Bumil Risti
By oka negara on Aug 2, 2008 in Sekedar Tahu, Sexuality Blitz
Angka Kematian Ibu (AKI) saat melahirkan adalah salah satu indikator baku penentu derajat kesehatan sebuah negara. Indonesia mengalami sedikit perbaikan dalam satu dekade terakhir. Pada tahun 2002 AKI Indonesia sebesar 307/100.000. Itu artinya terdapat 307 ibu yang meninggal di setiap 100.000 kelahiran bayi yang hidup. Tiga tahun berikutnya, tahun 2005, angkanya menjadi 263/100.000. Ada perubahan. Dan itu artinya membaik. Apakah angka ini sebenarnya cukup baik jika dibanding dengan negara lain? Ups, coba lihat angka AKI negara tetangga kita saja dulu. Thailand saja AKI nya 129/100.000. Yang lebih dekat lagi, Malaysia, AKI nya ternyata 39/100.000. Berani membandingkan dengan Singapura? Tarik nafas dulu. Singapura hanya 6/100.000. Itu pun bagi pemerintah Singapura masih dianggap tinggi. Karena memang logikanya proses persalinan dan kelahiran harusnya bisa berjalan lancar dan kematian bisa dicegah dengan deteksi lebih awal serta pengawasan kehamilan yang optimal. Dari angka ini juga bisa dijadikan cermin bagaimana tingkat kesehatan masyarakat Indonesia. Tentu saja sebagai catatan, Indonesia bukan cuma jakarta, bukan cuma Denpasar, Surabaya, Bandung dan kota-kota besar lain saja, tetapi tentu saja ada daerah-daerah pedalaman di Papua, daerah tidak terjangkau di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan dan lain-lain yang justru luput dari jangkauan informasi dan pelayanan kesehatan memadai, yang akhirnya menyumbang angka AKI menjadi tinggi.
Kurangnya informasi dan minimnya jangkauan pelayanan kesehatan terutama untuk ibu dan ketidakpedulian laki-laki akan kesehatan istrinya yang secara budaya juga mengalami fiksasi turun-temurun menempatkan banyak kejadian kehamilan yang menjadi kehamilan tidak ideal. Kehamilan yang berisiko tinggi mengundang masalah sampai kepada kemungkinan ancaman jiwa ibu saat melahirkan. Ibu hamil yang berada pada risiko tinggi ini disebut dengan Bumil Risti (Ibu Hamil Risiko Tinggi). Diperkirakan saat ini ada sejumlah 22,4% yang masuk ke dalam kelompok Bumil Risti di Indonesia.
Sekali lagi, rendahnya pendidikan dan pengetahuan adalah akar utama dari semuanya. Banyak yang tidak mengetahui tentang risiko tinggi ini. Secara umum ada empat katagori yang masuk ke dalam risiko tinggi untuk disebut sebagai Bumil Risti. Keempat hal ini sering disebut dengan 4 Terlalu atau cukup 4T saja. Apa saja itu?
- Terlalu banyak
Memiliki anak lebih dari 3 masuk dalam katagori ini. - Terlalu muda
Ibu hamil berusia di bawah 18 tahun masuk katagori berisiko tinggi. - Terlalu tua
Walaupun teknologi kedokteran sudah sedemikian majunya, tetapi melahirkan di usia lebih dari 35 tahun tetap memilki risiko. - Terlalu dekat
Kalau ini yang kehamilannya dengan yang sebelumnya berjarak kurang dari dua tahun.
Semakin banyak katagori yang dihadapi, tentu saja risikonya juga makin tinggi. Hal-hal seperti ini rupanya masih belum dipahami dan tentu perlu upaya dan sosialisasi yang lebih keras lagi untuk bisa memberikan kesadaran kesehatan reproduksi buat masyarakat Indonesia. Memang miris akhirnya mendengar tangis seorang suami yang kehilangan istrinya saat melahirkan. Seorang laki-laki pernah mengungkapkan seperti ini dalam sebuah penelitian depth interview, ” Tak seorang pun pernah memberitahukan hal ini kepada saya sebelumnya. Saya tidak pernah menyangka, bahkan tidak pernah tahu kalau istri saya dapat meninggal karena melahirkan. Saya akan berhati-hati menjaganya kalau tahu risikonya seperti ini.” Memang, ungkapan penyesalan seringkali datang terlambat.
Karena itu mari kita peduli kembali. Peduli kepada keluarga. Program KB semakin sayup dan menghilang, padahal ini sangat penting. Indonesia kemungkinan akan kembali menghadapi ledakan kelahiran bayi (baby boom), partisipasi laki-laki dalam ikut serta di perencanaan kehamilan masih rendah. Kesehatan ibu masih sering dinomor duakan. Pemerintah juga harus bertanggungjawab untuk menjadikannya prioritas. Padahal beberapa kesepakatan sudah sejak lama diucapkan. International Conference on Population and Development tahun 1994 yang sangat terkenal dengan istilah ICPD Cairo 1994 dan 4th World Conference on Women di Beijing tahun 1995 dengan jelas menginstruksikan para negara (salah satunya) untuk memfasilitasi “the need for men to share the responsibility for family planning, and the burden of contraception”. Memang jelas tanggung jawab laki-laki dalam perencanaan keluarga dan partisipasi dalam pengaturan kehamilan lewat kontrasepsi juga sebuah keharusan kalau ingin angka kematian ibu menjadi turun tajam. Secara signifikan.
Cegah jangan sampai muncul kasus-kasus Bumil Risti yang baru. Mulai dari lingkungan terdekat saja dulu. Caranya dengan mensosialisasikan 4T kepada masyarakat, mendukung penggunaan kontrasepsi baik untuk laki-laki maupun perempuan, mendorong agar setiap persalinan dilakukan dengan bantuan tenaga kesehatan dan mensosialisasikan pentingnya hidup sehat terutama untuk ibu hamil. Yuk!








Mencerahkan sekali postingannya dok, ternyata angkanya masih tinggi ya!
Artana | Aug 2, 2008 | Reply
sebetulnya sih pengen bikin 3 biji lagi, biar ada nama Ketut-nya. tapi apa usia Istri masih keburu ya, biar gak sua dengan AKI ini ?
pandebaik | Aug 3, 2008 | Reply
Tak jarang pasangan suami istri yang sudah berumur kepala 4 masih mengharapkan bisa punya anak pertama. Di sisi laen banyak juga pasangan2 muda yang sampai aborsi karena kebobolan. Terkadang dunia seperti tidak adil ya?
Deddy Andaka | Aug 4, 2008 | Reply
wah.. untuk yang 4T, ada yang saya kurang setuju tuh mas.. yang nomor satu, klo emang si ibunya fisiknya kuat,, kayaknya ga pa2 deh punya banyak anak…
btw,,, sedih juga yah ngeliat AKI di Indonesia hiks hiks hiks
dhedhi | Aug 4, 2008 | Reply
@ Artana: ini memang tugas besar buat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
@ pandebaik: untuk yg punya akses dengan pelayanan kesehatan maksimal sih masih bisa diatur dengan pengawasan dan bantuan teknologi kedokteran yg terbaru
@ Deddy Andaka: benar sekali ded, saya juga sering menghadapi fenomena ini di lapangan
@ dheddi: iya ya.ada juga yg seperti itu ya.tapi secara keseluruhan secara statistik dan pengalaman penanganan medis ternyata bumil yg hamil ke 4 dst lebih rentan mengalami komplikasi lho, salah satunya perdarahan.tapi untuk keadaan seperti ini yang memilki akses ke pelayanan kesehatan tentunya risiko bisa diantisipasi oleh tim medis.
oka negara | Aug 4, 2008 | Reply
yang serba “terlalu” ternyata berbahaya..
budarsa | Aug 4, 2008 | Reply
berarti kalo disimpulkan…
ibu hamil yang baik adalah, anak tidak lebih dari 3, umur 19-34
dan jaraknya minimal 2 tahun…
wah, saya rencananya mau punya banyak anak om
gimana dums
Amrul | Aug 4, 2008 | Reply
@ budarsa: benar.
@ Amrul: bisa kok rule,bisa dibantu dgn teknologi kedokteran terbaru.kan sudah pada canggih.tapi memang sebaiknya jangan sampai masuk golongan bumil risti ini
okanegara | Aug 5, 2008 | Reply
wahhh blog dok ini nnati saya akan buka klo istri lagi hamil nih
sekarang aja kan belum punya istri dok doai aja dok
Gelandangan | Aug 7, 2008 | Reply
kasihan sekali ya dok ! banyak ibu-ibu yang merasakan pahitnya melahirkan, kita laki-laki mau yang enak aja ! Ayo jadi suami SIAGA
gussuta | Aug 8, 2008 | Reply
menarik juga, blog ini lebih banyak dibaca laki2. ato karena yang ngeblog kebanyakan laki2??? wah, mesti bikin pelatihan blog untuk ibu2.. biar perang komentarnya lebih hot.
luhde | Aug 8, 2008 | Reply
@ gelandangan:sekarang juga boleh kok dibaca
@ gussuta: setuju..
@ luhde: iya, mari ajak ibu2 juga ngeblog.pasti akan seru juga postingannya..
oka negara | Aug 12, 2008 | Reply
wah…berbahaya ya kalau melahirkan jaraknya kurang dari 2 thn..padahal saya dari dulu pingin sekali punya anak yang berjarak 1 tahun…*berpikir ulang*
ceritasenja | Aug 16, 2008 | Reply
@ ceritasenja: yang penting menjaga kehamilan dengan baik dan selalu konsultasi dengan dokter ya
oka negara | Aug 18, 2008 | Reply