Memang berbeda bila merayakan tujuh belas agustusan di Bali dengan saat masa kecil saya di Bogor. Sangat berbeda. Di Bali terasa jauh dari kemeriahan. Bahkan nuansa merah putih juga tidak terlalu nampak semarak. Lebih banyak hanya seremonial. Jarang sekali terlihat ada lomba menghias gapura desa, pintu gerbang gang, sepeda hias hingga lomba-lomba khas tujuh belasan. Ya, seperti panjat pinang, lari karung, makan krupuk, sejenis itu. Tetapi tentu saja ukuran nasionalisme tidak bisa dilihat dari sini. Sama sekali bukan ukuran. Hanya saja, ya itu tadi. Memang berbeda. Terasa sekali. Tetapi tentu saja merayakan kemerdekaan Indonesia bisa dilakukan dalam ragam cara. Yang paling penting bagaimana memberi makna kemerdekaan. Sangat absurd jawabnya bagi sebuah kepentingan kolektif bangsa saat ini. Tetapi sangat banyak ragam jawaban bila dijawab satu persatu oleh masing-masing orang, terlebih kita yang tidak pernah berjuang secara fisik untuk mendapatkan kemerdekaan bangsa.
Kali ini saya ingin mencoba suasana lain untuk merayakan tujuh belasan yang ke-enam puluh tiga. Kalau atribut merah putih sih sudah cukup lama terpasang di kendaraan kesayangan saya, si Indigo. Saya personifikasi dan panggil Indigo, karena warnanya rada biru indigo. Sepasang bendera merah putih kecil dan gantungan merah putih terpasang sejak sebulan lalu menggantikan gantungan Jingjing, salah satu maskot Olimpiade Beijing.
Terus, suasana lain yang bagaimana maksudnya? Maunya seharian penuh mengikuti beberapa acara yang ada nuansa tujuh belasannya. Kebetulan memang ada beberapa kegiatan yang bisa diikuti. Hari ini bakal ngacir lebih awal dari jaga klinik buat siap-siap Goes To RSJ Bangli. Bakalan menghabiskan siang di Bangli yang sejuk. Terus sorenya rapat koordinasi sebentar di Kisara, karena koordinator Kisara baru balik dari seminggu kursus seksualitas di Surabaya. Dan malamnya menghabiskan hari di panasnya geliat dan keringat di Center Stage Hard Rock Hotel. Citra, salah satu kru Hard Rock Hotel bilang ada acara seru di sini. Mereka juga merayakan kemerdekaan dengan cara berbeda. Sekali lagi semuanya berusaha merayakan hari kebebasan dengan cara masing-masing. Asik buat disimak dan diikuti. Tentu tiap orang juga, sekali lagi, berhak memaknai kemerdekaan dengan pandangan sendiri yang bisa berbeda dengan yang lain.
Yang menjadi menarik seharian ini, ternyata tidak semuanya berjalan sesuai dengan bayangan yang ada di kepala. Pastinya ini akan menjadi sekumpulan cerita bermakna.
PERHATIAN: Harap siapkan dengan baik nafas, konsentrasi dan tenaga Anda membaca postingan ini, terutama genk Bali Blogger, karena bisa jadi bakal capek, melelahkan dan panjangg sekali. Saya sudah peringatkan sebelumnya. Jangan-jangan setelah membaca postingan ini, semua gejala awal schizophrenia segera muncul, dan membuat minat kembali ke Bangli muncul kembali. Kali ini bukan kunjungan, tetapi mengisi kamar yang masih kosong.
BBC Goes To RSJ Bangli. Part One: Yuk Pada Ngumpul Dulu…Eh, Ternyata Banyak Yang Tidak Kenal!
Pagi itu segera ke Gatot Subroto IV/6 Denpasar. Salah satu kantor saya, Kisara PKBI Bali, tempat ngumpul untuk berangkat bareng. Saya sudah tebak beberapa orang akan kesulitan mencari alamatnya, walaupun gedungnya besar dan bertingkat tiga. Ini karena papan nama Kisara tidak terpasang. Dan memang karena ada tambahan program dari Ford Foundation, akan ada tambahan label akan dimunculkan di papan nama yang baru, yang akan segera dipasang. Acara pagi itu adalah acara utama tujuh belasan bagi saya. Tentu juga bagi teman-teman di Bali Blogger Community (BBC). Apalagi ini kali pertama saya bisa ikut langsung kumpul beramai-ramai. Tentu akan banyak yang baru saya kenal. Atas ide setengah gila dari seorang blogger yang bisa jadi rada gila (atau sempat gila, hehe..piss) mister Saylow, didukung komandan tempur Anton, dipilih agenda melakukan kegiatan sosial ke Rumah Sakit Jiwa Bangli yang sangat terkenal itu. Saya ulangi, ke Rumah Sakit Jiwa Bangli. Oke, biar makin jelas: Rumah Sakit Jiwa Bangli. Dan ide ini rupanya sangat spektakuler, terbukti lolos tanpa perlawanan dan langsung jadi. Sah. Aklamasi! (andaikan memilih presiden bisa seperti ini). Dan ini sudah sejak jauh hari disosialisasikan. Dek Didi yang aslinya berasal dari Kintamani, Bangli, akhirnya paling berperan membantu koordinasi dengan RSJ. Read the rest