Kenapa Mereka Tidak Bergerak Buat Peduli?

Kekesalan saya kemarin sempat memuncak. Saya pikir kepedulian manusia akan sesama perlu kembali dipertanyakan. Korupsi, pembunuhan, perampokan, perkosaan dan banyak lagi kerap muncul. Padahal di Indonesia sampai saat ini masih terlihat tempat ibadah dipadati orang, hari raya suci meriah, yang ngaku-ngaku paling pinter dan bisa-bisanya menyebut sahabat Tuhan juga banyak. Sampai janji-janji akan bonus mendapat surga segala. Tapi apa ini semua buat diri sendiri saja? Apa ini semua sudah bisa menjanjikan sebuah kepedulian terhadap orang lain, yang mestinya justru inilah nilai utama. Toleransi dan kepedulian sesama. Sering kali sekarang semua itu hanya menjadi sebuah ungkapan cerdas di bibir saja. Seperti apa yang saya simak hari ini di diskusi interaktif Radio Global saat Direktur PKBI Bali, Ketut Sukanata menjadi narasumber serangkaian pelaksanaan Hari Remaja oleh Kisara PKBI Bali (yang justru pemerintah tidak ada perhatian dengan sosialisasi dan keberadaan hari remaja di tanggal 12 Agustus). Di interaktif radio ini banyak yang masuk, berpendapat tentang bagaimana mengelola remaja dengan berbagai teori dan konsepnya yang hebat-hebat. Tapi saya yakin itu hanya di bibir. Tidak di aksi. Karena saya tidak pernah melihat yang bicara itu benar-benar pernah mendampingi remaja. Kalau benar peduli, mbok ya bergerak. Do something!

Lalu apa hubungannya dengan kemarin? Iya. Kemarin seusai saya menghadiri resepsi pernikahan mbak Purwani, koordinator Kisara PKBI Bali yang pertama, di Kafe Pencar di Jalan By Pass IB Mantra Ketewel, saya memutar jalan dan melihat serta mengalami langsung kejadian ini. Kebetulan di beberapa koran hari ini beritanya dimuat. Kejadiannya persis di dekat tapal batas Gianyar-Denpasar. Di seberang Kafe Kokak. Dari kejauhan saya melihat ada kerumunan orang di tengah jalan. Sedangkan di sebelah tengah marka jalan saya lihat ada seorang perempuan cukup dewasa tengah menjerit-jerit dan menangis histeris. Saya langsung menduga ini kecelakaan. Saya berhentikan kendaraan persis di dekat sepeda motor yang tergeletak di jalan. Rupanya ini motor yang kecelakaan. Lalu saya berjalan kaki ke depan, sekitar 50 meter di depan, di situ orang lebih banyak berkerumun di dekat sebuah truk pengangkut tanah. Ternyata, astaga…seorang laki-laki dewasa, dalam keadaan tertelungkup tidak berdaya, darah tercecer di sana sini berada di bawah truk. Saya yakin orang ini terlidas truk pengangkut tanah ini. Saya duga kejadiannya sudah lewat dari lima menit. Tapi yang bikin saya menahan nafas, menahan emosi, semua yang ada di situ hanya menonton. Bayangkan, orang sekarat dan tergelepar berdarah-darah dengan isi perut terburai ke luar hanya ditonton saja. Segitu banyaknya ada orang. Herannya lagi tidak ada satupun yang mencoba menghubungi polisi atau ambulans. Saya lihat darah dan beberapa bagian perut sudah tercecer dari posisi motor yang jatuh, sekitar 50 meter jauhnya. Berarti orang ini terseret truk cukup jauh. Saya minta beberapa orang untuk ikut saya mengangkat korban agar bisa lebih ke pinggir. Tapi, tidak ada satupun yang bergerak mendekat. Pak Mangku Karmaya yang juga ada disitu, saya pinjam handphonenya untuk saya pakai menelpon ambulans, ternyata nomer layanan ambulans tidak ada yang mengangkat. Saya telpon polisi, tersambung. Polisi bilang segera datang. Tetapi karena saya tidak begitu yakin saya minta Pak Ketut Sukanata (yang datang menyusul karena kebetulan menghadiri acara yang sama) dan Wawan (relawan Kisara yang kebetulan lewat) segera langsung lapor ke kantor polisi terdekat. Akhirnya memang satu mobil polisi datang kemudian. Yang membuat saya heran kembali adalah tidak ada satupun yang mau membantu menggeser korban untuk lebih ke tepi. Kalau satu dua orang mungkin saya maklum karena tidak semua berani dengan darah atau mungkin takut berurusan dengan polisi karena takut menjadi saksi. Tapi ya itu dia, tidak ada satu orang pun yang bergerak mendekat. Pengemudi truk yang ternyata masih di di dalam truknya, saya minta segera turun, karena saya berpikir kalau tetap dibiarkan di dalam truknya akan berisiko juga. Bisa jadi karena tekanan stresnya di kejadian ini justru akan membuatnya berpikir pendek dan akan mengambil tindakan tidak diduga nanti. Bisa tancap gas truknya dan menabrak lebih banyak orang lagi. Saat turun dia memang terlihat cukup stres. Kembali pikiran saya berputar dan emosi saya meninggi. Keheranan saya berputar-putar lagi, kenapa dari tadi tidak ada yang menghubungi polisi. Apa semuanya memang tidak memahami situasi seperti ini? Bahkan saat saya coba menghentikan beberapa mobil pick up yang lewat, tidak ada yang mau berhenti, padahal mereka lihat jelas korban butuh dibantu. Menurut saya, ini karena tidak benar-benar peduli. Saya jelas tidak sanggup mengangkat korban sendiri. Satu orang akhirnya mau tergerak untuk mengambil spanduk berplastik tebal di Kafe Kokak. Ini kemudian saya pakai untuk alas mengangkat korban nantinya. Tapi orang tadi juga selanjutnya menghilang entah kemana. Sekitar sepuluh menitan polisi baru datang. Langsung dihentikan sebuah pick up. Sebelumnyanya saya sempatkan ambil beberapa gambar saat situasi saya pikir sudah lebih kondusif, karena kedatangan polisi-polisi ini. Terakhir, kepedulian orang-orang yang hadir diuji lagi. Apakah mau mengangkat bersama-sama memindahkan korban ke mobil pick up. Ternyata tidak juga. Korban kami angkat berempat. Dua polisi, saya dan kalau tidak salah pemilik pick up. Korban sudah benar-benar parah, remuk sana-sini. Saya pikir sudah meninggal. Tetapi untuk reaksi cepat, langsung dibawa ke RS Sanglah. Dan memang akhirnya Dead On Arrival.

Satu pertanyaan saya; di mana letak kepedulian itu? Saya percaya kok, mereka yang menonton itu bisa jadi pada rajin sembahyang, rajin mebanten, selalu bilang ingat Tuhan. Tetapi ketika sebuah soal diberikan untuk dijawab, ketika sebuah permasalahan langsung terjadi di depan mata, kenapa tidak pada tergerak untuk menolong? Apalah. Panggil polisi kek, stop pick up kek, ambil plastik besar kek untuk angkat korban kalau tidak berani langsung. Katanya peduli. Ini yang bikin saya berpikir ragu akan semua kepedulian itu. Mohon maaf, saya memang kembali emosi waktu posting ini. Dan umpatan di atas saya tujukan buat mereka yang ada di kejadian itu dan tidak mau bergerak untuk menolong. Kalau Anda ada di sana, atau melihat beberapa foto yang saya ambil dari hp saya secara singkat, mungkin baru bisa paham situasinya. Dan ini juga mengubah sedikit pikiran saya tentang polisi. Kalau mereka tidak datang, mungkin korban akan tetap di sana. Atas nama pekerjaannya, polisi-polisi tadi mau terkena ceceran darah mengangkat korban. Darah yang sama, yang melumuri tangan saya. Syukurnya sorenya saya sempat larut kembali ke agenda Long March Hari Remajanya Kisara. Ramai. Saya bisa lebih tenang. Hyang Widhi, ampunilah kesalahan korban kecelakaan ini. Ampunilah juga kami semua.

16 Comment(s)

  1. Pertamaxxx dulu Bli
    baru comment artikel diatas

    Gelandangan | Aug 10, 2008 | Reply

  2. sekarang emank sudah memasuki jaman yang gila dok
    orang dulu enggak mau liat darah yang bertumpahan malahan mereka menagis. sekarang orang2 pada kegirangan klo melihat orang sengsara
    itu enggak jauh beda dengan pejabat teras pemerintahan kita yang buset abisss tampa terkecuali yang cuman mementingkan perutnya dan keluarganya dibalik itu masyarakat yang tidak mampu berlinang air mata darah akibat kesusahan

    Sukses pak dokter

    Gelandangan | Aug 10, 2008 | Reply

  3. aduh pak dok, sekarang kan emang jamannya wong edan
    dah pusing mikirin beras juga sekarangmah haha gak nyambung

    Bumi & Langit | Aug 10, 2008 | Reply

  4. stuju dok,saya juga merasa begitu

    anton | Aug 10, 2008 | Reply

  5. Saya bacanya juga jadi emosi dok.
    Heran, jadi saksi koq pada takut…!!!
    Kebanyakan pemikiran mereka, kalo mereka bantu korban kecelakaan otomatis, mereka akan menjadi saksi. Mereka takut ditanya macam2.

    Dek Didi | Aug 10, 2008 | Reply

  6. Sama kaya dek didi, bacanya aja saya juga jadi emosi…
    Semoga korban tersebut mendapat tempat yg layak disisi Tuhan..

    ady gondronk | Aug 11, 2008 | Reply

  7. Saya paham, apabila kekhawatiran orang akan keinginan untuk menolong itu bakalan ditunjuk sebagai saksi. Saya pernah mengalaminya beberapa kali, menolong orang yang kecelakaan didepan mata. tapi syukur Pak Polisi yang ikut pula membantu tak lantas meminta saya sebagai saksi. Wong baru aja lewat.
    Tapi yang terpenting disini adalah bagaimana niat menolong orang itu muncul, walopun setelah semua beres langsung ngeloyor pergi (kebiasaan saya), bukan dengan mengerumuni korban kecelakaan dan memacetkan jalan raya, menuh-menuhin TKP.

    Pandebaik | Aug 11, 2008 | Reply

  8. Tipikal orang sini kali dok, nonton dulu kasi tindakan belakangan.

    Putu Adi | Aug 11, 2008 | Reply

  9. saya pernah melihat kejadian spt ini dijalan gunung agung, ketika korban sudah sekarat dan tidak ada yg berani bertindak, tp untungnya si korban tidak dibiarkan tergeletak di tengah jalan dan sudah ada polisi yg menangani.

    wira | Aug 12, 2008 | Reply

  10. @ All: semoga ini juga bisa jadi perenungan ya. Buat kepedulian kita.

    oka negara | Aug 12, 2008 | Reply

  11. Yup! stuju ama bli oka.
    Tapi kalo kejadian yg sama ada didepan mata saya, bisa ga saya bertindak ya..??

    kabul | Aug 14, 2008 | Reply

  12. Senada dengan commentnya Kabul, dok. Saya juga ragu kalau semisal situasi tersebut terjadi di sekitar saya, apa saya bisa membantu juga. Mungkin ketakutan akan menjadi saksi tersebut yang membuat orang ragu menolong. Selain itu pikiran-pikiran, bagaimana jika nanti ikut mengantar ke rumah sakit dll. Tapi seharusnya dengan banyaknya orang di tempat kejadian, seharusnya mereka bisa saling memberikan keterangan ke Polisi, jadi tidak ada yang perlu dibawa ke pos.

    Putu_Arya | Aug 14, 2008 | Reply

  13. Mungkin mereka pada ngeri dok, liat kondisi korban kaya gitu :(

    Tapi tindakan pak dokter keren, wekeke saya aj kalo ada kejadian kek gitu mungkin saya juga hanya menjadi penonton, semoga aja ngga :D

    penyu | Aug 17, 2008 | Reply

  14. @ All: thanks ya buat comments nya. memang di jaman yang serba individualis dan menomor satukan fisik sering kali kita lupa dengan sekedar nilai kemanusiaan, tapi mudah2an ini bisa jadi pembelajaran bila kita dihadapkan ke hal serupa. andai ini terjadi pada saudara kita dan orang lain juga memperlakukan sama tentu kita tidak mau ada yang seperti ini…sekedar membantu lah. dengan kebersamaan dan situasi ramai tentu bisa sekali dilakukan pertolongan semestinya, semampu yang bisa dilakukan.

    oka negara | Aug 18, 2008 | Reply

  15. Malem, dok! Kebetulan banget saya direkomendasikan oleh teman untuk membaca ini. And guess what? I was truly moved and touched by this. Wow.

    I’m still trying to process this, so I’m not so sure ’bout what to write at this moment. Tapi cara menulis dokter benar-benar impressive. Bravo!

    Saya sering berpikir hal yang sama saat terjadi kecelakaan. Jujur aja, saya nggak pernah berada dalam situasi begini, yang paling pernah saya lihat itu korbannya lecet-lecet! Dan sudah ditolong pula (and I admit, I just passed by… Not without a guilty feeling in my chest, but still… Would I have been able to do something for them? I don’t think so!)

    Selama ini, yang saya khawatirkan adalah orang akan bertindak sembarangan, dan justru mencederai lebih jauh. Karena biasanya korban diangkat begitu saja, bayangkan kalau ada cedera leher! Saya mengetahui keadaan di luar negeri (paling nggak, negara Barat, deh), di mana orang “biasa” (read: tanpa pelatihan medis) pun tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi dengan layanan ambulans yang begitu sigap dan bisa berada di TKP dalam beberapa menit. Saya sering berpikir, sebenarnya dari banyaknya laporan korban kecelakaan tewas yang sering saya lihat di koran, sebenarnya berapa banyak yang seharusnya dapat tertolong jika mendapatkan perawatan segera.

    Tapi tulisan dokter ini memberikan saya hal lain untuk dipikirkan. Mungkin saya nggak seperti orang-orang lainnya, yang membicarakan moral dan agama. Tetapi ini kan soal pelayanan medis juga, kok rasanya pelayanan medis darurat itu masih kurang banget, ya? Atau itu perasaanku aja karena terlalu terpaku pada standar negara lain?

    Anyway, it was a wonderful piece of writing. Probably not the thing you want to hear, though. Tapi saya senang membaca ada orang seperti dokter. You definitely make this world a better place!

    PS. Saya suka comment terakhir dokter. “andai ini terjadi pada saudara kita dan orang lain juga memperlakukan sama tentu kita tidak mau ada yang seperti ini.” This is the same concept I hold on to myself. “Ajaran” (sebenarnya lebih seperti pendapat yang sering diulang-ulang dan jadi nyangkut) mamaku yang sangat berharga. If only everyone would thing this way…

    Samantha | Sep 13, 2008 | Reply

  16. @ Samantha: thx for visiting this blog. komentarnya asik. cerdas sekali. salam

    oka negara | Nov 8, 2008 | Reply

1 Trackback(s)

  1. Aug 12, 2008: from Marginalisasi No! Eksistensi Yes!

Post a Comment