Selamat Galungan dan Kuningan

Terlepas dari kontroversi historis politis kompetisi antara penganut Siwa dan Wisnu di Bali dengan memojokkan sosok Maya Denawa yang berakhir lahirnya Hari Raya Galungan. Terlepas dari belum terkriyakannya dharma dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari dinamika kebangkitan dan hausnya pembelajaran rohani tentang ajaran dharma. Saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan. Semoga Galungan dan Kuningan ini membawa berkah dan kedamaian buat semua.

Berikut saya kutipkan puisi indah dari maestro sastrawati muda sangat potensial dari Bali, Cok Sawitri, yang juga sesepuh Kelompok Tulus Ngayah yang mengirimkan puisi ini lewat email.
Indah sekali.

Selamat Galungan dan Kuningan

Berbahagia aku, berbahagia ia, kuharap,
sebab memenangkan dharma tak cuma dalam upacara dan kata-kata.
Terharu aku, terisak ia, saat saksikan aku dalam ia,
merayakan kemenangan tanpa ikut memperjuangkan.
Sebabnya aku, bersimpuh ia bersama aku, membiarkan diri melepas semua keinginan,
seperti melepas cabang-cabang dari pohon: tak cukup itu untuk perayaan.
Maka hari ini aku mencabut akar-akarnya.
Jadi awal aku dan ia, menanti kemenangan dharma  dalam terharu aku, terisak ia,
bersama sejati merayakan kemenanganmu.

Cok Sawitri

Seharian Tujuhbelasan; Dari Sejuknya Siang di Bangli ke Panasnya Malam di Kuta.

Memang berbeda bila merayakan tujuh belas agustusan di Bali dengan saat masa kecil saya di Bogor. Sangat berbeda. Di Bali terasa jauh dari kemeriahan. Bahkan nuansa merah putih juga tidak terlalu nampak semarak. Lebih banyak hanya seremonial. Jarang sekali terlihat ada lomba menghias gapura desa, pintu gerbang gang, sepeda hias hingga lomba-lomba khas tujuh belasan. Ya, seperti panjat pinang, lari karung, makan krupuk, sejenis itu. Tetapi tentu saja ukuran nasionalisme tidak bisa dilihat dari sini. Sama sekali bukan ukuran. Hanya saja, ya itu tadi. Memang berbeda. Terasa sekali. Tetapi tentu saja merayakan kemerdekaan Indonesia bisa dilakukan dalam ragam cara. Yang paling penting bagaimana memberi makna kemerdekaan. Sangat absurd jawabnya bagi sebuah kepentingan kolektif bangsa saat ini. Tetapi sangat banyak ragam jawaban bila dijawab satu persatu oleh masing-masing orang, terlebih kita yang tidak pernah berjuang secara fisik untuk mendapatkan kemerdekaan bangsa.

Kali ini saya ingin mencoba suasana lain untuk merayakan tujuh belasan yang ke-enam puluh tiga. Kalau atribut merah putih sih sudah cukup lama terpasang di kendaraan kesayangan saya, si Indigo. Saya personifikasi dan panggil Indigo, karena warnanya rada biru indigo. Sepasang bendera merah putih kecil dan gantungan merah putih terpasang sejak sebulan lalu menggantikan gantungan Jingjing, salah satu maskot Olimpiade Beijing.

Terus, suasana lain yang bagaimana maksudnya? Maunya seharian penuh mengikuti beberapa acara yang ada nuansa tujuh belasannya. Kebetulan memang ada beberapa kegiatan yang bisa diikuti. Hari ini bakal ngacir lebih awal dari jaga klinik buat siap-siap Goes To RSJ Bangli. Bakalan menghabiskan siang di Bangli yang sejuk. Terus sorenya rapat koordinasi sebentar di Kisara, karena koordinator Kisara baru balik dari seminggu kursus seksualitas di Surabaya. Dan malamnya menghabiskan hari di panasnya geliat dan keringat di Center Stage Hard Rock Hotel. Citra, salah satu kru Hard Rock Hotel bilang ada acara seru di sini. Mereka juga merayakan kemerdekaan dengan cara berbeda. Sekali lagi semuanya berusaha merayakan hari kebebasan dengan cara masing-masing. Asik buat disimak dan diikuti. Tentu tiap orang juga, sekali lagi, berhak memaknai kemerdekaan dengan pandangan sendiri yang bisa berbeda dengan yang lain.

Yang menjadi menarik seharian ini, ternyata tidak semuanya berjalan sesuai dengan bayangan yang ada di kepala. Pastinya ini akan menjadi sekumpulan cerita bermakna.

PERHATIAN: Harap siapkan dengan baik nafas, konsentrasi dan tenaga Anda membaca postingan ini, terutama genk Bali Blogger, karena bisa jadi bakal capek, melelahkan dan panjangg sekali. Saya sudah peringatkan sebelumnya. Jangan-jangan setelah membaca postingan ini, semua gejala awal schizophrenia segera muncul, dan membuat minat kembali ke Bangli muncul kembali. Kali ini bukan kunjungan, tetapi mengisi kamar yang masih kosong.

BBC Goes To RSJ Bangli. Part One: Yuk Pada Ngumpul Dulu…Eh, Ternyata Banyak Yang Tidak Kenal!

Pagi itu segera ke Gatot Subroto IV/6 Denpasar. Salah satu kantor saya, Kisara PKBI Bali, tempat ngumpul untuk berangkat bareng. Saya sudah tebak beberapa orang akan kesulitan mencari alamatnya, walaupun gedungnya besar dan bertingkat tiga. Ini karena papan nama Kisara tidak terpasang. Dan memang karena ada tambahan program dari Ford Foundation, akan ada tambahan label akan dimunculkan di papan nama yang baru, yang akan segera dipasang. Acara pagi itu adalah acara utama tujuh belasan bagi saya. Tentu juga bagi teman-teman di Bali Blogger Community (BBC). Apalagi ini kali pertama saya bisa ikut langsung kumpul beramai-ramai. Tentu akan banyak yang baru saya kenal. Atas ide setengah gila dari seorang blogger yang bisa jadi rada gila (atau sempat gila, hehe..piss) mister Saylow, didukung komandan tempur Anton, dipilih agenda melakukan kegiatan sosial ke Rumah Sakit Jiwa Bangli yang sangat terkenal itu. Saya ulangi, ke Rumah Sakit Jiwa Bangli. Oke, biar makin jelas: Rumah Sakit Jiwa Bangli. Dan ide ini rupanya sangat spektakuler, terbukti lolos tanpa perlawanan dan langsung jadi. Sah. Aklamasi! (andaikan memilih presiden bisa seperti ini). Dan ini sudah sejak jauh hari disosialisasikan. Dek Didi yang aslinya berasal dari Kintamani, Bangli, akhirnya paling berperan membantu koordinasi dengan RSJ. Read the rest

Merdeka, Indonesiaku!

Merdeka! Ingin sekali benar-benar merasakannya. Sesuatu yang terasa masih jauh dari kenyataan. Tapi, mari semua kaum muda, mari bersama mewujudkannya. Bersama. karena masa depan ada di tangan kaum muda. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa sih arti merdeka itu buat kaum muda sekarang?

(Gambar diambil dari gift poster majalah Hai. Saya suka sekali poster ini)
Posting tentang remaja dan seharian bertujuhbelasan menyusul.

Selamat Hari Remaja!

Mungkin belum banyak yang tahu, hari ini, 12 Agustus adalah Hari Remaja Internasional. Bahkan remaja pun masih pada belum tahu. Saya teringat saat dua tahun lalu saya sempat buat film dokumenter tentang remaja berjudul “3 Hari Mengejar Remaja”, dari 12 remaja yang diwawancarai hanya 2 orang yang bisa menyebutkan benar 12 Agustus. Jadi memang perlu sekali disosialisasikan, karena pemerintah pun masih belum mensosialisasikannya. Beberapa LSM dan individu sudah berusaha membuat agenda kegiatan dalam rangka Hari Remaja ini sejak beberapa tahun lalu, tetapi tentu saja belum cukuplah gaungnya karena berbagai keterbatasan.

Saya dengan beberapa rekan yang berusaha peduli dengan remaja, hari ini akan menandatangani akte notaris pembentukan Bali Youth Foundation yang rencananya ditujukan buat membantu dan mendukung program-program pendampingan dan edukasi remaja di Bali. Bertepatan dengan Hari Remaja ini Bali Youth Foundation langsung mendukung “Lomba Blog Remaja 2008″ yang diselenggarakan oleh KISARA PKBI Bali. Sebuah lomba bertema “Bangkitkan Eksistensi Remaja” yang sangat perlu disupport bersama. Infonya bisa dilihat di blog KISARA di www.remajabali.wordpress.com. Setelah ini Bali Youth Foundation juga akan mencoba memfasilitasi dukungan buat anak dan remaja yang menjadi tidak beruntung karena kasus HIV dan AIDS di Grokgak, Singaraja.

Tema besar Hari Remaja 2008 adalah tentang Remaja dan Perubahan Lingkungan. Karenanya senang juga rasanya bisa ikut melihat dan bareng bersama remaja sejak tanggal 9 Agustus kemarin di program Kisara, Pekan Hari Remaja. Ada Long March Hari Remaja 2008 yang ramai. Dengan melibatkan reka-rekan di Walhi, long march ini juga diikuti aksi pengumpulan sampah bersama. Sebuah upaya yang baik dimulai dari remaja. Kemarin juga ada edukasi kepada para orang tua yang memiliki anak sudah beranjak remaja tentang pentingnya komunikasi, juga edukasi langsung ke remaja di sekolah-sekolah, agensi model, kelompok STT, kreativitas siswa Dunia Remajaku Seru! (DAKU) di lapangan Puputan Badung tanggal 14 Agustus, juga ada aksi peduli lingkungan penanaman seribu pohon bakau dan lainnya yang bisa di lihat di www.remajabali.wordpress.com atau menghubungi Kisara di telpon 430200. Read the rest

Kenapa Mereka Tidak Bergerak Buat Peduli?

Kekesalan saya kemarin sempat memuncak. Saya pikir kepedulian manusia akan sesama perlu kembali dipertanyakan. Korupsi, pembunuhan, perampokan, perkosaan dan banyak lagi kerap muncul. Padahal di Indonesia sampai saat ini masih terlihat tempat ibadah dipadati orang, hari raya suci meriah, yang ngaku-ngaku paling pinter dan bisa-bisanya menyebut sahabat Tuhan juga banyak. Sampai janji-janji akan bonus mendapat surga segala. Tapi apa ini semua buat diri sendiri saja? Apa ini semua sudah bisa menjanjikan sebuah kepedulian terhadap orang lain, yang mestinya justru inilah nilai utama. Toleransi dan kepedulian sesama. Sering kali sekarang semua itu hanya menjadi sebuah ungkapan cerdas di bibir saja. Seperti apa yang saya simak hari ini di diskusi interaktif Radio Global saat Direktur PKBI Bali, Ketut Sukanata menjadi narasumber serangkaian pelaksanaan Hari Remaja oleh Kisara PKBI Bali (yang justru pemerintah tidak ada perhatian dengan sosialisasi dan keberadaan hari remaja di tanggal 12 Agustus). Di interaktif radio ini banyak yang masuk, berpendapat tentang bagaimana mengelola remaja dengan berbagai teori dan konsepnya yang hebat-hebat. Tapi saya yakin itu hanya di bibir. Tidak di aksi. Karena saya tidak pernah melihat yang bicara itu benar-benar pernah mendampingi remaja. Kalau benar peduli, mbok ya bergerak. Do something!

Lalu apa hubungannya dengan kemarin? Iya. Kemarin seusai saya menghadiri resepsi pernikahan mbak Purwani, koordinator Kisara PKBI Bali yang pertama, di Kafe Pencar di Jalan By Pass IB Mantra Ketewel, saya memutar jalan dan melihat serta mengalami langsung kejadian ini. Kebetulan di beberapa koran hari ini beritanya dimuat. Kejadiannya persis di dekat tapal batas Gianyar-Denpasar. Di seberang Kafe Kokak. Dari kejauhan saya melihat ada kerumunan orang di tengah jalan. Sedangkan di sebelah tengah marka jalan saya lihat ada seorang perempuan cukup dewasa tengah menjerit-jerit dan menangis histeris. Saya langsung menduga ini kecelakaan. Saya berhentikan kendaraan persis di dekat sepeda motor yang tergeletak di jalan. Rupanya ini motor yang kecelakaan. Lalu saya berjalan kaki ke depan, sekitar 50 meter di depan, di situ orang lebih banyak berkerumun di dekat sebuah truk pengangkut tanah. Ternyata, astaga…seorang laki-laki dewasa, dalam keadaan tertelungkup tidak berdaya, darah tercecer di sana sini berada di bawah truk. Saya yakin orang ini terlidas truk pengangkut tanah ini. Saya duga kejadiannya sudah lewat dari lima menit. Tapi yang bikin saya menahan nafas, menahan emosi, semua yang ada di situ hanya menonton. Bayangkan, orang sekarat dan tergelepar berdarah-darah dengan isi perut terburai ke luar hanya ditonton saja. Segitu banyaknya ada orang. Read the rest

Thanks Dokter IMCW!

Sejak tanggal tiga lalu maunya posting beberapa kegiatan. Tetapi rencana berubah, karena theme blog yang dipakai kemarin kurang cocok di hati. Nah, sempat ubah dan gonta-ganti theme sampai dapat yang cocok dengan tampilannya. Ngambilnya dari koleksinya wpthemedesigner. Di sela-selanya juga sempat mengupadate blog yang saya buat untuk dedikasi kepada genk saya, genk Buccinator. Tetapi ternyata setelah dicoba beberapa theme baru ada masalah dengan tampilan comment di pages. Semua comment tidak muncul, padahal itu lumayan penting bagi saya. Coba ngutak-ngutik sendiri di theme editornya, tapi berhubung ilmu php saya terlalu di bawah dasar akhirnya nyerah juga. Dan langsung sms dokter imcw yang memang sudah jagoan. Tiga hari lalu juga sempat SMS karena ada masalah lain sebelumnya; blog statistiknya tidak jalan. Dokter IMCW bilang itu terjadi karena theme tidak kompatibel. Ganti theme, ngambil di skinpress dan kemudian beres. Problem solved! Nah, yang sekarang ini kontak lagi lewat sms karena masalah comments yang tidak muncul tadi. Well, advisenya adalah ada tag comment yang belum muncul di file page.php. So, saya kirim saja semuanya isi file page.php lewat email.

Dan ini reply kode php yang sudah diperbaiki oleh dokter IMCW: Read the rest

Bumil Risti

Angka Kematian Ibu (AKI) saat melahirkan adalah salah satu indikator baku penentu derajat kesehatan sebuah negara. Indonesia mengalami sedikit perbaikan dalam satu dekade terakhir. Pada tahun 2002 AKI Indonesia sebesar 307/100.000. Itu artinya terdapat 307 ibu yang meninggal di setiap 100.000 kelahiran bayi yang hidup. Tiga tahun berikutnya, tahun 2005, angkanya menjadi 263/100.000. Ada perubahan. Dan itu artinya membaik. Apakah angka ini sebenarnya cukup baik jika dibanding dengan negara lain? Ups, coba lihat angka AKI negara tetangga kita saja dulu. Thailand saja AKI nya 129/100.000. Yang lebih dekat lagi, Malaysia, AKI nya ternyata 39/100.000. Berani membandingkan dengan Singapura? Tarik nafas dulu. Singapura hanya 6/100.000. Itu pun bagi pemerintah Singapura masih dianggap tinggi. Karena memang logikanya proses persalinan dan kelahiran harusnya bisa berjalan lancar dan kematian bisa dicegah dengan deteksi lebih awal serta pengawasan kehamilan yang optimal. Dari angka ini juga bisa dijadikan cermin bagaimana tingkat kesehatan masyarakat Indonesia. Tentu saja sebagai catatan, Indonesia bukan cuma jakarta, bukan cuma Denpasar, Surabaya, Bandung dan kota-kota besar lain saja, tetapi tentu saja ada daerah-daerah pedalaman di Papua, daerah tidak terjangkau di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan dan lain-lain yang justru luput dari jangkauan informasi dan pelayanan kesehatan memadai, yang akhirnya menyumbang angka AKI menjadi tinggi.

Kurangnya informasi dan minimnya jangkauan pelayanan kesehatan terutama untuk ibu dan ketidakpedulian laki-laki akan kesehatan istrinya yang secara budaya juga mengalami fiksasi turun-temurun menempatkan banyak kejadian kehamilan yang menjadi kehamilan tidak ideal. Kehamilan yang berisiko tinggi mengundang masalah sampai kepada kemungkinan ancaman jiwa ibu saat melahirkan. Ibu hamil yang berada pada risiko tinggi ini disebut dengan Bumil Risti (Ibu Hamil Risiko Tinggi). Diperkirakan saat ini ada sejumlah 22,4% yang masuk ke dalam kelompok Bumil Risti di Indonesia. Read the rest