a title="for-real-comic1.gif" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/for-real-comic1.gif"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/for-real-comic1.gif" alt="for-real-comic1.gif" /></a></p>
<p>Ini adalah sebuah komik sederhana yang dibuat oleh AndrewLin buat gurl.com.<br />
Di sini Andrew ingin bercerita bagaimana keinginan seorang remaja cowok yang ingin belajar tentang seks. Silakan click di <a href="http://www.gurl.com/showoff/comix/pages/0,,605672_714445-1,00.html" target="_blank">sini</a>.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/a-boy%e2%80%99s-perspective-for-real.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Remaja Benar-Benar Diperhatikan!</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/saatnya-remaja-benar-benar-diperhatikan.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/saatnya-remaja-benar-benar-diperhatikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 06:16:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[konferensi remaja]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Artikel ini untuk mengenang Konferensi Nasional Kesehatan Reproduksi Remaja empat tahun lalu:
Ada banyak paparan menarik yang dieksplorasi dalam Konferensi Nasional Kesehatan Reproduksi Remaja di Yogyakarta, 11-13 April 2005 yang lalu. Konferensi yang dihadiri organisasi-organisasi peduli Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di Indonesia ini ingin mengingatkan kembali betapa strategisnya posisi remaja. Jumlah remaja (10-24 tahun) saat ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel ini untuk mengenang Konferensi Nasional Kesehatan Reproduksi Remaja empat tahun lalu:</p>
<p style="text-align: justify;">Ada banyak paparan menarik yang dieksplorasi dalam <strong>Konferensi Nasional Kesehatan Reproduksi Remaja di Yogyakarta, 11-13 April 2005</strong> yang lalu. Konferensi yang dihadiri organisasi-organisasi peduli Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di Indonesia ini ingin mengingatkan kembali betapa strategisnya posisi remaja. Jumlah remaja (10-24 tahun) saat ini adalah sejumlah 65,6 juta jiwa, yang berarti sekitar 30% dari total penduduk Indonesia. Konferensi ini sekaligus menggaris bawahi betapa pentingnya remaja untuk diperhatikan dalam hal pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi dan seksualnya, karena bila tidak dilakukan secara serius maka bisa jadi negara ini akan makin terpuruk dengan permasalahan yang semakin menumpuk yang dialami oleh remaja, yang katanya calon generasi penerus negara dan bangsa ini.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"><strong>Remaja Dalam Data</strong><br />
“67% yang berusia di bawah 24 tahun pernah melakukan hubungan seksual pranikah” demikian ungkap Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto dari Jakarta yang ikut sharing dalam pleno hari pertama menyebutkan hasil penelitian yang dilakukan oleh DKT Indonesia di Surabaya, Medan, Jakarta dan Bandung. Kemudian juga disebutkan sebuah studi tahun 2001 di Kupang, Palembang, Singkawang, Cirebon dan Tasikmalaya<span> </span>yang menunjukkan hasil sebanyak 17% remaja usia sekolah telah melakukan hubungan seksual. Hal ini agak serupa dengan hasil yang didapatkan oleh <strong>KISARA</strong>, dalam survey terbaru di Denpasar, Badung, Tabanan, Singaraja dan Gianyar yang menyebutkan bahwa 2 dari 10 remaja usia sekolah sudah melakukan aktivitas seksual. Selanjutnya menurut penelitian Pusat Studi Kesehatan UI disebutkan 30% kasus aborsi dilakukan oleh remaja. Sampai dengan akhir tahun 2004, Depkes mencatat lebih dari 505 dari total pengidap HIV positif yang tercatat di Indonesia adalah orang muda. Dan kita semua mengetahui bahwa pengetahuan remaja tentang seksualitas, kesehatan reproduksi termasuk juga HIV/AIDS dan narkoba masih sangat minim, ini tentunya juga disebabkan karena terbatasnya akses informasi dan lemahnya advokasi remaja.<span id="more-229"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penyebab Masalah Kespro Memang Kompleks</strong><br />
Disamping memang rendahnya pengetahuan remaja tentang kespro dan terbatasnya akses informasi KRR, berikut ini juga secara berurutan beberapa hal yang bisa dicermati sebagai penyebab kompleksitas permasalahan kespro remaja kita yang didiskusikan dalam beberapa pleno konferensi. Mulai dari tidak adanya akses pelayanan yang ramah remaja. Pihak lembaga kesehatan lewat Dinkes DIY menyampaikan bahwa telah disediakan Puskesmas yang siap melayani konseling KRR, program pencegahan Kehamilan Tak Dikehendaki (KTD), pengaduan kekerasan seksual dan perkosaan, tetapi pernyataan ini justru memicu perdebatan karena pelayanan Puskesmas sudah terlajur dicap tidak ramah remaja, jam layanan yang justru bersamaan dengan jam remaja bersekolah, petugas yang kurang down to earth bagi remaja, dll. Selanjutnya juga belum adanya kurikulum di sekolah yang bisa menjawab kebutuhan remaja akan informasi kespro dan hak reproduksinya. Pihak Dinas Pendidikan yang dalam konferensi ini sempat mengklaim bahwa sudah memasukkan muatan kespro dalam kurikulum yang dititipkan di beberapa pelajaran juga didebat oleh para remaja. Hal ini juga termasuk yang dipresentasikan oleh Nyala Sari,<span> </span>salah seorang perwakilan remaja, karena sebenarnya remaja ingin materi kespro tidak sekedar dititipkan, tetapi benar-benar bisa diajarkan dan ada penilaiannya serta ada pendukung life skill lainnya. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh utusan dari Bali untuk menjelaskan sekilas tentang rencana Propinsi Bali atas inisiatif pemerintah daerah, juga dinas pendidikan, dinas kesehatan, yang melibatkan LSM remaja lokal (KISARA) sebagai wujud keterlibatan remaja dalam penyusunan program, telah bergerak memulai usaha memasukkan kespro ke dalam kurikulum lewat label HIV/AIDS dan narkoba yang bisa nantinya bisa dinilai dan dievaluasi secara kognitif. Sementara itu, BKKBN sebagai perwakilan organisasi pemerintah menyebutkan masih terbatasnya institusi pemerintah yang menangani remaja secara khusus dan serius. Terlebih lagi dengan dilikuidasinya BKKBN di tingkat kabupaten/kota dan termasuk juga “ngacir”nya para petugas lapangannya yang sebenarnya sangat potensial untuk bisa ikut membantu pendampingan program KRR di masyarakat tingkat desa ke bawah. Belum adanya Undang-Undang yang dapat melindungi dan mengakomodasi hak-hak remaja juga merupakan sebuah poin penting penyebab tidak adanya payung hukum yang jelas untuk mengatasi permasalahan remaja terutama pelanggaran hak dan kekerasan seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Remaja Bisa Menjadi Gen-B</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau hal-hal seperti ini kurang mendapatkan perhatian dan dukungan, tentunya akan membuat remaja saat ini menjadi sebuah generasi yang patut diberi sebutan “Gen-B” atau kepanjangan dari “Generasi Bingung”. Remaja kita akhirnya akan mencari informasi kepada bentuk-bentuk media yang lebih mudah diakses, yang justru akan makin menjerumuskan mereka karena banyak media (yang bisa jadi karena pengaruh rekan sebayanya) yang hanya dipenuhi oleh mitos-mitos yang menyesatkan. Ini juga muncul dalam diskusi pleno hari ketiga dengan pihak jurnalis media cetak (Fadmi Sustiwi dari Kedaulatan Rakyat) dan televisi (Priyo Sumandoyo, eks SCTV yang kini di Lativi) yang menyebutkan cukup banyak media yang “lepas kontrol” sehingga ikut menyebarkan mitos-mitos tersebut demi mengejar tiras dan nilai komersialisme semata. Untuk bisa membantu remaja belajar mengertikan masalah KRR, memilah fakta dan mitos, membangun kesadaran kritis, dan belajar mengorganisasi sebuah lembaga remaja, dalam konferensi ini juga dipertajam dengan brainstorming, skill building tentang advokasi remaja, pengolahan dan penyajian data riset remaja, accelerated learning, media development,<span> </span>juga satellite meeting tentang sustainability youth center, SOP sebuah youth center dan penajaman konsep KRR. Juga diadakan pemilihan youth representative</p>
<p style="text-align: justify;">serta penyusunan deklarasi remaja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Harapan Remaja</strong><br />
Sebuah deklarasi berjudul “Deklarasi Remaja; Suara Untuk Perubahan” berhasil dicetuskan dalam konferensi ini sebagai bentuk harapan, permintaan bahkan sekaligus juga desakan. Apa yang bisa diharapkan remaja adalah agar seluruh pihak dapat mengupayakan serta mengusahakan akses informasi yang benar dan lengkap tentang kespro dan pelayanannya sebagai bentuk pemenuhan hak-hak remaja berdasarkan apa yang sudah disepakati bersama dalam Konferensi Internasional Untuk Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) 1994 dimana pihak pemerintah dan perwakilan negara Indonesia juga terlibat dalam menyusun dan menyepakati hasil konferensi ini. Juga mendorong semua pihak untuk melibatkan remaja dalam program-program yang ditujukan untuk remaja (mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi). Tentunya akan menjadi sebuah ketimpangan bila membuat program dan kebijakan untuk remaja tanpa melibatkan remaja. Ikut mendukung, mengembangkan dan memperluas pusat informasi dan pelayanan remaja yang ramah remaja. Mengembangkan media informasi dan pendidikan. Mengintegrasikan program remaja dengan program pencegahan HIV/AIDS, IMS dan narkoba. Memperkuat jaringan dan sistem rujukan ke rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan yang lain. Meningkatkan perlindungan bagi remaja putri dan anak-anak, untuk menghindari segala upaya eksploitasi dan kekerasan terhadap anak dan remaja. Melaksanakan penelitian dan studi kebijakan mengenai KRR dan hak-hak reproduksi remaja. Melatih orang tua dan guru tentang KRR dan hak-hak kespro. Mengembangkan advokasi dengan isu pemenuhan hak kespro remaja. Jadi sangat dibutuhkan sekali kepada seluruh lapisan masyarakat dan elemen bangsa ini untuk ikut peduli dan mendukungnya.<strong>“Karena inilah saatnya kita peduli! Kita semua! Untuk remaja kita! Untuk penerus negara dan bangsa ini!!”</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/saatnya-remaja-benar-benar-diperhatikan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Watch Remaja? Perlukah?</title>
		<link>http://okanegara.com/youth-world/media-watch-remaja-perlukah.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/youth-world/media-watch-remaja-perlukah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 10:50:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[media watch]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[

Saya kembali teringat di tahun 2001, dengan pendapat Effendi Gazali, Ph.D, (pakar komunikasi politik UI yang saat ini populer dengan satu acara parodi politik di TV), saat saya ikut “Wokshop Media dan TV Publik” berseri yang diselenggarakan oleh UI dan IFES, yang mengatakan bahwa “Kebebasan buat pers dan media dalam era teknologi informasi ini memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="posttitle"></div>
<p align="left"><a title="youth-voices.png" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/youth-voices.png"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/youth-voices.thumbnail.png" alt="youth-voices.png" width="244" height="105" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Saya kembali teringat di tahun 2001, dengan pendapat Effendi Gazali, Ph.D, (pakar komunikasi politik UI yang saat ini populer dengan satu acara parodi politik di TV), saat saya ikut “Wokshop Media dan TV Publik” berseri yang diselenggarakan oleh UI dan IFES, yang mengatakan bahwa “Kebebasan buat pers dan media dalam era teknologi informasi ini memang sangat strategis, tetapi kebebasan tentunya harus dilandasi kesadaran penuh untuk bertanggung jawab. Dan dalam konteks kekinian pengaruh media justru akan dipengaruhi dari sejauh mana penikmat media memiliki pengetahuan yang cukup dan mengapresiasikan dengan baik media itu sendiri”. Jadi di samping adanya tuntutan komersialisasi dan upaya mengejar rating yang dilakukan oleh para provider media, yang sayangnya sering kali mengorbankan nilai-nilai edukatif dan normatif, tentunya hal yang strategis harus dilakukan juga adalah “bagaimana memberdayakan para penikmat media itu sendiri”.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dibayangkan bagaimana sebuah realita berikut ini bisa terjadi. Seorang ibu rumah tangga yang kritis, sebelum sempat terjadi kejadian-kejadian “korban tayangan Smackdown” yang lalu, pernah waktu itu juga mengkhawatirkan tentang banyaknya tayangan malam hari yang sangat tidak edukatif dan tidak kondusif untuk perkembangan anak-anaknya. Si Ibu sering melihat anaknya menyaksikan beberapa tayangan sinetron sitkom bernuansa seks (salah satu yang disebutkan si Ibu sebagai contoh adalah tayangan Komedi Nakal) dan tayangan olah raga dengan kekerasan, akan sangat tendensius mempengaruhi prilaku anak-anaknya ke arah negatif. Nah, ada yang menarik dari pendapat si Ibu ini. Kita semua tentu sangat setuju bila tayangan yang bernuansa seks dan kekerasan tentunya tidak baik untuk dikonsumsi anak-anak. Tetapi permasalahannya justru adalah ketika tayangan ini telah diberi label hanya untuk orang dewasa (DW atau 18+) dan ditayangkan di atas jam 22.00, yang nota bene memang untuk orang sudah dewasa, kenapa sampai bisa si Ibu memberikan ijin atau kesempatan buat anak-anak untuk tetap terjaga dan menonton TV di jam-jam seperti itu? Tentunya kita diingatkan lagi, bahwa untuk memberdayakan media juga kita harus tetap ingat untuk memberdayakan penikmat medianya juga. Ini penting sekali.<span id="more-216"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Terutama buat penikmat media di usia remaja, yang tengah dalam fase transisi, antara anak dan dewasa. Sering kali masyarakat juga kebingungan untuk menerapkan standard buat remaja. Kita harus melihat situasi terkini, ketika sinetron menjadi acara yang paling bernilai rating tinggi adalah sinetron-sinetron remaja. Hal-hal positif mesti bisa dibahasakan buat penikmat media dari kalangan remaja kita agar mereka bisa tetap menjadi remaja yang “on the right tracks”. Bagaimana mungkin sebuah hal ini bisa terjadi, misalnya saat beberapa tahun lalu saya sempat hadir di Jakarta untuk melihat proses produksi sebuah sinetron lama yang pernah sangat popular berjudul “ABG”, dengan background setting adalah suasana sekolah. Di saat itu sang assisten director menginstruksikan make up artistnya untuk melakukan make over kepada Masayu Anastasia (yang dalam sinetron mendapatkan peran protagonist, aktivis di OSIS dan diidolakan banyak temannya) untuk dipermak wardrobenya. Rok sekolahnya dipilih yang agak pendek sehingga pahanya menyembul, baju hem sekolahnya diminta dikeluarkan, kancing atas hem diminta tidak dikancingkan, dan rambut tidak pakai ikatan serta diberikan pengecatan, serta wajah dimake up cukup tebal. Ini semua diinstruksikan oleh tim produksi sinetron.Padahal situasi sekolah yang dipinjam untuk dijadikan tempat sinetron diproduksi saat itu situasinya masih wajar-wajar saja. Siswi-siwinyanya tetap tidak bermake up, baju hem dimasukkan semua, rok di bawah lutut. Rapi semua seperti apa yang tercatum di tata tertib sekolah. Jadi, kalau melihat kasus ini, seringkali demi tuntutan rating, seorang tokoh yang mestinya “innocent” pun diset menjadi terlihat “terlalu terbuka” dalam berbusana untuk ukuran siswa yang sedang ada di sekolah. Bisa dibayangkan akhirnya ini ditiru oleh banyak siswi-siswi se-Indonesia sebagai trend saat ini. dan seperti kita ketahui juga menjadi trend cara busana sekolahan anak sekarang. Sebenarnya memang tidak terlalu bermasalah buat siswa sendiri, tetapi rupanya setelah diinventaris komentar dari orang-orang dewasa yang berbeda jamannya dengan remaja sekarang, banyak yang mengeluh, malah bahkan merasa tergoda dengan cara berpakaian ini. Dan remaja kembali lagi menjadi korban. Mereka sendiri belum bisa berdaya untuk mengkritisi media.</p>
<p style="text-align: justify;">Mudah-mudahan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang katanya berusaha independen, bebas intervensi, -padahal ini lembaga bikinan pemerintah juga ya- justru harus bisa mengintervensi media secara aktif. Jadi, ada baiknya pada target kelompok remaja pun agar bisa dikembangkan sebuah visi bersama lagi yaitu “Menjadikan Media Sebagai Sumber Informasi Dan Hiburan Yang Bertanggung Jawab, Khususnya Buat Remaja”.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bisa menuju pergerakan ke arah visi tersebut bisa dienergizing lewat beberapa misi strategis yaitu:<br />
1) Pemberdayaan remaja tentang minat akan media,<br />
2) Pelibatan remaja dalam proses produksi, pasca produksi dan evaluasi media<br />
3) Pemberdayaan remaja untuk bisa mengkritisi media lewat “media watch remaja” sebagai partner KPI.</p>
<p style="text-align: justify;">Harapan saya terakhir adalah pelibatan remaja semain luas dalam berbagai sektor, termasuk media, dengan bisa ikut menggerakkan remaja dalam ikut mengawasi dan mendampingi perjalanan perkembangan media di negara ini secara bersama-sama. Karena ini saatnya memberikan porsi yang lebih, buat kaum muda, karena masa depan bangsa ini ada di tangan mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/youth-world/media-watch-remaja-perlukah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
