Seharian Tujuhbelasan; Dari Sejuknya Siang di Bangli ke Panasnya Malam di Kuta.

Memang berbeda bila merayakan tujuh belas agustusan di Bali dengan saat masa kecil saya di Bogor. Sangat berbeda. Di Bali terasa jauh dari kemeriahan. Bahkan nuansa merah putih juga tidak terlalu nampak semarak. Lebih banyak hanya seremonial. Jarang sekali terlihat ada lomba menghias gapura desa, pintu gerbang gang, sepeda hias hingga lomba-lomba khas tujuh belasan. Ya, seperti panjat pinang, lari karung, makan krupuk, sejenis itu. Tetapi tentu saja ukuran nasionalisme tidak bisa dilihat dari sini. Sama sekali bukan ukuran. Hanya saja, ya itu tadi. Memang berbeda. Terasa sekali. Tetapi tentu saja merayakan kemerdekaan Indonesia bisa dilakukan dalam ragam cara. Yang paling penting bagaimana memberi makna kemerdekaan. Sangat absurd jawabnya bagi sebuah kepentingan kolektif bangsa saat ini. Tetapi sangat banyak ragam jawaban bila dijawab satu persatu oleh masing-masing orang, terlebih kita yang tidak pernah berjuang secara fisik untuk mendapatkan kemerdekaan bangsa.

Kali ini saya ingin mencoba suasana lain untuk merayakan tujuh belasan yang ke-enam puluh tiga. Kalau atribut merah putih sih sudah cukup lama terpasang di kendaraan kesayangan saya, si Indigo. Saya personifikasi dan panggil Indigo, karena warnanya rada biru indigo. Sepasang bendera merah putih kecil dan gantungan merah putih terpasang sejak sebulan lalu menggantikan gantungan Jingjing, salah satu maskot Olimpiade Beijing.

Terus, suasana lain yang bagaimana maksudnya? Maunya seharian penuh mengikuti beberapa acara yang ada nuansa tujuh belasannya. Kebetulan memang ada beberapa kegiatan yang bisa diikuti. Hari ini bakal ngacir lebih awal dari jaga klinik buat siap-siap Goes To RSJ Bangli. Bakalan menghabiskan siang di Bangli yang sejuk. Terus sorenya rapat koordinasi sebentar di Kisara, karena koordinator Kisara baru balik dari seminggu kursus seksualitas di Surabaya. Dan malamnya menghabiskan hari di panasnya geliat dan keringat di Center Stage Hard Rock Hotel. Citra, salah satu kru Hard Rock Hotel bilang ada acara seru di sini. Mereka juga merayakan kemerdekaan dengan cara berbeda. Sekali lagi semuanya berusaha merayakan hari kebebasan dengan cara masing-masing. Asik buat disimak dan diikuti. Tentu tiap orang juga, sekali lagi, berhak memaknai kemerdekaan dengan pandangan sendiri yang bisa berbeda dengan yang lain.

Yang menjadi menarik seharian ini, ternyata tidak semuanya berjalan sesuai dengan bayangan yang ada di kepala. Pastinya ini akan menjadi sekumpulan cerita bermakna.

PERHATIAN: Harap siapkan dengan baik nafas, konsentrasi dan tenaga Anda membaca postingan ini, terutama genk Bali Blogger, karena bisa jadi bakal capek, melelahkan dan panjangg sekali. Saya sudah peringatkan sebelumnya. Jangan-jangan setelah membaca postingan ini, semua gejala awal schizophrenia segera muncul, dan membuat minat kembali ke Bangli muncul kembali. Kali ini bukan kunjungan, tetapi mengisi kamar yang masih kosong.

BBC Goes To RSJ Bangli. Part One: Yuk Pada Ngumpul Dulu…Eh, Ternyata Banyak Yang Tidak Kenal!

Pagi itu segera ke Gatot Subroto IV/6 Denpasar. Salah satu kantor saya, Kisara PKBI Bali, tempat ngumpul untuk berangkat bareng. Saya sudah tebak beberapa orang akan kesulitan mencari alamatnya, walaupun gedungnya besar dan bertingkat tiga. Ini karena papan nama Kisara tidak terpasang. Dan memang karena ada tambahan program dari Ford Foundation, akan ada tambahan label akan dimunculkan di papan nama yang baru, yang akan segera dipasang. Acara pagi itu adalah acara utama tujuh belasan bagi saya. Tentu juga bagi teman-teman di Bali Blogger Community (BBC). Apalagi ini kali pertama saya bisa ikut langsung kumpul beramai-ramai. Tentu akan banyak yang baru saya kenal. Atas ide setengah gila dari seorang blogger yang bisa jadi rada gila (atau sempat gila, hehe..piss) mister Saylow, didukung komandan tempur Anton, dipilih agenda melakukan kegiatan sosial ke Rumah Sakit Jiwa Bangli yang sangat terkenal itu. Saya ulangi, ke Rumah Sakit Jiwa Bangli. Oke, biar makin jelas: Rumah Sakit Jiwa Bangli. Dan ide ini rupanya sangat spektakuler, terbukti lolos tanpa perlawanan dan langsung jadi. Sah. Aklamasi! (andaikan memilih presiden bisa seperti ini). Dan ini sudah sejak jauh hari disosialisasikan. Dek Didi yang aslinya berasal dari Kintamani, Bangli, akhirnya paling berperan membantu koordinasi dengan RSJ.

Bila melihat respon yang muncul online, apa yang saya duga bahwa bakal banyak yang ikut ternyata benar. Ngumpul yang direncanakan jam delapan tiga puluh, seperti biasa, pada ngaret. Mendekati jam delapan tiga puluh baru nampak muncul Artha, blogger yang pengajar di Wearnes (bersama siswanya Aji), juga ada Yudi, dan beberapa teman lain. Yang semuanya baru ketemuan offline. Terus nyusul Putri dan temannya sesama mahasiswi Fakultas Kedokteran. Terus, ada pak dosen Wira, bersama pacar dan juga ngajak sang seleb Fenny. Juga Nisa. Terus, tambah banyak, terus tambah banyak lagi, hingga ramai sekali. Akhirnya bisa juga bertemu Devari yang baru datang dari Karibia, Arie dan Bli Yanuar, Novan Kojaque, Sakti Soe dengan armada racun kameranya, dll. Tapi memang, walau sudah sering bertemu online, ternyata masih banyak yang belum kenal, dan banyak yang pendiam (asli atau jaim?), tidak seperti ramai saat di blog. Kalau dengan mas Hendra, Yos, Ike, Saylow, Gus Tulank, Anton, Lode, Mbak Wasti sih sudah kenal. Yang lainnya masih belum. Beberapa lagi nanti ketemu langsung di RSJ. Banyak yang tidak sesuai bayangan saya. Terus terang, banyak juga yang aneh-aneh walau tentu saja ini bakal jadi sesuatu yang menyenangkan. Here we are, BBC Goes To RSJ Bangli. For Sure. Dengan berkaos marun yang keren. Thanks Saylow for design.

BBC Goes to RSJ. Part Two; Mitos Bertiga. Di Saat Yang Lain Gembira, Malah Dapat Sial Pertama, Ban Pecah!

Berangkatlah mengikuti acara BBC Goes To RSJ Bangli. Sekitar setengah sepuluh. Telat hampir satu jam karena menunggu baju dan barang-barang sumbangan. Ternyata jumlah yang terkumpul banyak juga. Sekalian berganti baju kaos di Kisara. Kami berangkat sama si Indigo. Dia yang selalu setia mengantar saya bekerja selama ini. Yang ikut numpang di Indigo ada saya, Anton junior dan Ekayani. Yang lain sudah pada ikut rombongan masing-masing. Sebagian lagi berangkat riding their own bike supaya bisa leluasa saat pulang. Jalanan Gatot Subroto Empat tiba-tiba saja menjadi ramai. Konvoi BBC. So,bertigalah kami mengikuti rombongan lain di perjalanan.

Bertiga? Sempat mikir mitos ketidak beruntungan, karena dulu pernah kena sial. Ah, sudahlah, Greenday juga bertiga. Ngetop habis malahan. The Police, A-Ha, juga bertiga. Mereka sukses dan aman-aman saja. Wait the second, Blink 182 juga bertiga dan bubar. Terus Nirvana juga bertiga dan si Kurt ketiban sial. Ups, sudah lah, kan mereka ngetopnya pas bertiga toh.

Di jalan lancar-lancar saja awalnya. Malah sempat bersalip-salipan dengan yang lain. Saya sengaja tidak ambil jalur By Pass IB Mantra, karena masih males kalau ingat-ingat lagi kejadian yang lalu saat lewat By Pass. Ambil jalur dalam kota saja. Dan ternyata memang lebih banyak yang ambil jalan kota. Blogger BBC yang riding the bike sempat saya lihat berhenti di jalur By Pass Blahbatuh yang motong jalan ke kota Gianyar. Mungkin nunggu teman yang lain. Terus AVP hitam yang dinaikin Saylow, Ike, dll juga sempat berhenti begitu sudah masuk Bangli. Mungkin foto-fotoan. Dan kami sudah mulai merasakan sejuknya Bangli padahal jam sudah mendekati jam sebelas. Rupanya mendung juga membuat suasana bertambah sejuk. Tetapi, mendekati pusat pemerintahan Bangli, Indigo tiba-tiba bergoyang. Stir maunya ke kanan saja. Waduh, jangan-jangan ada masalah dengan stirnya. Indigo padahal sudah dicek mesin dan bannya sejak 2 hari lalu. Ada apa nih?

Persis satu kilo mendekati tujuan, di pertigaan menuju Jalan Ngurah Rai Bangli ada tanda dilarang masuk, kami harus putar haluan ke kiri, karena jalur utama dipakai serangkaian upacara bendera HUT RI. Dua orang polisi berjaga dan menunjuk ke arah ban depan kanan. Kempes katanya. Syukurlah. Lho? Iya. Itu artinya bukan masalah stir. Kalau stir biasanya ribet. Tapi, tentu saja perjalanan ini bakal menjadi terganggu juga. Pfiuhh. Sial. Apa ini karena mitos bertiga itu ya. Haha. Mikirnya jadi klenik begini. Indigo terpaksa dipaksain masuk RSJ dulu karena sudah dekat. Bengkel urusan nanti. Ketemu teman-teman semua dulu. Dan ternyata memang, bannya kempes habis. Bisa jadi sobek. Sial.

BBC Goes to RSJ. Part Three; Sial Berlanjut. Cerita Masa Lalu di RSJ.

Berkumpullah kami semua. Bali Blogger Community (BBC) di RSJ Bangli. Suasana mendung dan hujan rintik-rintik. Bagi saya ini kedatangan yang kesekian kali ke RSJ. Terakhir sembilan tahun lalu, saat sempat mendapat tugas seminggu belajar ilmu kesehatan jiwa (psikiatri) di sini. Jam sebelas lebih, sekitar 50-an blogger dan keluarga blogger, atau hampir 60 orang bila ditotal dengan kru dan keluarga Animo band ada di RSJ. Tetapi ini memang belum keseluruhan dari blogger yang bergabung di BBC. Ada berbagai ragam orang dan profesi yang berkumpul jadi satu. Karena memang bermacam-macam profesi ada di BBC. Ada pelajar, mahasiswa, jurnalis, seniman, pemain musik, IT professional, dokter dan kalangan medis, dosen, aktivis remaja, aktivis lingkungan, fotografer, bankir, karyawan swasta lainnya hingga ke makelar properti. Semua berkumpul hari ini untuk berbuat sesuatu kepada rekan-rekan lain yang tidak beruntung yang berada di RSJ ini.

Tapi, ups…Dek Didi bilang Direktur RSJ tidak bisa hadir, diwakili oleh wakilnya dr. Kadek Sugiharta Yasa, SpKJ. Badah! (persis seperti tulisan yang tercetak di kaosnya Kang Ayip). Memangnya kenapa? Mudah-mudahan beliau tidak masih ingat kejadian sembilan tahun lalu. Saya dulu pernah ada sedikit masalah dengan beliau saat saya bertugas di sini hingga perlu sampai berdebat, tepatnya berdiskusi, di rumahnya, di sekitar Teuku Umar, Denpasar. Kalau tidak salah di Jalan Pulau Batanta. Ah, mudah-mudahan beliau benar-benar sudah tidak ingat, karena dulu saya tidak berbobot seperti sekarang. Dan belum pelihara jenggot. Makanya mohon dimaklumi, saat di ruangan pertemuan saya lebih banyak memilih diam. Kedatangan kami ke RSJ disambut oleh dr. Kadek beserta staf yang hadir. Sebenarnya ini sudah sangat baik, mengingat hari ini hari Minggu, tentu bukan hari efektif kerja. Selama setengah jam di ruang pertemuan dijelaskan permasalahan dan sejarah RSJ Bangli. Sesuatu yang baru bagi saya adalah ternyata RSJ sudah berpindah tangan menjadi unit kelola Propinsi Bali. Tadinya yang saya tahu RSJ ini adalah RSJ nasional, makanya sangat terkenal. Ada sebenarnya pertanyaan yang ingin saya tanyakan mengenai pelibatan dan partisipasi masyarakat untuk bisa bersama menanggulangi permasalahan kejiwaan, terutama yang menjadi domain kerja RSJ Bangli, tetapi ya batal.

Memangnya dulu ada apa? Begini. Sembilan tahun yang lalu saya sempat tugas di sini. Kalau sebelumnya, dengan membawa bendera Kisara, saya pernah beberapa kali melakukan sharing dan diskusi di bangsal rehabilitasi narkoba RSJ ini. Bersama 12 calon dokter lainnya, sembilan tahun lalu saya bertugas cukup singkat, seminggu saja. Aturan di bagian psikiatri sangat ketat. Dilarang untuk absen satu hari pun. Artinya bila absen satu hari saja, akan dilarang ujian, sebelum dibayar hari bertugasnya sejumlah hari yang absen. Dan tentu saja kalau ini terjadi, untuk menunggu jadual ujian akan menunggu sebulan atau dua bulan. Artinya, kelulusan juga akan menjadi mundur. Waktu bertugas di RSJ ini, saya dua kali mangkir bertugas, di hari Jumat dan Sabtu. Ini saya lakukan karena lebih memilih menjadi MC saat wisuda sarjana Universitas Udayana. Waktu itu bersama Winda Andaka, kakaknya blogger Deddy Andaka. So, ini lumayan jadi masalah. Dan saya melawan karena merasa tidak bersalah dan menganggap tetap bertugas karena sudah mendapat ijin dari Dekan. Saya mendapat pembelaan dari beberapa staf pengajar untuk bisa tetap ujian. Ujian tetap diperbolehkan, tetapi nilai tugas saya di RSJ rendah sekali, diluar perkiraan saya walau saya sudah bela diri mati-matian. Tapi secara akumulatif dikolaborasikan dengan nilai yang lain masih lumayan buat lulus memuaskan di bagian psikiatri.

Terus, terus, pikiran saya kembali memutar tracks file memori-memori lama saya selama di RSJ sembilan tahun lalu. Tadi saya sempat bertegur sapa dengan beberapa penghuni RSJ yang mendapatkan privilege untuk bisa bebas bepergian ke luar bangsal. Mereka ini cenderung yang koperatif. Justru sering dimanfaatkan untuk membantu mencari dan membawa kembali ke RSJ bila ada penghuni yang kabur. Mereka ini biasanya akan meminta rokok dan uang. Uangnya ya buat beli rokok. Saya jadi ingat, saat bertugas di bangsal laki-laki, rokok sangat bernilai. Seorang pasien schizophrenia terkendali yang menunjukkan tanda agresifitas juga bisa dibuat lebih tenang bila diberikan rokok. Sebatang rokok bisa dibagi beramai-ramai. Hingga hisapan terakhir. Kalau melihat bibir yang kehitaman karena kena bara rokok itu adalah sesuatu yang biasa. Tapi sering kali rokok juga menjadi sumber keributan bila mereka berebut. Seorang komedian lokal Bali, yang biasanya berperan sebagai Petruk, dia bekerja di bangsal laki-laki, banyak berperan dalam mengawasi, membina dan mencegah keributan antar pasien laki-laki. Saya jadi geli juga. Sembilan tahun yang lalu saya pernah dianggap Bathara (Dewa) oleh salah satu penghuni RSJ. Saya dianggap bisa memberikan berkah, ke mana-mana disembah dan dia bersujud-sujud di kaki saya. Kemana-mana selalu dikejar. Memang butuh kesabaran untuk bisa mendampingi yang seperti ini. Sedangkan bagi salah satu penghuni yang lain saya malah diperlakukan sebagai tangan kepercayaan untuk menyebarkan ajaran dan kepercayaan agama, oleh seorang pasien yang saat itu mengaku diri titisan Yesus yang mengabarkan kabar baik kembali ke dunia. Kepala saya sering sekali dipegang sebagai tanda pemberian berkah olehnya.

Banyak kenangan sebenarnya. Misalnya cerita lain di bangsal perempuan. Selama lima hari ikut sesi di sana saya sudah memiliki empat orang istri. Hari pertama satu orang mengakui saya suaminya. Hari ketiga dua orang. Hari kelima satu orang. Plus satu buah surat cinta. Ada lagi yang lebih unik. Saat menemani teman saya tugas jaga malam, kebetulan juga ada salah satu pasien lama RSJ yang ikut nimbrung di ruang jaga. Saat ada kedatangan kiriman pasien baru yang gaduh gelisah, sempat kita periksa dulu sebelum masuk bangsal isolasi. Si pasien lama tadi dengan entengnya menyebutkan diagnosis pasien dan jenis obat yang semestinya diberikan. Dan setelah teman saya berkonsultasi dengan dokter senior, ternyata apa yang disebut oleh si pasien tadi, tepat sekali. Rupanya lebih pinter pasien daripada dokter mudanya.

BBC Goes to RSJ. Part Four; Sementara Itu, Bagaimana Nasib Ban Pecahnya? Ternyata Ada Cerita Lain Di Sini.

Seusai berdiskusi dan penyerahan bantuan dari BBC kepada pihak RSJ Bangli, seluruhnya berfoto bersama di depan RSJ. Selanjutnya membagi diri ke bangsal-bangsal untuk bertemu dengan penghuni RSJ. Waktu yang ada ini saya manfaatkan untuk mencari bengkel ban buat mengobati si Indigo. Kasihan dia, kelihatannya tidak sekedar kempes. Sepertinya robek dan cukup serius. Cuma saya tidak dapat menemukan lokasi robeknya. Dan permasalahannya, ini di Bangli, dan hari ini hari Minggu, apa ada bengkel ban yang buka? Dan kalaupun buka, apakah dekat? Karena sepanjang perjalanan tadi saya sekilas tidak melihat ada bengkel mobil di jalan yang dilalui. Oke, biar tidak salah, saya coba kumpulkan semua informasi dari orang-orang sekitar RSJ, termasuk mencari informasi di sebuah bengkel motor.

Singkat cerita, saya tidak ingin Indigo menderita terlalu lama. Di satu sisi saya tidak menemukan kunci dan perangkat ban yang cocok untuk mengganti ban cadangan buat sementara. Well, dibantu Anton akhirnya sepakat membawa Indigo apa adanya. Setelah bertanya beberapa kali, hinggaplah kami di dekat pertigaan Bebalang. Ada sebuah bengkel mobil di pojokan jalan, agak tersembunyi. Saya tidak begitu yakin mereka bisa membantu saya, kecuali untuk mengganti ban cadangannya. Tapi ini satu-satunya bengkel yang tampak buka. Sudahlah, jalani saja. Saya yakin akan dapat sebuah cerita juga di sini.

Bengkel ini ternyata di dalamnya cukup luas. Ada beberapa mobil sedang diperbaiki oleh para tukang bengkelnya. Di dekat bengkel ada jurang besar. Di sebelah bengkel ada kandang babi. Mereka ribut sekali. Setelah didekati sama sekali tidak mirip dengan mister Saylow. Hehe. Tanah di pelataran bengkel setengah becek karena habis hujan gerimis. Ada tiga orang anak kecil yang sedang bermain di bengkel. Seumuran anak SD, yang bukannya membantu, justru cenderung mengganggu para tukang bengkel bekerja. Sebuah situasi yang aneh buat ukuran sebuah bengkel. Akhirnya kempesnya ban si Indigo bisa dideteksi. Dan memang ada bocor besar. Robek di sisi bagian dalam. Pantas saja tidak ketahuan dari luar. Kemungkinan penyebabnya karena menggilas batu kancing jalanan yang runcing. Dan ini sudah jelas tidak bisa diganti bannya. Satu-satunya cara hanya dengan menggunakan ban cadangan. Seingat saya ban cadangannya belum pernah saya cek, pernah bocor juga dan ukurannya lebih kecil dari ban lainnya yang sudah saya modifikasi. Tapi tidak apalah, yang penting bisa pulang. Sialnya ternyata tidak ada kunci yang cocok untuk membuka ban. Bengkel minta waktu untuk mencarinya.

Untuk membunuh waktu, karena sudah tengah hari dan perut sudah berontak, terpaksa Indigo ditinggal dulu. Sekilas tadi saya melihat ada warung kecil di dekat jalan raya. Ke sanalah kami berdua. Ke sebuah warung kecil yang sudah ditongkrongi oleh tiga orang laki-laki. Kami bergabung. Langsung memesan tipat cantok, karena itu yang terlihat bisa dipesan. Tipat cantok dua mangkok. Iya karena di warung ini penyajiannya memakai mangkok, bukan piring. Tentu saja kami kawinkan dengan berbagai macam krupuk yang tersedia. Plus es teh botol. Makan dulu. Saya berpikir teman-teman BBC juga pada sedang makan siang. Dan saya berpikir pasti nanti nasi kotaknya bakal kurang, mengingat yang ikut acara ke RSJ ini banyak sekali. Makanya saya pilih makan sendiri saja. (Ngeles. Bukannya sudah jelas tadi alasan makan di warung ini karena lapar?).

Penyajiannya unik. Rasanya juga unik. Manis sekali. Cukup enak bagi saya. Anton juga terlihat lahap. Seorang laki-laki yang tadi nongkrong kemudian pergi. Datang lagi laki-laki lain yang langsung nyelonong masuk dan memesan soto sapi. Lho, ada soto juga. Setengah bertanya laki-laki tadi bertanya kami dari mana, hendak ke mana, kenapa di sini. Gaya hansip desa. Tapi lebih cocok pecalang. Saya jelaskan semua, termasuk baju dan gambar orang gila di baju kami. Terus dia ngeloyor pergi. Aneh. Sekilas dua orang yang tersisa masih bicara dengan logat khas Madura dan berbahasa Madura. Mereka pencari koran bekas dan pemulung barang bekas. Walau baju lusuh dan berkeringat saya lihat mereka sedang bergembira. Saya sempatkan berbincang-bincang ketika tipat cantok berhasil saya bereskan. Ternyata mereka dari Jember, tetapi Anton yang juga orang Jember tidak mengerti logat mereka. Iya. Karena sebenarnya mereka orang Madura yang tinggal turun temurun di Jember. Mereka bergembira karena hari ini sedang mujur. Dapat jualan barang bekas dan koran dua ratus ribu. Nama mereka berdua Saiful dan Sahrul. Seperti nama artis saja. Aneh lagi.

Saya coba berbincang dengan pemilik warung, apa saja yang dijual di samping tipat cantok dan soto sapi. Dia bilang juga menjual serombotan. Makanan khas Klungkung. Kok bisa? Dia menjelaskan karena memang dia berasal dari Banjarangkan, Klungkung. Ada yang masih aneh lagi saat saya bertanya siapa namanya. Jawabannya adalah kembali bertanya apakah nama yang dulu atau nama yang sekarang. Kalau nama yang dulu dia tidak mau menyebutkannya. Kalau nama yang sekarang, mau. Ups, apaan lagi nih. Dia menyebutkan kalau nama barunya adalah Jero Suryani. Bukan Lode Suryani ya, hehe. Nama barunya didapat dari perkawinannya dengan suaminya yang bermarga wangsa Dewa. Dia tentu saja lebih ingin dipanggil seperti ini sekarang. Karena menurutnya sekarang kelas sosialnya lebih terangkat. Walah, hari gini. Saya jadi ingat tukang jaga kantor dan tukang bersih-bersih kantor saya malah orang Dewa dan Gusti. Tapi memang fenomena trah, wangsa, kasta atau apalah namanya, masih sangat kental di Bali. Saya pun mengalaminya saat ingin menseriusi sebuah hubungan dengan trah Cokorda. Inilah Bali dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Oke, bayar dulu. Dua belas ribu semuanya.

Indigo pastinya sudah selesai dipermak. Selesai diganti bannya. Dan ternyata benar. Ini modifikasi gaya baru namanya. Ban depan kanan kecil dengan velg warna hitam. Tiga ban lainnya besar dengan velg gagah warna silver. Hasil modifikasi ini saya sebut Sanglir. Oke tidak apa-apa. Yang penting bisa pulang. Dan ada yang lucu. Saya sempatkan tanya iseng ke anak-anak yang ada di bengkel. Ada yang kelas empat SD. Ada yang kelas lima SD. Mereka bilang rajin belajar. Nilainya bagus. Saat ditanya pelajaran yang tidak disukai dijawab Matematika. Klasik, seperti banyak jawaban anak-anak lainnya. Tahu pelajaran yang mereka sukai? Serempak mereka menjawab: Bahasa Bali. Nggak lucu ya?

BBC Goes to RSJ. Part Five; RSJ in Action! Silakan Tertawa dan Menangis.

Kami bergabung. Pastinya ramai. Tapi perasaan saya berbaur. Antara gembira, plong karena permasalahan sementara bisa diatasi dan was-was bakal dikerjain. Yang ternyata terbukti. Walaupun dadakan dan terkesan belum disiapkan, namanya spontanitas pasti hasilnya sering kali lebih berkesan. Yang saya inginkan untuk mengenal para anggota BBC lebih dekat lagi, tercapai sudah. Karena ada sesi perkenalan. Setiap yang hadir membentuk lingkaran dan memperkenalkan orang di sebelah kanannya. Saya diperkenalkan oleh Saylow. Saya memperkenalkan Aji. Ternyata dia belum punya blog. Aji yang aneh.

Banyak cerita lucu sesudahnya. Dan sudah banyak yang bercerita tentang hal ini. Animo band, Anton, Fenny, Mas Hendra, Kang Ayip, Novan Kojaque, Wawan Dipoetraz, Sakti Soe, Putri, Artha, Yudi, Bowo, Yos dan lain-lain sudah banyak bercerita di blognya. Juga ada di balebengong. Coba dicek. Yos juga membagi kumpulan foto-fotonya. Kalau Yos ikut acara ini sekalian survey lokasi tanah dan properti lain.

Dibuka dengan lomba lari sarung. Lalu performing dari Animo band, yang hari ini lengkap membawa anggota keluarga sekalian. Penampilannya perfect. Walau hanya membawakan tiga lagu, dan hanya akustik plus, tapi kelihatan jelas kualitas mereka. Rancak. Pas buat pasar penggemar jazzy pop usia pascaABG. Perlu sekali band ini mendapatkan support yang lebih luas. Saya pikir sesi ini akan menjadi tidak terlupakan, bagi Animo dan bagi semua yang hadir. Terlebih saat kehadiran additional vocal yang tidak terduga dan spektakuler. Seorang ibu bertampilan semi maskulin. Kalau tidak salah bernama Sugiarti. Tampil ke depan menyanyikan lagu perjuangan yang cukup rumit. Rumit diikuti karena memang karangan dan semau-maunya sendiri. Ibu ini juga berorasi dengan mengaku sebagai putri Ki Hajar Dewantara. Terlihat lebih nasionalis. Tipikal schizophrenia nya masih kental tampak dengan dominasi gejala delusi (waham kebesaran). Sebuah perasaan dan pengakuan sebagai orang besar dan berkuasa. Sangat menghibur dan mampu membius yang hadir. Selepas bernyanyi dia masih berbicara sendiri sambil membawa cermin untuk melihat mimik mukanya. Bagi yang suka bercermin, hati-hati anda berikutnya! Masih ada 27 bed kosong menanti di RSJ.

Di sela-sela lagu, mata saya menangkap sebuah pemandangan menarik. Seorang penghuni perempuan duduk didekati seorang penghuni laki-laki. Berdua terlihat mesra. Pegang-pegangan, malah ada raba-rabaan. Tidak disangka, yang laki-laki mendekati kerumunan kami. Satu per satu anggota BBC yang perempuan di dekatinya. Terlihat lihai sekali merayu. Saya coba memanggilnya dan berbincang. Dokter Imcw juga ikut bertanya. Namanya Adi, bukan Putu Adi ya. Dari Denpasar. Rupanya penyebab schizophrenianya adalah permasalahan dengan pacar. Padahal dia mengaku playboy, dan memang bekasnya terlihat jelas dari gayanya. Dia bilang perempuan yang tadi dipegang-pegangnya memang pacarnya, tetapi hanya setengah-setengah. Sambil tangannya memperagakan bagimana yang dimaksud dengan setengah-setengah. Dia akan terus mencari perempuan lain sampai dapat yang sepenuh hati. Dan memang benar, kemudian dia melanjutkan dengan mendekati para blogger cewek. Seperti biasa kalimat pembukanya selalu; namanya siapa, sudah punya pacar belum, boleh minta nomer telfonnya. Apa ada yang ngasi nomer telfon?

Akhirnya, acara terjayus pun muncul. Ini hari paling sial bagi saya. Acara berikutnya main futsal. Futsal kok di lapangan? Three on three football tepatnya. Sudah berusaha pergi menghindar, tapi ternyata ini sebuah konspirasi buat menjerumuskan saya. Sakti Soe dengan penuh nafsu mengejar dan langsung menyarungkan rok batik ke saya. Nowhere to run. Ya sudah deh. Tuhan, maafkanlah mereka semua, hehe. Bertiga lagi. Saya, Wawan dan Yudi. Melawan tiga pasukan elit dan pemain profesional tim RSJ. Tujuan kami hari ini menghibur. Kami berikan dan biarkan tim sepakbola RSJ bermain dengan penuh semangat. Saya masukkan satu lagi personel ke tim RSJ. Sehingga mereka berempat, kami tetap bertiga. Dan saya coba minta Wawan dan Yudi buat minggir. Betapa asiknya melihat tim RSJ saling beradu sendiri, saling rebut, saling sepak antar timnya sendiri. Seperti yang diduga, kami kalah telak. Bikin malu.

Terakhir, ada dua lomba lagi. Makan kelereng, eh lomba gigit sendok sambil membawa kelereng di sendok dan lomba tiup balon. It’s all fun. Then we go home after taking some narcissism pictures. Hari yang tak terlupakan. Thanks for all. Sayang, saya tidak bisa ikut ke Ashram Landih karena harus mengejar jadual rapat di Kisara.

Akhirnya Ditutup di Kuta Rock City. The Night Celebration, Bikini Contest….Yummy!

Sepulang dari RSJ Bangli, dengan setengah hati-hati karena perjalanan kali ini Indigo sedang tidak fit. Indigo hanya memakai ban cadangan. Syukurnya perjalanan mulus. Saya dan Anton langsung menuju Kisara. Langsung? Tentu saja tidak. Sore hari melewati pusat kota Gianyar akan terasa tidak lengkap bila tidak mampir ke Pasar Senggol Gianyar. Buat sekedar bawa oleh-oleh lah. Tapi karena jam masih jam empat, belum terlalu gelap dan sudah pada makan, saya mampir ke pedagang serombotan saja. Serombotan di sini sedikit berbeda dengan serombotan Klungkung. Padahal sesungguhnya menu favorit saya di pasar senggol ini adalah ayam panggang. Tapi tidak kali ini. Delapan bungkus serombotan, enam ketupat, empat bungkus plastik sera (serutan kelapa dicampur kacang kedelai dibentuk agak bulat, digoreng), empat tum nangka plus kacang, dua pepes belut, dua pepesan clengis (ampas kelapa) dan empat pepes tuna. Maknyus. Sebagian saya bawa pulang, sebagian bawa ke Kisara. Anton rupanya sibuk menjepret suasana pasar, dan gadis-gadis gianyar, karena tumben kemari.

Saya pulang dulu. Mandi. Terus ke Kisara. Rapat sebentar, lanjut menonton pertandingan final ganda campuran bulutangkis Olympiade Beijing. Sayang sekali, rupanya Noval dan Lilyana mengalami antiklimaks. Mereka kalah straight set. Indonesia gagal dapat emas tambahan. Sedih.

Telfon Hard Rock Hotel. Katanya acara mulai jam sebelas. Saya masih ajak Anton dan Katzu. Bertiga lagi? Mudah-mudahan nggak ada kesialan lagi. Ya kita pelan-pelan saja. Tapi karena terlalu pelan dan di Kuta ramai serta macet, apalagi kamera baterenya habis, baru sempat masuk jam setengah dua belas. Susana masih panas. Tapi banyak hal yang terlewatkan. Saint Locco dan SID lewat. Lho biasanya kan tengah malam baru mulai. Rupanya banyak juga yang salah kira. Apalagi operator bilang mulai jam sebelas. Acara malam ini bertitel “Ten Stars Bikini Competition”. Yummy…Malam ini final. Tentu saja panas. Acara ini dalam rangka Indonesian Independence Day. Sudah dimulai sejak kemarin. Citra, teman baru saya dan kru Hard Rock Hotel yang minta datang. Kami bertemu juga. Acaranya lumayan asik dan panas. Kami nikmati terutama home band performnya hingga akhir. Sangat atraktif. Memberi suasana berbeda sejak perjalanan dari pagi. Dan akhirnya capek tapi puas karena bisa berkeringat. Dan serangkaian kegiatan hari ini menjadi ajang mengupgrade fungsi dan kinerja otak kanan saya biar tidak melulu dijejali dengan kegiatan serius, mikir yang akhirnya membebani otak kiri.

Memang, tujuh belasan kali ini banyak cerita. Banyak Suasana. Sesuatu yang baru. Banyak bertemu kawan baru. Tetapi apa yang perlu dimaknai juga adalah kebebasan dan kemerdekaan adalah hak. Hak adalah sesuatu yang harus direbut ketika kita belum mendapatkannya. Dan merdeka adalah juga bagaimana kita menghargai dan mengisinya dengan lebih bermakna, buat kita, buat orang lain dan lingkungan. Termasuk mempertanggungjawabkannya ke Sang Pencipta. Merdekalah Indonesiaku. Masih banyak yang belum tercapai. Kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, anak putus sekolah, kurang gizi, penyakit infeksi, HIV dan AIDS, korban narkoba, perkelahian, perampokan, korupsi, perusakan lingkungan, penguasaan modal oleh kapitalis asing. Kita belum benar-benar merdeka.

Foto-foto bikini girlsnya mana? Jangan di sini deh. Nanti Rahadi, teman saya dari Oakley (yang mengadakan acara ini) akan mengirimkannya yang komplit pasca libur Galungan. Berminat?

15 Comment(s)

  1. waaah, bacanya saja sampe capek. gimana nulisnya ya? :) ini posting terpanjang soal pitulasan di bangli. dr oka layak dpt jempol.

    ralat dikit soal jumlah peserta. pas aku itung ketika lagi di dalam ruangan, jumlahnya sekitar 80. bukan 60.

    dan jumlah itu, juauh dari perkiraan. dari awal aku pikir tak akan lebih dari 40. eh, ternyata dua kali lipatnya.

    btw, nice football pas di RSJ. kapan lg bisa ngerjain dr oka. :D

    anton | Aug 20, 2008 | Reply

  2. @ anton: hehehe.memang.tuh sudah ditambahin quotes. soalnya kadung kebiasaan nulis jurnal, haha. sekalian biar tahu siapa yang bener2 kuat baca…anyway thanks buat koreksi.tapi kalau dihitung ulang di foto-foto memang tidak lebih dari 60 kok.apa ngitungnya dari jumlah makan siang yang habis? kan banyak yang dobel..hehe. oya nantikan pembalasan atas ulah ngerjain..

    oka negara | Aug 20, 2008 | Reply

  3. hyahahaha *ngakak* nice to meet and finally know you doc….

    saat itu aku emang udah ndak isa nahan nafsu lagi untuk makein rok batik lucu ke tubuhmu dok…waaww you look AWESOME! - aku yakin Tuhan bersamaku saat itu…

    We’re all GREAT!. let’s do it again and again and again…!

    sakti soe | Aug 21, 2008 | Reply

  4. dok,, aku sampe abis 2 gelas air buat nyelesain bacanya,, pheww…

    iya dok, coba putsalnya indoor, pasti kita ga kalah… xixixixi….

    dipoetraz | Aug 21, 2008 | Reply

  5. dok, makasi uda rela ditumpangin used clothes di mobilnya… hehe!

    ahead | Aug 21, 2008 | Reply

  6. Duh dook dok .. dokter oka yang tambun gagah dan kocak. Saya khususkan mojok didepan kantor untuk membaca cerita diatas. 15 menitan deh. Cerita yang mengalir dan masih dengan gaya ngocol-nya. Sama aja mampir pasar senggol Gianyar ya. Banyak warung disana dok. Salam utk Indigo yah :)

    Hendra W Saputro | Aug 21, 2008 | Reply

  7. Ralat dikit dok.
    Yang benar Bebalang, bukan Bebelangan…
    Ternyata sampai ke Bebalang.
    Maafkan saya yang lalai mengantarkan dok, terlanjur asyik sama penghuni RSJnya.

    Dek Didi | Aug 21, 2008 | Reply

  8. @ sakti soe: nice to meet u 2 and all the bloggers..
    @ dipoetraz: capek kan bacanya….hehe
    @ ahead: u`re welcome..
    @ Hendra W Saputro: Indigo sudah sembuh sekarang..
    @ Dek Didi: thanks di, udah dirubah..nggak apa apa kok sekalian keliling cek lokasi

    oka negara | Aug 21, 2008 | Reply

  9. *byuh* tulisannya puanjang tenan .. apik ceritanya dok .. saya suka :)

    btw itu kemarin nice banget pakai roknya … nggak keliatan gembulnya hihihihihi *lariiiii*

    Arie | Aug 22, 2008 | Reply

  10. untung di komputer ya. puluhan pohon terselamatkan karena ga nulis di kertas. saya baru pertama kali lo, liat dokter oka lutchuuu banget pas maen bola. manufer dan ngelesnya itu lo… beneran the funiest of u that i know ya di rsj itu.

    luhde | Aug 24, 2008 | Reply

  11. @ Arie,luhde : haha..panjang banget ya..thanks buat share

    oka negara | Aug 24, 2008 | Reply

  12. Doc! You are Rock! Kalau saya inget pas doc main bola di RSJ kemari dengan rok batik yang kekecilan dan dipaksakan terlihat seperti celemek selalu membuat saya gigling hahaha.

    saylow | Aug 26, 2008 | Reply

  13. @ saylow: thanks loww…

    oka negara | Aug 27, 2008 | Reply

  14. Hahahaha, selalu aja ada cerita lucu tentang rumah sakit jiwa yah Ka.. Aku pernah ketabok orgil disana ampe pingsan dan nyadarnya di UGD. Unforgetable moment … hehehe
    Geli juga mengingat kamu milih jadi MC daripada tugas, ya iyalah yaaa ^_^

    Winda | Oct 30, 2008 | Reply

  15. @ Winda: hehe.seru..btw, dulu itu kan jadi MC nya sama Winda…

    oka negara | Nov 8, 2008 | Reply

2 Trackback(s)

  1. Aug 20, 2008: from Cerita Bali Blogger ke Rumah Sakit Jiwa Bangli | I Made Yanuarta DPY
  2. Nov 26, 2008: from Take a Break: Wah, Dapat Award Nih! : okanegara`s blog

Post a Comment