<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>okanegara.com &#187; Original Article</title>
	<atom:link href="http://okanegara.com/category/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tawaran Iklan Memperbesar Penis Adalah Penipuan;  Anda Sesungguhnya Jauh Lebih Normal Dari Yang Anda Bayangkan!</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/tawaran-iklan-memperbesar-penis-adalah-penipuan-anda-sesungguhnya-jauh-lebih-normal-dari-yang-anda-bayangkan.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/tawaran-iklan-memperbesar-penis-adalah-penipuan-anda-sesungguhnya-jauh-lebih-normal-dari-yang-anda-bayangkan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 07:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[mitos seks]]></category>
		<category><![CDATA[mitos seksual]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[penis enlargement]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran penis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Anda rajin membaca surat kabar, majalah atau masih punya waktu untuk browsing internet? Pernah menyadari betapa banyak iklan yang menawarkan untuk memperbesar penis terpampang di media? Apakah Anda sempat berpikiran yang sama dengan jutaan laki-laki lain di dunia ini untuk memperbesar penis? Sebaiknya pikirkan kembali semuanya baik-baik. Awal bulan lalu seorang laki-laki, 21 tahun, datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/Penis_Enlargement_Penis_E_461e20b53491a.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-460" title="Penis_Enlargement_Penis_E_461e20b53491a" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/Penis_Enlargement_Penis_E_461e20b53491a-272x300.gif" alt="" width="272" height="300" /></a>Anda rajin membaca surat kabar, majalah atau masih punya waktu untuk <em>browsing</em> internet? Pernah menyadari betapa banyak iklan yang menawarkan untuk memperbesar penis terpampang di media? Apakah Anda sempat berpikiran yang sama dengan jutaan laki-laki lain di dunia ini untuk memperbesar penis? Sebaiknya pikirkan kembali semuanya baik-baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Awal bulan lalu seorang laki-laki, 21 tahun, datang dengan penis bengkak tidak beraturan setelah disuntikkan minyak orang-aring oleh temannya. Kasus ini hampir serupa dengan beberapa korban suntikan silikon cair sebelumnya. Seminggu yang lalu laki-laki berusia 42 tahun datang bersama istri keduanya yang berusia 24 tahun. Mengeluh penisnya sakit, bengkak dan mati rasa. Ternyata di pangkal penisnya terpasang karet gelang berwarna hitam mengikat erat pangkal penis, yang disebutkan pemberian dari seorang dukun kenalannya. Istrinya bahkan tidak menyadari dan baru tahu hari itu. Laki-laki ini datang untuk menghilangkan rasa sakitnya, bukan membuka karetnya, dia takut kalau karet dibuka sembarangan maka penisnya akan mengkerut dan mengecil, seperti yang disampaikan si dukun. Tentu saja beberapa kasus ini hanyalah sebagian kecil dari upaya laki-laki memperbesar penisnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Laki-laki dan Ukuran Penis</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di samping berfungsi sebagai alat reproduksi, penis juga berperan penting dalam menjalankan fungsi rekreasi dalam hubungan seksual. Selalu muncul banyak diskusi yang tiada habisnya mengenai penis, termasuk tentang ukuran ideal untuk dapat membawa kepuasan seksual bagi laki-laki dan pasangannya. Sebuah mitos populer tentang ukuran penis yang turun temurun terkonsepsi sejak lama dan masih dipersepsikan oleh banyak laki-laki adalah “ lebih besar, lebih baik” (Hanifah,2007). Secara turun temurun berbagai cara tidak logis dan tidak ilmiah telah dilakukan untuk memperpanjang ukuran penis, yang ternyata dapat mengakibatkan efek buruk,  akhirnya malah mengorbankan fungsi penis itu sendiri. Tentu saja ini adalah mitos yang perlu diluruskan. Secara histologi, penis tersusun dominan oleh jaringan ikat (mulai dari uretra<em>,</em> jaringan erektil <em>corpora cavernosa</em> dan <em>corpora cavernosum </em>serta<em> </em>tunika albuginea) lalu serabut otot polos dan hanya sedikit saja serabut otot bergaris. Karena lebih banyak jaringan ikat dan hanya sedikit otot bergaris, maka sejak pubertas mencapai puncak di usia 16-17 tahun, ukuran penis sudah tidak bisa lagi mengalami perubahan. Sedangkan sebelum usia tersebut ukuran penis masih bisa berkembang karena pengaruh hormon, terutama testosteron.</p>
<p style="text-align: justify;">Ukuran penis yang dikategorikan normal itu seberapa panjang dan berapa diameternya, belum banyak terdokumentasikan secara resmi. Kalaupun ada yang melakukan studi, hasilnya masih sangat bervariasi. Salah satunya, menyebutkan bahwa ukuran panjang penis saat tidak ereksi rata-rata berkisar antara 7,6 – 10,2 cm. Sedangkan saat ereksi panjang rata-rata penis adalah 12,7 – 17,8 cm (Francoeur, 1991).  Untuk data orang Indonesia secara resmi malah belum ada. Kemungkinan akan berbeda dengan standar rata-rata yang disebutkan oleh riset Francoeur. Dalam sebuah tulisan, seorang dokter ahli andrologi sempat menyebutkan bahwa ukuran penis rata-rata laki-laki Indonesia, kemungkinan kisarannya adalah 7 cm saat tidak ereksi dan menjadi dua kali lipat ketika ereksi (Setiawan N,2008).</p>
<p style="text-align: justify;">Ketakutan laki-laki bahwa ukuran penisnya terlihat terlalu kecil untuk memuaskan pasangannya saat berhubungan seksual seringkali menjadi sebuah alasan jamak. Namun, justru sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan laki-laki yang berpikir penis mereka terlalu kecil sesungguhnya memiliki penis berukuran normal (Mulhall JP, 2001). Alasan lain yang sering muncul adalah untuk meningkatkan kepercayaan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara fisik, ukuran penis tidak berpengaruh bagi tercapainya orgasme dan kepuasan seksual perempuan, selama penis dalam keadaan normal sesuai perkembangan seharusnya. Orgasme dan kepuasan seksual perempuan lebih ditentukan oleh kualitas ereksi, kemampuan mengontrol ejakulasi dan keterlibatan emosional terhadap pasangan (Pangkahila W, 2008).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Laki-laki dan Praktek Memperbesar Penis Yang Menyesatkan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Telah banyak upaya keliru yang dilakukan laki-laki selama ini untuk melakukan pembesaran penis. Tanpa disadari hal ini menjadi sasaran kalangan-kalangan yang tidak bertanggung jawab untuk mendapatkan keuntungan komersial yang tidak logis. Hal ini sudah berlangsung turun-temurun dan ratusan tahun lamanya, bahkan terjadi di seluruh dunia. Nama seperti “Mak Erot” pun sangat kondang sebagai ikon pembesaran penis di Indonesia.<strong> </strong>Padahal sudah jelas pada banyak kasus, yang terjadi setelah melakukan prosedur memperbesar penis adalah banyak penis yang mengalami deformitas baik secara fisik maupun fungsi seksual (Pangkahila W, 2008). Tentu saja korban praktek-praktek tidak ilmiah seperti ini tidak muncul ke permukaan karena mereka tidak berani untuk mengungkapkan kasusnya secara terbuka, yang akhirnya sering kali masyarakat menjadi tidak mengetahui akan adanya akibat buruk dari praktek-praktek pembesaran penis yang tidak ilmiah seperti ini. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yang mengkhawatirkan adalah justru banjirnya informasi dilakukan kalangan  komersial yang menawarkan berbagai jenis praktek memperbesar penis yang promosinya seolah-olah menampilkan dukungan dari para ahli untuk mendapatkan kesan logis, ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi jika dicermati akan terlihat bahwa klaim keamanan dan efektivitasnya tidak terbukti. Pihak komersial seperti ini hanya  mengandalkan testimonial, data yang bias dan menampilkan gambar-gambar keberhasilan yang tidak otentik.</p>
<p style="text-align: justify;">Alat-alat bantu yang ditujukan secara komersial untuk pembesaran penis dapat berbahaya bagi kesehatan seksual laki-laki yang bisa mengakibatkan kerusakan permanen pada penis. Kalau coba dicermati kembali apa yang bisa diakibatkan oleh upaya pembesaran penis tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Suntikan silikon cair tentunya sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan penis secara permanen. Beberapa riset juga menyebutkan adanya dugaan silikon cair  dengan kejadian kanker.</li>
<li>Pijatan tangan <em>(manual massage)</em> yang secara tradisional sering dikombinasikan dengan pemberian makanan tertentu (misalnya ketan lemang) dan penis dimasukkan ke alat tertentu (misalnya bambu). tetap dapat mengakibatkan efek buruk seperti luka lecet, pembengkakan hingga rasa nyeri.</li>
<li>Pompa <em>(vacuum)</em> sempat populer sebagai alat terapi disfungsi seksual, tetapi bila digunakan dalam waktu lebih lama daripada yang direkomendasikan malah dapat merusak jaringan elastis di penis. Sesungguhnya menggunakan pompa hanya menciptakan ilusi sehingga penis terlihat menjadi lebih besar, tetapi jarang berhasil secara permanen.</li>
<li>Pil, obat oles, obat tempel (<em>patch</em>) dan bahan lain (misalnya rendaman teh). Tidak satupun dari produk-produk ini terbukti bekerja dan beberapa mungkin dapat berbahaya  jika dosisnya sembarang, misalnya yang mengandung hormon.</li>
<li>Peregangan dengan beban <em>(traction)</em> adalah metode yang sangat riskan karena dapat menyebabkan kerusakan permanen pada penis. Tidak ada bukti ilmiah bahwa teknik ini dapat menambah ukuran penis.</li>
<li>Operasi atau pembedahan penis (<em>phalloplasty</em>) secara medis masih dapat direkomendasikan untuk kepentingan non-kosmetik. Operasi dapat dilakukan untuk merekontruksi penis yang mengalami cidera parah, misalnya akibat kecelakaan, atau misalnya penis terpotong (seperti dalam kasus populer John Bobbitt). Sedangkan untuk kepentingan pembesaran penis dengan memotong otot dasar penis tidak dianjurkan. Memang penis dapat terlihat menjadi lebih panjang tapi hasilnya tidak memuaskan dan kemungkinan malah berdampak buruk karena bila otot dasar penis tidak kuat, penis tak akan dapat ereksi dengan baik.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lalu, Apakah Berarti Operasi Bisa Menjadi Pilihan?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya kebutuhan untuk operasi pembesaran penis sangat jarang. Jenis <em>phalloplasty</em> dengan tujuan memperbesar penis yang masih dikerjakan adalah<em> </em><em>Enhancement Phalloplasty dan Girth </em><em>E</em><em>nhancement</em>. Ada dua prosedurnya yaitu memperpanjang penis dan memperbesar diameternya. Caranya adalah pemotongan pada ligamentum suspensorium penis, yang memfiksasi pangkal penis pada tulang pubis. Bagian yang melekat pada tulang akan dilepaskan sehingga akan menjadi jatuh dan terlihat lebih panjang.  Sedangkan untuk membuat penis lebih tebal melibatkan pemindahan lemak dari bagian tubuh yang berotot tebal, bokong atau perut dan menyuntikkan lemak ke penis.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya tidak satupun dari teknik-teknik ini terbukti aman atau efektif. Memotong ligamentum suspensorium dapat menyebabkan ereksi penis menjadi tidak stabil. Suntikan lemak ke penis terbukti tidak ada manfaatnya. Justru ada potensi risiko dari teknik-teknik ini seperti infeksi, hilangnya sensasi kulit, pendarahan yang berlebihan hingga hilangnya fungsi penis. <em>Society for the Study of Impotence</em> menyatakan tidak ada studi independen termonitor yang obyektif mengenai keamanan atau keberhasilan dari metode ini, sehingga disebutkan operasi ini tidak lebih dari sebuah <em>experimental surgery </em>(operasi percobaan) saja. Disebutkan juga bahwa kebanyakan pasien yang menjalani operasi ini tidak puas dengan hasilnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masih Banyak Hal Yang Bisa Dilakukan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar 89% perempuan mengaku puas dengan ukuran penis pasangannya (Otis A, 2005). Namun faktanya, banyak laki-laki mengalami <em>“small-penis syndrome”</em> atau kekhawatiran akan ukuran penisnya yang dianggap kecil. Menurut <em>Journal Urology BJU International</em>, laki-laki yang mengalami sindrom tersebut mencapai sekitar 45%. Tak heran bila masih begitu banyak beredar tawaran di situs-situs internet untuk memperbesar dan memperpanjang ukuran penis.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi justru sebagian perempuan mengatakan bahwa laki-laki yang memiliki penis terlalu besar bukanlah sebuah kabar baik. Selama hubungan seksual, penis yang ukurannya lebih dari rata-rata dapat menyebabkan rasa ketidaknyamanan hingga rasa sakit. Dalam banyak kasus, ukuran penis adalah soal preferensi pribadi bagi laki-laki dan pasangannya. Yang lebih utama adalah relasi seksual dan komunikasi seksual yang baik, jadi tidak hanya ukuran fisik semata.  Terlebih perlu disadari bahwa peka rangsangan pada vagina (<em>G-spot</em>)  terletak di sepertiga bagian luar vagina. Jadi, sebetulnya sangat tidak relevan memperpanjang atau memperbesar ukuran penis demi kepuasan pasangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan pemahaman seksual yang baik bersama pasangan. Hal-hal berikut bisa dilakukan:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Berkomunikasi seksual yang lebih baik dengan pasangan. Termasuk berusaha berdiskusi terbuka tentang segala apa yang ada di diri dan pada pasangan.</li>
<li>Meningkatkan penampilan diri. Olahraga teratur tentu saja dapat membuat perbedaan besar. Juga kebiasaan hidup sehat, makan berimbang, menghentikan kebiasaan buruk (merokok, alkohol), menjaga berat badan tetap ideal. Kebugaran fisik yang lebih baik tidak hanya membuat terlihat lebih menarik, tetapi juga dapat mengembalikan performa seksual yang lebih baik.</li>
<li>Rapikan rambut pubis. Rambut pubis atau rambut kemaluan yang tidak rapi di sekitar dasar penis dapat membuat penis tidak tampak menarik. Bahkann pencukuran rambut pubis  dapat meningkatkan sensitivitas di sekitar dasar penis.</li>
<li>Berdiskusilah dengan dokter yang memahami kesehatan seksual. Banyak laki-laki akhirnya merasa nyaman dengan keyakinan bahwa mereka &#8220;normal&#8221; atas rekomendasi seorang ahli.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekali Lagi, Pembesaran Penis Adalah Mitos</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Banyak masyarakat yang terperangkap di dalam mitos mengenai ukuran penis yang lebih besar lebih dapat memuaskan pasangan. Sedangkan yang sebenarnya jauh lebih berpengaruh adalah kualitas ereksi dan kemampuan mempertahankan ereksi. Ukuran penis, sejauh ini dapat dikatakan tidak lebih dari sekedar penampakan fisik saja dan tidak mewakili fungsi dan kualitas hubungan seksual, selama ukurannya masih dalam rentang normal. Ini adalah salah satu contoh dari puluhan bahkan ratusan mitos tentang seks yang menyesatkan dan beredar luas dikalangan masyarakat bahkan praktisi kesehatan. Hal ini membuktikan bahwa pengetahuan mengenai seksualitas di masyarakat masih rendah.  Yang justru sangat penting untuk dilakukan saat ini adalah mengedukasi seluruh lapisan masyarakat agar memiliki pengetahuan yang memadai, termasuk tentang seksualitasnya. Atas dasar pengetahuan yang baik ini akan terbentuk persepsi yang sehat dan dasar perilaku seksual yang sehat. Terakhir, diharapkan juga kepada media agar secara sadar bisa memilah informasi yang benar secara selektif termasuk mengeksklusi iklan yang kontraedukatif dan menyuburkan mitos, mengingat fungsi media masa sebagai agen untuk mencerdaskan masyarakat. Jadi tidak ikut menipu masyarakat. Karena sampai saat ini semua iklan tentang pembesaran penis adalah sebuah penipuan publik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Daftar Rujukan:</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Francoeur, RT.1991. A Descriptive Dictionary and Atlas of Sexology.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanifah, L. 2007. Jamu dan Praktek-praktek Kelamin. LP3Y. Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulhall, JP. 2001. Serial assessment of efficacy and satisfaction profiles following penile prosthesis insertion and penile surgery. <em>Journal of Urology </em>165(5):1042A.</p>
<p style="text-align: justify;">Otis, A.2005. Common Penis Problems and Condition. New York. Cornell University Press.Ithaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Pangkahila, W.2005.  Disfungsi Seksual Pria.Cetakan Pertama.Jakarta.Perpustakaan Nasional RI.</p>
<p style="text-align: justify;">Pangkahila, W.2008.  Konsultasi Seksologi. Tabloid Gaya Hidup Sehat. <a href="http://community.kompas.com/">http://community.kompas.com</a> (akses 10 September 2009).</p>
<p style="text-align: justify;">Schill, WB. 2006. Surgical Procedures in Andrology. In: Andrology for Clinician. Springer-Verlag.Berlin.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiawan, N. 2008. Memperbesar penis, Mitos? Kompas Online.<a href="http://kompas.com/">http://kompas.com</a> (akses 10 September 2009).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>* Ditulis untuk Pfizer Award of Sexology 2009.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/tawaran-iklan-memperbesar-penis-adalah-penipuan-anda-sesungguhnya-jauh-lebih-normal-dari-yang-anda-bayangkan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekali Lagi Tentang Sirkumsisi Laki-laki: Antara Tradisi, Pencegahan HIV dan Hak Seksual</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/sekali-lagi-tentang-sirkumsisi-laki-laki-antara-tradisi-pencegahan-hiv-dan-hak-seksual.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/sekali-lagi-tentang-sirkumsisi-laki-laki-antara-tradisi-pencegahan-hiv-dan-hak-seksual.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 04:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[khitan]]></category>
		<category><![CDATA[men`s health]]></category>
		<category><![CDATA[sirkumsisi]]></category>
		<category><![CDATA[who]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Apakah tradisi sirkumsisi yang sejak lama dipraktekkan atas dasar kepercayaan sesungguhnya adalah memang untuk kesehatan dan ramalan akan upaya pencegahan dari penyakit tertentu? Atau sirkumsisi justru memangkas hak-hak seksual manusia dalam mengeksplorasi seksualitasnya? Belakangan ini ada hal yang menarik perhatian karena menjadi sebuah kontroversi lagi, menyangkut rekomendasi terbaru yang diusulkan oleh CDC (Center for Disease [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/circumcision-051.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-457" title="circumcision-05.jpg" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/circumcision-051.jpg" alt="" width="275" height="275" /></a>Apakah tradisi sirkumsisi yang sejak lama dipraktekkan atas dasar kepercayaan sesungguhnya adalah memang untuk kesehatan dan ramalan akan upaya pencegahan dari penyakit tertentu? Atau sirkumsisi justru memangkas hak-hak seksual manusia dalam mengeksplorasi seksualitasnya? Belakangan ini ada hal yang menarik perhatian karena menjadi sebuah kontroversi lagi, menyangkut rekomendasi terbaru yang diusulkan oleh CDC (<em>Center for Disease Control</em>) tentang sirkumsisi laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekilas Tentang Sirkumsisi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sirkumsisi, khitan atau sunat adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh preputium (<em>prepuce</em>, <em>foreskin</em>, frenulum, kulup) yang menutupi glans penis (kepala penis). Kata sirkumsisi berasal dari <a title="Bahasa Latin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Latin">bahasa Latin</a> “<em>circum”</em> (memutar) dan “<em>caedere”</em> (memotong). Sirkumsisi memiliki riwayat sejarah yang sangat panjang sebagai salah satu tindakan bedah pertama yang dilakukan manusia. Ada tiga alasan utama orang menjalani sirkumsisi: (1) alasan kepercayaan, (2) indikasi medis dan (3) pencegahan penyakit.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi Dan Tradisi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sirkumsisi telah dilakukan sejak jaman prasejarah, dilihat dari gambar-gambar di gua yang berasal dari <a title="Zaman Batu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Batu">Zaman Batu</a> dan makam <a title="Mesir purba" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir_purba">Mesir purba</a>. Alasan sirkumsisi masih belum jelas pada masa itu tetapi teori-teori memperkirakan bahwa sirkumsisi merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau tanda penyerahan pada Yang Maha Kuasa, tahapan menuju dewasa, tanda kekalahan atau <a title="Perbudakan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perbudakan">perbudakan</a>, atau upaya untuk menghambat fungsi seksual yang dianggap berlebihan. Sirkumsisi pada laki-laki diwajibkan pada agama <a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a> dan <a title="Yahudi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yahudi">Yahudi</a>. Sirkumsisi juga terdapat di kalangan mayoritas penduduk <a title="Korea Selatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korea_Selatan">Korea Selatan</a>, <a title="Amerika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika">Amerika</a>, dan <a title="Filipina" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filipina">Filipina</a>. Dalam Islam, sirkumsisi tidak hanya dilakukan pada laki-laki, tetapi juga kepada perempuan. Pada perempuan sirkumsisi dilakukan dengan memotong bagian kulit yang terlihat menonjol ke atas vagina, dalam hal ini sering kali klitoris dan sebagian labia mayora dan labia minora. Metode klasik yang dilakukan secara tradisional adalah dengan menggunakan sebuah alat tajam misalnya sebilah bambu tajam atau pisau yang  langsung memotong preputium tanpa anesetesi (pembiusan). Bekas luka tidak dijahit dan langsung dibungkus dengan kain atau ramuan herbal tertentu. Sering kali cara ini mengakibatkan perdarahan dan infeksi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi Laki-laki Untuk Kesehatan Dan Pencegahan Penyakit</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Indikasi medis yang paling sering ditemui adalah phimosis. Kondisi lain adalah paraphimosis, balanopostitis berulang (<em>recurrent balanopostitis</em>) dan <em>balanitis xerotica olbiterans</em>. Sedangkan beberapa penyakit yang diduga berkurang risikonya dengan menjalani sirkumsisi adalah Infeksi Saluran Kemih (ISK), beberapa jenis Infeksi Menular Seksual (IMS), kanker serviks (pada pasangan seksualnya) dan kanker penis. Karena masih dugaan, seringkali masih mengundang kontroversi saat didiskusikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ISK pada anak laki-laki usia sekitar 10 tahun adalah 1-2%. Ginsburg dan McCracken pertama kali melaporkan insiden ISK lebih tinggi pada anak laki-laki yang tidak disirkumsisi. Di sisi lain, terdapat 2% (20 per 1.000) kasus komplikasi dari prosedur sirkumsisi, terutama perdarahan dan infeksi. Beberapa publikasi mengenai hubungan antara sirkumsisi dan IMS masih sering membingungkan. Riwayat berhubungan seksual dengan laki-laki yang tidak disirkumsisi dapat menjadi faktor risiko tertular herpes simpleks (HSV) tipe-2 pada perempuan. Kalau sebuah studi di Australia pada tahun 1983 menyebutkan bahwa herpes genitalis, kandidiasis, gonore dan sifilis lebih sering terjadi pada laki-laki yang tidak disirkumsisi, tetapi justru sebuah studi baru di Australia juga malah menyebutkan bahwa sirkumsisi tidak memiliki dampak signifikan pada insiden IMS umum. Sebuah penelitian baru-baru ini melaporkan peningkatan risiko infeksi <em>Human Papilloma Virus</em> (HPV) pada laki-laki yang tidak disirkumsisi, dibandingkan dengan yang sudah disirkumsisi. Perempuan monogami yang pasangan laki-lakinya tidak disirkumsisi dan juga melakukan  hubungan seksual dengan enam atau lebih pasangan seksual memiliki risiko kanker serviks lebih tinggi dibandingkan perempuan yang pasangan seksualnya disirkumsisi dengan tipe prilaku seksual yang sama. Kanker penis merupakan kondisi yang jarang terjadi, dengan kejadian tahunan sekitar 1:100.000 laki-laki di dunia. Ada bukti bahwa sirkumsisi pada bayi akan memeberikan perlindungan dari kanker glans penis tapi tidak dari bagian shaft penis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi dan Pencegahan HIV</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Secara kumulatif kasus pengidap HIV dan AIDS di Indonesia yang telah dikoreksi dari tanggal 1 Januari 1987 hingga 31 Maret 2009 terdiri dari HIV 6.668 kasus, AIDS 16.964 kasus, sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 23.632 kasus, dengan angka kematian 3.492 jiwa. Belakangan ini meningkatnya HIV dan AIDS lebih banyak dikarenakan hubungan heteroseksual. Jika dilihat dari faktor risiko maka antara lain heteroseksual mencapai 8.210, homoseksual mencapai 628, jarum suntik atau IDU mencapai 7.125, transmisi perinatal atau ibu yang sedang hamil yang menular kepada bayi mencapai 390, dan tak diketahui sebabnya mencapai 611 kasus.</p>
<p style="text-align: justify;">Anjuran penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual masih menemui banyak hambatan.  Metode pencegahan yang di kontrol oleh perempuan (female control method) melalui femidom yang dimunculkan lagi sesungguhnya didasarkan atas kenyataan bahwa angka penggunaan kondom yang masih relatif rendah dalam hubungan seks yang berisiko adanya fakta bahwa banyak pria yang sering melakukan hubungan seks berganti pasangan enggan untuk menggunakan kondom sehingga meningkatkan risiko penularan HIV.  Lalu, adanya kabar baik tentang kemunculan mikrobisida yang tadinya membawa harapan pun akhirnya kandas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai tanggapan atas kebutuhan mendesak untuk mengurangi jumlah infeksi HIV baru secara global, World Health Organization (WHO) dan UNAIDS mengadakan konsultasi pakar internasional pada bulan Maret 2007 untuk menentukan apakah sirkumsisi laki-laki harus direkomendasikan sebagai standar pencegahan HIV. Dari beberapa uji klinis yang telah dilakukan menunjukkan sirkumsisi pada laki-laki dapat mengurangi penularan HIV hingga 60%. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, para ahli yang menghadiri konsultasi merekomendasikan bahwa Sirkumsisi laki-laki sekarang harus diakui sebagai suatu intervensi penting tambahan untuk mengurangi risiko infeksi tertular HIV secara heteroseksual pada laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) saat ini malah mengeluarkan pernyataan melalui sebuah studi baru yang dilakukan oleh CDC, bahwa  sirkumsisi tidak mengurangi risiko tertular HIV di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Studi CDC ini juga untuk melengkapi pertanyaan-pertanyaan seperti apakah kesimpulan yang didapatkan oleh UNAIDS juga bisa berlaku sama di seluruh dunia? Studi-studi yang dilakukan dan dikutip oleh UNAIDS sebagian besar di  Afrika, di mana prevalensi HIV tinggi, angka sirkumsisi laki-laki rendah, dan cara penularan HIV yang paling utama adalah lewat hubungan heteroseksual. Tentu saja situasinya di tempat lain belum tentu sama. Misalnya di Amerika Serikat, setengah dari semua infeksi baru terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Cara penularan seperti ini tidak terlalu berpengaruh dengan prosedur sirkumsisi.</p>
<p style="text-align: justify;">CDC telah merilis sebuah pernyataan di situs yang menyatakan bahwa keputusan untuk merekomendasikan sirkumsisi sebagai sebuah prosedur resmi untuk pencegahan HIV masih belum final. Karena sesungguhnya perlu dipertimbangkan juga bahwa bayi laki-laki yang baru lahir tanpa sempat disirkumsisi pun bisa tertular HIV, dan laki-laki yang sudah disirkumsisi tetapi melakukan aktivitas seksual sesama laki-laki belumlah terlindungi dengan sirkumsisi ini. Maka pada akhirnya keputusan akhir yang diperlakukan CDC saat ini, sirkumsisi adalah bersifat sukarela.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya sirkumsisi hanyalah mengurangi risiko infeksi HIV, bukan itu mencegah infeksi. Laki-laki masih harus menggunakan kondom untuk mencegah HIV. Sirkumsisi diyakini dapat melindungi orang dari infeksi HIV karena preputium penis lebih rentan terhadap HIV dan dapat menjadi tempat masuk utama virus.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi dan Hak Seksual </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hak-hak Seksual yang disepakati menurut WHO pada Juni 2009 didasari atas HAM yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan, meliputi hak akan; (1) Akses  layanan kesehatan seksual  termasuk kesehatan  reproduksi ,(2) Semua layanan yang terkait dengan seksualitas, (3) Pendidikan seksualitas, (4) Penghormatan terhadap integritas tubuh, (5) Memilih – memutuskan  pasangan seksual, (6) Memutuskan aktif secara seksual atau tidak, (7) Konsensus relasi seksual, (8) Konsesus pernikahan, (9) Memutuskan  punya  anak atau tidak, (10) Memperoleh kepuasan seksual dan (11) Jaminan hubungan seksual yang aman (tidak menulari dan ditulari IMS dan HIV).</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;_udi=B6VJW-4FXWJJC-13&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;_coverDate=04%2F30%2F2005&amp;_alid=389565158&amp;_rdoc=1&amp;_fmt=&amp;_orig=search&amp;_qd=1&amp;_cdi=6105&amp;_sort=d&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;view=c&amp;_acct=C000009718&amp;_version=1&amp;_urlVersion=0&amp;_userid=4161417&amp;md5=335f52f3b276bcf16fd3c434780dc84d" target="_blank">Jurnal of Urology April 2005</a> menyebutkan bahwa sirkumsisi menurunkan kepuasan seksual karena pada preputium yang dipotong tersebut terdapat syaraf-syaraf yang sangat peka. Selama ini, bila terjadi kontroversi seputar sirkumsisi, nampaknya semua sepakat tentang pelarangan sirkumsisi pada perempuan. Karena tindakan inipun  tidak dikenal sama sekali dalam dunia medis. Pemotongan atau pengirisan kulit sekitar klitoris apalagi klitorisnya sangat merugikan. Tidak ada indikasi medis untuk mendasarinya. Ada kritik bahwa tindakan sirkumsisi yang dilakukan orang tua terhadap anak laki-lakinya mengandung arti bahwa orang tua telah mengambil hak anaknya dalam memutuskan tindakan terhadap tubuhnya, termasuk keputusan dan hak seksualnya. Namun dalam hal ini, pertimbangan keagamaan dan budaya sering kali masih diakui dalam mengambil keputusan. Karena itu, tentu saja tugas petugas medis adalah memberikan informasi apa adanya, agar orang tua dapat memutuskan sendiri pilihan bagi anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan laki-laki sirkumsisi terbukti memiliki fungsi yang signifikan dalam pencegahan HIV, karena aktivitas seksual ano-genital atau seks anal tetap sangat berisiko menimbulkan peluang penularan walaupun sudah disirkumsisi. Ini juga memberikan nilai risiko juga kepada pasangan heteroseksual yang juga melakukan seks anal sebagai variasi seksualnya. Aktivitas seks anal sendiri bukanlah sebuah anomali. Di samping dilakukan oleh laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki, seks anal sering juga dilakukan oleh pasangan heteroseksual sebagai variasi seksual. Dan melakukan seks anal sebagai variasi seksual adalah hak seksual dari setiap orang untuk bisa mengeksplorasi seksualitasnya. Selama pasangan menyetujuinya dan tidak ada hambatan psikis maka hal ini bisa dilakukan dengan menyenangkan bersama.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Simpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan perkembangan terakhir atas pertimbangan sosial, kesehatan dan hak seksual manusia, maka tentang sirkumsisi pada laki-laki dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Keputusan sirkumsisi itu individual. (2) Kalaupun laki-laki sudah disirkumsisi bukan berarti aman dari infeksi menular seksual, karenanya tetap harus menggunakan kondom, karena manfaat sirkumsisi masih parsial. (3) Perlu diperhatikan secara hak-hak seksual dalam tindakannya dan dipertimbangkan dengan baik karena pada sebagian orang menghilangkan kenikmatan seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Disampaikan dalam Kongres Nasional Seksologi 2009 di Pontianak dan dimuat di Harian Dewata Pos, Maret 2010<br />
Gambar dari <a href="http://www.danheller.com">www.danheller.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/sekali-lagi-tentang-sirkumsisi-laki-laki-antara-tradisi-pencegahan-hiv-dan-hak-seksual.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SOUNDRENALINE DAN FACEBOOK:  SEBUAH CATATAN PERJALANAN</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/soundrenaline-dan-facebook-sebuah-catatan-perjalanan.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/soundrenaline-dan-facebook-sebuah-catatan-perjalanan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 07:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[andra&the backbone]]></category>
		<category><![CDATA[apwg]]></category>
		<category><![CDATA[burgerkill]]></category>
		<category><![CDATA[de Buntu]]></category>
		<category><![CDATA[d`massive]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[gigi]]></category>
		<category><![CDATA[gwk]]></category>
		<category><![CDATA[kanan lima]]></category>
		<category><![CDATA[koil]]></category>
		<category><![CDATA[kotak]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[nanoe Biroe]]></category>
		<category><![CDATA[netral]]></category>
		<category><![CDATA[nidji]]></category>
		<category><![CDATA[painful by kisses]]></category>
		<category><![CDATA[party dorks]]></category>
		<category><![CDATA[pas band]]></category>
		<category><![CDATA[pee wee gaskins]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[saint locco]]></category>
		<category><![CDATA[SID]]></category>
		<category><![CDATA[slank]]></category>
		<category><![CDATA[soundrenaline]]></category>
		<category><![CDATA[the day after the rain]]></category>
		<category><![CDATA[the rock]]></category>
		<category><![CDATA[ungu]]></category>
		<category><![CDATA[upstair]]></category>
		<category><![CDATA[xxx]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa Soundrenaline? Ini bukan karena kebetulan sempat datang di mega konser yang satu ini, bukan juga karena konser tahun ini hanya diselenggarakan di Bali, tetapi tidak bisa dipungkiri, Soundrenaline masih diklaim sebagai panggung musik bergenre rock yang paling banyak menyedot perhatian publik dan media hingga hari ini. Jika para penggila rock di Amerika selalu membanjiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/tiket01.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-463" title="tiket01" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/tiket01-300x190.jpg" alt="" width="300" height="190" /></a>Kenapa Soundrenaline? Ini bukan karena kebetulan sempat datang di mega konser yang satu ini, bukan juga karena konser tahun ini hanya diselenggarakan di Bali, tetapi tidak bisa dipungkiri, Soundrenaline masih diklaim sebagai panggung musik bergenre rock yang paling banyak menyedot perhatian publik dan media hingga hari ini. Jika para penggila rock di Amerika selalu membanjiri dua festival rock paling bersejarah: Woodstock dan Lollapalooza, lalu Australia juga punya Big Day Out, Jerman menjadi panas dengan seri Rock Im Park dan Rock Am Ring-nya serta para kamikaze muda Jepang juga tidak mau kalah dengan Summer Sonic-nya, maka Soundrenaline bisa menjadi jawaban atas pertanyaan “Festival Rock Terbesar di Indonesia apa sih?”.</p>
<p style="text-align: justify;">15 November yang lalu dua puluh ribuan manusia berdatangan menjejali Garuda Wisnu Kencana (GWK), Pecatu.  Di hari Minggu yang cerah itu seluruh tiket ludes terjual. Malam hari deretan kendaraan menjadi sangat panjang, banyak yang gigit jari karena berlama-lama tertahan di jalan untuk sekedar bisa menembus pintu masuk. Yang datang malam hari malah pasrah dua hingga tiga jam untuk antri. Padahal band-band hebat sudah mulai tampil sejak sore jam tiga. Susahnya menembus GWK membawa kerugian terhadap jadwal tampil band. Banyak jadwal yang tidak bisa ditepati, misalnya kehadiran Burger Kill yang sangat molor karena terhalang oleh padatnya penonton sejak di jalan raya. Akhirnya band-band lokal yang selalu harus mengalah. Mestinya lebih banyak lagi penonton yang bisa melihat XXX tampil sangat luar biasa dengan kolaborasi kecak dan heroisme merah putihnya. Beberapa penonton dari luar Bali sempat nyeletuk <em>“Gile ini band. Keren banget..”</em> Ryan Kanan Lima mesti jumpalitan hingga celana jins nya robek, belum lagi nanoeBiroe yang tampil agesif dengan dukungan ratusan Baduda-nya. Sesungguhnya mereka perlu mendapat perhitungan dan tidak bisa dipandang sebelah mata oleh penyelenggara. Tapi ada yang perlu diberi aplaus, yaitu antisipasi terhadap semangat band-band indie Bali untuk tampil di Soundrenaline ini, walaupun akhirnya hanya bisa tampil di panggung yang lebih kecil. The Day After The Rain, Painful By Kisses, de Buntu dan kawan-kawan akhirnya bisa mendapat tempat untuk menjajal momentum Soundrenaline.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Minim Publikasi Tapi Kok Bisa Luber Penonton?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Barisan<strong> </strong><em>list of the performers</em> yang tampil di Soundrenaline memang selalu menjadi magnet yang kuat untuk mendatangkan banyak penonton. Apalagi sebagian dikenal dengan tampilan panggung yang selalu dinantikan. Festival Park menjadi panas oleh Burger Kill yang tampil penuh energi, Koil masih tampil cadas, Pas Band dan Netral masih belum ada matinya, Kotak menunjukkan kelasnya dalam beraksi, Saint Locco tampil hangat, juga tentu saja daya pikat SID mendatangkan para Outsidernya. Belum lagi mereka yang tampil lebih melow di Lotus Pond: D`Massive, Ungu, Andra &amp; The Backbone, The Rock, Nidji, Gigi dan tentu saja Slank. Semua adalah jaminan gelontoran adrenaline dan keringat buat menonton.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi ada yang menarik dari kehadiran puluhan ribu penonton itu karena sesungguhnya konser ini tidak terlalu gegap gempita dalam berpromosi, bahkan tidak terlihat ada mega promosi di media-media konvensional. Tidak seperti yang sudah-sudah. Tahun-tahun sebelumnya kita sering lihat bagaimana ramainya iklan Soundrenaline menjejali TV, majalah, radio dan surat kabar. Logikanya bila sebuah acara minim dengan promosi maka berisiko dengan minimnya kehadiran penontonnya. Tetapi logika sederhana ini rupanya sudah tidak bisa dipertahankan lagi dengan semakin mendapat tempatnya kehadiran media non-konvensional berbasis jaringan sosial di dunia maya. Tidak banyak yang menduga, justru Soundrenaline dipenuhi oleh banjirnya masa anak muda yang mengikuti perkembangan acara ini lewat situs-situs jejaring sosial di internet seperti Facebook, Twitter dan blog. Terutama Facebook. Sesungguhnya kekuatan konser ini dalam mendatangkan masa hanya ada dua: brand Soundrenaline yang sudah melekat dan hingar bingarnya Facebook.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lagi-lagi Facebook</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitu populernya Facebook, sampai Gigi pun terinspirasi untuk membuatnya menjadi sebuah lagu <em>“my facebook”</em> yang masih kencang beredar di radio-radio. Bagaimanapun juga, kepopuleran lagu <em>“Online</em>”  telah membuat Saykoji makin populer dan bertambah kaya.  Tidak bisa dihindari Facebook saat ini adalah situs jejaring sosial yang sedang digandrungi. Pengguna Facebook hingga awal November telah menembus 325 juta user di seluruh dunia.  Dari 325 juta pengguna tersebut, pengguna Facebook di Indonesia sudah mencapai angka 12 juta. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi ke 7 sebagai negara pengguna Facebook terbesar di dunia. Dan dari 12 juta pengguna lebih tersebut, 47,04 persen di antaranya merupakan pengguna aktif. Urutan negara dengan pengguna terbanyak adalah Amerika Serikat, Inggris, Turki, Perancis, Kanada, Italia, Indonesia, Spanyol, Australia, dan Filipina.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan fenomena maraknya situs-situs jejaring sosial yang saat ini dipimpin oleh Facebook dan Twitter, mengirim pesan berantai dan saling menanggapi pesan dijamin bisa langsung diakses ke ratusan orang dalam hitungan detik dan menit, atau bahkan ribuan hingga jutaan orang hanya dalam sehari. Hanya dengan melakukan update status di Facebook bertuliskan <em>“Yuk datang ramai-ramai ke Soundrenaline di GWK minggu depan”</em>, seorang facebooker yang memiliki <em>friend list</em> sebanyak seribu teman saja sudah bisa mendapatkan tanggapan dari belasan orang dalam hitungan menit. Itu baru yang memberikan <em>“comment”</em> atau sekedar mengklik tanda jempol <em>“like this”</em>, belum lagi yang sekedar membaca tanpa meninggalkan jejak. Bisa dibayangkan bila status serupa juga dibuat oleh ratusan facebooker lainnya dengan respon yang serupa. Dan bisa ditebak, sesungguhnya dalam hitungan tiga hari saja ajakan untuk menghadiri event seperti Soundrenaline bisa langsung diketahui oleh jutaan pengguna Facebook yang sebagian besar adalah anak muda, yang juga merupakan target usia dari Soundrenaline. Itu baru Facebook, belum yang di Twitter. Dengan kata lain, di jaman sekarang, kehadiran media konvensional untuk mempromosikan acara-acara seperti konser musik dan sejenisnya makin digeser oleh kehadiran situs jejaring sosial. Dan ini adalah sebuah keuntungan besar bagi sebuah konser yang sudah punya nama sekelas Soundrenaline.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sisi Lain Facebook: Fenomena Pee Wee Gaskins, Party Dorks vs APWG</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi apakah kehadiran Facebook selalu membawa kabar baik? Tunggu dulu, saking paniknya, salah satu lembaga berbasis agama sempat melarang penggunaan Facebook. Kehadiran Facebook memang terasa jelas memunculkan fenomena kreatif. Hal-hal baik dan buruk bisa saja terjadi bagai sebuah pisau yang bisa ditujukan buat mengiris bawang sekaligus mengiris urat nadi. Demikian juga, ternyata sebelum konser Soundrenaline berlangsung kabar-kabar dan komentar yang muncul di status, di wall, di group Facebook juga tidak selalu ajakan yang kondusif. Tidak semua band yang tampil di Soundrenaline ternyata memiliki fans yang fanatik atau simpatik. Sebagian justru datang untuk menyalurkan aspirasi tidak simpatiknya kepada band yang tampil. Ini bukan cerita tentang D`Massive yang sejak sore sudah ditongkrongin oleh para Massivers Bali yang imut-imut dan jelita itu. Tetapi ini tentang Pee Wee Gaskins (PWG) yang menjadi korban malam itu. Malam yang bisa jadi tidak akan mereka lupakan karena mereka tampil tidak konsentrasi dan dibawah tekanan lemparan botol air mineral, teriakan-teriakan untuk meminta mereka turun dan umpatan akan istilah-istilah homoseksual yang distigmakan ke mereka, hingga meriahnya salam jari tengah yang sesungguhnya tidak pantas dari puluhan penonton yang merangsek ke depan panggung. Ironisnya ini terjadi di Soundrenaline, walaupun hal ini sudah bisa ditebak akan terjadi mengingat fenomena yang terjadi pada PWG belakangan ini. Jadi teringat fenomena serupa yang pernah terjadi di awal kemunculan SID sebagai band punk yang mulai diperhitungkan di panggung-panggung terbuka secara nasional beberapa tahun lalu. Terlepas dari apapun alasan anarkisme penonton terhadap musisi yang tampil, sesungguhnya hal ini perlu diantisipasi. Syukur anarkisme tidak berlanjut meluas.</p>
<p style="text-align: justify;">Fenomena PWG ini bisa jadi disebabkan oleh kekuatan dunia maya. PWG juga “dijatuhkan” oleh Facebook. Kasus foto ciuman sejenis yang beredar luas di internet dan Facebook, yang katanya atau diduga dilakukan oleh personel PWG membawa respon antipati dari masa ABG dan remaja, yang memang menjadi sasaran target musik PWG. Mereka yang tadinya masuk ke dalam komunitas Party Dorks (fans PWG) malah justru ikut-ikutan melebur ke dalam komunitas APWG (Anti Pee Wee Gaskins) karena terpengaruh dengan hasutan yang beredar tentang berbagai isu dan gosip buruk personel PWG mulai dari kesombongan hingga permasalan seks. PWG sudah melakukan klarifikasi tetapi tentu saja hal-hal seperti ini sering kali tidak mempan dan  malah “berkat jasa” Facebook masa APWG makin bertambah banyak jumlahnya, bahkan ada 400 lebih account group Facebook yang memakai identitas APWG dengan jumlah member bervariasi. Di sisi lain jumlah group dengan identitas Party Dorks juga ada sekitar 400-an. Sebuah perang di ranah Facebook yang luar biasa. Tentu saja akhirnya isu ini merambah dunia nyata dengan respon yang sudah bisa ditebak: konser musik PWG yang selalu diselingi hujatan, salam jari tengah dan lemparan botol air mineral. Sepertinya di konser-konser PWG berikutnya, kejadian serupa masih juga akan terjadi. Tentu sangat disayangkan. Atau jangan-jangan PWG malah menikmati fenomena ini, saking kebalnya. Buktinya, dari sebuah info, San-San (salah seorang personel PWG) dengan bangga menyebutkan pasca konser Soundrenalin kemarin seorang vokalis band lain, Jimmy Multazam dari The Upstair menghampirinya dan bilang <em>“San, gile juga band lu ya, bisa bikin rusuh gitu. Itu artinya band lu sudah bisa dibilang besar karena dapat perhatian besar dari penonton. Band gue aja nggak bisa gitu”</em>. Nah lho. Dan semua fenomena ini bisa terjadi dengan cepat. Lagi-lagi gara-gara Facebook.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perlukah Band Untuk Melek IT?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jawabnya sangat mudah. Bukan lagi perlu, tetapi “harus”. Mengingat banyak fans bisa diraih dan cepatnya informasi yang bisa ditampilkan di dunia maya.  Yang menjadi syarat kemudian adalah: <em>“good networking”</em> dan <em>“good relationship”</em>. Membina jaringan yang lebih baik dengan komunitas musisi lain dan membina hubungan baik dengan para fansnya.  Itu artinya juga harus rajin untuk selalu berbagi informasi yang positif tentang keberadaan bandnya, tentu saja dengan gaya dan karakter masing-masing. Saat ini untuk bisa tampil dan mengelola fans sudah bisa dengan sangat mudah dilakukan lewat Facebook. Beberapa band Bali seperti Discotion Pill, Bintang, XXX, deBuntu, D`Kantin, Artmosphere, Hanamura terlihat aktif dalam mengupdate Facebooknya. Kalau mau yang lebih serius, bisa ditingkatkan lagi statusnya ke bentuk website yang dikelola dengan baik atau yang berbasis blog, seperti yang sudah dilakukan misalnya oleh SID, Navicula, Dialog Dini Hari, XXX, Telephone, Day After The Rain dan lainnya. Website komunitas seperti deathrockstar.com hingga musikator.com juga bisa digunakan sebagai sarana membina relasi musik ini. Mungkin sebagian band lagi lebih tertarik untuk menampilkan diri di situs MySpace dan Friendster, semua tentu bisa dilakukan untuk bisa membina relasi dengan fans dan band lain,  sekaligus promosi, selama semua bisa dibina lewat hubungan baik dan tidak mengundang antipati publik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Nah, Sekarang Bagaimana?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sudah saatnya musisi bisa dengan baik mengelola fansnya. Facebook adalah salah satu media yang paling mudah. Yang perlu diingat adalah tidak sekedar membuat, tetapi juga mengelolanya dengan baik. Walaupun hanya buat fans, tetapi karena sifatnya yg sangat mudah diakses dan bisa dilihat siapa saja, tentu saja jangan lagi sembarangan “melakukan kesalahan” walaupun tujuannya hanya untuk iseng dan senang-senang, karena tidak semua orang bisa dengan persepsi yang sama menerimanya. Manfaatkan peluang yang ada untuk membentuk jaringan yang luas tetapi bertanggungjawab, karena ini demi karir juga, karena apapun yang diinformasikan, bisa dalam hitungan detik sudah tiba sebagai informasi baru bagi ratusan, ribuan pengguna facebook atau fans dimanapun berada. Karena dunia maya adalah dunia yang tanpa batas. Jadi selama bisa bertanggung jawab, silakan lanjutkan berFacebook!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ditulis dalam Majalah Musik; BM2, Edisi Desember 2009.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/15533_196052970889_649535889_2925447_4591567_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-464" title="15533_196052970889_649535889_2925447_4591567_n" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/15533_196052970889_649535889_2925447_4591567_n-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/soundrenaline-dan-facebook-sebuah-catatan-perjalanan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disfungsi Seksual? Jaga Jaga Bagi Yang Muda</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/jaga-jaga-bagi-yang-muda.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/jaga-jaga-bagi-yang-muda.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 05:48:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[majalah]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[usia muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[(Ini adalah artikel saya yang diterbitkan oleh Intisari dalam edisi khusus Healthy Sexual Life yang lalu. Judul aslinya “Problema Kesehatan Seksual Usia Muda”). Para blogger dan eksekutif muda perlu tahu tentang ini. Disfungsi Seksual sering terjadi pada usia muda. Disfungsi Seksual yang paling sering terjadi yaitu Disfungsi Ereksi dan Ejakulasi Dini. Jika selama ini banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-274" title="intisari03" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/07/intisari03-300x225.jpg" alt="intisari03" width="300" height="225" />(Ini adalah artikel saya yang diterbitkan oleh Intisari dalam edisi khusus Healthy Sexual Life yang lalu. Judul aslinya “Problema Kesehatan Seksual Usia Muda”). Para blogger dan eksekutif muda perlu tahu tentang ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: black;">Disfungsi Seksual sering terjadi pada usia muda. Disfungsi Seksual yang paling sering terjadi yaitu Disfungsi Ereksi dan Ejakulasi Dini. Jika selama ini banyak yang beranggapan Disfungsi Ereksi hanya dialami laki-laki usia lanjut, ada baiknya mulai menghilangkan anggapan tersebut. Pasalnya, banyaknya pasien laki-laki usia muda dengan Disfungsi Ereksi membuktikan bahwa dewasa ini banyak laki-laki usia muda bermasalah dengan kesehatan seksualnya. Beberapa kasus menarik yang pernah terdokumentasi misalnya<span> </span>adalah kasus berikut ini. Nadia (bukan nama sebenarnya), 24 tahun, sering berkeluh kesah kepada Asri (bukan nama sebenarnya), sahabat dekatnya, bahwa ia tidak sempat mengalami orgasme ketika berhubungan dengan Indra (bukan nama sebenarnya), 26 tahun, suaminya. Nadia akhirnya datang untuk mengkonsultasikan permasalahannya. “Bagaimana mau orgasme, lha baru sebentar saja suami saya sudah keluar duluan!” ujar Nadia. Nadia dan suaminya sudah menikah selama 2 tahun.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata memang banyak permasalahan Disfungsi Seksual terjadi pada usia muda. Penyebab banyaknya kelompok usia muda terserang Disfungsi Seksual, misalnya Disfungsi Ereksi seringkali adalah pengaruh gaya hidup yang cenderung mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi, manis, beralkohol dan rokok. Dari faktor pekerjaan bisa ditebak juga mereka sebagian besar adalah karyawan penting atau pengambil keputusan di tempat kerjanya, sehingga sering tidak bisa mengelola stres dan sering lelah. Dan sering kali juga diperparah dengan konflik rumahtangga yang cenderung membuat komunikasi seksual tidak berjalan lancar.</p>
<p style="text-align: justify;">Disfungsi Seksual pada usia muda lebih sering disebabkan karena faktor psikis dibandingkan faktor fisik. Beberapa penyebab psikis Disfungsi Seksual yang sering dialami oleh usia muda, yang sempat terinventarisasi masuk ke konseling lembaga konsultasi anak muda <strong>KISARA PKBI Bali</strong> di Bali tercatat antara lain:</p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li>Stres.<br />
Ketidakmampuan mengelola stress dengan baik mengakibatkan hal yang menjadi serius. Penyebab stres mungkin karena pekerjaan, kemacetan lalu lintas atau problem lain. Bila pasangan juga ikut menambah ketegangan akan memperburuk komunikasi seksual. Stres juga berkontribusi kepada pengeluaran hormon kortisol yang memang dikenal dengan julukan sebagai pembunuh gairah seksual.</li>
<li>Kecemasan.<br />
Sebagai contoh bisa terjadi pada pasangan yang telah menikah dan ingin segera memiliki keturunan tetapi tidak berhasil. Kecemasan dan ketakutan akan dilabeli sebagai mandul membuat pikiran terganggu dan muncul penurunan dorongan seksual.</li>
<li>Tidak Percaya Diri.<br />
Misalnya pasangan lebih kaya, berpenghasilan lebih besar, atau selalu memandang rendah si laki-laki. Atau justru karena pernyataan-pernyataan yang merendahkan seperti mempermasalahkan ukuran penis yang kecil dan sebagainya.</li>
<li>Perselingkuhan.<br />
Kejadian perselingkuhan yang mungkin terjadi atau sekedar perkiraan saja akan mempengaruhi komunikasi dan hubungan seksual di anatara kedua pasangan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan beberapa penyebab fisik yang dapat mengakibatkan Disfungsi Seksual pada usia muda antara lain :</p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li>Kelelahan.<br />
Hal ini bisa menyebabkan aliran darah terganggu akibatnya dorongan seksual tidak optimal dan ereksi penis pada laki-laki tidak maksimal.</li>
<li>Penyakit.<br />
Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan Disfungsi Seksual yang sudah bisa terjadi pada usia muda antara lain : diabetes melitus (kencing manis), kolesterol tinggi, dan beberapa jenis kelainan dan pasca operasi pada kelamin, misalnya kelainan <em>Peyronie      disease</em> (penis terlihat bengkok ekstrem).</li>
<li>Merokok.<br />
Nikotin yang terserap oleh darah akan dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah, penyumbatan pembuluh darah, termasuk penyumbatan pembuluh darah dalam penis.</li>
<li>Obatan-obatan.<br />
Pemakaian obat-obatan tertentu dengan tidak terkontrol bisa menyebabkan Disfungsi Seksual. Antara lain : obat anti hipertensi, anti depresi, barbiturat, hormon estrogen, mariyuana, narkotik, dan obat penenang.</li>
<li>Minuman dan makanan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol dan makanan yang mengandung kolesterol tinggi dapat menyumbat pembuluh darah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa Yang Bisa Dilakukan Bila Muncul Disfungsi Seksual</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada pasangan usia muda yang sudah terlanjur mengalami gangguan, prinsip utamanya sebenarnya adalah semakin awal didiskusikan dan dicari penyebabnya maka akan menjadi semakin lebih cepat sembuh. Penanganan Disfungsi Seksual lebih tepat bila disesuaikan dengan penyebabnya dengan penanganan terpadu. Penanganan yang bisa didapatkan pada laki-laki muda:</p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li>Konseling seks dan terapi seks.<br />
Konseling seks lewat psikoterapi dapat dilakukan bersamaan dengan terapi seks. Yang dapat digolongkan dalam terapi seks adalah hipnosis, senam seks, <em>specific sexual desensitization, sexual stimulation therapy,</em> juga masturbation therapy.</li>
<li>Terapi medis<br />
Prinsip terapi medis sebenarnya bisa dilakukan lewat tahapan pertama pemberian oral (diminum), kedua lewat injeksi atau suntikan dan terakhir lewat operasi. Obat-obatan yang diberikan dapat berupa substitusi, supresi, stimulasi, dan vasodilator. Terapi substitusi contohnya adalah dengan memberikan androgen pada penderita defisiensi androgen. Terapi supresi dengan memberikan obat untuk menekan penyebab disfungsi seksual, misalnya <em>Bromocriptine</em> untuk <em>Hyperprolactinemia</em>. Terapi stimulasi adalah untuk menstimulasi respons seksual. Obat yang dipakai bisa berupa hormon, aphrodisiaka, dan stimulan saraf pusat. Vasodilator dan <em>smooth muscle relaxant</em> adalah obat yang paling banyak dikembangkan saat ini yang dapat dipakai secara topikal (olesan), oral, <em>intraurethral</em> dan <em>intracavernosal</em>. Ada beberapa obat yang dapat dicobakan dapat diberikan seperti Sildenafil<em>, L-Arganine, Prostaglandin E1, Phentolamine dan Apomorphine</em>. Sedangkan cara operasi dilakukan dengan memasang suatu alat prosthesis di dalam penis agar penis bisa ereksi. Ada dua macam alat, yaitu yang semirigid dan ada yang dapat dikembangkempiskan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa Yang Bisa Dilakukan Sebelum Mendapatkan Pengobatan?</strong></p>
<h4 style="text-align: justify;">1) Foreplay bisa membantu</h4>
<p style="text-align: justify;"><em>Foreplay</em> atau permainan pendahuluan atau pemanasan sering kali diabaikan. Padahal <em>foreplay</em> dapat memaksimalkan rangsangan pada kedua pasangan. Cobalah melakukan foreplay sekitar 10-15 menit. Atau bisa juga lebih. Jika dilakukan lebih dari 15 menit bukan berarti mengulur waktu, tapi memberikan kesempatan agar seluruh area peka rangsangan (zona erogen) mendapat rangsangan yang semakin optimal. <em>Foreplay</em> bagi perempuan sangat penting untuk merangsang lubrikasi vagina sehingga membantu mengurangi sakit saat berhubungan seksual. Pada laki-laki juga bisa membantu meningkatkan dorongan seksual sehingga ereksi bisa lebih maksimal.</p>
<h4 style="text-align: justify;">2) Maksimalkan dengan variasi seksual</h4>
<p style="text-align: justify;">Prinsip variasi seksual adalah untuk mencegah kebosanan saat berhubungan seksual dengan cara biasa atau konservatif. Asalkan pilihan variasi seksual ini disepakati bersama dan tidak dipaksakan. Jadi malah bisa memunculkan komunikasi seksual jadi lebih sering, artinya kalau sebelumnya jarang membicarakan hubungan seksualnya, sekarang menjadi ada komunikasi bersama. Salah satu contoh variasi seksual yang bisa dilakukan pasangan usia muda misalnya adalah oral seks. Variasi seks wajar dilakukan agar tidak jenuh serta meningkatkan sensasi saat hubungan seksual. Dengan menempatkan oral seks di tengah-tengah kegiatan seksual, bukan tidak mungkin akan banyak membantu permasalahan yang muncul dengan memaksimalkan munculnya dorongan seksual. Banyak titik sensitif manusia baik laki-laki maupun perempuan yang dapat ditundukkan dengan permainan lidah. Variasi seksual juga bisa dilakukan dengan memvariasikan suasana. Maksimalkanlah hubungan seksual dengan bantuan musik yang romantis, pencahayaan lampu remag-remanag, juga variasi tempat hubungan seksual, yang biasanya di ranjang, sekarang bisa dicobakan di sofa kamar tamu, kamar mandi bahkan dapur sekalipun selama tempatnya bersih dan disepakati bersama.</p>
<h4 style="text-align: justify;">3) Komunikasi seksual ditingkatkan</h4>
<p style="text-align: justify;">Dalam berhubungan seksual, tidak hanya melibatkan kondisi fisik, juga psikis. Hubungan seks yang sehat harusnya dapat memunculkan perasaan nyaman di kedua belah pihak. Ingat, seks adalah indikator dari kesehatan dan sumber kesehatan pada usia tua nanti. Jika orang melakukan seks yang teratur dan menikmati seks dan gembira seluruh badan menjadi segar dan terasa lebih muda. Hubungan seksual memerlukan seni, agar kedua pasangan tak merasa bosan. Ini bisa tercapai dengan komunikasi seksual yang baik sehingga gangguan seksual yang muncul saat ini pun bisa dieliminasi lewat komunikasi seksual saja. Karena penyebab terbanyak adalah stres, maka dalam penanganan Disfungsi Seksual di awalnya adalah dengan mengelola stress dengan baik dan ini bisa diupayakan lewat komunikasi seksual bersama pasangan. Tidak ada salahnya juga selalu memuji pasangan untuk meningkatkan komunikasi seksual.</p>
<h4 style="text-align: justify;">4) Satu lagi: Jangan Mencoba Praktek-Praktek Seksual Yang Tidak Benar</h4>
<p style="text-align: justify;">Jangan pernah berusaha untuk mencoba praktek-praktek seksualyang tidak masuk akal hanya untuk upaya semu meningkatkan potensi seksual, seperti: obat kuat, jamu, asesoris, dan praktek-praktek vagina. Dan ingat ada resikonya dari tindakan secara instan dan tidak alami seperti ini. Misalnya penyuntikan silicon untuk memperbesar penis atau memaksimalkan ereksi. Cara ini justru mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan yang lebih serius seperti prostatitis atau malah penis menjadi rusak. Beberapa asesoris boleh digunakan selama hanya untuk variasi seksual asal tidak berisiko dan disetujui bersama. Ada baiknya dikonsultasikan dulu pada yang paham atau berkompeten (dokter). Beberapa aktivitas seksual dapat dipilih sebagai alternatif saat pasangan tugas keluar kota, atau sedang tidak ingin berhubungan seksual, misalnya: masturbasi, berfantasi atau telpon seks dengan pasangan sendiri. Tentu jangan coba-coba berselingkuh atau mencari pekerja seks karena tentunya infeksi menular seksual akan mengintip anda.</p>
<h2 style="text-align: justify;">Terakhir:  TIPS!</h2>
<p style="text-align: justify;">Untuk tips dari saya dan lainnya, silakan baca lebih lengkap di Intisari Edisi Healthy Sexual Life terbaru. Sangat menarik, karena juga ada beberapa tulisan dari suhu-suhu idola saya; Prof Wimpie Pangkahila dan Prof Arif Adimoelja.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-275" title="intisari" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/07/intisari-206x300.jpg" alt="intisari" width="206" height="300" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/jaga-jaga-bagi-yang-muda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Tahu Kontrasepsi, Namun Tidak Siap Menggunakannya</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-indonesia-tahu-kontrasepsi-namun-tidak-siap-menggunakannya.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-indonesia-tahu-kontrasepsi-namun-tidak-siap-menggunakannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 17:18:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[kontrasepsi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Sekali lagi, penelitian di empat kota besar Indonesia membuktikan bahwa para remaja amatlah membutuhkan pemahaman tentang seksualitas secara menyeluruh. Meski pengetahuan mereka mengenai kondom dan alat kontrasepsi lain sangat tinggi, pemakaiannya ternyata masih amat rendah. Penyebabnya adalah seks pranikah yang sering kali terjadi di luar rencana pada remaja. Begitulah hasil penelitian kuantitatif DKT Indonesia bekerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-137" title="contraception2" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/contraception2.jpg" alt="contraception2" width="334" height="279" />Sekali lagi, penelitian di empat kota besar Indonesia membuktikan bahwa para remaja amatlah membutuhkan pemahaman tentang seksualitas secara menyeluruh. Meski pengetahuan mereka mengenai kondom dan alat kontrasepsi lain sangat tinggi, pemakaiannya ternyata masih amat rendah. Penyebabnya adalah seks pranikah yang sering kali terjadi di luar rencana pada remaja. Begitulah hasil penelitian kuantitatif DKT Indonesia bekerja sama dengan Synovate Indonesia di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. Penelitian berlangsung September-Oktober 2004, mewawancarai 450 remaja berusia 15-24 tahun, dengan kuota 50 persen aktif secara seksual dan 50 persen tidak aktif. Responden juga proporsional jumlahnya antara laki-laki dan perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua pertiga responden memang mengaku bahwa hubungan seks pertama terjadi begitu saja dan hanya 37 persen remaja laki-laki yang merencanakannya. Sedangkan pada remaja perempuan, 39 persen merasa dibujuk sehingga 11 persen menyesalinya dan 10 persen merasa tertipu. Karena itu, program yang ditujukan pada remaja sebaiknya bisa membekali mereka dengan pengetahuan dan kesadaran agar siap menghadapi kemungkinan di luar rencana tersebut. Bisa jadi, pengetahuan mereka yang minim terhadap seksualitas maupun dampak dari perilaku seks berisiko-dari kehamilan sampai tertular HIV/AIDS-menjadi pemicu hubungan tanpa rencana ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Para responden ternyata juga berharap untuk mendapatkan informasi lebih banyak dari sumber yang dapat dipercaya. Soalnya, selama ini mereka lebih banyak mendapat pengetahuan tentang seksualitas dari teman (35 persen), film porno (22 persen), dan buku- buku (11 persen). Lainnya baru dari pacar, televisi, sekolah, pengalaman, maupun film di bioskop. Hanya 8 persen remaja yang merasa nyaman bicara masalah seks dengan ibunya dan tidak ada yang mengaku pernah berbicara dengan ayahnya untuk persoalan serupa. Jika mereka hanya bergantung pada informasi dari teman atau film porno saja, dikhawatirkan informasi yang diperoleh menjadi amat minim dan tidak komprehensif.Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa banyak sekali aspek kehidupan sosial remaja yang tidak diketahui sehingga perlu dilakukan lebih banyak lagi penelitian tentang perilaku seksual remaja.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-indonesia-tahu-kontrasepsi-namun-tidak-siap-menggunakannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permasalahan Kesehatan Reproduksi &amp; Seksual Remaja Bali</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/permasalahan-kesehatan-reproduksi-seksual-remaja-bali.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/permasalahan-kesehatan-reproduksi-seksual-remaja-bali.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 10:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Lebih dari seperempat masalah pacaran yang masuk ke konseling telepon lembaga KISARA PKBI Bali hasil pencatatan hingga Juli tahun 2005, berkaitan dengan aktivitas seksual remaja, dan terdapat kecenderungan mereka baru berkonsultasi setelah seksual aktif. Awal keterlibatan mereka dalam hubungan seksual pranikah sebagian disebutkan karena coba-coba dan tanpa direncanakan, karena terbawa suasana dan adanya dorongan seksual [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-117" title="kisara" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/kisara-300x155.jpg" alt="kisara" width="300" height="155" />Lebih dari seperempat masalah pacaran yang masuk ke konseling telepon lembaga KISARA PKBI Bali hasil pencatatan hingga Juli tahun 2005, berkaitan dengan aktivitas seksual remaja, dan terdapat kecenderungan mereka baru berkonsultasi setelah seksual aktif. Awal keterlibatan mereka dalam hubungan seksual pranikah sebagian disebutkan karena coba-coba dan tanpa direncanakan, karena terbawa suasana dan adanya dorongan seksual muncul karena ada pengaruh dari beberapa media pornografi yang pernah diakses.Dalam sebuah konseling tatap muka juga sempat terekam ada seorang remaja SMP kelas 2 yang sudah terpengaruh akan kebiasaan bermasturbasi yang terlalu berlebihan, awalnya kebiasaan ini pun karena coba-coba akibat ajakan dan pengaruh teman-teman sebayanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu adalah baru sebagian dari permasalan remaja yang berkaitan dengan aktivitas seksual. Belum lagi kasus-kasus kekerasan seksual, kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada remaja, aborsi remaja, pernikahan usia muda dan sejenisnya, yang nampaknya masih belum banyak diangkat secara mendalam, baru dibahas permukaannya saja, sehingga seolah-olah problem ini dianggap kasus yang semakin biasa terdengar dan tidak begitu penting untuk dikaji lebih jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Sementara menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional/ BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun. Dalam pendampingan oleh KISARA PKBI Bali, usia 10 sampai dengan 24 tahun adalah sasaran utama program komunikasi, informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi, seksual, termasuk hak reproduksi, HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba.</p>
<p style="text-align: justify;">Arus informasi melalui media masa baik berupa majalah, surat kabar, tabloid maupun media elektronik seperti radio, televisi, dan komputer, mempercepat terjadinya perubahan. Meskipun arus informasi ini menunjang berbagai sektor pembangunan, namun arus informasi ini juga melemahkan sistem sosial ekonomi yang menunjang masyarakat Indonesia. Remaja merupakan salah satu kelompok penduduk yang mudah terpengaruh oleh arus informasi baik yang negatif maupun yang positif. Perbaikan status wanita, yang terjadi lebih cepat sebagai akibat dari transisi demografi dan program keluarga berencana telah mengakibatkan meningkatnya umur kawin pertama dan bertambah besarnya proporsi remaja yang belum kawin. Hal ini adalah akibat dari makin banyaknya remaja baik laki-laki maupun perempuan yang meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dan makin banyaknya remaja yang berpartisipasi dalam pasar kerja. Panjangnya waktu dalam status lajang maupun kesempatan mempunyai penghasilan mempengaruhi remaja untuk berperilaku berisiko antara lain menjalin hubungan seksual pranikahl, minuman keras, narkoba yang dapat mengakibatkan kehamilan tidak diinginkan dan risiko reproduksi lainnya, juga tertular infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS.<span id="more-21"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BEBERAPA KAJIAN<br />
</strong><br />
Beberapa hal yang perlu disebutkan dalam kajian di sini antara lain adalah yang pertama, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada pertemuan “Gawe Bareng Remaja” April 2005 di Yogyakarta menyebutkan bahwa masalah remaja Indonesia pada intinya hampir sama, yaitu: minimnya pengetahuan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi karena terbatasnya akses informasi dan advokasi remaja, tidak adanya akses pelayanan yang ramah remaja, belum adanya kurikulum Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di sekolah, masih terbatasnya institusi di pemerintah yang menangani remaja secatra khusus dan belum ada undang-undang yang mengakomodir hak-hak remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Departemen Pendidikan Nasional dalam pertemuan dan Lokakarya Nasional Kehamilan Tidak Diinginkan di akhir Nopember 2005 lalu menyebutkan bahwa pada intinya mereka menyetujui bahwa KRR itu penting dan sudah diupayakan diberikan secara umum melalui mata pelajaran Penjaskes, IPA dan Agama, tetapi secara khusus masih dalam kuantitas yang sangat sedikit (2 jam) di Penjaskes SMA bila dilihat dari kurikulum nasional 1994. Dan disimpulkan pula bahwa sesungguhnya pendidikan KRR di sekolah masih belum berjalan. Hal ini dikarenakan ketidaksiapan tenaga pendidik, terbatasnya bahan ajar bagi guru, masih dianggap tabu dan banyaknya hambatan kultural. Sehingga perlu sekali terobosan yang dilakukan baik lewat jalur kurikuler, ekstrakurikuler maupun kegiatan khusus bekerjasama dengan lembaga lain. Lewat jalur kurikuler sudah ada pengembangan dengan diupayakan lewat kurikulum 2004 yang memasukkan materi “Sistem Reproduksi Manusia” pada mata pelajaran Biologi di kelas II SMA.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Simposium Nasional Pentingnya Pendidikan Seks buat Remaja, tahun 2002 yang lalu disebutkan juga bahwa tantangan dalam pelaksanaan program-program KRR di Indonesia, antara lain : tidak adanya aturan hukum yang mendukung.Undang-Undang Kependudukan No.10 tahun 1992 masih menyebutkan melarang pemberian informasi seksual dan pelayanan bagi orang yang belum menikah, meningkatnya angka kejadian seks pranikah, faktor-faktor demografi berupa : meningkatnya usia perkawinan, migrasi desa ke kota yang sangat cepat, perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat dari :<br />
1) break down in social and family support systems, 2) rising school enrolment at high school and university leads to separation of young people from family, 3) rising exposure to mass-media, girl/boy relationships, access to illicit materials, 4) increasing number of adolescent girls enter into sex industry for economic reasons</p>
<p style="text-align: justify;">BKKBN Propinsi Bali, dalam koordinasinya di tahun 2004 menyampaikan bahwa permasalahan KRR adalah sangat penting karena: jumlah remaja yang sangat besar dan remaja adalah aset masa depan, tetapi remaja justru berada dalam periode transisi yang penuh gejolak. Beberapa tantangan yang dihadapi di Bali adalah minimnya sarana dan prasarana, kurangnya melibatkan remaja dalam perencanaan program BKKBN dan sikap stakeholders yang masih belum kondisif, misalnya dalam diskusi tentang pendidikan KRR di sekolah maupun wacana penggunaan kondom dalam kampanye seks yang aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal penanganan HIV/AIDS yang juga tidak bisa lepas dari isu KRR, Komisi Penanggulangan AIDS daerah Bali dalam jumpa pers dalam rangka Hari AIDS Sedunia 2005 kemarin menyebutkan bahwa respon yang diberikan terhadap perkembangan kasus HIV/AIDS itu begitu lamban. Karena sebagian masyarakat kita termasuk beberapa pejabat pimpinan daerah masih menganggap HIV/AIDS belum merupakan ancaman serius. Yang kedua adalah karena masih adanya pandangan yang keliru yaitu berupa stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Semua ini bersumber dari kekurang pahaman mengenai sifat penyebaran penyakit tersebut. Upaya pencegahan dan penanggulangan yang masih diwarnai stigma dan diskriminasi akan menjadi melenceng. Bahkan cenderung melanggar HAM, merusak citra serta merugikan dan akhirnya menghambat upaya-upaya berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Bali yang didalam darahnya mengandung virus HIV kini diperkirakan sekitar 3000 orang (estimasi 2003) atau 4000 orang (estimasi 207). Mereka terutama tertular dari hubungan seks beresiko dan penggunaan jarum suntik narkoba bergantian. Mereka tersebar di seluruh Bali, meskipun masih terkonsentrasi di kota Denpasar, kabupaten Badung dan kabupaten Buleleng. Jika kita tidak berbuat apa-apa maka menurut ahli ilmu kesehatan masyarakat Prof. Dr.dr Dewa Wirawan, MPH peristiwa yang akan dialami Bali kira-kira akan sesuai dengan skenario berikut: sekitar 50% dari mereka yang saat ini HIV positif dalam kurun waktu 5 tahun akan memasuki fase AIDS. Kemungkinan sekali separuh dari pengidap AIDS itu yaitu sekitar 750 orang akan membutuhkan perawatan. Tempat tidur yang dimiliki oleh RSUP Sanglah yang merupakan pusat pelayan kesehatan rujukan saja ada sekitar 800an. Bisa jadi sebagian besarnya akan dihuni oleh pengidap AIDS. Belum lagi disusul gelombang penderita baru yang semakin banyak. Kebutuhan akan dokter, perawat, obat, alat dan sebagainya akan juga meningkat. Bahwa di Bali akan berlangsung “ngaben” massal bisa mendekati kenyataan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SEKILAS DATA<br />
</strong><br />
Survei Kesehatan Remaja Indonesia (SKRRI) 2002-2003 yang dilakukan oleh BPS menyebutkan laki-laki berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 57,5 persen dan yang berusia 15-19 tahun sebanyak 43,8 persen. Sedangkan perempuan berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 63 persen. Perempuan berusia 15-19 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 42,3 persen. Hasil SKRRI 2002-03 menunjukkan bahwa hubungan seksual sebelum menikah umumnya masih ditolak. Namun dalam kondisi tertentu penduduk usia 15-24 tahun belum menikah memberikan toleransi yang cukup besar bagi seseorang melakukan seks pra nikah, terutama jika telah merencanakan untuk menikah. Sekitar 29,6 persen diantara laki-laki berusia 15-24 tahun belum menikah yang setuju dengan seks pra nikah menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut akan menikah dan 26,5 persen menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut saling mencintai.</p>
<p style="text-align: justify;">Litdikkespro Bali pada tahun 2003 menemukan 28,6% istri dari pasangan usia subur telah hamil sebelum perkawinan. Kemudian Depkes RI pada tahun 1995/1996 melakukan survey yang menyebutkan bahwa kehamilan remaja berusia 13-19 tahun di Bali sebanyak 5%.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari bulan Agustus 2002 hingga Agustus 2003 KISARA PKBI Bali melakukan sebuah survey mengenai sikap dan prilaku pacaran dan aktivitas seksual pada siswa SMP kelas 3 hingga SMA kelas 1 (di bawah 17 tahun) di sekolah di daerah Denpasar, Badung,Tabanan dan Gianyar. Tercatat bahwa yang pernah pacaran adalah sejumlah 526 atau 23,75% dari total 2215 responden. Tidak satupun (0%) yang menyatakan bahwa hubungan seksual sebelum menikah itu boleh. Hal yang sama ditemukan pada pertanyaan apakah aktivitas petting, anal seks, oral seks diperbolehkan selama belum menikah. Yang diperbolehkan menurut responden adalah masturbasi, disebutkan oleh 44,15% responden, ciuman bibir (21,58%), cium kening/pipi (55,85). Tetapi ketika ditanyakan dengan aktivitas mana yang sudah mereka lakukan (dihitung dari yang sudah pernah pacaran), ditemukan data bahwa 2,28% sudah melakukan hubungan seksual, dan 0,57% sudah melakukan salah satu dari petting, anal seks, oral seks. Ciuman bibir sudah dilakukan oleh 13,12% responden yang sudah pernah pacaran, ciuman kening/pipi (26,24%), masturbasi dilakukan oleh 51,63% laki-laki, pada perempuan 3,32%.</p>
<p style="text-align: justify;">WHO memperkirakan 10-50% kematian ibu disebabkan oleh aborsi tergantung kondisi masing-masing negara. Diperkirakan di seluruh dunia setiap tahun dilakukan 20 juta aborsi tidak aman, 70.000 wanita meninggal akibat aborsi tidak aman dan 1 dari 8 kematian ibu disebabkan oleh aborsi tidak aman. Di wilayah Asia tenggara, WHO memperkirakan 4,2 juta aborsi dilakukan setiap tahunnya, di antaranya 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Perkiraan jumlah aborsi di Indonesia setiap tahunnya cukup beragam. Hull, Sarwono dan Widyantoro (1993) memperkirakan antara 750.000 hingga 1.000.000 atau 18 aborsi per 100 kehamilan. Sedangkan sebuah studi terbaru yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia memperkirakan angka kejadian aborsi di Indonesia per tahunnya sebesar 2 juta (Utomo dkk 2001). Aborsi yang tidak aman saat ini di Indonesia berkontribusi terhadap 30-50% Angka Kematian Ibu (AKI). Ini merupakan yang tertinggi di ASEAN.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil studi PKBI sejak tahun 2000-2003 dari 37.000 kasus KTD, ternyata 27% di antaranya belum menikah, termasuk 12,5% di natranya masih berstatus pelajar atau mahasiswa. Studi ini melibatkan 9 kota, salah satunya Denpasar. Kemudian juga studi kualitatif PKBI selama tahun 2005 lalu menyebutkan bahwa persentase KTD remaja tertinggi ada di Denpasar, Mataram dan Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">SKRRI 2002-03 mencatat bahwa 8 dari 10 penduduk berusia 15-24 tahun yang belum menikah pernah mendengar HIV/AIDS namun hanya 3 dari 10 penduduk berusia 15-24 tahun yang belum menikah yang mengetahui secara spesifik satu cara untuk menghindari atau mencegah penularan infeksi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kurun waktu yang hampir sama dari bulan Nopember 2002 – Nopember 2003, KISARA PKBI Bali juga melakukan sebuah survey di kalangan siswa SMA di Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan yang menyebutkan walaupun 66,82% dari responden bisa menyebutkan pengertian AIDS dengan benar, dan 75,95% juga benar menyebutkan penyebab AIDS, namun hanya 38,98% yang mengerti dengan baik cara penularannya. Bahkan hanya 24,32% yang bisa menyebutkan benar bahan di tubuh penderita yang bisa menularkan virus penyebab AIDS. Di samping itu juga hanya 44,77% yang bisa menjawab dengan benar apa saja cara pencegahan HIV/AIDS.</p>
<p style="text-align: justify;">Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI, melaporkan bahwa sampai dengan Juni 2005 secara komulatif jumlah pengidap infeksi HIV secara nasional sudah mencapai 3.740 orang dan kasus AIDS mencapai 3.358 orang. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta, Papua, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan Riau. Rerata komulatif kasus AIDS Nasional berdasar laporan Departemen Kesehatan RI, sampai Juni 2005 sudah mencapai 1,67 jiwa per 100.000 penduduk.</p>
<p style="text-align: justify;">Rerata komulatif kasus AIDS untuk Provinsi Bali pada laporan yang sama berada pada urutan tiga besar yaitu mencapai 2,97 kali angka nasional, setelah Papua (15,36 kali angka naional) dan DKI Jakarta (11,59 kali angka nasional). Adapun cara penularan kasus AIDS dalam skala nasional 47,2 persen melalui IDU (Injecting Drug User/Pengguna Narkoba Suntik), melalui Heteroseksual (36,4 persen) dan melalui Homoseksual (5,8 persen). Proporsi komulatif kasus AIDS tertinggi ada pada kelompok umur 20-29 tahun (53,9 persen) disusul kelompok umur 30-39 tahun (25,6 persen) dan kelompok umur 40-49 tahun (8,5 persen). Permasalahan HIV/AIDS dewasa ini menjadi semakin penting mendapat perhatian semua pihak, karena sudah merupakan ancaman serius umat manusia di dunia. Khusus untuk kondisi Provinsi Bali, berdasar pada beberapa hasil survei, sekitar 1 persen penduduk laki-laki rentan di pedesaan maupun di perkotaan sudah terinveksi HIV. Sekitar 10 persen wanita penjaja seks (WPS) dan 50 sampai 70 persen pemakai narkoba suntik (IDU) di Bali sudah terinfeksi HIV. Jumlah penduduk di Bali yang saat ini diperkirakan telah dan atau sedang terinfeksi HIV mencapai 3.000 orang, dari jumlah itu, 1.900 orang laki-laki maupun perempuan diperkirakan terinfeksi melalui penularan hubungan seksual dan 1.100 orang terinfeksi melalui pertukaran jarum suntik pemakai narkoba. Dilaporkan pula, bayi dan anak-anak juga telah dijumpai tertular HIV dari ibu yang positive HIV. Sejak 1994, kegiatan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS yang sudah dilaksanakan di Provinsi Bali lebih difokuskan pada kelompok penduduk perilaku risiko tinggi, seksual maupun IDU atau kelompok penduduk High Risk Community agar tidak terinfeksi HIV (HIV+ Poeple). Perkembangan kasus HIV/AIDS yang semakin pesat, semakin membuka pemahaman pihak-pihak terkait berupaya melakukan pencegahan dan penannggulangan secara menyeluruh dan sistematis di masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>REGULASI DAN KOMITMEN<br />
</strong><br />
Sedikit sekali munculnya perubahan regulasi maupun perkembangan yang berarti dari undang-undang maupun aturan di daerah yang pro remaja. Padahal berbagai kebijakan kesehatan reproduksi remaja di Indonesia sebenarnya mulai mengacu pada kesepakatan ICPD di Kairo, yang diselenggarakan sudah sebelas tahun yang lalu yaitu tahun 1994, di sebuah konferensi kependudukan yang melahirkan sebuah komitmen tentang pemberdayaan remaja dan pemenuhan hak-hak remaja dan hak-hak reproduksi. Salah satunya adalah tentang upaya pemberian informasi, konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi yang seluas-luasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya upaya yang paling strategis sebagai langkah awal mungkin adalah lewat berbagai deklarasi dan komitmen-komitmen yang tentunya kekuatan hukumnya masih sangat lemah. Di Bali, tahun 2004 yang lalu, berbagai elemen lembaga peduli permasalahan kesehatan reproduksi remaja berkumpul dalam acara “Ajang Ngumpul Remaja” yang menyepakati bersama dalam sebuah deklarasi berjudul “Suara Remaja” yang berupa deklarasi sebagi berikut: Kami remaja Indonesia, Kami mendesak pemerintah, legislatif, masyarakat termasuk orang tua, dan sektor swasta untuk:<br />
1) Menyediakan akses, informasi, pelayanan, pendidikan, dan perlindungan bagi kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja di sekolah maupun luar sekolah dengan mengedepankan prinsip yang bersahabat dengan remaja (komunikatif, profesional, mudah dijangkau, dan menghormati hak-hak remaja).<br />
2) Melibatkan remaja secara aktif untuk berpartisipasi dalam penyusunan, implementasi serta monitaring dan evaluasi program dan kebijakan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja.<br />
3) Melibatkan remaja secara aktif dalam proses pembahasan RUU Kependudukan tahun 2004 terutama pada pasal-pasal yang berkaitan dengan remaja.<br />
4) Mengimplementasikan dan mensosialisasikan program dan kebijakan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja secara sinergis dalam dan antar instansi, masyarakat, dan mass media.<br />
5) Mengalokasikan sumber pendanaan dan sumber daya lainnya secara proporsional untuk penyediaan informasi, pelayanan, pendidikan dan perlindungan remaja atas risiko dan dampak kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja.<br />
6) Memfasilitasi pembentukan Komisi Nasional Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Seksual Remaja yang independen yang berperan sebagai lembaga konsultatif, koordinatif serta monitoring program dan kebijakan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai pendidikan kesehatan reproduksi, di Bali ada perkembangan cukup menggembirakan dengan dimotori oleh Departemen Pendidikan Kota Denpasar bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Bali, malah sudah selangkah lebih maju dengan telah menerapkan muatan silabus kurikulum HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi yang secara tekstual menginsersi materi ini ke dalam kurikulum sekolah dan telah melatih guru-guru pengajarnya mulai kelas 1 SMP hingga kelas 2 SMA. Yang dipakai sebagai bidang studi yang terintegrasi adalah satu pelajaran saja agar bisa lebih mudah diukur dan dievaluasi secara kognitif dan afektifnya. Dalam tingkat SMP dipilih pelajaran IPA, sedangkan di tingkat SMA kelas 1 di Biologi, di kelas 2 adalah Biologi untuk yang memilih jurusan IPA dan Sosiologi untuk yang jurusan IPS. Hal ini sudah dimulai pada tahun ajaran ini. Untuk meningkatkan tingkat psikomotor siswa, telah dilakukan upaya pembentukan dan revitalisasi Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) sebagai sebuah kelompok ekstrakurikuler.</p>
<p style="text-align: justify;">Akses kepada alat kontrasepsi juga masih sangat terbatas. Beberapa macam model kampanye telah dilakukan oleh berbagai lembaga, baik LSM maupun juga pihak swasta untuk mensosialisasikan penggunaan kondom. Termasuk sempat menyediakan mesin ATM kondom kerjasama BKKBN propinsi Bali dengan PKBI daerah Bali. Tetapi angka penggunaan kondom masih rendah, yaitu sekitar 20-30%.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia terdapat sekitar 40 juta ODHA, dan setiap harinya 14.000 orang terinfeksi HIV. Dalam setiap enam detik terdapat penambahan satu kasus baru. Sehingga penghapusan pelacuran dan narkoba yang memerlukan usaha dan waktu yang sangat lama, sulit menjamin penghapusan HIV/AIDS dari muka bumi. Oleh karena itu gelombang tsunami epidemi HIV harus dicegah terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Memahami keadaan ini dan mengacu kepada Komitmen Sentani maka pada tanggal 7 Mei 2004, jajaran pimpinan daerah di Bali, menandatangani Komitmen Sanur. Komitmen Sanur mengandung delapan butir kegiatan yang harus dilaksanakan:<br />
1. meningkatkan penggunaan kondom pada setiap aktivitas seksual beresiko dengan target 60% pada akhir tahun 2005 dan menjadi 80% akhir 2007;<br />
2. meningkatkan jangkauan dan cakupan kegiatan pengurangan dampak buruk pada semua penggunaan narkoba suntik termasuk di Lapas dengan target 75% pada akhir tahun 2005;<br />
3. meningkatkan pelayanan dan dukungan yang komprehensif termasuk pemberian ARV pada setiap ODHA sekurang-kurangnya 200 orang pada akhir 2005 dan 500 orang pada akhir 2007;<br />
4. mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA;<br />
5. memperkuat dan memberdayakan peran dan fungsi KPAD Propinsi/Kabupaten/Kota di Bali;<br />
6. mengupayakan dukungan peraturan perundangan dan penganggaran untuk pelaksanaan penangulangan HIV/.AIDS;<br />
7. meningkatkan kampanye penanggulangan HIV/AIDS dengan melaksanakan pendidikan perubahan perilaku melalui semua jalur;<br />
8. menggalang keterlibatan semua komponen masyarakat baik pemerintah, lembaga non-pemerintah, kelompok maupun perorangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini di Bali telah memiliki Peraturan Daerah No.3 Tahun 2006, sebuah Perda Penanggulangan HIV/AIDS di Bali.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PROGRAM DAN RESPON DARI PEMERINTAH DAN LSM<br />
</strong><br />
Strategi program yang bisa dikembangkan dalam program KRR adalah beberapa hal berupa: mengembangkan seluas-luasnya pusat informasi dan pelayanan remaja yang ramah remaja, mengembangkan media informasi dan pendidikan, mengintegrasikan program remaja ke dalam program pencegahan HIV/AIDS dan IMS, memperkuat jaringan dan sistem rujukan ke pusat pelayanan kesehatan yang relevan, memperkuat pelayanan dan informasi bagi remaja termasuk meningkatkan perlindungan bagi remaja putri dan anak-anak untuk menghindari segala upaya eksploitasi dan kekerasan anak dan remaja. Juga melaksanakan penelitian atau riset tentang KRR dan kebijakan hak-hak reproduksi remaja, melatih orang tua dan guru tentang KRR dan hak-hak reproduksi remaja, meningkatkan kapasitas staf dan relawan youth center untuk memberikan pelayanan ramah remaja dan mengembangkan advokasi dengan isu pemenuhan hak-hak reproduksi remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pihak pemerintah, yang mendapatkan porsi cukup besar menyelenggarakan program KRR ini adalah BKKBN dan Biro BKPP setda Bali, serta beberapa dinas terkait juga ada mengambil beberapa program yang juga menyasar permasalahan kesehatan reproduksi, misalnya Dinas Pendidikan &amp; Kebudayaan dan Dinas Kesehatan. BKKBN menggunakan strategi pelaksanaan program berupa kemitraan yang sejajar dengan lembaga swadaya masyarakat dan organisasi kemanusiaan lainnya BKKBN saat ini mengembangkan empat pendekatan: institusi keluarga, kelompok remaja sebaya, institusi sekolah, dan tempat kerja Kebijakan yang dilaksanakan ke depan adalah peningkatan promosi KRR, peningkatan advokasi KRR, pengembangan KIE, peningkatan konseling KRR, peningkatan dukungan pelayanan bagi remaja dengan masalah khusus, peningkatan dukungan bagi kegiatan remaja yang positif. Melaui strategi: kemitraan dan pemberdayaan remaja Dengan beberapa pencapaian BKKBN propinsi Bali berupa kemitraan dengan LSM dalam bentuk PIK-KRR, pembinaan kelompok keluarga peduli remaja, bermitra dalam pembinaan kelompok remaja, pelatihan remaja dan orang tua sebagai fasilitator program KRR.</p>
<p style="text-align: justify;">Departemen Pendidikan Kota Denpasar sudah menerapkan muatan silabus kurikulum HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi di sekolah. Juga telah melakukan pembentukan dan revitalisasi Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) sebagai sebuah kelompok ekstrakurikuler termasuk pembentukan forum guru pembinanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara sekilas juga bisa disampaikan bahwa untuk wilayah Propinsi Bali, upaya sosialisasi kegiatan kesehatan reproduksi masih dimotori oleh LSM PKBI Daerah Bali, dengan tulang punggungnya adalah KISARA untuk program KRR nya sejak tahun 1994. KISARA PKBI Bali juga berkontribusi dalam memposisikan salah satu relawannya sebagai salah satu anggota dari 20 anggota Indonesia Youth Partnership (IYP), yang merupakan relawan remaja yang diposisikan sebagai advokat remaja. Yang agendanya adalah membahas isu KRR local ke level nasional dan membahasnya bersama dengan pihak legislative langsung (DPR).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa jaringan kerjasama antar lembaga juga dikembangkan di Bali antar LSM yang sama-sama bergerak di bidang kesehatan reproduksi, seksualitas, AIDS dan narkoba. Di samping PKBI dan KISARA juga ada Yayasan Sehati dan Yayasan Rama Sesana yang berkonsentrasi di pendampingan kesehatan reproduksi perempuan, Yayasan Kerti Praja dan Yayasan Citra Usadha di pendampingan pencegahan IMS dan HIV/AIDS pada kalangan berisiko tinggi, Baliplus di pemberian dukungan terhadap ODHA. Kemudian ada Yakeba, Yayasan hati-hati dan Matahati yang bergerak di pendampingan pecandu narkoba dan harm reduction (upaya mengurangi dampak buruk penggunaan narkoba suntik), Yakita dan Yayasan Bali Nurani di bidang rehabilitasi pecandu narkoba, Kelompok Tunjung Putih yang melakukan pembinaan terhadap ODHA perempuan dan juga beberapa lembaga pendampingan terhadap kasus pelecehan dan kekerasan perempuan seperti Bali Sruti dan LBH Bali. Dari sektor swasta juga telah terbentuk sebuah komunitas peduli HIV/AIDS dan beasiswa kepada anak ODHA yang bernama Bali Community Cares (BCC), yang saat ini tengah memproduksi film HIV/AIDS remaja bersama KISARA berjudul “3 Ruang” yang akan menjadi salah satu media utama kampanye HIV/AIDS di Bali tahun 2006.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LIFE SKILL<br />
</strong><br />
KKBN menyebutkan tantangan mereka adalah kurangnya upaya pelibatan dan pemberdayaan remaja sejak dari mulainya perencanaan program, dan beberapa kegiatan yang sifatnya meningkatkan kemampuan psikomotor juga dari instatnsi pemerintah secara umum di materi kesehatan reproduksi masih sangat kurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendekatan yang sudah berjalan cukup lama justru dilakukan oleh beberapa LSM dengan mengikutsertakan remaja dan siswa sekolah dalam kegiatannya. Sejak tahun 1994 KISARA PKBI Bali melakukan pemberdayaan di bidang kesehatan reproduksi dan pengembangan life skill dengan merekrut langsung remaja sebagai relawan remaja, yang selanjutnya diberdayakan lewat berbagai pelatihan remaja. Atau juga dengan mengundang remaja sekolah ikut dalam beberapa pelatihan tersebut. Sejak dua tahun belakangan ini juga UNICEF ikut memberdayakan remaja lewat program Muda Berdaya yang dijalani oleh Yakita, tetapi masih terbatas di pendampingan akan bahaya narkoba. BKKBN propinsi Bali juga mulai tahun ini mengembangkan pendidik sebaya berlabel PIK-KRR di masing-masing kabupaten yang ada di Bali yang muatan juga di samping pemberdayaan pendidik sebaya, juga ada muatan pemberian life skill di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang cukup menarik adalah revitalisasi KSPAN oleh Dinas Pendidikan Kota Denpasar bekerjasama dengan KPA propinsi Bali. KSPAN awalnya dibentuk di masing-masing sekolah di tingkat SMP dan SMA di Denpasar, sebagai sebuah kelompok ekstrakurikuler. KSPAN diharapkan sebagai jembatan untuk upaya penyeimbang materi HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi yang telah diberikan dalam kurikulum terintegrasi yang sifatnya meningkatkan kognitif dan afektif saja, sedangkan KSPAN adalah upaya menmingkatkan kemampuan psikomotornya, dan materi-materi life skill akan banyak diinsersi di kelompok ini. Saat ini di Denpasar sudah terbentuk Forum Guru Pembina KSPA tingkat SMP dan SMA. Revitalisasi KSPAN ini sekarang sudah dilakukan di seluruh kabupaten di Bali.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PROGRAM DAKU YANG DISUPPORT WPF<br />
</strong><br />
Salah satu bentuk upaya melakukan sosialisasi dan pemberdayaan remaja sekolah dalam hal penyadaran hak-hak reproduksi dan seksualitasnya adalah lewat program edukasi berbasiskan teknologi informatika dalam kemasan CD-ROM dengan program flash, bernama DAKU! (Dunia Remajaku, Seru!). Program ini disupport sepenuhnya oleh World Population Foundation (WPF). Modul DAKU! merupakan panduan bagi remaja dalam proses mengembangkan citra diri yang realistis, rasa percaya diri, menerima perubahan saat pubertas, memahami peranan jender untuk menjadi lebih mandiri, membina hubungan, memiliki keputusan mengenai aktivitas kegiatan seksual, dan kemampuan bernegosiasi untuk tidak melakukan hubungan seksual atau berperilaku yang aman. Modul ini memandu remaja dan mendukung usaha untuk mencegah terjadinya Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS. Pelajaran terakhir pada modul adalah membahas masalah kesehatan reproduksi dan seksual serta dampaknya; misalnya membantu remaja menghadapinya dan mencari dukungan untuk masalah kesehatan reproduksi/seksual; memahami, menghindari dan menangani pelecehan dan kekerasan seksual. DAKU! sangat tepat dan cocok untuk dilaksanakan di Bali, khususnya di Denpasar. Program ini diadaptasi dari program World Starts With Me (WSWM) yang dimulai di Uganda, bersama yayasan Pelita Ilmu (YPI), program WSWM ini diadaptasi menjadi DAKU! di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Bali, sekolah yang telah bisa bekerjasama untuk melaksanakan program DAKU! ini adalah SMA 4 Denpasar, SMA 2 Denpasar dan SMA 3 Denpasar. Dengan pertimbangan secara teknis mereka juga sudah lebih siap dibanding sekolah lainnya. Ketiga sekolah ini sudah menyeleksi dan merekomendasikan 3 orang gurunya untuk bisa terlibat di program DAKU! ini dan telah bersedia bekerja sama dalam pelaksanaan DAKU! sebagai guru-guru yang bisa mengajarkan permasalahan kesehatan reproduksi dan seksualitas kepada siswanya. Untuk tahun ajaran baru ini ada 6 sekolah baru yang bergabung ikut menyelenggarakan program DAKU! yaitu SMA 1 Denpasar, SMA 5 Denpasar, SMA Saraswati, SMA Kertha Wisata, SMKTI Global dan Sekolah Dyatmika. Bahkan Sekolah Dyatmika sepakat menjalankan program ini sebagai program intrakurikuler penuh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LAINNYA<br />
</strong><br />
Dalam waktu dekat juga telah dimunculkan kegiatan pendukung untuk bisa menampung aktivitas remaja, memberikan akses informasi dan pelayanan kepada permasalahan remaja yang akan didukung oleh Ford Foundation dalam bentuk wadah Integrated Youth Center (IYC), yang konsepnya segera dicobakan lewat KISARA PKBI Bali dengan dukungan teknis dari Bali Youth Foundation (BYF).</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/permasalahan-kesehatan-reproduksi-seksual-remaja-bali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja dan Perubahan Biopsikososial</title>
		<link>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-dan-perubahan-biopsikososial.html</link>
		<comments>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-dan-perubahan-biopsikososial.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 10:50:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Istilah ini menunjuk masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita. Batasan remaja dalam hal ini adalah usia 10 tahun s/d 19 tahun menurut klasifikasi World Health Organization (WHO). Sementara United Nations (UN) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-115" title="05-07-puberty" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/05-07-puberty-300x278.jpg" alt="05-07-puberty" width="300" height="278" />Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Istilah ini menunjuk masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita. Batasan remaja dalam hal ini adalah usia 10 tahun s/d 19 tahun menurut klasifikasi World Health Organization (WHO). Sementara United Nations (UN) atau PBB menyebutnya sebagai anak muda (youth) untuk usia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam batasan kaum muda (young people) yang mencakup usia 10-24 tahun. Transisi ke masa dewasa bervariasi dari satu budaya kebudayaan lain, namun secara umum didefinisikan sebagai waktu dimana individu mulai bertindak terlepas dari orang tua mereka. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja</p>
<p style="text-align: justify;">Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran &amp; sistem reproduksi (Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan, 1994). Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.</p>
<p style="text-align: justify;">Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. Proses reproduksi merupakan proses melanjutkan keturunan yang menjadi tanggung jawab bersama laki-laki maupun perempuan. Karena itu baik laki-laki maupun perempuan harus tahu dan mengerti mengenai berbagai aspek kesehatan reproduksi. Beberapa pengetahuan dasar yang perlu diberikan kepada remaja agar remaja mempunyai kesehatan reproduksi yang baik adalah pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja) termasuk di dalamnya adalah mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginannya dan pasangannya, bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi, pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual remaja, kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya, hak-hak reproduksi serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif atau belum boleh dilakukan sebelum waktunya.<span id="more-27"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa Yang Berubah Pada Remaja?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Karena merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa, tentunya masa remaja identik dengan berbagai perubahan. Perubahan apa yang banyak dialami remaja? Perubahan tersebut meliputi perubahan fisik, baik yang bisa dilihat dari luar maupun yang tidak kelihatan. Remaja juga mengalami perubahan psikis yang kemudian tercermin dalam sikap dan tingkah laku. Ini erat kaitannya dengan perubahan dari sisi sosial dan prilaku sejalan perkembangan kepribadiannya yang dipengaruhi tidak saja oleh orangtua dan lingkungan keluarga, tetapi juga lingkungan sekolah, ataupun teman-teman pergaulan di luar sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Perubahan Fisik</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan-perubahan yang paling mudah untuk dimati terjadi pada remaja sebenarnya adalah perubahan fisiknya, yang secara seksual perubahan ini dibedakan lagi dalam menentukan ciri seks primer dan sekundernya. Ciri seks primer adalah tanda atau perubahan yang menentukan sudah mulai berfungsi optimalnya organ reproduksi pada manusia. Sedangkan ciri seks sekunder adalah perubahan-perubahan yang menyertai ciri seks primer yang terlihat dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks primer laki-laki:<br />
Mimpi basah</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks primer perempuan:<br />
Menstruasi</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks sekunder laki-laki:<br />
Tubuh bertambah berat dan tinggi<br />
Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang<br />
Tangan dan kaki bertambah besar<br />
Pundak dan dada bertambah besar dan bidang<br />
Otot menguat<br />
Tulang wajah memanjang dan membesar, tidak tampak seperti anak kecil lagi<br />
Tumbuh jakun<br />
Tumbuh rambut-rambut di ketiak, sekitar muka dan sekitar kemaluan<br />
Penis dan buah zakar membesar<br />
Suara menjadi besar<br />
Keringat bertambah banyak<br />
Kulit dan rambut mulai berminyak</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan fisik sebagai tanda ciri seks primer perempuan:<br />
Tubuh bertambah berat dan tinggi dengan bentuk tumbuh berlekuk<br />
Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang<br />
Tangan dan kaki bertambah besar<br />
Tumbuh payudara<br />
Putting menonjol keluar<br />
Pantat berkembang lebih besar<br />
Tulang wajah memanjang dan membesar, tidak tampak seperti anak kecil lagi<br />
Tumbuh rambut-rambut di ketiak dan kemaluan<br />
Vagina mulai mengeluarkan cairan<br />
Keringat bertambah banyak<br />
Kulit dan rambut mulai berminyak</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejak lahir. Perubahan yang cukup menyolok terjadi ketika remaja baik perempuan dan laki-laki memasuki usia antara 9 sampai 15 tahun, pada saat itu mereka tidak hanya tubuh menjadi lebih tinggi dan lebih besar saja, tetapi terjadi juga perubahan-perubahan di dalam tubuh yang memungkinkan untuk bereproduksi atau berketurunan. Aktivitas kelenjar pituitari pada saat ini berakibat dalam sekresi hormon yang meningkat, dengan efek fisiologis yang tersebar luas. Hormon pertumbuhan memproduksi dorongan pertumbuhan yang cepat, yang membawa tubuh mendekati tinggi dan berat dewasanya dalam sekitar dua tahun. Dorongan pertumbuhan terjadi lebih awal pada perempuan daripada laki-laki, juga menandakan bahwa perempuan lebih dahulu matang secara seksual daripada laki-laki.<br />
Perubahan dari masa anak-anak menuju masa dewasa atau sering dikenal dengan istilah masa pubertas ditandai dengan datangnya menstruasi (pada perempuan) atau mimpi basah (pada laki-laki). Datangnya menstruasi dan mimpi basah pertama tidak sama pada setiap orang. Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Salah satunya adalah karena gizi. Saat ini ada seoran anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama (menarche) di usia 8-9 tahun. Namun pada umumnya sekitar 12 tahun.<br />
Hormon-hormon utama yang mengatur perubahan ini adalah testosteron pada laki-laki dan estrogen pada perempuan, zat-zat yang juga dihubungkan dengan penampilan ciri-ciri seksual sekunder: rambut wajah, tubuh, dan kelamin dan suara yang mendalam pada laki-laki; rambut tubuh dan kelamin, pembesaran payudara, dan pinggul lebih lebar pada perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa itu mimpi basah?</strong><br />
Remaja laki-laki memproduksi sperma setiap harinya. Sperma tidak harus selalu dikeluarkan, ia akan diserap oleh tubuh dan dikeluarkan melalui cairan keringat, kotoran cair dan kotoran padat. Sperma bisa dikeluarkan melalui proses yang disebut ejakulasi, yaitu keluarnya sperma melalui penis. Ejakulasi bisa terjadi secara alami (tidak disadari oleh remaja laki-laki) melalui mimpi basah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana proses terjadinya menstruasi?</strong><br />
Menstruasi terjadi karena sel telur yang diproduksi indung telur tidak dibuahi oleh sel sperma dalam rahim. Sel telur tersebut menempel pada dinding rahim dan selanjutnya rahim akan membentuk lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah, kemudian menipis dan luruh keluar melalui mulut rahim dan vagina dalam bentuk darah, yang biasanya terjadi selama 3-7 hari. Jarak antara satu haid dengan haid berikutnya tidak sama pada setiap orang. Adakalanya 21 hari atau bisa juga 35 hari.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kapan masa subur terjadi?</strong><br />
Masa subur adalah masa dimana terjadinya pelepasan sel telur pada perempuan. Titik puncak kesuburan terjadi pada hari ke 14 sebelum masa menstruasi berikutnya. Tetapi tanggal menstruasi berikutnya sering kali tidak pasti pada remaja. Biasanya diambil perkiraan masa subur 2-3 hari sebelum dan sesudah hari ke 14 tersebut. Pada masa remaja pencegahan kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seksual pada masa subur (sistem kalender), tidak dapat diandalkan. Ini disebabkab siklus mentruasi pada remaja perempuan biasanya tidak teratur.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa pengaruh dan manfaat hormon estrogen pada anak perempuan?</strong><br />
Hormon ini membuat seorang anak perempuan memiliki sifat kewanitaan setelah remaja. Hormon estrogen mempunyai beberapa khasiat, dia dapat merangsang pertumbuhan kelenjar susu di payudara sehingga payudara membesar. Juga merangsang pertumbuhan saluran telur, rongga rahim dan vagina sehingga membesar. Di vagina, estrogen membuat dinding kian tebal dan cairan vagina bertambah banyak. Estrogen juga dapat mengakibatkan tertimbunnya lemak di daerah panggul perempuan, tetapi juga dapat memperlambat pertumbuhan tubuh yang semula sudah dirangsang oleh kelenjar bawah otak. Itulah sebabnya mengapa perempuan dewasa tidak setinggi anak laki-laki sebayanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Selain estrogen hormon apalagi yang dominan pada tubuh anak perempuan?</strong><br />
Selain estrogen, hormon seks utama lain dari seorang wanita adalah progesteron, yang khasiatnya bermacam-macam tetapi efeknya yang utama adalah melemaskan otot-otot halus, meningkatkan produksi zat lemak di kulit dan meningkatkan suhu badan. Efek progesteron yang terpenting ialah pada rahim. Ia mempertebal dinding di dalam rahim dan merangsang kelenjar-kelenjar agar mengeluarkan cairan pemupuk bagi sel telur yang dibuahi. Dengan demikian sel telur yang sudah dibuahi akan terpelihara selama mencoba memperkuat kedudukannya di dinding rahim.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa pengaruh dan manfaat hormon testosteron pada remaja laki-laki?</strong><br />
Hormon testosteron yang dihasilkan oleh testis. Hormon-hormon seks ini ada di dalam darah dan mempengaruhi alat-alat dalam tubuh serta menyebabkan terjadinya beberapa pertumbuhan seks primer. Hormon testosteron bersama hormon anak ginjal menimbulkan ciri-ciri pertumbuhan seks sekunder.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena di masa puber hormon-hormon seksual berkembang dengan pesat, ini membuat remaja sangat mudah terangsang secara seksual. Pada laki-laki, dorongan seks yang muncul akan menyebabkan sebuah reaksi berupa mengerasnya penis. Reaksi ini dikenal dengan istilah ereksi. Namun demikian, karena belum stabilnya hormon di dalam tubuh, ereksi bisa muncul tanpa adanya rangsangan seksual. Kondisi yang sering kali muncul secara tak terduga ini bisa membuat remaja laki-laki salah tingkah dan kebingungan menyembunyikan tonjolan di celana gara-gara ereksi tadi. Secara umum perubahan fisik baik pada remaja perempuan maupun remaja laki-laki akan berhenti pada usia sekitar 20 tahun, yang berakibat pada remaja selain tubuh tidak akan bertambah tinggi, payudara tidak akan membesar lagi, dan panggul tidak akan bertambah lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Perubahan Psikis, Sosial dan Prilaku</p>
<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan perkembangan fisiknya, pada masa remaja juga akan terlihat jelas berbagai perubahan yang menyangkut aspek psikis, sosial dan prilakunya. Pada masa ini mulai muncul kebutuhan akan privasi, keintiman dan ekspresi erotik. Ditandai dengan mulai tumbuh ketertarikan pada lawan jenisnya dan keinginan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan lawan jenisnya. Beberapa perubahan yang bisa diamati adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">Emosi yang mudah berubah (antara sedih, marah, senang, takut)<br />
Rasa ingin tahu dan ingin mencoba besar<br />
Rasa ingin dihargai dan diakui kedewasaannya<br />
Lebih percaya dan mudah terpengaruhi oleh teman sebaya<br />
Merasa mampu bertanggung jawab dan mulai berani mengambil resiko<br />
Lebih kritis dan ingin menuntut keadilan<br />
Menjadi lebih sensitif<br />
Timbul perhatian pada lawan jenis sehingga suka memperhatikan penampilan<br />
Ingin diperhatikan dan disayang<br />
Dll</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya secara emosional remaja bergerak ke arah ingin mandiri lepas dari orang tua atau mereka yang lebih tua dan membentuk hubungan dan minat yang baru. Apakah perubahan ini dapat dilalui dengan mudah? Tentu saja tidak, karenanya masa ini juga disebut dengan masa pancaroba yaitu di mana seorang remaja mulai menyesuaikan sikapnya sebagai orang dewasa karena adanya perubahan pada tubuhnya serta bertambahnya pengetahuan (baik yang benar maupun yang keliru) tentang dirinya. Kesemuanya ini bisa menimbulkan konflik diri, di satu sisi seorang remaja menikmati perubahan yang terjadi pada tubuhnya, namun di sisi lain ia merasa takut dan ragu apakah yang dialaminya itu juga dialami oleh orang lain. Remaja biasanya bertanya-tanya: “Ini normal atau tidak…..?”, “Apakah orang lain merasakan hal yang sama…?”</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian besar remaja mampu menyesuaikan diri tanpa mendapatkan kesulitan apa-apa. Tetapi selama masa penyesuaian remaja akan bersikap irasional, mudah tersinggung dan sulit dimengerti. Hal ini karena adanya konflik dalam dirinya, frustrasi, kebimbangan dan bahkan mungkin keputusasaan. Tugas psikososial remaja adalah untuk tumbuh dari orang yang tergantung menjadi orang yang tidak tergantung, yang identitasnya memungkinkan orang tersebut berhubungan dengan lainnya dalam gaya dewasa. Kehadiran problem emosional bervariasi antara setiap remaja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengapa Perubahan-Perubahan Tersebut Perlu Diketahui Oleh Remaja?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketidaktahuan remaja mengenai apa yang terjadi pada dirinya dan mengapa hal itu terjadi dapat menimbulkan rasa cemas dan malu. Mereka akan bertanya-tanya apakah perubahan itu merupakan suatu hal yang normal, apakah semua orang mengalaminya, apa yang harus mereka lakukan dengan perubahan itu. Pada remaja perempuan, umumnya belajar dan tahu tentang menstruasi dari ibunya. Sayangnya tidak semua orang tua memberikan informasi yang memadai kepada putrinya dan sebagian bahkan beranggapan tabu membicarakan hal tersebut kepada putrinya. Akibatnya remaja putri menjadi cemas dan berkeyakinan bahwa menstruasi itu sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuat dirinya kotor. Khususnya jika remaja putri tersebut mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan menjelang dan selama ia menstruasi seperti merasa tidak enak badan, pusing-pusing, perut kembung, letih atau mudah tersinggung. Dibandingkan dengan remaja putri, pengalaman mengalami mimpi basah pada laki-laki sebagian besar tidak menimbulkan kecemasan yang tinggi, karena tidak diperlukan perawatan ekstra seperti menstruasi pada remaja putri.</p>
<p style="text-align: justify;">Remaja perlu mengetahui perubahan-perubahan ini juga agar mereka mampu mengendalikan perilakunya. Remaja harus mengerti bahwa begitu dia mendapatkan menstruasi atau mimpi basah maka secara fisik dia telah siap dihamili atau menghamili. Bisa hamil atau tidaknya remaja putri bila melakukan hubungan seksual tidak tergantung pada berapa kali dia melakukan hubungan seksual tetapi tergantung pada kapan dia melakukan hubungan seksual (dikaitkan dengan siklus kesuburan) dan apakah sistem reproduksinya berfungsi dengan baik. Banyak remaja yang tidak mengetahui akan hal ini, sehingga mereka menyangka bahwa untuk hamil orang harus terlebih dahulu melakukan hubungan seksual berkali-kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dengan adanya perubahan-perubahan tersebut maka remaja, baik laki-laki maupun perempuan perlu memperhatikan kebersihan tubuh secara lebih seksama. Remaja perempuan terutama lebih perlu memperhatikan kebersihan sekitar vagina agar tidak terjadi bau yang tidak sedap dan infeksi. Remaja laki-laki perlu secara teratur mencukur bulu-bulu disekitar wajah serta mencegah bau badan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/remaja-dan-perubahan-biopsikososial.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

